Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Menaklukkan Penjahat


Terdengar suara pintu terbuka dan disusul oleh suara Friska, “Jasmin, beberapa dokumen ini perlu ditanda tangani olehmu…em, aku ngak lihat apa-apa, silakan lanjutkan!”


Bam, Friska langsung keluar dengan secepat kilat.


Friska bersandar di samping pintu dengan panik: Mereka sedang berciuman?!


Pada saat yang sama, dia juga merasa bersalah: Mengapa aku tidak mengetuk pintu dulu?


Jasmin langsung berlari keluar, lalu melihat ke kiri dan kanan, kemudian melihat Friska, “Fris, itu ngak seperti yang kamu pikirkan, sebenarnya kami ngak melakukan apa-apa. Ada serangga yang terbang ke mata Tuan Alex, jadi aku membantunya, suwer!”


“Hah? Aku benar-benar ngak melihat apa pun,” kata Friska dengan mata berkaca-kaca.


Jasmin menarik Friska ke dalam kamar, saat ini Jasmin sudah tenang, “Tuan Alex, cepat katakan, bukannya tadi ada serangga yang terbang ke matamu, jadi aku membantumu mengucek mata?”


“Em, iya iya.” Apa yang bisa Alex katakan jika wanita cantik ini sudah mengklarifikasinya?


Friska tersenyum paksa, “Jas, ngapain kamu gugup gitu? Aku sungguh ngak melihat apa-apa, selain itu, memangnya kenapa jika kalian berdua melakukan sesuatu? Kita semua sudah dewasa, jadi kita hanya perlu bertanggung jawab atas hal yang kita lakukan saja.”


Jasmin tercengang, “Em, iya iya.”


Nada bicara ini persis dengan nada bicara Alex tadi.


Jasmin merasa sedikit canggung, dia tiba-tiba merespon lagi, “Fris, kamu bilang apa tadi?”


Friska juga menenangkan diri, lalu menunjukkan senyum terpaksa, “Ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani, nanti juga boleh kok.”


Jasmin berkata, “Kalau begitu kamu temani Tuan Alex minum teh dulu, aku akan menandatangani dokumen-dokumen ini.”


Alex berkata, “Kalian kerja saja dulu, aku balik dulu.”


Suasana menjadi sangat canggung ketika terperangkap di antara kedua wanita dan dia sebaiknya pergi.


Setelah menandatangani dokumen, Jasmin pun menyerahkan dokumen tersebut, “Fris, aku sudah menandatanganinya. Tadi…”


Friska langsung menyela, “Aku tahu semuanya, juga ngak tahu apa-apa. Jas, kamu ngak perlu menjelaskannya padaku, aku ngak akan mengatakannya pada siapapun.”


Friska menghela napas sambil mengambil dokumen, “Sebenarnya, aku juga menyukai Alex, hanya saja ngak seberani kamu. Sedangkan bocah itu sepertinya ngak suka aku.”


Jasmin tertawa, “Fris, zaman sudah berbeda, jika pria begitu pemalu, maka sebagai wanita harus inisiatif.”


Friska menghela napas, “Tapi, dia sangat setia pada Erika.”


Jasmin berkata, “Bagaimanapun, aku akan menjadi wanitanya! Meskipun hanya bisa mendapatkan orangnya, dan ngak bisa mendapatkan hatinya, aku juga rela.”


Friska memeluknya sambil berkata, “Aku juga ingin seperti itu, tapi bocah ini sangat menjaga dirinya, dia ngak akan masuk perangkap semudah itu.”


“Bagaimana kalau kita…” Entah tahu apa yang dibahas Jasmin dan Friska secara diam-diam.


Jasmin dan Friska sibuk karena acara pendirian perusahaan PT. Atish. Mereka perlu mendesain tempat, mengundang tamu, dan sebagainya sehingga benar-benar sibuk.


Akhirnya Tahun Baru telah tiba, Erika dan yang lainnya tiba di tempat acara lebih awal. Ada berbagai pita diikat dan spanduk tergantung. Karyawan PT. Atish, anak buah Jasmin serta manajer dari berbagai tempat hiburan berkumpul bersama, tapi Alex tidak datang, melainkan bersembunyi di balik layar.


Pak Daniel hadir secara pribadi, dan tentu saja dia duduk di kursi VIP. Kedatangan Pak Daniel ke acara pendirian perusahaan PT. Atish menjadikan acara tersebut semakin berkelas dalam sekejap.


Bahkan keluarga Mahari juga menyuruh Ghaston untuk menghadiri acara tersebut, dan ini semua direkam oleh stasiun TV kota Medan.


Namun, fokus utama adalah tiga CEO cantik dari PT. Atish, tiga wanita ini bukan hanya cantik, tapi auranya juga luar biasa. Terutama Friska yang bertugas sebagai pembawa acara, dia sangat murah hati sehingga menarik perhatian para pria di tempat.


Tiba-tiba ada keributan dalam kerumunan ketika Walikota Daniel sedang berpidato.


“Pembunuhan!”


“Ada seorang pembunuh!”


Sebuah tempat kosong pun muncul di antara kerumunan. Ada seorang pria yang tertusuk di tengah tempat kosong itu, lalu dia jatuh ke lantai dan berlumuran darah.


Selain itu, ada juga seorang pria yang melambaikan pisau sambil menahan seorang karyawati PT. Atish dan tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa ini?” Pak Daniel yang berpidato dengan antusias di atas panggung bertanya dengan lantang, “Di mana satpam? Apa yang terjadi di sini?”


“Minggir! Minggir! Beri jalan!” Keano, Hengky, Rega dan Martin yang berada di tengah kerumunan buru-buru berjalan ke arah pria yang membawa pisau itu.


Ketika mereka berempat muncul di depannya, mereka baru menyadari bahwa orang tersebut terlihat sangat gila, “Aku sudah membunuh orang, jangan kemari! Lepaskan aku, kalau tidak aku akan membunuhnya!”


Wajah wanita yang disandera menjadi pucat karena ketakutan, seluruh tubuhnya juga gemetaran. Dia sama sekali tidak bisa melawan, seolah-olah dia kehilangan kesadaran sampai tidak bisa berteriak.


“Satpam sialan, mundur!” Penjahat yang memegang pisau itu berteriak dan pisau yang bergesekan di leher karyawati itu mulai mengeluarkan darah! Situasi sangat kritis!


“Polisi! Di mana polisi? Pastikan untuk melindungi keselamatan sandera! Harus lindungi keselamatan sandera!” Pak Daniel berkata dengan panik melalui mikrofon, “Pria yang memegang pisau itu, dengarkan aku, aku adalah walikota kota Medan, asalkan kamu meletakkan pisau, maka semuanya bisa dibahas baik-baik. Kalau tidak, kamu akan mati!”


Orang-orang di tempat kejadian berusaha menjauhi pria yang memegang pisau itu.


Orang yang berada paling dekat dengan pria tersebut, selain Keano dan rekannya, ada juga satpam PT. Atish, dengan total 40 orang. Namun, meskipun mereka bisa mengepung pria yang memegang pisau itu, tapi mereka tidak punya senjata sehingga tidak berani mendekatinya.


Polisi mengepung di luar dan tidak masuk ke dalam karena kondisi di tempat kejadian sangat ricuh.


Pak Daniel sangat marah, “Ngapain kalian melindungiku? Cepat tangkap penjahatnya!”


Ada ratusan polisi di sana, tapi pihak polisi sama sekali tidak menyiapkan penembak jitu, jadi mereka perlu menunggu kedatangan beberapa penembak jitu dari pasukan khusus.


“Lepaskan wanita itu! Bagaimana jika aku yang menggantikannya?” Keano mencoba berpura-pura lemah, “Kawan, apa kamu ngak merasa malu kalau seorang pria kekar sepertimu menyandera seorang wanita?”


Keano mengedipkan mata pada Hengky, artinya: Aku menarik perhatiannya, kamu coba untuk menyelamatkan sanderanya.


Hengky pun mengerti, lalu bersiap mendekati penjahat itu dari arah lain.


“Mundur!” Penjahat itu sangat waspada, dia menyeret karyawati itu sampai mundur dua langkah, lalu membereng Hengky, “Kamu, mundur ke belakang! Atau aku akan mengores lehernya dengan pisau!”


“Hentikan!” Jasmin tiba-tiba keluar dari kerumunan, lalu berjalan ke arah penjahat itu, “Lepaskan dia, aku akan menjadi sanderamu.”


Penjahat tersenyum melihat Jasmin yang terlihat cantik dan seksi dalam balutan gaun mewah, “Haha! Kamu terlihat seperti wanita yang berstatus! Baiklah, kemarilah dan aku akan melepaskannya.”


Keano sedikit khawatir, “Kak, hati-hati.”


Jasmin tersenyum, “Sebagai anggota eksekutif, aku tentu saja harus menjadi orang pertama yang maju ketika karyawan mengalami masalah.”


“Ya!” Satpam PT. Atish bertepuk tangan ketika mendengar ucapan Jasmin.


Penjahat itu berkata, “Ulurkan sepasang tanganmu, biar aku bisa lihat dengan jelas!”


Jasmin mengulurkan sepasang tangannya kepada penjahat itu, “Aku tidak memegang senjata, tenang saja.”


Penjahat itu melototi Keano, “Hei kamu, mundur agak jauh!”


Keano buru-buru melambaikan tangan, “Kawan, tenanglah! Aku akan mundur lebih jauh.”


Setelah melihat Keano mundur, suasana hati penjahat itu menjadi lebih tenang, tapi dia dengan hati-hati mendekati Jasmin, “Angkat kedua tanganmu, jangan macam-macam! Jalan kemari pelan-pelan.”


Jasmin menganggukkan kepala dengan tenang, “Nih aku lagi angkat tangan! Jangan melukai karyawanku, atau aku ngak akan mengampunimu.”


Penjahat itu menyeringai, “Ngak mengampuniku? Cui! Nanti siapkan mobil untukku, aku mau meninggalkan kota Medan!”


Jasmin tersenyum, “Dunia ini sangat besar, tapi kamu ngak bisa ke mana-mana! Dengarlah saranku dan pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri.”


Penjahat itu memarahinya, “Omong kosong! Jangan main-main kamu! Kemari sedikit lagi, atau aku ngak akan melepaskannya!”


Saat ini, karyawati itu akhirnya bereaksi dan berkata dengan cemas, “Bu Jasmin, jangan kemari! Ngak perlu pedulikan aku! Terima kasih.”


Jasmin berkata, “Monica, lekas kabur begitu dia melepaskanmu, dan obati lukamu, mengerti?”


Karyawan yang bernama Monica itu menangis, “Bu Jasmin, nyawa Anda sangat berharga, jangan tukar dengan nyawaku! Hiks.”


Ketika penjahat mendengar bahwa Jasmin adalah manajer, dia semakin bersedia mengganti sanderanya, “Cepat kemari!”


“Iya.” Jasmin terlihat sangat lembut dan patuh, dia berjalan ke sisi penjahat itu dengan tampang tenang, “Lepaskan dia!”


Penjahat itu tiba-tiba melepaskan Monica, lalu Jasmin berteriak, “Monica, cepat lari!”


Penjahat tersebut tiba-tiba merasa situasi berada di luar kendalinya, jadi dia mengulurkan tangan hendak menarik Jasmin.


Alhasil, Jasmin langsung menahan tangan penjahat itu dan meninju belakang kepalanya sehingga penjahat itu tergeletak ke lantai.


“Mana polisi? Cepat bawa dia pergi! Di mana dokter? Cepat selamatkan dia!” Pria yang ditebas sebelumnya sudah jatuh pingsan karena kehilangan banyak darah.


Jasmin sangat keren ketika menangkap penjahat itu dalam sekejap mata!


Para penonton, karyawan PT. Atish, anak buah Jasmin serta teman bisnis dan politik lainnya yang berpartisipasi dalam acara ini bertepuk tangan untuk Jasmin!


“Aku dokter!” Seorang wanita muda berjalan keluar dari kerumunan, dan mendekati pria yang tersayat pisau, lalu memeriksanya dan berkata “Dia membutuhkan transfusi darah, siapa yang bergolongan darah O?”


Saat ini, orang-orang sudah mengangkat pasien itu ke atas tandu, lalu bergegas mengantarnya ke ruang UGD PT. Atish untuk melakukan penyelamatan darurat.


Erika mengambil mikrofon dan berkata dengan lantang, “Kalian semua jangan panik, CEO Jasmin telah menangkap penjahat itu. Kalian semua bisa melakukan tugas kalian masing-masing, terutama tim satpam, kalian bertanggung jawab untuk membersihkan tempat kejadian. Acara pendirian akan dilanjutkan kembali!”


Pak Daniel merasa sangat kagum pada Erika dan Jasmin karena bisa tetap tenang menghadapi situasi berbahaya seperti tadi, dia lalu memuji keduanya, “Wanita memang tidak kalah dari pria! CEO Erika, PT. Atish pasti akan sukses besar!”


Erika tersenyum, “Terima kasih, Pak Daniel. Karyawan PT. Atish sudah menangani hal seperti ini berkali-kali, jadi mereka juga perlahan tahu.”


Pak Daniel menghela napas, “CEO Erika, apa kamu sedang menyalahkanku? Apa maksudmu keamanan kota Medan tidak begitu baik?”


Erika menggelengkan kepala, “Pak Daniel, aku tidak bermaksud begitu. Aku sudah sangat berterima kasih karena Anda bisa berpartisipasi dalam acara pendirian PT. Atish.”


Dia berkata keras melalui mikrofon, “Pak Daniel, pidato Anda disela oleh penjahat barusan. Sekarang, silakan dilanjutkan.”


“Oke!” Pak Daniel langsung berdiri di panggung sambil memegang mikrofon dan berkata dengan senang, “Hari ini, dalam acara pendirian PT. Atish terjadi masalah. Tapi para dewan eksekutif PT. Atish justru menangani keadaan darurat ini dengan tenang, sehingga aku bisa melihat harapan besar pada PT. Atish! Aku di sini berharap bisnis PT. Atish akan semakin besar, dan mendapat prestasi lebih baik dan lebih maju!”