
Zen bilang, “Sebenarnya aku sangat benci ekspresimu ini. Kalau bukan karena aku tidak ingin membuang-buang tenaga padamu, aku sudah membunuhmu sejak awal.”
Wilie tertawa terbahak-bahak dan tidak merasa ucapan Zen itu serius.
Bagi Wilie, Zen hanyalah Grandmaster tahap awal saja dan masih beda dua tingkat dengannya, jadi bagaimana mungkin Zen
bisa membunuhnya?
Saat dia menunjuk Zen disekitarnya tiba-tiba muncul suara ledakan. Ledakan tersebut menguburkan Wilie dan ucapannya masih belum sempat dikatakannya.
Zen menggelengkan kepala dan menghela napas, “Benar-benar tidak mengerti apa pemikiran orang-orang ini. Jelas-jelas punya senjata berat yang cukup untuk membantai mereka semua, bahkan mengira kultivasi mereka sangat tinggi, benar-benar tak tertolongkan.”
Setelah mengatakannya, ekspresi Zen kembali menjadi tenang seperti biasa. Dia berjalan ke dalam terowongan dengan cepat dan bayangannya juga terus bergerak.
Zen tiba di depan Alex. Alex menunjuk mobil tangki, “Apakah kamu melihatnya?”
Zen menganggukkan kepala. Dia sebagai ahli peledakan tentu saja sudah mencium aroma bom. Di dalam mobil tangki ini memiliki peledak yang bisa meledakkan seluruh mobil tangki.
“Apakah keluarga Bazel mau meledakkan seluruh terowongan ini?” Zen melihat Alex.
Alex menggelengkan kepala, “Aku juga tidak tahu. Tapi yang aku ketahui sekarang adalah kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus membongkar bom ini.”
Zen berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala dan berkata, “Meskipun aku belum tentu bisa membongkar bom merkuri ini, setidaknya aku bisa mencobanya.”
Alex menganggukkan kepala dan mulai mencari jalan di sekeliling yang bisa meninggalkan terowongan ini.
Mereka tidak mungkin bisa keluar dari gerbang terowongan karena dia merasa orang keluarga Bazel sudah mengintai gerbang terowongan. Jangankan gerbang terowongan, keluarga Bazel pasti memasang CCTV di dalam terowongan.
CCTV-nya dipasang diujung mobil tangki. Jika mereka berani muncul di area CCTV, maka mereka pasti akan langsung meledakkan mobil tangki.
Ledakan di mobil tangki seperti ini, meskipun Alex adalah master tingkat Alam Dewa Perang juga akan mati.
Alex tentu saja tidak ingin mati di tempat seperti ini.
Alex segera menyadari sebuah parit dan tampak ada sebuah jalan yang sangat kecil. Dia tidak tahu jalan kecil ini menuju ke mana.
Setelah dia membuka pintu jalan itu, dia melihat di dalam gelap gulita, seolah akan menelannya.
“Kalau tidak ada pilihan yang lain, kita juga hanya bisa mencobanya.” Alex merasa sangat tidak berdaya terhadap hal ini. Dia juga tahu situasi sekarang seperti apa.
Jika dia tidak menemukan jalan lain, dia akan terperangkap dalam terowongan ini. Lagi pula, keluarga Bazel juga sedang menunggu kabar dari pembunuh itu. Jika bisa tidak meledakan terowongan ini, keluarga Bazel tentu saja tidak akan meledakannya karena setelah meledakannya keluarga Bazel juga sulit menjelaskannya pada pemerintah.
Hal ini telah melewati batas atasan sana dan tim militer juga akan meratakan keluarga Bazel.
Namun, jika Alex masih bisa hidup dari sana, keluarga Bazel juga tidak keberatan untuk mengambil resiko ini. Cara yang merugikan kedua belah pihak ini, pemenang pada akhirnya tentu saja adalah keluarga Bazel.
Setelah Alex mati maka PT. Atish tidak bisa masuk ke Provinsi Sulawesi Tenggara dan Biro Red Shield juga akan mundur.
Satu dayung melampaui dua pulau.
Setelah Alex masuk ke dalam terowongan tersebut, beberapa menit kemudian dia naik dari bawah.
Ekspresi Alex sedikit memburuk, “Berarti kita tidak bisa membawa bom itu ke tepi mobil tangki?”
Zen menganggukkan kepala, “Iya, tidak bisa. Bom merkuri horizontal ini jangankan menggerakkannya, bahkan disentuh juga mungkin akan meledakan bom. Ini adalah kelebihan dari bom ini.”
Alex menghela napas. Sekarang mereka hanya bisa memikirkan cara untuk pergi dari tempat ini kalau dia tidak bisa memindahkan bom ini.
Alis mata Zen berkerut, lalu duduk di atas mobil tangki dan melihat bensin yang bocor.
Sekarang area ini sudah dipenuhi dengan aroma bensin.
Sangat bau.
Pada saat ini, Alex mengangkat bahunya dan mulai mencari jalan untuk pergi dari sini.
Andi segera menyusul Ruby. Saat melihat Ruby berjalan ke depan dengan ketakutan, Andi segera berjalan ke depan Ruby, “Halo, aku adalah adiknya Kakak. Namaku Andi Hartono.”
Ruby jelas terkejut karena dikejar oleh Andi. Ruby yakin bahwa dia tidak memiliki teman lagi di terowongan ini, selain Alex. Jadi, dia tidak percaya kalau Andi adalah orang baik.
Hanya saja, saat Ruby sedang ragu, alis mata Andi sudah berkerut dan segera memeluk Ruby ke samping. Sedangkan tapak tangannya tidak mengenai apa pun. Meskipun demikian, setelah tapak tangan ini dihempaskan, suara ledakan tetap muncul di udara.
Alis mata Andi berkerut dan melihat orang yang muncul di depan, “Menarik sekali, ternyata seorang master tingkat Alam Dewa Perang.”
Zaen berkata dengan acuh tak acuh, “Serahkan gadis ini padaku, aku akan mengampunimu.”
Sedangkan Andi merasa sangat penasaran, “Tidak, jika kamu seorang master tingkat Alam Dewa Perang kenapa masih bekerja untuk keluarga Bazel? Ini tidak benar. Kamu sudah seorang master tingkat Alam Dewa Perang, kamu bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan, ‘kan?”
Zaen hanya melihat Andi dengan acuh tak acuh. Saat melihat Andi tidak berniat untuk menyerahkan Ruby padanya, dia mendengus, kemudian menghentakkan kakinya segera menuju ke arah Andi.
Setelah tiba di depan Andi, Zaen langsung menghantam telapak tangannya ke dahi Ruby.
Andi menarik Ruby ke belakang, sedangkan Andi maju dan menonjoknya.
Boom!
Kedua orang mundur ke belakang dan menabrak ke pilar batu. Saat mundur ke belakang Andi sudah melepaskan tangan Ruby, sehingga tidak melukai Ruby.
Ruby melihat Andi dengan ketakutan. Sedangkan Andi bergumam pada Ruby, “Aku sepertinya tidak bisa melindungimu di sepanjang jalan. Kamu pergi dulu! Kalau aku bisa membunuh pak tua ini, aku akan menyusulmu nanti.”
Ruby hanya bisa segera menganggukkan kepala. Dia tahu dirinya akan menjadi beban Andi kalau terus berada di sini. Saat Andi bertarung dengan Zaen, Ruby sudah tahu bahwa kekuatan Andi juga sangat kuat.
Zaen menahan napas dan menatap Andi, “Kamu juga tingkat Alam Dewa Perang?”
Andi berkata dengan santai, “Jangan berbasa-basi lagi, ayo kalau mau bertarung denganku. Lagi pula, belum tentu siapa yang akan mati?!”
Pada saat ini, Ruby mulai berjalan ke luar gerbang terowongan, sedangkan Zaen segera mengejar Ruby.
Telapak tangannya menampar ke arah Ruby. Ruby tercengang di tempat karena kecepatan Zaen terlalu cepat. Dia hanya mengedipkan matanya dan tidak bisa bergerak lagi.
Pong!