Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Kehidupan Orang Kaya


Mata Hering berpaling dan berkata, "Bung, barang-barang di dalam koperku bernilai 400 miliar. Ada obat-obatan, berlian, dan emas di dalamnya. Aku bisa memberimu sedikit. Kemudian segera pergi dan cari tempat untuk menjalani kehidupan orang kaya. "


Alex mencibir dan berkata, "Hering, tidak semua orang menyukai uang sepertimu. Tujuanku hari ini ialah menangkapmu untuk dihukum."


Melihat Alex sulit dibujuk, Hering tidak punya cara lain, tatapan matanya menjadi tajam, "Kalau begitu coba saja." Kata Hering, dirinya melompat tinggi seperti burung elang, lalu menerjang ke arah Alex secepat kilat! Ini adalah jurus mematikan Hering.


Alex menantang dengan tenang, telapak tangannya melesat ke arah sosok Hering tanpa ragu! Buk! Ketika dua belah pihak yang kuat bertabrakan, tubuh Hering berputar beberapa kali di udara, dan setelah mendarat, dia memandang pemuda di seberangnya dengan heran. Hering tahu betul bahwa tidak banyak orang yang bisa melawan jurusnya ini! Pemuda di depannya jelas bukan polisi biasa, dia pasti lebih dari sekedar ahli!


“Hebat juga kamu, nak!” Hering marah.


Alex dan Hering saling melajukan pukulan telapak tangan untuk mengetahui kekuatan satu sama lain. Hering yang mendengar suara tembakan terdengar lagi dari belakangnya sudah tidak lagi ingin bertarung, dia bergerak dengan hati-hati, tetapi malah membuat postur menyerang.


Alex berteriak, dan melompat ke udara untuk menendang kepala Hering dengan keras. Hering mengangkat tinjunya untuk menghadang kaki Alex, tetapi karena cemas, dia malah tersandung. Begitu melihat kesempatan, Alex menendangkan kakinya lagi ke kepala Hering sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Kepala Hering ditendang oleh Alex, dan dia terkapar di tanah sambil menjerit keras.


Melihat Hering sudah terkendali, Alex meraih kakinya dengan satu tangan, kemudian dengan sekuat tenaga mematahkan kakinya. Krak! Hering menjerit kesakitan karena kakinya dipatahkan oleh Alex. Hering yang sudah panik langsung mengeluarkan pistol dari pinggangnya. Alex dengan cepat bangun dan menendang senjatanya. Kemudian dia memukul dada Hering sekuat tenaga.


Sama sekali tidak perlu menunjukkan belas kasihan kepada orang keji seperti ini.


Pukulan Alex tepat menghantam jantungnya. Hering menjerit, lalu muntah darah, kemudian meninggal.


Setelah Alex membunuh Hering, dia menunduk dan menatap koper yang ada di tanah, dan rupanya memang ada banyak narkoba di dalamnya.


Tak berapa lama setelahnya, Nova dan sejumlah besar polisi tiba. Nova sangat gembira melihat kematian Hering. Alex mengambil koper dan berkata, "Ini milik Hering. Ada puluhan kilogram narkoba yang baru saja diekstraksi di dalamnya. Bawalah. "


Nova melihat koper itu, kemudian menyerahkannya kepada bawahannya, "Rey, catat baik-baik informasinya, aku akan memintakan bonus untuk kalian nanti."


Nova berkata lagi kepada Alex: "Alex, kamu telah melakukan pekerjaan yang bagus dalam gerakan kali ini, terima kasih."


Alex tersenyum dan berkata, "Bagaimana kamu akan berterima kasih padaku?"


Nova berkata, "Kutraktir kamu dan Erika makan."


Alex mengacungkan jempol dan berkata, "OK!"


Setelah penyelidikan, sarang narkoba di Tambang tembaga Gunung Musang sudah ditangkap semua kecuali pelaku pertama, Ivan.


Alex berkata: "Dia dan Hering seharusnya melarikan diri dari air terjun bersama. Ivan sangat akrab dengan lingkungan di sini. Orang ini pasti telah menemukan tempat untuk bersembunyi. Kami tidak menemukannya selama pengejaran."


Inspektur Gilang juga tahu bahwa jika Ivan tidak bisa ditangkap, kasusnya tidak akan diselesaikan. Dia segera memerintahkan: "Keluarkan perintah buronan Ivan. Sisakan beberapa polisi untuk terus mencari Ivan di Gunung Musang. Minta polisi dari desa Dante untuk melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah. Cari keberadaan Ivan sampai ketemu. "


Tambang tembaga telah ditutup sementara, dan pekerja migran tambang tembaga perlu dibawa kembali ke kantor polisi untuk diadili satu per satu, dan kemudian dibebaskan setelah dipastikan tidak bersalah.


Setelah masalah di gunung selesai, hari sudah gelap, Nova mengakhiri gerakan dan memimpin timnya kembali ke kantor polisi.


Karena Alex membantu polisi memecahkan kasus narkoba besar, Nova mengirim sebuah seritifikat kepadanya keesokan harinya, beserta dengan bonus sebesar 20 juta.


Meskipun bonusnya tidak seberapa, tapi kehormatan ini adalah yang tertinggi. Saras meletakkan sertifikat itu di tengah ruang tamu, dia tersenyum lebar memandangi sertifikat itu. Erika memberi tahu Alex: "Alex, nenek ingin kita pulang malam ini. Beliau ingin mengundangmu untuk makan malam karena mendengar prestasimu."


Alex berkata dengan gembira: "Kalau begitu kita harus ke sana."


Malam itu, Alex pergi ke kediaman besar Buana bersama Erika, Saras, dan Ferdi. Lasmi tidak mengundang terlalu banyak orang untuk menghadiri jamuan makan malam ini. Hanya keluarga Erika dan Satriya yang diberitahu.


Anggota dari dua keluarga sebanyak 8 orang, ditambah Lasmi jadi total 9 orang. Ada sebuah meja makan panjang yang dapat menampung 20 orang di ruang makan kediaman besar keluarga Buana. Kedua keluarga itu duduk terpisah di masing-masing sisi.


Alex dan Satriya duduk berhadapan di barisan depan. Tempat Lasmi yang berada di bagian tengah masih kosong. Lasmi belum datang, jadi dia mungkin masih sibuk di belakang rumah.


Satriya memandang Alex, diam-diam mengertakkan giginya, dan merasa marah.


Alex juga memandang Satriya dan tersenyum kecil sembari berkata, "Satriya, nenek mengundangku untuk makan malam hari ini. Apa kamu di sini numpang makan?"


Satriya berkata: "Cih! Alex, jangan bangga. Jangan pikir ada Friska yang mendukungmu, meskipun kamu bersenang-senang sekarang, tapi kamu telah menyinggung keluarga Utama dan secara terbuka menantang keluarga Utama. Cepat atau lambat, kamu akan kehilangan semuanya. Pada saat itu, kurasa kamu bahkan tidak akan punya kesempatan untuk menangis. "


“Satriya, kamu sepertinya sangat berharap aku kalah telak! Tapi kuberitahu, aku tidak akan kalah. Setidaknya, aku tidak akan kalah dalam kehidupan ini. Jika kamu ingin melihatku kalah, kamu harus menunggu sampai kehidupan berikutnya."


Melisa angkat bicara untuk putranya Satriya, "Alex, kamu semakin pandai menyombongkan diri! Apa kamu pikir keluarga Utama akan membiarkanmu begitu saja setelah kamu memukul Devan? Kamu tidak akan mampu kalah dalam taruhan Desa Pari. Nenek benar-benar, bisa-bisanya beliau mempercayaimu. Awalnya, keluarga kami menghidupimu tidak lebih dari hanya menghabiskan sedikit uang dalam sebulan. Tapi kurasa tidak akan bisa lagi sekarang, keluarga Buana pasti akan dilenyapkan karenamu. "


Saras menepuk meja, "Melisa, apa yang kamu katakan? Beraninya kamu mengutuk keluarga Buana kita. Jangan lupa, kamu juga menantu keluarga Buana."


Melisa tidak mau kalah, "Saras, cepat sekali pikiranmu ebrubah. Aku ingat bulan lalu, kamu masih menyebarkan rumor dan tidak menyukai menantumu yang tak berguna ini. Kamu bahkan berharap bisa mengusirnya dari rumah. Sekarang, kamu malah membelanya? Hmph, tunggu saja bencana apa yang akan ditimbulkan oleh menantumu ini.”