GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
134


Nurul berjalan keluar dengan tergesa-gesa karena mendapat pesan dari Alvaro. Ia tidak menyangka saja bagaimana pria itu bisa berada di kantornya sedangkan tadi pagi mereka masih bertukar kabar dan Alvaro akan berangkat ke luar negeri untuk perjalanan bisnisnya.


Nurul mengedarkan pandangannya tetapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Alvaro. Ia mencoba menghubungi pria itu tetapi panggilannya tidak dijawab. Nurul mulai menerka-nerka bisa saja Alvaro hanya mengerjainya saja.


Nurul yang kesal hendak kembali ke ruangannya dan menunggu jam pulang agar ia bisa pulang bersama Danish.


Bugghh ...


Nurul meringis begitu ia menabrak dada bidang seseorang. Wangi parfumnya itu sangat Nurul kenali. Ia kemudian mendongak dan menatap pria yang sedang tersenyum menatapnya. Di tangannya ada serangkaian bunga indah. Mendadak rasa kesal itu berubah menjadi hati yang berbunga-bunga. Nurul merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik dalam perutnya.


"Hai cewek pendek tapi gue sayang banget," sapa Alvaro.


Ingin marah tetapi justru bibir Nurul tidak bisa diajak kompromi. Ia justru tersenyum malu mendengar ucapan Alvaro barusan.


"Bukan gue yang pendek. Lu aja yang terlalu tinggi," balas Nurul kemudian ia mengerucutkan bibirnya dan oh … oh … secepat kilat Alvaro mendaratkan bibirnya di bibir yang mengerucut itu hingga membuat mata Nurul membulat sempurna.


"Alvaro!"


"Apa sayang, hemm."


Nurul berdecak kemudian ia memalingkan wajahnya. Ternyata jiwa Casanova Alvaro telah kembali dan sekarang–lebih tepatnya setelah insiden Nurul menciumnya di dalam mobil ketika mereka berada di parkiran kantor polisi, sejak saat itu Alvaro tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciumnya.


Alvaro kemudian memberikan bunga itu pada Nurul dan ya, dia kembali mengambil kesempatan untuk mengecup pelipis Nurul. Tidak marah, Nurul sama sekali tidak marah karena ia merasa senang dengan perlakuan manis Alvaro.


Alvaro kemudian mengajak Nurul untuk pergi ke mobilnya dan Nurul langsung mengikutinya. Di dalam mobil Nurul mengirim pesan pada Danish kalau ia sudah pulang lebih dulu.


Nurul menatap Alvaro yang sedang fokus menyetir, sesekali Alvaro meliriknya. Tangan keduanya saling bertautan sepanjang Alvaro mengemudikan mobil itu hingga Alvaro menghentikan mobilnya ketika mereka memasuki area danau buatan yang hari ini terlihat sepi. Mungkin karena hari semakin sore jadi tidak ada yang beraktivitas di sekitar danau tersebut.


Alvaro mengajak Nurul turun, keduanya sama-sama berjalan menuju ke sebuah bangku yang ada di sana. Mereka duduk berdua sambil pandangan menghadap ke depan, melihat keindahan danau tersebut. Alvaro sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan Nurul, seakan-akan ketika ia melepaskannya Nurul akan hilang dari sisinya.


"Kenapa bisa di sini? Bukannya lu harusnya berangkat ke luar negeri?" tanya Nurul membuka pembicaraan, sejujurnya pertanyaan ini sejak tadi ingin ia tanyakan tetapi karena Alvaro terus bersikap romantis kepadanya, Nurul melupakan pertanyaannya Ini.


"Mengapa tidak bilang padaku jika terjadi sesuatu padamu Aina?" Bukannya menjawab pertanyaan Nurul, Alvaro malah bertanya balik sedangkan Nurul yang mendengar pertanyaan itu menjadi bingung karena tidak paham kemana arah pembicaraan Alvaro.


"Gue nggak nger–"


"Kalau gue nggak ngirim bodyguard buat jagain lu, gue nggak bakalan ada di sini dan gue nggak bakalan tahu kalau tadi lu dipermaluin oleh seseorang di kafe!" tandas Alvaro begitu dingin. Nurul bahkan tidak pernah melihat ekspresi Alvaro seperti ini, raut wajahnya sedikit menakutkan.


"Alvaro gue–"


"Elu itu hidup gue Aina, jadi gue nggak bakal biarin seseorang bikin lu malu! Cukup gue yang pernah bikin lu hancur, gue nggak izinin orang lain dan perbuatan orang tadi itu bakalan gue balas seperti apa yang dia lakuin ke elu, gue janji!"


Setelah mendengar cerita Nurul jika selama beberapa hari ini ada seseorang yang terus menguntitnya, Alvaro berinisiatif untuk menjaga Nurul selama ia tidak berada di sisinya dengan menyewa bodyguard khusus untuk menjaga Nurul dan Aluna. Ia yang tadinya akan berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis, setelah mendapat video dari bodyguard suruhannya itu dengan cepat Alvaro bergegas menuju ke tempat tinggal Nurul.


Alvaro begitu geram, apalagi ketika ia tahu jika perbuatan tersebut dampak dari permintaan Axelle yang meminta Nurul menjadi kekasih kontraknya. Alvaro semakin berang karena ia tahu kalau wanita yang sudah mempermalukan Nurul dan hampir menamparnya itu adalah mommy Axelle.


Alvaro jadi membandingkan antara maminya dan mommy Axelle, dua wanita kelas atas tetapi berbeda perilaku.


Nurul sungguh terharu, dia bahkan tidak menyangka kalau Alvaro akan datang ke tempatnya hanya karena melihat video di mana ia dipermalukan oleh mommy Axelle. Apalagi dengan inisiatif Alvaro yang menempatkan bodyguard untuk menjaganya. Nurul semakin yakin jika Alvaro sudah berubah dan tidak lagi menjadi pria tengil seperti yang dulu saat mereka masih kuliah di kampus.


Pria yang hanya berpura-pura jatuh cinta padanya padahal memang ia sudah terjerat cintanya sendiri. Hanya saja karena gengsi dengan dirinya sendiri dan karena terlanjur terikat dengan sebuah taruhan maka ia tidak berpikir panjang dan akhirnya mendapatkan sebuah hukuman atas perbuatannya itu.


"Alvaro, gue nggak tahu lu se-sayang itu sama gue. Terima kasih untuk cinta lu dan perhatian lu sama gue," ucap Nurul terharu, ia membalas pelukan Alvaro, mendekap tubuh Alvaro, menghirup aroma pria itu sedalam-dalamnya. Ia merasa tenang ketika berada dalam dekapan pria yang selama ini ia cintai, satu-satunya pria yang pernah ada di hatinya.


Alvaro mengecup puncak kepala Nurul, hatinya begitu sakit ketika melihat video itu dimana hampir saja Nurul ditampar oleh wanita yang ia ketahui sebagai orang tua Axelle mantan rivalnya.


"Tapi yang jadi pertanyaan gue, kenapa lu bisa bareng Kriss? Lu ada urusan apa sama dia? Dia itu cinta sama lu, gue nggak suka ya lu deket-deket sama dia!" ucap Alvaro yang mendadak berubah kembali menjadi pria tengil, pria yang suka mendominasi dan sangat posesif.


Jika saja bisa ditarik kembali perasaan Nurul yang begitu terharu tadi, ia pasti akan menariknya. Alvaro tetap saja Alvaro, pria tengil dengan sejuta gombalan receh dan juga sejuta tingkah anehnya. Tetapi Nurul bisa apa, hati Nurul mentok padanya.


"Gue Ada urusan pekerjaan dengan dia. Dia itu salah satu klien gue. Tapi ada yang aneh lho, di kantor gue itu ada berkas atas nama Kriss Griffin. Dia kembali mengirim berkas untuk meminta Kak Danish menjadi pengacaranya, tetapi saat ditemui katanya dia sama sekali nggak pernah mikirin lagi soal itu. Dia bahkan udah nggak tahu lagi tentang tuntutan keluarganya untuk menuntut seluruh harta keluarga Griffin. Apa menurut lu ini nggak aneh?"


Alvaro nampak berpikir, dalam hatinya sebenarnya ia membenarkan ucapan Nurul namun ia tidak ingin momennya kali ini bersama Nurul terganggu dengan urusan pekerjaan.


"Apapun alasan dan motif dia, gue nggak peduli! Yang gue peduliin saat ini yaitu lu sama gue. Gue hanya menikmati waktu sama lu karena beberapa hari ini gue bakalan berangkat ke Amsterdam untuk urusan pekerjaan. Lu baik-baik ya di sini, jangan pernah abaikan pesan dan telepon gue. Kalau sampai lu ngelakuin itu, percaya nggak kalau gue bakalan langsung datang ke rumah lu dan nikahin lu detik itu juga? Gue nggak peduli Danish marah atau nyerang gue asalkan gue sama lu nikah.


"Kalau kayak gini gue jadi keingat ikram. Mendadak dia udah nikah sedangkan yang koar-koar soal lamaran dan mau nikah itu 'kan gue. Kenapa dia yang jadi pengantin baru sih?! Nyebelin 'kan?"


Nurul meringis mendengar curhatan Alvaro. Ia saja begitu kaget karena mendengar hal tersebut, tentang Ikram yang mendadak menikah. Nurul teringat dulu ia pernah sempat hampir menaruh hati pada pria bernama Ikram itu ketika Ikram membawanya ke danau–ketika Ikram menyelamatkannya dari taruhan itu dan ketika Ikram berada di gubuk dengan kondisi tangan dan kakinya terikat karena Alvaro menawannya di dalam gubuk itu untuk menyaksikan bagaimana Alvaro ingin berbuat tidak baik padanya.


"Aina, gimana kabarnya Aluna, putri gue yang cantik itu?" tanya Alvaro berbasa-basi sedangkan Nurul sudah menatap dengan sebelah alis yang terangkat pada Alvaro.


"Lu nanya gitu? Kenapa nggak langsung aja ke poinnya? Emang gue nggak tahu kalau tiap hari lu kabar-kabaran sama Aluna!" sindir Nurul.


Alvaro terkekeh, ia kemudian menggaruk kepalanya tidak gatal. "Gimana cara ngomongnya ya, gue malu sih!"


Untuk sepersekian detik Nurul terbengang mendengar ucapan Alvaro. "Seorang Alvaro Genta Prayoga merasa malu? Bukannya lu emang nggak punya malu ya?".


Alvaro langsung mengerucutkan bibirnya, ia sedikit kesal dengan perkataan Nurul yang mengatakan jika dirinya tidak tahu malu tapi memang itu adalah sebuah kenyataan dan Alvaro tidak bisa memungkirinya. Ketika bersama Nurul, ia bahkan menghilangkan segala rasa malunya kecuali ***********.


"Emm … Aina besok 'kan gue bakalan berangkat ke luar negeri dan itu mungkin cukup lama … boleh nggak kalau kita malam ini tidur bareng?" tanya Alvaro ragu-ragu.


Nurul menatap Alvaro dengan sengit, Alvaro kemudian terkekeh. Ia langsung menoyor pelan kepala Nurul hingga wanita itu menatap kesal padanya.


"Itu pikiran jangan ngeres dulu. Gue cuma ingin tidur bareng lu sama Aluna malam ini. Gue janji nggak bakal macam-macam, cuma satu macam ini doang kok. Bisa ya, please." Alvaro membujuk Nurul, ia berharap keinginannya ini bisa terkabulkan.


Nurul menghela napas lega, hampir saja ia berprasangka buruk terhadap Alvaro.


"Tentang ini gue nggak bisa bilang iya atau tidak, karena kita perlu izin dari orang tua gue juga," jawab Nurul.


"Masalah itu gampang. Ayo kita balik, biar gue yang ngomong sama mamah dan papah mertua. Asal nggak ada calon kakak ipar lucknut aja, bisa-bisa keinginan gue nggak bakalan terkabulkan dan bahkan mungkin lebih parah dari itu. Yuk balik, gue juga udah kangen sama Aluna."