
Alex memijat pelipis Erina, lalu berkata sambil tersenyum, "Sebenarnya aku sudah menduga hal ini dari awal. Bagaimanapun, ini adalah daerah kekuasaan keluarga Bazel. Nggak heran kalau kita nggak dapat bantuan apa pun dalam pembangunan. Lagian, keluarga Bazel juga bisa dengan gampang melakukan trik-trik licik untuk menyusahkan kita."
Erika sangat tidak berdaya, "Tapi kita juga nggak bisa memulai konstruksi tanpa bahan bangunan. Kalau kita mengirimnya dari luar, biayanya akan terlalu tinggi."
Alex berkata, "Jangan khawatir, serahkan saja masalah ini padaku. Aku sudah punya rencana."
Erina hanya bisa mengangguk. Lagi pula, dia juga percaya pada kemampuan Alex. Jika Alex mengatakan dia bisa menyelesaikannya, dia pasti bisa melakukannya.
Alex belum pernah mengecewakannya.
Setelah itu, Alex mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Alif.
Meskipun keluarga Bazel menekan PT. Atish, mereka tidak memberi larangan pada pengusaha lokal. Jadi, masalah ini bisa diselesaikan dengan meminta tolong keluarga Vixon untuk membeli bahan bangunan.
Keluarga Vixon yang tiba-tiba membeli sejumlah besar bahan bangunan pun membuat banyak pengusaha penasaran. Bagaimanapun juga, keluarga Vixon tidak perlu melakukan pembangunan apa pun.
Pembelian besar-besaran ini menarik perhatian banyak orang, termasuk Harry. Dia mengerutkan alisnya, "Apa yang sedang dilakukan keluarga Vixon?"
Saat ini, Yohan berjalan masuk dan duduk di sebuah bangku. Kemudian, dia menuangkan segelas teh untuk dirinya. Harry menatap Yohan dengan bingung.
Apa Yohan sudah selesai menangani gosip itu? Kenapa dia sudah pulang?
Harry menatapnya dengan tatapan penuh tanya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sementara para anggota keluarga Bazel yang lain merasa sangat kesal.
Jackson menunjuk ke arah Yohan dengan kesal, "Kamu punya hak apa untuk duduk? Kamu bahkan belum menyelesaikan tugas yang diberikan padamu semalam. Apa yang kamu bilang semalam? Hanya masalah kecil, serahkan saja padamu. Tapi sampai sekarang, aku masih bisa dengar gosip itu di luar!"
Yohan melirik Jackson dengan tenang, "Apa kamu tahu cara terbaik untuk menyelesaikan gosip seperti ini?"
"Apa?" Jackson langsung menjadi sedikit takut setelah ditatap seperti itu.
Yohan menjawab sambil tersenyum, "Tentu saja gosip yang lebih menggemparkan untuk mengalihkan perhatian orang."
Jackson mundur selangkah, tetapi masih tidak mengerti apa yang dimaksud Yohan. Harry pun tersenyum, "Cara ini memang lumayan bagus. Setidaknya, itu berarti kamu masih punya cara untuk menyelesaikan masalah."
Yohan mengangkat bahunya sambil berkata, "Jadi, hal yang kupersiapkan sudah hampir berefek."
Harry menatap Yohan dengan kebingungan, "Apa yang sudah kamu lakukan hingga bisa mengalihkan perhatian semua orang?"
Yohan tersenyum, "Kakek akan segera tahu."
Harry menatap Yohan dengan penasaran, sedangkan Yohan hanya duduk dengan santai sambil mendengar diskusi orang lainnya. Kemudian, dia pun dengan cepat berujar, "Sudah jelas kalau keluarga Vixon membelot. Mereka sudah membantu PT. Atish untuk membeli bahan bangunan."
Harry mengangguk setuju, "Aku juga berpikir begitu, tapi kita masih belum menemukan bukti."
Setelah mendengar kata-kata Yohan, Harry mengerutkan keningnya. Cara Yohan sangat kejam, tetapi sangat sesuai seleranya.
Harry pun berkata sambil tersenyum, "Kata-katamu memang benar. Kalau begitu, bertindaklah. Kalau masih punya ide lain, kamu boleh mengatakannya."
Sikap Harry membuat anggota keluarga Bazel yang lain kebingungan. Mereka tidak mengerti kenapa Harry begitu menghargai dan sangat menyetujui kata-kata seorang junior.
Oleh karena itu, mereka tentu saja sangat terkejut. Bahkan Jackson juga tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Dia hanya bisa menuruti perintah Harry.
Sebaliknya, Harry tidak pernah mendengar pendapatnya.
Ini adalah pertama kalinya mereka semua melihat Harry begitu menyukai dan menyetujui kata-kata seorang junior.
Yohan tersenyum, "Berhubung Kakek sudah berkata begitu, aku akan mengatakan pendapatku. PT. Atish bukan hanya membeli bahan bangunan melalui keluarga Vixon, tapi juga dari luar. Sebaiknya kalian lebih hati-hati akan bahan bangunan yang dia kirim dari luar."
Jackson langsung tidak senang, "Apa yang kamu tahu? Mengirim bahan bangunan dari kota lain? Itu akan memakan biaya yang sangat besar. Kalau mereka berbuat begitu, mereka pasti rugi besar. Kesampingkan dulu seberapa banyak keuntungan yang bisa diberikan pusat komersial itu. Biaya yang mereka keluarkan pasti sudah duluan membuat PT. Atish bangkrut sebelum bangunan itu diselesaikan."
Harry sangat penasaran kenapa Yohan bisa berpikir demikian.
Yohan berkata dengan penuh ejekan, "Kamu memang hanyalah playboy yang tak berguna. Coba pikir, apa yang mereka inginkan itu uang? Mereka hanya ingin menjatuhkan keluarga Bazel."
"Jadi maksudmu, mereka akan melakukan perang modal dengan kita? Tapi dengan begitu, PT. Atish pasti akan rugi. Kita nggak perlu melakukan apa pun, PT. Atish juga nggak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kita," kata Spencer sambil berjalan keluar.
Spencer Bazel adalah keponakan Harry. Jadi, dia masih lebih tua satu generasi dari Yohan.
Spencer mempunyai wajah kotak dan bertubuh kekar, tetapi malah sangat baik hati. Jika bukan karena keluarga Bazel berada dalam bahaya, dia juga tidak akan muncul di kediaman Bazel.
Sebab, Spencer selalu berharap bisa sukses dengan mengandalkan usahanya sendiri. Sayangnya, semua pencapaiannya hanya biasa-biasa saja karena kepribadiannya yang baik.
Dia bukan hanya tidak sukses, tetapi malah mendapat julukan orang baik.
Awalnya, dia sangat marah. Namun pada akhirnya, dia juga tidak memedulikannya lagi.
Bagaimanapun, dia memang berkepribadian baik.
Yohan menatap Harry dengan sangat serius. Dia tidak peduli pada semua orang dalam aula ini selain Harry. Bagaimanapun juga, Harry adalah pemimpin keluarga yang mengendalikan seluruh garis hidup mereka.
Orang seperti ini sangatlah ambisius.
Yohan tersenyum, "Kita tentu saja harus selalu berpikir dari sudut pandang musuh. Sekarang, kita memang sudah menekan PT. Atish, makanya dia nggak akan bisa membeli barang dari dalam kota. Tapi PT. Atish hanya terlihat mengalami kesulitan di permukaan."
Yohan berjalan ke depan Spencer dengan santai, "Pada kenyataannya, selain keluarga Vixon, siapa tahu ada berapa banyak pengusaha lain yang bekerja sama dengannya. Kalian harus ingat kalau bisnis Aston juga berada dalam genggamannya."