Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pertandingan Babak Ketiga


Alex juga menyadari masalah ini, dia merasa bahwa dirinya seharusnya tidak lagi bergulat dengan lawannya, jadi dia mengangkat tubuhnya ke atas, berniat keluar dari air untuk bernafas.


Leonardo yang licik berbalik, menekan tubuh gemuknya ke bawah, mengulurkan tangannya, dan meraih pergelangan kaki Alex untuk menyeretnya ke bawah.


Orang ini sudah mengganti napasnya sejak awal dan menunggu kesempatan ini, dia ingin menyeret Alex dengan erat dan menenggelamkannya ke dalam air.


Bobot yang tidak dominan pasti akan kalah melawan Leonardo di dalam air. Alex menendang wajah gemuk lawannya, tetapi pria itu enggan melepaskannya. Dia sangat yakin bahwa jika dia bertahan selama dua menit lagi, Alex pasti akan mati kehabisan nafas.


Alex juga mengetahui niat lawannya, dan jika dia terjerat seperti ini, dia tidak hanya akan kalah, tetapi nyawanya juga akan terancam. Memikirkan hal ini, dia berbalik dan menusuk mata Leonardo dengan dua jari.


Leonardo menghadangnya dengan satu tangan, Alex mengulurkan tangannya yang lain untuk mencekik leher Leonardo, seolah mengatakan kepadanya, “Jika kamu ingin aku mati kehabisan nafas, maka aku akan mencekikmu sampai mati!” Dalam kondisi seperti ini, Leonardo hanya bisa mengendurkan genggaman di pergelangan kaki Alex..


Para penduduk desa yang berdiri di dekat kolam melihat permukaan air yang tenang. Namun, pertarungan di dalam airnya sangat menyeramkan, Alex dan Leonardo telah bertukar selusin gerakan di bawah air, dan lebih dari lima menit telah berlalu.


Jika hanya menahan nafas dalam waktu selama ini, masalahnya tidak terlalu besar, tetapi keduanya juga bertarung habis-habisan, sehingga konsumsi oksigen menjadi dua kali lipat. Alex merasa kewalahan, dia juga akhirnya menyadari niat jahat Leonardo: Pihak lain mengandalkan kelebihan berat badan untuk menenggelamkannya di dalam air.


Bagaimana ini? Dalam keadaan seperti ini, dirinya tidak boleh menunjukkan kelemahan menunjukkan kelemahan sama saja dengan cari mati. Memikirkan ini, Alex hampir menggunakan seluruh tenanganya untuk menepuk kepala lawan.


Meski daya tekanan di dalam air terlalu besar, namun berkat ilmu bela dirinya yang tinggi, ia tetap bisa membuat gelombang air dan menekannya ke arah Leonardo yang berada di bawah.


Leonardo yang diserang juga mengulurkan telapak tangannya untuk menyerang Alex. Siapa yang akan menyangka bahwa Alex sedang menunggu gerakannya ini. Melihat pihak lain sibuk menyerang dan tidak punya tangan untuk mengendalikannya, dia segera melompat.


Di sisi lain, Leonardo juga keluar dari air, pria ini kembali menyerang ke arah Alex seperti torpedo besar.


Penonton di sekitar yang melihat keduanya telah keluar dari air merasa bahwa pertempuran besar lainnya akan segera dimulai. Tak disangka, Alex tidak berbalik untuk bertarung, melainkan berbalik dan berenang menuju daratan. Melihat Leonardo menyusul, Alex segera melompat, menginjak bebatuan di pantai, dan bergegas naik ke daratan.


Leonardo menunjukkan separuh tubuhnya, dan berteriak ke pantai: "Alex, apa yang kamu lakukan? Naik ke darat sama saja dengan mengaku kalah!"


Alex sudah mulai berpakaian, dia tersenyum ke arah Leonardo yang berada di dalam air dan berkata, "Aku kalah di babak ini. Bukankah kamu juga kalah di tanganku di babak pertama?"


Alex tahu betul bahwa jika dia masih berada di dalam air, dia mungkin akan tenggelam. Jadi dia berinisiatif untuk mengaku kalah di babak ini!


Leonardo juga naik ke darat. Tuan kedua buru-buru mengambil pakaian untuknya, dan ada juga yang membawakannya handuk untuk mengeringkan tubuhnya, sekelompok orang yang ada di sana tak henti memujinya: "Tuan Leonardo sangat hebat! Anak itu sama sekali tidak bisa mengalahkanmu, kita juga akan memenangkan babak ketiga! "


Leonardo sangat bangga, lalu memakai kembali pakaiannya. Mengalahkan Alex di dalam air kali ini meningkatkan kepercayaan dirinya. Namun, dia merasa menyesal karena tidak bisa membunuh lawannya di dalam air.


Tuan kedua berkata: "Tuan Leonardo, Anda pasti bisa mengalahkan dan membunuhnya di babak berikutnya!"


Alex mencibir: "Oke, katakan, pertandingan apa yang ada di babak ketiga?"


Leonardo mendorong Tuan kedua ke samping dan berkata, "Alex, aku akan mencoba jurus bertarung di darat bersamamu! Hari ini aku akan memberitahumu apa itu jurus membunuh yang sebenarnya!"


Alex terkekeh, "Apa kamu kira aku takut padamu?"


Alex membuat pose sembarangan, lalu memanggil Leonardo, "Ayo, jangan hanya berdiri di sana, lakukan saja semaumu."


Di dalam hatinya, Leonardo tahu bahwa Alex adalah seorang ahli, dan yang bisa dia bandingkan hanyalah kekuatan.


Apa gunanya jika kamu pandai dalam banyak hal? Dalam menghadapi kekuatan yang absolut, semuanya akan menjadi sia-sia.


Jika dia mengerahkan semua kekuatannya untuk membanting Alex, dan menghancurkannya, seberap tinggipun ilmu bela diri Alex juga tidak akan berguna.


Memikirkan hal ini, Leonardo tiba-tiba mengeluarkan raungan keras, mengerahkan semua kekuatan di kakinya, dan menghantam Alex dengan kecepatan penuh, seperti sebuah tank yang tidak terkendali, dan juga seperti sebuah gunung besar yang meyerang.


Pada dasarnya dia memang bertubuh besar, saat dia membuka tangan dan kakinya, jalan keluar Alex di sisi kiri dan kanan seketika terhalangi. Trik ini terkesan kikuk, namun nyatanya justru membuat lawan tak bisa mundur dan tak menghindar.


Dia yakin jika Leonardo menyerang dengan segenap kekuatannya kali ini, jika ia menghindar, maka itu menunjukkan kelemahannya, jika lawannya menyerang, maka diia akan semakin kesulitan melawan.


Kalau begitu, maka lebih baik untuk menghadapinya! Memikirkan hal ini, Alex tidak mengelak, dia tiba-tiba bergerak maju menghadapi Leonardo. Dia menundukkan badannya, memegangi kepala dengan kedua tangannya untuk melindungi bagian vital kepala dan wajahnya, lalu pada saat yang sama mengangkat siku untuk menghadap ke bagian dada Leonardo.


Kedua sosok itu bertabrakan seiring dengan sebuah suara benturan. Ujung siku Alex tepat mengenai posisi jantung Leonardo, seketika kepalanya pusing, tidak bisa berdiri dengan kokoh, dan mundur sepuluh langkah sebelum jatuh ke tanah.


Alex juga merasa tidak nyaman. Dia merasa bahwa dirinya belum pernah menerima benturan seperti itu sebelumnya, dan sebuah tekanan menyerang dari sikunya.


Ketika melihat Leonardo, dia ternyata bangkit lagi. Kedua tangan menggosok bagian dadanya, terlihat seperti tidak menderita luka dalam yang parah. Hal ini membuat Alex diam-diam mengaguminya: "Pria besar ini benar-benar hebat!"


Setelah satu jurus, Leonardo tidak berani menyerang sembarangan lagi, dia menggerakkan tubuh besarnya dan menunggu Alex menyerang terlebih dahulu. Tuan kedua yang berada di sebelahnya berteriak dengan cemas: "Tuan Leonardo, bunuh dia, pukul dia!"


Murid-murid di sebelahnya juga memperhatikan. Leonardo akhirnya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Seiring dengan raungannya dua telapak tangan berputar di depan dadanya dan berputar semakin cepat, telapak tangannya melengkung seperti siklon dan meniup rambut orang-orang di sebelahnya, memaksa para penonton untuk mundur ke belakang.


Alex benar-benar tidak pernah melihat jurus telapak tangan semacam ini. Melihat Leonardo memutar telapak tangannya seperti roda, tubuhnya yang besar tidak bergerak sama sekali seperti berakar di tanah.


Alex tidak bisa menemukan cara untuk melawannya untuk sementara waktu, jadi dia hanya bisa terus mundur. Lawan yang terus melangkah mendekat, membuatnya merasa agak sulit bernapas.


Sekarang dia sudah mengetahui bahwa jurus menyerang Leonardo juga sangat melelahkan, dia hanya perlu menghabiskan lima atau enam menit lagi dengannya untuk membuat lawannya kehabisan tenaga.


Tetapi Leonardo yang berada di depannya seperti banteng yang tak kenal lelah, atau sebuah robot, dengan telapak tangan yang tak henti berputar dan tubuh yang terus maju, dia telah menyerang dengan jarak lebih dari sepuluh meter, dan dia tidak kelelahan sama sekali, sedangkan Alex kembali mundur hingga ke tepian kolam tadi.


Leonardo sangat senang dengan situasi saat ini, dia melangkah dengan semakin cepat : "Nak, kemana kamu akan pergi? Bagaimana kalau mati saja di tanganku, atau kamu bisa melompat ke dalam air." Dia tahu bahwa asalkan masuk lagi ke dalam air, maka Alex tetap bukanlah lawannya.