
Frey meninggalkan ruang kelas, ia membiarkan Aluna berada disana sendiri sebab ia sudah cukup jengah dengan kelakuan gadis itu yang selalu saja menjerat banyak siswa di sekolah maupun di luar sekolah dengan cinta palsunya lalu ia tinggalkan begitu saja.
Tak terhitung sudah berapa banyak cowok yang dibuat sakit hati oleh kelakuan Aluna. Bukannya mereka tidak membalas, tetapi diam-diam Frey sudah mengatasi semuanya hingga tidak pernah terdengar kabar jika mereka menaruh dendam pada Aluna.
Cowok tampan dan dingin itu selangkah lebih maju untuk melindungi Aluna sebagai saudara, ia tidak pernah memikirkan jika mereka akan menjadi jodoh.
Berjodoh? Gue nggak bakalan mau nikah sama dia. Siapa juga yang mau mengorbankan masa depan bersama dengan cewek gila macam dia! Ogah!
Frey berjalan sambil sesekali menggerutu dalam hati. Ia yakin sekali dulu bunda Aina tidak memiliki sikap seperti Aluna. Ia yakin pasti menurun dari papi Alvaro.
Siswa tampan yang dulunya menjabat sebagai ketua OSIS itu menghentikan langkahnya ketika seseorang mencekal lengannya dan dengan cepat Frey menghempaskannya. Ia bukannya kasar akan tetapi ia tidak suka disentuh sembarang orang.
"Frey! Kenapa lu kasar banget sama gue?" tanya Riani dengan wajah memelas.
Riani Putri Mahardika, siswi cantik, anak pejabat dan juga cewek yang selama hampir tiga tahun ini mengejar cinta Frey namun tidak pernah kesampaian sebab Frey selalu saja menganggapnya sebagai makhluk tak kasat mata selama ini.
Ia tidak pernah menyerah bahkan ia rela membayar agar ia selalu bisa satu kelas dengan Frey dan berharap bisa menaklukkan hati pria itu. Padahal tidak ada yang kurang darinya, oh ya ada satu hal yaitu selalu menduduki rangking akhir namun tetap bisa naik kelas karena ia punya koneksi di sekolah. Sekadar info, dia adalah anak dari ketua yayasan sekolah dan apakah ia pintar atau bodoh, tidak akan ada yang berani membuatnya tinggal kelas.
"Kalau lu tahu selama ini gue selalu kasar sama lu, itu artinya gue nggak suka sama lu. Hei Riani, sadar diri itu perlu!" ujar Frey, lidahnya memang sangat tajam.
Dan untuk yang kesekian kalinya Riani mendapat penolakan bahkan sebelum ia membuat sebuah permohonan. Namun apakah ia menyerah, tentu saja tidak.
"Frey, lu kenapa sih dingin banget sama gue? Lu tahu nggak, rasa suka dan cinta itu datang dengan sendirinya dan lu harus tahu walaupun lu selalu nolak gue tapi hati gue nggak bisa menyerah. Seenggaknya lu hargain kek perasaan gue," ucap Riani tak mau menyerah, ia harus terus berusaha karena selama ini semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan tanpa berusaha sedikitpun kecuali mendapatkan hati Frey yang bahkan usahanya sudah berjalan selama dua tahun.
"Harusnya lu kembaliin itu ke diri lu sendiri, Riani. Daripada lu mengharap gue menghargai perasaan lu itu, mending lu menghargai diri lu sendiri. Kalau sudah ditolak ya mundur, kasihan sama diri lu yang terus lu paksain buat suka ke gue sedangkan lu sendiri tahu gue nggak bakalan bisa balas perasaan lu!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Frey pun melangkah pergi. Ia tidak suka berlama-lama dengan Riyani, Ia yang begitu sibuk belajar langsung menuju ke perpustakaan walaupun sebentar lagi jam istirahat akan berakhir. Frey memang sangat suka belajar, selain mengurus semua masalah Aluna di sekolah Ia hanya akan menghabiskan waktunya di perpustakaan saja.
Sementara itu, di kelas setelah Frey meninggalkan Aluna, gadis cantik itu kembali duduk di kursinya sambil bertopang dagu. Ia tidak memikirkan masalah taruhannya bersama Cici melainkan sedang mengingat wajah kesal Frey.
Cowok tampan itu tidak pernah tahu kalau kegilaan itu dilakukan Aluna hanya untuk membuat Frey sadar jika Aluna juga butuh kepastian darinya. Hanya untuk membuat cowok angkuh itu cemburu. Aluna sejak dulu sudah jatuh cinta pada Frey, tepatnya ia menyadari rasa saudara berubah jadi cinta itu ketika mereka duduk di kelas dua SMP. Namun Frey selalu mengatakan padanya selamanya mereka akan tetap menjadi saudara dan cowok itu pun tidak pernah mengatakan cinta, suka ataupun membahas perjodohan mereka.
Disini hanya ada Aluna yang berharap sedangkan Frey seakan tidak pernah menganggap rasanya. Jangankan mencintainya, merasa cemburu saja pada Aluna yang selalu didekati banyak cowok tampan di sekolah dan menjalani kedekatan dengan mereka sama sekali tidak membuat Frey merasa cemburu.
"Hahh ... mungkin disini hanya gue yang terlalu berharap. Kayaknya emang hubungan kami hanya mentok sebagai saudara angkat. Nggak bakalan jadi jodoh! Tapi Frey, gue udah cinta banget sama lu. Andai ada yang bisa bikin gue berpaling, gue pasti bakalan melepaskan perasaan ini. Gue tersiksa Frey!"
Aluna mengusap wajahnya, sebuah ketidakmungkinan yang selalu ia semogakan terhadap Frey kini semakin terasa tidak mungkin. Apakah ia memang harus menyerah?
Meng- ghosting para cowok tampan hanyalah alibi agar Aluna bisa melupakan perasaannya pada Frey, barangkali dengan begitu akan ada salah satu dari mereka yang bisa membuat Aluna jatuh cinta namun sampai saat ini belum ada. Dan itu membuatnya kesal sendiri.
Suara khas yang sangat dikenali gadis itu dan paling ia tidak sukai kembali memanggilnya. Aluna menatap malas ke arah pintu dimana Riani sedang berdiri dan tersenyum manis padanya. Sudah dua tahun ini Riani selalu mendekati Aluna hanya untuk sekadar pendekatan pada saudara Frey.
Ya, di sekolah semua mengenal mereka sebagai saudara. Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan mereka pasti akan menemukan Frey dan Aluna di rumah yang sama. Walaupun nama belakang mereka berbeda, tetapi semua tahu jika mereka ada saudara sepupu. Bukan saudara angkat.
"Kalau lu nanya soal Frey mending nggak usah deh. Udah dua tahun juga, masa lu nggak nyerah sama dia," ucap Aluna dengan malas. Ia kesal sekali pada Riani yang selalu mengejar calon suaminya itu.
Jangan harap bisa dekati Frey apalagi jadi pacarnya. Gue ini calon istrinya dan lu selama ini malah deketin gue dan minta gue buat comblangin kalian berdua. Mimpi!
Riani duduk di samping Aluna, ia memasang tampang sedih seperti sebelum-sebelumnya.
"Hmmm ... Frey itu kenapa sih? Dia selalu nolak gue dan dia juga nggak pernah dekat dengan cewek lain," tanya Riani sambil curhat dengan tangan menopang dagunya.
Aluna berdecak, "Emang lu tahu darimana kalau Frey nggak pernah dekat dengan cewek lain?" tanya Aluna penasaran.
Riani menghela napas, "Asal lu tahu aja, gue selalu mantau pergerakan Frey. Yang ada gue cuma lihat dia jalan sama lu dan juga satu bocil yang gue tahu namanya Ziya. Awalnya gue cemburu tapi gue akhirnya tahu si Ziya itu sepupu Frey. Nggak ada yang nggak gue pantau tentang Frey, hehe."
Aluna membulatkan matanya, bahkan Ziya pun diketahui oleh Riani. "Lu itu suka sama Frey atau obsesi doang sih? Lu udah kayak maniak aja!" sungut Aluna. Gadis ini merasa cemburu karena ada yang mencintai Frey lebih dari caranya mencintai cowok kulkas itu.
Riani tersenyum kemudian ia meringis, tidak peduli apapun julukan Aluna untuknya karena memang cintanya sudah over dosis terhadap Frey.
Bibir Aluna tidak berhenti berkomat-kamit karena kesal pada Riani. Hingga akhirnya Jasson datang ke kelas itu bersama Rizky sahabatnya yang kebetulan sekelas dengan Aluna. Di belakang mereka ada Cici yang berjalan sambil menatap Aluna dengan tatapan yang hanya keduanya saja yang paham.
Jasson ya, dia itu salah satu cowok most wanted di kelas sebelas. Banyak yang suka, tapi gue yakin dalam tiga hari gue bisa naklukin dia. Dan waktu itu dihitung sejak detik ini.
Aluna kemudian berdiri, satu tangannya memegangi kepalanya dan satunya lagi sedang berpegangan di meja-meja.
"Uh!" Aluna mengeluh saat ia hampir saja jatuh dan untung saja Jasson dengan cepat menahan tubuhnya.
"Lu kenapa?" tanya Jasson masih memegangi bahu Aluna.
Aluna menggeleng lemah, "Kepala gue mendadak sakit. Permisi ya, gue mau ke UKS dulu," jawabnya sembari berusaha melepaskan pegangan Jasson.
Jasson sempat terdiam kemudian ia langsung merangkul Aluna, "Biar gue bantuin. Gue papah ya, sorry kalau gue nyentuh lu. Nanti lu bisa pingsan di jalan," ucap Jasson yang langsung membantu memapah Aluna.
Cici melongo begitu Aluna berjalan bersama Jasson dan gadis itu dengan santainya menatap Cici sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sial! Dasar Aluna!