
Bel panjang berbunyi, sudah waktunya pelajaran berakhir dan kini para siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Di dalam kelas dimana Aluna berada, nampak gadis itu sangat bersemangat untuk pulang sebab hari ini ia akan ikut bersama Frey menuju ke kafe dimana Frey yang mengelolanya juga ada restoran yang harus Frey kunjungi. Mereka juga akan membahas rencana mereka yang akan pindah ke rumah milik Frey dan masih banyak lagi. Aluna buru-buru memasukkan alat tulis menulisnya ke dalam tas namun sayang langka kakinya dicegat oleh Cici.
"Aluna, lu udah mau pulang aja. Kita jalan dulu yuk, udah lama kita nggak jalan-jalan," ajak Cici.
Aluna nampak berpikir, memang benar ia dan Cici sudah lebih dari sebulan tidak pernah jalan bersama dan mereka bahkan jarang menghabiskan waktu bersama. Akan tetapi rencana Aluna bersama Frey tidak mungkin ia abaikan.
"Gue belum bisa, Ci. Ada banyak urusan keluarga hari ini dan mungkin sampai besok. Gue harus segera pulang, nanti Frey bisa marah kalau gue menunggu lama," jawab Aluna.
Wajah Cici nampak kecewa, padahal ia sangat ingin mengajak Aluna ke mall dan ada Frey yang mengikuti mereka dari belakang. Dia berencana akan mengajak Leon agar mereka terlihat sedang double date. Akan tetapi Aluna lansung menolak ajakan tersebut, pupuslah harapan Cici untuk bisa lebih dekat lagi dengan Frey.
"Lu perasaan sibuk mulu. Sibuk apaan sih?" tanya Cici penasaran.
Aluna nampak berpikir, ia menimbang-nimbang karena Cici adalah sahabatnya ia akan menceritakannya. Aluna lalu naik di kursinya dan memanggil seluruh teman-teman sekelasnya yang masih bersiap-siap untuk pulang sebab tadi guru mereka masih mengambil lima menit waktu setelah bel berbunyi.
"Teman-teman sebangsa dan setanah air Beta, gue mau promo. Sekarang Frey lagi mengelola kafe dan kalian jangan lupa mampir buat ramaiin ya. Nanti gue share alamatnya di grup kelas," teriak Aluna lantang hingga membuat satu kelas menjadi heboh.
Tak terkecuali pria yang berdiri di ambang pintu sedang tersenyum menatap istri kecilnya. Rupanya Aluna sedang mempromosikan kafe mereka dan Frey tahu jika sekarang Aluna sedang melakukan strategi bisnis paling ampuh yaitu dari mulut ke mulut.
Cici dan Riani langsung tersenyum senang, di otak keduanya sama-sama berpikir untuk mendatangi kafe tersebut dan akan melakukan pendekatan pada Frey. Keduanya sangat bersemangat dan Aluna lansung turun dari kursinya.
Bisik-bisik tentang Frey mulai terdengar di dalam kelas. Yang tadinya ingin segera pulang justru berkumpul untuk berghibah soal Frey yang memiliki kafe. Mereka semakin memuji dan memuja Frey namun bukan berarti membuat Frey besar kepala. Satu-satunya gombalan pujian yang bisa diterima oleh Frey adalah yang berasal dari mulut Aluna.
"Ekhhmmm!!"
Deheman dari arah Frey langsung membuat atensi mereka beralih. Frey yang berdiri di ambang pintu terlihat semakin tampan saja apalagi ada kilauan sinar matahari yang menerpa wajah tampan Frey dari arah ventilasi, cowok tersebut terlihat bak titisan dewa Yunani.
Aluna terkejut dan ia langsung bergegas mengenakan tasnya dan menggandeng tangan Frey untuk segera pulang. "Teman-teman, gue balik duluan ya. Gue mau bantuin Frey dan kalian jangan lupa datang. Gue absen lho!" ucap Aluna yang mendapat gelak tawa dari Frey dan lagi-lagi tawa Frey menjadi bahan halu dari para pemujanya.
Saat ini Aluna dan Frey sudah berada di parkiran dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil. Di belakang mereka ada Leon yang sedang mengamati namun ia tidak berani mendekat. Ia berencana akan mengikuti Aluna dan Frey sampai ke rumah. Dan nanti ia akan memantau apakah Aluna ataupun Frey akan keluar lagi atau tidak. Ia sudah dikenal oleh keluarga Aluna walaupun hanya sebagian kecil dari mereka dan ia juga berencana untuk masuk ke rumah itu jika Frey berada di luar.
Di dalam mobil yang sudah melaju di atas aspal, sebelah tangan Frey menggenggam tangan Aluna. Keduanya sama-sama tersenyum dan Aluna menyandarkan pelanya di bahu Frey, rasanya lelah seharian belajar terbayar sudah dengan rebahan di bahu kekasih halalnya.
"Frey, lu nggak marah tadi gue umumin di kelas kalau lu sekarang udah kerja di kafe?" tanya Aluna.
Frey menoleh sekilas, ia mengecup singkat puncak kepala Aluna. Rasanya Frey sangat bahagia karena hubungannya dengan Aluna yang sudah sampai di titik ini. Tidak akan ia biarkan siapapun mengganggu dan merusak hubungan mereka.
"Frey emang benar kalau kita bakalan pindah rumah?" tanya Aluna, ia masih betah bersandar di bahu Frey.
Frey mengangguk sebagai jawaban, "Kita harus belajar mandiri. Lagian gue juga udah kerja dan gue pasti bisa memenuhi kebutuhan hidup kita berdua. Dan kita itu sudah suami istri, Na, akan ada banyak hal yang hanya kita berdua doang yang ngelakuinnya dan jangan melibatkan keluarga. Lu mulai sekarang harus bisa jadi istri yang baik biar suamimu ini semakin sayang padamu," ucap Frey dan Aluna hanya iya-iya saja.
Otak cerdas Aluna itu mendadak traveling, ia sudah mulai membayangkan bagaimana nanti ia akan hidup berdua dengan Frey, tinggal di rumah dimana penghuninya hanya ada mereka berdua saja dan dimalam hari mereka akan tidur berdua tanpa ada yang menggangu dan mungkin saja mereka akan ...
"Gue belum siaapp!!" pekik Aluna hingga membuat Frey terkejut dan dengan mendadak ia menginjak rem. Tubuh Aluna hampir saja terbentur jika Frey tidak cekatan memeluknya.
"Lu kenapa?" tanya Frey panik.
Aluna menggeleng, "Frey, jangan dulu tinggal berdua. Gue belum siap dan katanya rasanya itu sangat sakit," jawab Aluna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.
"Sakit?" gumam Frey.
Cukup lama Frey berpikir sedangkan Aluna sedang berusaha mengusir pikirannya dan dalam hatinya ia bertekad untuk menolak ajakan Frey. Hingga dua menit kemudian Frey langsung menoleh ke arah Aluna.
Sambil menyeringai Frey berkata, "Memang apa yang salah dengan tinggal berdua, tidak ada yang sakit dengan semua itu. Lu mikri apa sih?"
Aluna menelan salivanya dengan susah payah, "Frey, kalau kita tinggal berdua nanti itu bisa bahaya. Lu 'kan tahu kalau ada perempuan dan laki-laki berduaan maka yang ketiganya itu adalah setan dan gue khawatir nanti saat kita hanya berdua di malam hari terus setannya datang dan menghasut kita untuk melakukan hal yang sama-sama kita inginkan. Bahaya lho Frey, gue nggak mau ya, rasanya katanya sakit," papar Aluna dan Frey sudah menduga maksud dari kata 'rasanya sakit' yang tadi Aluna sebutkan.
Frey mengatur napasnya, ia kemudian menatap Aluna yang terlihat gelisah. Ia menyentuh puncak kepala Aluna dan tersenyum manis, "Nggak ada setan yang bakalan hasut kita karena kita adalah suami istri dan merupakan pasangan yang sah," ucap Frey, ia kemudian menyeringai sebelum melanjutkan ucapannya. "Na, suami istri itu punya dua kewajiban dan itu adalah nafkah lahir dan nafkah batin. Dan kalau lu atau gue nggak ngerjain keduanya maka kita bakalan berdosa. Lu mau berdosa? Atau lu mau bikin gue jadi pendosa?"
Dengan cepat Aluna menggeleng, ia terus menggumamkan kata bahwa ia tidak ingin kedua hal tersebut terjadi. Frey tertawa puas dalam hati sedangkan bibirnya tersenyum karena lagi dan lagi ia berhasil mengerjai dan mencuci otak Aluna dengan caranya yang berbeda agar tidak nampak maksud terselubung dari setiap ucapannya.
"Jangan Frey, gue nggak mau kita berdua menjadi pendosa," ujar Aluna.
Frey tersenyum, "Gadis pintar. Sekarang mari kita pulang dan sesampainya kita di rumah kita bisa mulai berbuat baik agar tidak menjadi pendosa," ucap Frey seraya menyeringai penuh kelicikan karena ia berhasil menyesatkan pikiran Aluna yang masih lumayan lolos itu, kemudian ia segera menghidupkan mesin mobilnya.
Berbuat baik? Frey lagi mau bikin acara amal atau apa? Dan apa hubungannya dengan masalah hak dan kewajiban istri?