Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Dimanfaatkan


Kalau Geya menikah dengan Keluarga Bazel, ayahnya akan di bawah kendali Keluarga Bazel. Dia harus memihak pada Keluarga Bazel dalam melakukan berbagai hal karena putrinya telah bergabung dengan Keluarga Bazel.


Namun, jika Geya tidak berencana untuk menikah dengan Farraz, kelanjutan dari hal ini pun akan berbeda.


Sepertinya Alex menemukan sebuah ide yang cukup bagus agar memungkinkan dirinya memiliki lebih banyak mitra kerja di kota Kendari.


Setelah makan, Amel menghampiri Alex dan meletakkan buah yang telah dipotong di atas meja. Lalu dia duduk di sampingnya.


Alex melihatnya dengan perasaan kaget.


Amel tersenyum. “Kenapa? Aku yang perempuan tidak takut, tapi pria jantan sepertimu malah takut?”


Alex menoleh ke sekeliling. “Kalau aku tidak mengetahui identitasmu, mungkin aku benar-benar mengira kamu akan menambahkan obat ke dalam minumanku.”


Detik berikutnya, pintu terbuka karena ditendang. Alex menoleh ke sana dengan sangat kaget.


Ada lima orang pria yang berjalan masuk. Salah satu dari mereka tampak marah dan jelas marah terhadapnya.


Dalam ingatannya, seharusnya Amel tidak akan melakukan hal seperti ini. Dia sudah memastikan identitasnya saat di kantor polisi.


Amel memang adalah polisi.


Wajah Amel tampak muram dan dia tidak bersuara. Dari lima pria yang masuk tadi, Jamal yang berambut hijau berkata dengan marah, “Amel, apa maksudmu? Bukankah selama ini kamu tahu bagaimana isi hatiku? Aku juga sudah bilang, aku suka kamu. Kamu adalah wanitaku dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu.”


Amel hanya melipat kaki dengan cuek dan seketika muncul aura preman pada dirinya, hanya kurang rokok saja. “Masalah seperti ini tergantung pada selera masing-masing. Aku suka tipe yang seperti ini, bukan yang sepertimu. Selain itu, kamu selalu bilang kamu suka aku, tetapi di mana kamu saat aku dibawa pergi oleh Morgan dan temannya?”


Jamal bergegas menjelaskan, “Saat itu aku benar-benar tidak tahu kalau kamu dibawa pergi. Aku sedang tidur.”


Amel tertawa. “Jangan cari alasan. Kamu kira aku tidak memahami kamu dengan baik? Bukankah anak buahmu punya sumber informasi yang paling pesat? Memangnya mereka tidak tahu kalau aku dibawa pergi oleh Morgan dan temannya?”


Seketika Jamal tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, dia mengalihkan ujung tombaknya pada Alex. “Dasar bajingan! Apa kamu tahu dia adalah milikku? Berani sekali kamu berdekatan dengannya?”


Alex masih menatap Amel dengan perasaan terkejut. Amel memberi tatapan mata yang seakan sedang memohonnya untuk melanjutkan akting ini.


Alex sendiri juga kesal melihat tampang Jamal. Jadi dia berkata dengan cuek, “Ini bukan masalah sepihak tapi apakah kedua pihak setuju. Lagi pula, aku juga tidak memaksanya untuk berbuat seperti ini.”


Jamal menunjuknya dengan marah. “Aku tidak peduli siapa kamu. Hari ini aku akan bunuh kamu!”


Beberapa anak buah di belakangnya langsung menyerbu ke arah Alex. Ruangan kecil ini menjadi sedikit sempit, tetapi tidak berpengaruh besar terhadap Alex.


Dengan cepat dia melontarkan tinjuan dan tendangan. Empat anak buah itu terpental sampai menabrak dinding, lalu tidak ada yang bisa bangkit lagi.


Pada akhirnya, hanya tersisa Jamal sendiri yang masih berdiri. Ekspresinya tampak sangat kaget karena sama sekali tidak menyangka Alex dapat menaklukkan anak buahnya dengan semudah itu.


Saat Alex meletakkan satu tangan di bahunya, seketika sekujur tubuhnya menjadi kaku. Ekspresinya yang galak berubah menjadi ketakutan.


Dia merapatkan dua tangan. “Kak, sebenarnya wanita ini bukan milikku. Ampunilah aku.”


Jamal berwajah murung dan tidak punya pemikiran apa-apa lagi. Sekarang dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Dia tidak ingin mengurus kelanjutan masalah ini.


“Kak, aku akan pergi. Aku akan pergi keluar sambil berlutut, oke? Tolong ampunilah aku.”


Alex tersenyum. “Tadi aku dengar kamu punya sumber informasi yang pesat, kan?”


Jamal bergegas mengangguk.


“Kalau begitu berikan nomor teleponmu padaku. Aku akan cari kamu kalau membutuhkan jasa informasimu,” kata Alex.


Jamal bergegas mengeluarkan pen dan kertas untuk menuliskan nomor teleponnya. Namun, tiba-tiba Alex menambahkan, “Kalau nomor teleponmu ini tidak dapat dihubungi, aku akan langsung datang kepadamu. Pada saat itu, jangan bilang aku tidak mengampunimu.”


Jamal segera mencoret nomor teleponnya dan menuliskan nomor telepon yang baru.


Barulah Alex menyimpan kertas itu dengan senang hati. “Oke, kalian sudah boleh pergi kalau tidak ada urusan lain. Kelak Amel adalah milikku. Kalian jangan cari dia lagi.”


Jamal dan anak buahnya tentu tidak akan pergi mencarinya lagi. Sekarang mereka sudah mengetahui kehebatan Alex yang dapat mengalahkan mereka dengan semudah itu. Jelas bahwa dia terlatih.


Di kota Kendari, pada umumnya orang hebat yang terlatih akan dikontrol oleh Keluarga Bazel.


Sebab itu, kemungkinan besar Alex berasal dari Keluarga Bazel.


Berpikir demikian, mereka beranggapan bahwa dia adalah orang yang tidak boleh dilawan.


Mereka buru-buru kabur keluar. Sementara itu, Alex duduk kembali di sofa sambil melihat Amel dengan acuh tak acuh. Dia tahu kalau Amel mengetahui hal ini.


Jelas bahwa Amel memanfaatkannya.


Perasaan dimana telah dimanfaatkan oleh orang lain sungguh tidak nyaman. Jadi sekarang dia hanya ingin tahu sebenarnya apa yang ingin dilakukan olehnya.


“Tidakkah seharusnya kamu memberiku penjelasan?” tanya dia.


Amel mendesah tidak berdaya. “Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini, tetapi tugasku sebagai mata-mata tidak akan bisa dilanjutkan kalau aku tidak berbuat seperti ini. Selain itu, aku tahu kemampuanmu pasti sangat hebat. Jika tidak, kamu tidak mungkin dapat menyelamatkan aku dari Morgan.”


Alex tertawa. “Bagaimana kalau itu bukan karena kehebatanku, tetapi karena statusku yang kuat?”


Amel menjawab setelah dipikir-pikir, “Meski begitu, aku tetap akan memintamu datang. Jika statusmu cukup kuat, kamu tidak perlu turun tangan sendiri. Mereka tidak akan berani macam-macam kalau kamu mengungkapkan statusmu. Jamal tampak galak, tetapi dia hanya berani menindas orang yang lebih lemah darinya. Kalau bukan karena aku sendirian, dia juga tidak akan berani begitu lancang.”


“Kamu adalah polisi, seharusnya kemampuan bela diri kamu juga cukup bagus. Seharusnya kamu sendiri juga bisa menaklukkan mereka. Apa aku harus turun tangan?” Alex sangat kaget akan hal ini.


Amel merasa semakin tidak berdaya. “Konteksnya tidak sama.”


Alex baru paham. “Kalau aku turun tangan, semua dendam akan tertuju padaku. Kalau kamu beraksi, mereka akan semakin bersemangat meski kamu berhasil mengalahkan mereka, bahkan lebih banyak lagi yang akan datang kepadamu.”


Dia tentu tahu akan hal ini. Kalau dia tidak turun tangan, Jamal dan anak buahnya tidak akan menyerah begitu saja.