Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Penyerangan Paksa Gagal


Untuk sesaat, tiga kelompok dari tiga penjuru menyerang bersamaan, dan ruang kendali utama dikepung dalam sekejap. Di bawah kepemimpinan Reno, tim tenggara dengan cepat melewati halaman, dan lebih dari selusin tentara telah memasuki ruang kendali.


Tentunya, semua ini disaksikan oleh Olivia di ruang kendali. Dia mencibir dan mengangkat interkom, "Perhatian, sekarang sudah ada yang memasuki gedung kontrol, kalian bertarung secara terpisah. Biarkan mereka yang masuk mati di sini!"


Anggota timnya ini telah menetapkan posisi tempur mereka sendiri di dalam gedung. Mereka semua adalah elit di antara tentara bayaran, sifat semuanya kejam dan ganas, mereka menjawab: "Baik, tenang saja, Kapten. Tidak akan ada dari mereka yang bisa keluar hidup-hidup! "


Sebagian besar tentara yang memasuki gedung terbunuh oleh peluru yang ditembakan segera setelah mereka memasuki pintu. Beberapa yang tersisa ada yang berjongkok di sudut tangga, di antara pipa, dan juga di belakang mesin. Mereka tidak berani sembarangan menunjukkan diri, tapi meski demikian, tetap saja ada di antara mereka yang terus terbunuh.


“Bagus, aku pernah dengar kalau para pejuang tidak takut mati, kalau begitu akan kukabulkan! " Dia adalah iblis gila yang haus darah, ada kesenangan yang tak terlukiskan ketika dia melihat seseorang jatuh di bawah senjatanya. Seiring dua tembakan beruntun, terdapat dua tentara lagi yang tertembak saat sedang berlari.


Sandi berteriak. Dia memegang AK 47 di tangannya. Dia menembak setiap ada yang masuk. Para petugas SWAT telah mengenakan rompi anti peluru, tetapi mereka hampir tidak punya pertahanan terhadap senjata yang begitu dahsyat. Banyak dari mereka yang tewas atau terluka.


Inspektur Gilang mendengar suara tembakan yang perlahan berkurang. Jelas sekali bahwa para prajurit yang menyerang ke dalam sudah hampir tewas semua. Dia mengepal erat tangannya dan memukul kuat arah dinding beton sambil menggigit bibirnya.


Di saat ini, dua buah garis busur menyilaukan tiba-tiba melintas di atas langit, dan dua buah bom terbang melewati dinding beton dan mendarat di samping prajurit yang sedang bersembunyi. Koresponden di sebelahnya segera mendorong Inspektur Gilang ke samping, "Awas, Pak!" dia menutupi Inspektur Gilang dengan tubuhnya.


Bom meledak! Ternyata itu adalah bom pembakar berdaya ledak tinggi yang ditembakkan Arkan. Bom itu meledak dan memercikkan api berminyak ke semua sisi, seketika percikan-percikan itu membentuk zona api lingkaran dengan diameter 15 meter.


Tubuh beberapa orang tentara yang tidak sempat menghindar telah diselimuti api. Api itu melekat pada pakaian mereka dan tidak bisa dipadamkan dari kulit mereka. Bau menyengat tercium dalam sekejap. Sekitar 5 orang tentara sedang menjerit dan berusaha memadamkan api di tubuh mereka. Sedangkan tentara di sekitar yang berniat membantu mereka, malah ikutan terbakar. Belasan tentara tewas tersiksa dalam kobaran api.


Inspektur Gilang diselamatkan oleh koresponden sehingga tidak terbakar oleh apii, tetapi koresponden tersebut sudah terbakar, dan tubuhnya berubah menjadi sepotong arang dalam sekejap.


Arkan yang berada di ruang kendali menyaksikan kejadian itu lewat cctv sambil tersenyum jahat, "Oke, biar kalian rasakan. BIar kulihat masih ada berapa banyak dari kalian yang bosan hidup! Waktunya 24 jam, aku akan temani kalian bermain!"


Inspektur Gilang berguling ke samping dan berhasil menghindari api. Komunikator yang terlempar mengeluarkan suara dari pemimpin tim tiga: "Lapor, Pak. Musuh menggunakan bom pembakar, 7 orang di pihak kami tewas…"


“Baik.” Wajah Inspektur Gilang tidak kelihatan jelas dalam nyala api, dan para pasukan sedang menunggu instruksinya, akan tetapi dia tiba-tiba tidak tahu harus berbuat apa. Serangan telah gagal, dan operasi kembali terganggu.


Tepat di saat ini, sebuah sosok berlari keluar dari gedung kontrol, dilihat dari kostum yang dikenakan sepertinya berada di pihaknya. Inspektur Gilang buru-buru memerintahkan anggota tim lainnya untuk membantu, dan sosok itu akhirnya berhasil melarikan diri kembali ke tempat persembunyian, orang itu adalah Reno.


Wajah Inspektur Gilang sudah sangat tidak enak dipandang sedari tadi, dan sekarang bahkan bertambah buruk. Dia tiba-tiba berdiri, "Para bajingan ini ..." Reno buru-buru menariknya, "Hati-hati, Pak!" Sebuah peluru menggores leher Inspektur Gilang, dia berbaring di belakang pelindung dan menyentuh lehernya, tangannya  dipenuhi darah sekarang.


Arkan menembak dari atas dan hampir membunuh Inspektur Gilang. Dia melihat seseorang sepertinya sedang melaporkan sesuatu kepada Inspektur Gilang lewat senapan, jadi dia sudah mengunci identitasnya, tapi tembakannya masih meleset sedikit.


Namun, Arkan meremehkan kualitasnya, "Cuma segini? Dia tidak memiliki taktik ataupun strategi, dasar bodoh. Jika bukan karena pria di sebelahnya, dia pasti sudah kubunuh! hehe."


Satu tembakan itu malah membangkitkan semangat juang Inspektur Gilang, "Akan kubasmi para bajingan ini!” Dia melompat keluar, dan tiba-tiba berlari ke depan, lalu tiarap, sederet gerakannya ini membentuk huruf “S”, dia memimpin para kapten menuju ke ruang kendali. Sekarang sudah tidak mungkin baginya untuk mundur, meski mati pun dia juga harus mati di medan perang.


Di bawah pimpinan Inspektur Gilang, para tentara menyerang masuk ke dalam gedung dan lantai bawah. Meskipun sekitar 5 orang tentara tewas berkorban, tapi mereka juga berhasil menembak dua orang musuh di lantai atas.


"Haha! Datang lagi yang cari mati!" Arkan mengunci posisi Inspektur Gilang dan menarik pelatuk. Inspektur Gilang telah mengerahkan kekuatan tempur terbesarnya. Dia merasakan ada bahaya datang dari sampingnya dan langsung berguling menghindar. Namun, dia tetap terlambat sedikit, peluru berhasil mengenai kakinya.


Setelah itu, dia buru-buru bangkit dan berlari ke pintu, tapi kaki kanannya tidak bekerja sama, tubuhnya miring, dan jatuh bersandar ke dinding, senapan di tangannya hampir saja terlepas dari tangannya.


Reno menyeret Inspektur Gilang ke sudut untuk bersembunyi, "Pak, kita tidak bisa begini terus, kekuatan tempur musuh telah melampaui kendali kita, ayo mundur!"


Inspektur Gilang mengeluarkan pistol dari pinggangnya: "Tidak ada kata mundur, serang dan bunuh mereka!" Tepat pada saat ini, suara panglima terdengar dari interkom: "Perhatian, kelompok pertama, segera mundur!"


Mau tak mau, Inspektur Gilang hanya bisa menuruti perintah. Di bawah semburan bom asap, dia melihat Inspektur Gilang memimpin pasukannya keluar dengan kaki terpincang-pincang hingga ke dinding luar. Arkan tersenyum penuh kemenangan menatap layar cctv, "Hentikan tembakan, perhatikan sekeliling!"


Serangan pertama berakhir dengan kegagalan pihak kepolisian. Alasan pertamanya adalah karena mereka memang sudah meremehkan kekuatan musuh, dan yang kedua, mereka juga berada di pihak yang tidak menguntungkan karena tidak berani menggunakan senjata ledak berskala besar mengingat sedang di gudang bahan peledak.


Asap senjata berangsur-angsur menghilang, dan beberapa mayat anggota tim SWAT terlihat di area dalam dinding, udara sekitar juga masih penuh dengan bau gosong dan amis darah, kondisi tempat itu sungguh sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Setelah panglima memahami situasi di tempat kejadian, dia mengatur untuk membawa korban luka yang dievakuasi ke rumah sakit untuk perawatan, dan mengeluarkan perintah melalui komunikasi radio: "Kelompok kedua, maju!"


Mayor Darwin memimpin pasukan khusus memperkuat kompi di garis pertahanan kedua, dia sudah menunggu sedari tadi. Begitu mendengar perintah, dia langsung bangkit dan memimpin 200 anggota pasukan untuk mengepung pembangkit listrik tenaga nuklir.