
"Apa?" pekik Ben.
Ben tentu tidak menyangka jika dalang dibalik semua kejadian yang menimpa mereka ini adalah adiknya sendiri. Ben terhuyung beberapa langkah ke belakang. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan adiknya. Lebih tepatnya hampir seusia Ikram. Brandon memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan tidak pernah lagi memberi kabar.
Ben bahkan tidak tahu jika adiknya itu masih hidup atau tidak. Tapi … bagaimana bisa Deen mengetahuinya.
"Sebenarnya bukan gue yang mendapatkan bukti ini tetapi Danish," ucap Deen lagi.
Deen pun mulai menceritakan tentang keluhan Nurul dimana Kriss Griffin mengirim lagi surat untuk memintanya menjadi firma hukum mereka. Namun ketika Nurul bertemu langsung dengan Kriss, justru pria itu mengelak. Danish diam-diam mencurigai ada hal yang aneh dengan Kriss, ia mulai memperhatikan dan juga mengawasi gerak-gerik Kriss.
Danish yang mempunyai pengawal bayangan yang sudah terlatih dan sangat handal tidak kesulitan untuk mengamati Kriss, lebih tepatnya mengawasi orang-orang yang menemui Kriss karena menurut Danish, pasti ada salah satu dari orang yang datang pada Kriss Griffin yang mencurigakan. Namun tetap salah satu dari mereka mengawasi kemana saja Kriss.
Sampai akhirnya kejadian dimana Kriss dipukuli oleh anggota Brandon ketika Kriss ingin datang menemui Ben dan meminta perlindungan. Pengawal bayangan milik Danish merekamnya. Ia tetap mengawasi Kriss dan membawanya ke rumah sakit dengan berpura-pura menjadi warga yang menemukan Kriss sedangkan rekannya yang lain ia tugaskan untuk membuntuti pada anak buah Brandon dengan diam-diam.
Begitupun ketika di rumah sakit, pengawal yang bertugas menjaga Kriss tetap mengawasinya dan bersembunyi ketika Alvaro memeriksa keadaan sedangkan ketika ada anggota Brandon maka pengawal itu berpura-pura menjadi perawat yang berlalu lalang di rumah sakit.
Ketika Kriss di culik, pengawal tersebut tidak bisa mendapatkan Kriss tetapi anak buah yang ia tugaskan untuk mengikuti anggota Brandon berhasil sampai di markas mereka dan dari jauh ia melihat ada seorang pria paruh baya yang mereka sebut dengan 'Tuan' dan mereka sambut dengan sangat hormat. Pengawal tersebut pun memotret wajah pria itu dan mengirimkannya pada Danish.
"Dan pada saat itu Danish kasih tunjuk ke gue tuh fotonya. Gue langsung kaget, walaupun sudah bertahun-tahun tapi gue masih bisa mengenali wajahnya. Dia Brandon Elard," ungkap Deen, semua yang mendengarkan ceritanya menjadi terdiam.
"Tapi kenapa dia menargetkan kami?" tanya Genta tak habis pikir. Ia dan Brandon tidak pernah memiliki perselisihan. Lalu bagaimana bisa Brandon memiliki niat jahat padanya.
Deen tersenyum, "Kau tidak tahu?" tanya Deen pada Genta dan sahabatnya itu menganggukkan kepalanya. "Bukankah ini kisah lama? Iya 'kan Ben? Atau kau tidak pernah menceritakan pada Genta?"
Ben langsung memalingkan wajahnya. Ia kini semakin yakin jika memang semua kejadian adalah ulah adiknya. Namun Ben rasanya tidak siap jika ia harus kembali berhadapan dengan sang adik. Ben hanya ingin di hari tua mereka, hubungan itu justru terjalin dengan baik. Ben tentu saja menginginkan menghabiskan masa tua dengan bahagia. Apalagi ia akan segera memiliki cucu, Ben ingin menikmati waktu yang lama bermain bersama dengan cucunya dan mengukir cerita indah sampai akhir hayatnya setelah lamanya ia dan Safira terbelenggu dalam toxic relationship.
"Dia menyukai Yani, tapi kau yang melamarnya. Dan Ben membantumu mendapatkannya," ucap Deen.
Genta terkesiap mendengar penuturan Deen barusan. Ia sama sekali tidak pernah menduga jika ternyata istrinya itu disukai oleh Brandon Elard sejak lama.
"Tidak usah pikirkan hal itu dulu. Kita bisa membahasnya nanti. Sekarang kita sebaiknya menyusul mereka karena Alvaro sudah mengirimkan lokasinya," ucap Nandi setelah melihat ponselnya.
.
.
Alvaro dan Ikram mulai memberikan perlawanan pada orang-orang yang berjaga disana dengan jumlah lebih dari lima orang. Tidak ada lagi wajah Alvaro si pria tengil, yang ada hanya Alvaro yang sadis dan bengis. Sang istri diculik dalam keadaan hamil muda, mana bisa dia bersikap santai. Bahkan Alvaro terlihat seperti kesetanan menerjang lawannya.
Begitupun dengan Ikram, pria yang selalu tenang dan mampu berpikir dengan kepala dingin itu kini terlihat bagai titisan Ben Elard. Ia bahkan tidak peduli dengan lawannya yang sudah sekarat namun ia masih terus memberikan serangan demi serangan hingga mereka berhasil membuat lawan mereka terkapar tidak berdaya di tanah.
Setelah itu keduanya kembali melangkah masuk. Kembali mereka dihadang oleh penjaga. Perkelahian mereka tadi sudah mengundang keributan hingga penjaga di dalam sana bisa mendengar.
Jika tadi Danish dan Axelle bisa masuk dengan mudah, itu karena mereka sampai di tempat ini hampir bersamaan dengan para penculik. Sedangkan rekan-rekan mereka yang lain baru tiba setelah Danish dan Axelle berhasil masuk dan menyusup.
Tak jauh berbeda dengan situasi di dalam, Danish dan Axelle yang kewalahan menghadapi banyaknya anak buah Brandon sudah beberapa kali terkena serangan. Namun mereka masih mampu bertahan dan menangkis serta sesekali memberi pukulan dan tendangan telak.
Pengawal bayangan milik Danish dan Axelle berjaga di pintu belakang dan pintu depan. Mereka belum melakukan pergerakan karena menunggu kode dari tuan mereka. Sedangkan dari dua arah tersebut berdatangan semakin banyak pasukan milik Albert.
Mau tidak mau pengawal bayangan itu pun mulai terlibat perkelahian. Ternyata semua tidak semudah yang mereka bayangkan. Lawan mereka kali ini memiliki banyak anggota dan sedari tadi mereka tak hentinya berdatangan.
Alvaro dan Ikram berhasil mengalahkan lawan mereka, dan kini keduanya bergegas mencari keberadaan Nurul dan Tara. Keduanya tidak sengaja melihat Danish dan Axelle yang masih berusaha menumbangkan beberapa lawan mereka dan keduanya pun turut bergabung.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Danish.
"Kami sudah sampai sejak tadi hanya saja di luar ada banyak penjaga dan kami harus menyelesaikan mereka dulu," jawab Alvaro kemudian ia memutar kaki salah satu lawannya yang mencoba melesatkan tendangan lalu ia hempaskan dengan kasar.
Tak butuh waktu yang lama, mereka berhasil menumbangkan lawan. Alvaro dan Ikram bergegas mencari keberadaan Nurul bersama sedangkan Danish dan Axelle tetap mengawasi situasi dan memastikan semuanya aman.
"Aina!!"
"Tara!!"
Suara Alvaro dan Ikram menggema di pabrik tersebut. Keduanya kini menaiki tangga menuju ke lantai dua. Keduanya mulai menyusuri lantai tersebut dan terkejut ketika mendengar suara di belakang mereka.
"Ck! Kenapa lambat sekali datangnya. Kalau para suami selambat kalian, bisa jadi istri kalian sudah mati ditangan pembunuh. Halo kawan lama, apa kabar?"