GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
179


"Lu ngapain ngikutin gue mulu sih?" sentak Aluna saat tahu jika sedari tadi Leon terus mengikutinya.


Bukan hanya Aluna, tapi semua yang menatap mereka dibuat penasaran dengan siapa siswa tampan itu. Mereka menduga-duga itu adalah siswa baru atau kekasih Aluna yang sedang mengantarnya hingga ke kelas karena mereka tidak melihat keberadaan Frey di dekat Aluna seperti biasanya.


Sangat banyak siswi di depan kelas sepanjang Aluna lewati terus dibuat mleyot saat melihat Leon. Seperti mereka melihat Frey, kali ini mata mereka kembali dicuci dengan cowok tampan yang datang bersama Aluna. Bisik-bisik pun mulai terdengar.


"Halo Luna. Lu apa kabar? Udah sehat?" tanya Jasson yang memang sengaja berdiri di depan pintu kelasnya menantikan Aluna lewat.


Tanpa di duga oleh Aluna, Leon langsung menarik tangannya dan meletakkan punggung tangannya di dahi Aluna hingga pipi gadis cantik itu memerah. Ia tersipu malu karena perlakuan Leon dan itu pun mereka menjadi tontonan.


"Badan lu nggak panas. Emang lu punya penyakit?" tanya Leon lagi dengan suara yang lembut dan menampilkan wajah cemas.


Aluna dengan segera menepis tangan Leon, "Gue nggak sakit. Mending lu sekarang pergi deh. Jauh-jauh dari gue," ucap Aluna mengibaskan tangannya mengusir Leon.


Leon berdecak, ia kemudian berlutut di depan Aluna sambil memegang tangan gadis itu. Aluna merasa kaget dan heran. Ia ingin memarahi Leon namun ekor matanya tak sengaja menangkap selulit Frey.


"Aluna, aku tahu aku salah. Aku sumpah nggak selingkuh sama Sisil. Aku juga janji nggak akan balapan motor lagi asal kamu mau maafin aku. Aku perlu buktiin apa lagi sih sama kamu? Aku udah pindah sekolah demi nyusul kamu lho disini. Demi membuktikan kalau aku cinta mati sama kamu."


Aluna membelalakkan matanya, ia tidak menyangka jika Leon akan senekat ini bahkan di hadapan banyak orang. Apalagi ada Jasson yang jelas-jelas adalah target taruhan Aluna bersama Cici. Dan juga disana ada Frey. Aluna menatap ke arah saudaranya itu dan ia bisa melihat tatapan membunuh dari Frey sebelum cowok tampan itu pergi entah kemana.


"Ya ampun kak Luna ternyata pacarnya ini. Ganteng banget, serasi," ucap salah satu siswi yang merupakan adik kelas.


"Yaa, ternyata kak Luna udah punya pacar. Patah hati deh gue," timpal yang lainnya.


"Huuhh ... padahal aku baru mau kenalan sama tuh cogan eh ternyata cowoknya Aluna!"


Dan masih banyak lagi suara-suara yang membuat Aluna kesal apalagi terhadap Leon yang masih setia berlutut di hadapan Aluna.


"Apaan sih lu! Jauh-jauh dari gue sana. Eh kalian semua dengar ya, dia itu bukan siapa-siapa gue. Kenal aja enggak!" teriak Aluna, ia kemudian pergi meninggalkan Leon yang saat ini sedang tersenyum setelah membuat Aluna kesal dan juga membuat gempar satu sekolah.


Aluna dengan wajah kesal terus berjalan ke kelas hingga tangannya di cekal oleh seseorang dan membawanya ke lorong laboratorium yang sepi.


Hal tersebut membuat Aluna kaget dan panik namun ia harus tetap terlihat santai seperti yang diajarkan sang papi. Akan tetapi Aluna seperti mengetahui dan sangat mengenal aroma yang sosok yang membawanya dengan membekap mulutnya tersebut.


Frey!


Aluna tahu, aroma ini milik pria itu. Sosok yang sudah menghancurkan hatinya itu yang saat ini sedang membawanya pergi entah kemana.


Frey melepaskan Aluna begitu mereka sampai di samping laboratorium yang berbatasan dengan tembok sekolah. Ia mengungkung Aluna di tembok dengan tatapannya yang begitu menusuk hingga membuat Aluna merinding.


"Lu apa-apaan sih Frey? Gue udah bilang kalau lu jangan dekati gue la--"


Ucapan Aluna terhenti ketika Frey langsung membungkam mulutnya dengan ciuman. Mata Aluna terbelalak, ia mencoba untuk menahan diri agar tidak terbuai dengan ciuman Frey saat ini walaupun pada kenyataannya ia mulai terbawa suasana.


Tak ingin mendapat hinaan lagi dari Frey, Aluna dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Frey agar menjauh darinya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena ciuman Frey yang lebih ganas dari biasanya.


"Selama ini lu selalu bilang kalau gue itu sangat ingin nikah sama lu dan gue juga menikmati ciuman lu. Tapi apa lu udah ngaca? Bukannya lu yang suka sembarangan cium gue? Munafik lu Frey! Gue benci sama lu!" teriak Aluna kemudian ia berlari dengan membawa air matanya.


Frey mengepalkan tangannya kemudian ia memukul tembok dengan sekuat tenaga. Mengerang frustrasi karena lagi dan lagi caranya menunjukkan cinta itu salah. Ia menjambak rambutnya dengan kuat kemudian ia segera kembali ke kelas.


"What? Gue nggak salah lihat? Aluna sama Frey ciuman? Ta-tapi bukannya mereka saudara? Kok bisa?"


.


.


Di belakangnya ada Riani yang terus menatap ke arah pintu dan Aluna bisa menebak siapa yang sedang dinanti oleh Riani. Karena masih kesal, Aluna kemudian mengambil buku dari dalam tasnya, ia belajar karena hari ini akan diawali dengan salah satu pelajaran favoritnya yaitu Biologi.


Tahun ini gue harus lulus dengan nilai yang lebih tinggi dari Frey. Gue mau kuliah di luar negeri aja, biar jauh sekalian dan nggak ingat sama Frey lagi. Kali aja gue ketemu bule tampan dan mapan, masih muda dan anak satu-satunya serta orang tuanya sudah tua. Gue bisa hidup enak dan apalagi kalau dia cinta mati sama gue. Well, wanted cogan bule kaya raya dan anak semata wayang.


Dan begitulah keturunan Alvaro dan Nurul, mereka memang seringkali kesal dan mereka bisa mengalihkan rasa kesal itu hingga membuat diri sendiri menjadi semangat kembali.


Tak lama kemudian Frey pun masuk, ia tersenyum sangat tipis saat melihat Aluna sedang membaca buku. Ia segera duduk di bangkunya tanpa bersuara.


Beberapa saat kemudian Cici masuk dan diikuti oleh guru mereka.


.


.


Pelajaran Biologi pagi ini telah selesai dengan Aluna yang paling bersemangat selama jam pelajarannya. Di jam kedua, guru mereka berhalangan masuk sehingga mereka diminta untuk pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas titipan dari guru bidang studi.


Aluna berjalan bersama Cici sambil bergandengan tangan sedangkan Frey berjalan sendiri dan dibelakangnya ada Riani yang selalu setia mengikuti kemanapun Frey pergi kecuali ke toilet atau ke ruang guru.


"Luna, gue mau nanya sama lu. Tapi lu jawab jujur," ucap Cici sambil menatap lekat ke arah Aluna.


Aluna terkekeh, "Nanya ya tinggal nanya aja kali. Kapan sih gue nggak jawab tiap kali lu nanya," ucap Aluna dan kini hanya tinggal mereka berdua yang berjalan ke perpustakaan sebab teman-teman mereka sudah sampai lebih dulu.


"Lu ada hubungan apa sama tuh anak baru?" tanya Cici karena ia sudah mendengar berita tentang kehebohan tadi pagi.


"Nggak ada. Ketemu dia aja baru semalam dan kenal juga baru tadi pagi," jawab Aluna santai.


"Kalau lu nggak ada hubungan apa-apa sama dia, terus lu ada hubungan apa sama Frey?" tanya Cici lagi dan langkah Aluna terhenti. Ia menatap Cici.


Cici juga berhenti dan kini gandengan tangan itu terlepas, Cici melipat tangannya di atas perut sembari menunggu jawaban dari Aluna.


Wajah Aluna seketika berubah menjadi kesal dan juga gugup bersamaan.


"Lu ini kenapa sih? Gue sama Frey itu saudara. Lu 'kan udah tahu sejak SMP," jawab Aluna.


"Saudara seperti apa yang berciuman Luna?"


Degg ...


Mata Aluna terbelalak, ia sangat terkejut dengan pertanyaan Cici barusan. Entah dimana Cici melihatnya dengan Frey berciuman. Ah ya, apakah tadi pagi? Karena saat Aluna sampai di kelas ia tidak menemukan keberadaan Cici.


"Ci gue--"


"Luna, lu nggak usah ragu kalau mau cerita sama gue. Dan ya, gue yakin lu sama Frey itu punya sesuatu yang gue nggak tahu begitupun anak-anak lainnya. Dan karena gue itu sayang banget sama lu, gimana kalau taruhan kita soal Jasson biar di batalin aja. Gue penasaran sama cerita lu soal Frey. Lu sama dia itu sebenarnya ada hubungan apa sih? Kalian 'kan saudara," ucap Cici sambil berpose sedang memikirkan hal berat.


"Sebenarnya dia itu calon suami gue, bukan saudara gue," jawab Aluna sedikit berbisik.


"What?!!"