Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Kemenangan


Edward tidak punya pilihan selain mengosongkan tangan kirinya dan menahan kaki Nova. Keduanya terlempar begitu bersentuhan, dan segera kedua sosok itu bertarung lagi.


Erika memperhatikan dengan gugup, dia tahu bahwa Edward adalah seorang ahli, terutama Edward memiliki senjata di tangannya, sedangkan Nova dengan tangan kosong. Dia khawatir Nova akan terluka.


Alex yang ada di samping mengingatkan, "Erika. Jangan khawatir, aku punya rencana."


“Oke.” Erika merasa lega sekarang. Dia tentu saja percaya pada kata-kata Alex.


Meskipun tidak memiliki senjata di tangannya, Edward tidak berani meremehkan sepasang tangan besi Nova. Keduanya kaya akan pengalaman bertarung, dan tak satu pun dari mereka akan mudah dijatuhkan. Setiap gerakan dan setiap jurus dijaga keseimbangannya, dan dengan sabar mencari kekurangan satu sama lain.


Di antara penonton dari pihak lawan, Devan terlihat sedikit cemas, dia bertanya kepada Mega dengan suara rendah: "Dik, kenapa Nova begitu sulit dihadapi?"


Mega juga sedikit bingung, dan berkata dengan cemas: "Mungin karena Edward terluka. Namun, meski begitu, harusnya juga mudah menangani Nova."


Perlahan Nova menjadi unggul. Terlebih lagi sosok Nova yang mengejutkan semua orang: Tubuhnya tidak menentu, seperti hantu yang muncul di dunia.


Jika dibandingkan, Edward yang mahir dalam pisau terbang malah lebih lambat darinya. Banyak orang bisa melihatnya. Jika pertarungan berlanjut, Edward pasti akan menunjukkan kelemahan yang besar.


Benar saja, kelemahan Edward ditangkap oleh Nova dalam sederetan jurus, Nova memotong langsung ke aorta leher belakangnya dengan tangannya.


Jika telapak tangan ini mengenai lehernya, maka Edward akan terluka parah meskipun tidak mati, tapi pada saat ini, Edward yang licik berteriak dan diam-diam menembakkan pisau kecil yang disembunyikan di tangan kirinya. Untungnya, Nova mengelak tepat waktu, jika tidak dia akan dibutakan oleh pisau terbang yang satu ini.


“Sial, bisa-bisanya menggunakan senjata tersembunyi?” Nova mengomel.


Edward tersenyum jahat, "Kompetisi tidak menetapkan bahwa senjata tersembunyi tidak diperbolehkan."


“Kurang ajar, bajingan, apa menurutmu kamu bisa mengalahkanku dengan cara ini?” Nova mengulurkan tangannya dan mengeluarkan pistol.


Edward terkejut, "Nova, kamu tidak boleh menggunakan pistol!"


Dor! Dor! Nova tidak mengatakan apa-apa, dan langsung menembakkan dua tembakan berturut-turut. Dua peluru itu masing-maisng mengenai betis Edward. Edward segera melempar pisaunya dalam kesakitan dan berlutut.


Orang-orang dari keluarga Utama langsung marah pada saat itu, Mega berkata: "Nova, apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu menggunakan pistol?"


Nova tersenyum dingin, "Ya. Aku memang menggunakan pistol! Siapa suruh bajingan ini menggunakan pisau terbang duluan."


Devan berteriak: "Wasit! Nova menggunakan pistol dan melanggar peraturan secara serius. Mohon segera diskualifikasi dia. Keluarga Buana kalah pada ronde ketiga. Kami menang."


Alex berdiri dan berkata dengan nada datar, "Devan, apa yang kamu teriakan? Aturan pertandingan kali ini adalah bukan pelanggaran jika tidak membunuh lawan secara tak sengaja. Sepertinya tidak ada aturan untuk tidak menggunakan pistol dalam pertandingan kita, kan? "


"Kamu, kamu, Alex, kamu benar-benar tidak masuk akal. Jika boleh menggunakan pistol, kami sudah menggunakannya dari tadi. Mana mungkin perlu kalian yang menggunakannya terlebih dulu?"


Rangga berdiri dan berkata, "Wasit! Devan benar. Apa ini masih kompetisi bela diri jika bisa menggunakan senjata? Aku minta untuk diskualifikasi Nova dari kompetisi."


Wasit tampak serius dan berkata dengan lantang: "Sesuai dengan aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Tidak ada ketentuan bahwa senjata tidak dapat digunakan. Bahkan jika menggunakan senjata, selama dapat memenangkan lawan tanpa membahayakan nyawa lawan, maka kamu akan dianggap menang."


"Karena itu! Di ronde ketiga, Nova menang! Dengan penggabungan nilai sebelumnya, pemenang terakhirnya adalah keluarga Buana."


Kepala wasit berkata dengan nada datar: "Tuan ketiga! Hasilnya telah kami umumkan. Harap pastikan untuk memindah alihkan Armada transportasi Pulau Pari kepada Buana Group dalam waktu tujuh hari. Harap juga mentransfer 7% biaya ke rekening perusahaan kami. "


Devan berteriak: "Aku tidak akan memberikannya! Jangan harap mendapatkan armada keluargaku."


Kepala wasit berkata kepada Rangga tanpa ekspresi: "Tuan ketiga, kamu adalah penjamin Devan dan kepala keluarga Utama. Jika kamu tidak mengikuti keputusan kami, maka kamu menyatakan perang terhadap tentara bayaran Gang Beruang Hitam! Kami telah menyelesaikan tugas di sini, selamat tinggal. "


Wasit berbalik dan menatap Alex. Alex tersenyum puas padanya, Siapa juga yang tahu kalau Rangga berniat mencari pendukung yang lebih hebat dari organisasi Pencabut Nyawa untuk membantunya memimpin kompetisi di Pulau Pari dengan segala cara. Tapi siapa sangka Rangga si idiot ini malah meminta bawahannya sendiri untuk menjadi saksi. Meskipun Alex bukan lagi Bos Gang Beruang Hitam. Namun, setiap orang di Gang Beruang Hitam selalu menganggapnya sebagai bos mereka.


Dalam kompetisi hari ini, Alex lah yang diam-diam menginstruksikan Nova untuk melukai Edward dengan pistol jika dia tidak bisa mengalahkannya.


Edward bukanlah ahli hebat seperti Alex, dia sama sekali tidak bisa menahan kekuatan pistol, jadi dia terluka hingga jatuh ke tanah.


Setelah mendengar putusan akhir, Rangga terduduk lemas di kursi.


Devan masih berteriak, "Paman, aku tidak akan memberikannya. Aku tidak akan mengaku kalah. Armada adalah usaha keras ayahku seumur hidup, bagaimana bisa diberikan begitu saja kepada keluarga Buana?"


Rangga tahu bahwa pendukung para notaris adalah tentara bayaran Gang Beruang Hitam yang kuat, jika dirinya melanggar keinginan mereka, maka keluarga Utama akan dibunuh oleh tentara bayaran Gang Beruang Hitam.


Bagaimana seorang notaris bisa begitu kejam? Perlu diketahui bahwa dirinya juga mengirim seseorang untuk memberi mereka komisi masing-masing sebesar 1 miliar.


Para notaris naik ke helikopter mereka sendiri dan meninggalkan Pulau Pari.


Tepat saat ini, sirene polisi terdengar di luar pulau. Belasan perahu motor polisi mengepung Pulau Pari sekaligus.


Nova memandang Edward dan berkata: "Hari ini, aku masih perlu membawamu kembali ke kantor polisi. Aku akan melakukan pemeriksaan untukmu secara pribadi! Apa kamu si mesum Danau Runju atau bukan, hasilnya harus ada hari ini. "


Edward ditangkap untuk kedua kalinya, dan Nova secara pribadi mengantarnya. Dalam perjalanan, dia memberi tahu Inspektur Gilang dan meminta departemen teknis untuk melakukan pemeriksaan DNA lagi untuk Edward. Untuk mencegah departemen teknis menutup-nutupi hasil, total tiga teknisi berpartisipasi dalam pemeriksaan ini.


Hasilnya keluar dengan sangat cepat. DNA Edward benar-benar konsisten dengan DNA si mesum, dan Edward hanya bisa mengakuinya.


Sebuah taruhan sederhana dan mewah, armada transportasi keluarga Devan yang seharga 11 triliun semuanya menjadi milik Alex. Kabar tersebut segera menyebar ke seluruh kota Jakarta.


Pada pertemuan dewan direksi keluarga Buana baru-baru ini, Erika mengumumkan bahwa deviden bulanan setiap anggota dewan direksi keluarga Buana akan digandakan. Anggota dewan direksi yang dapat menerima dividen bulanan sebesar 200 juta, sekarang naik menjadi 400 juta.


Tentu saja, hanya ada satu pengecualian, dan itu adalah Satriya. Bahkan orang tua Satriya dan Riska juga menerima dividen ganda. Erika berkata: "Mereka adalah paman dan bibiku. Aku tidak dapat melanggar moral meskipun mereka tidak baik padaku. Tetapi bagi Satriya, aku tidak akan pernah memaafkannya."


Satriya tidak terima, tetapi dia tidak berani berbicara, ketenaran dan status Erika di seluruh kota Jakarta sudah berbeda dengan sebelumnya.


Ketika mendapat kabar tentang kemenangan taruhan tersebut, Lasmi sangat senang, "Bagus, bagus! Cucu menantuku benar-benar bisa dipercaya. Aku harus hidup dengan baik, dan melihat cucu perempuanku, Erika membawa keluarga Buana menduduki posisi keluarga no.1 kota Jakarta. "


Devan telah dikalahkan sebanyak 2 kali, mana mungkin dia bisa menerimanya begitu saja? Melalui insiden Pulau Pari, terlihat jelas bahwa hubungan antara keluarga Wibowo dan keluarga Buana sangat erat. Awalnya, keluarga Utama sudah tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dengan keluarga Buana dan Wibowo. Namun, penangkapan Edward memberi kesempatan lain bagi Devan.


Edward adalah adik ipar Wakil Walikota Herman. Istri Walikota, Inthira pasti membenci Alex dan Nova. Mengapa keluarga Utama tidak bergabung saja dengan keluarga Sutiono untuk berurusan dengan keluarga Buana dan Wibowo?


Devan mengandalkan lidah jahatnya untuk membujuk Rangga dan Inthira. Segera, dengan adanya dorongan Devan, kedua belah pihak mencapai kesepakatan, dendam ini harus dibayarkan!