
Riska menyajikan beberapa masakan yang telah dia pesan, kemudian menyiapkan 2 gelas untuk arak, dia menuang penuh arak untuk Alex, lalu berkata, “Kakak ipar, aku tahu mood mu sangat buruk, katanya minum arak bisa mengurangi pikiran. Sini, aku temani kamu minum. Semoga kamu bisa bangkit lagi secepatnya, bagaimanapun juga, keluarga Buana memerlukanmu.”
Alex mengangguk, dia meminum segelas demi segelas, tak perlu waktu lama untuk mengosongkan sebuah botol, Riska sendiri juga sudah cukup mabuk, “Kak, panas sekali di sini.” entah sengaja atau tidak, Riska membuka bajunya dan menampakkan gunung putih tinggi yang dibalut dalam bra hitam.
Alex meliriknya sekilas dan berkata, “Sudah malam, Ris. Aku juga sudah kenyang, pulanglah.”
Mana mungkin Riska mau pergi, tujuannya hari ini untuk membuat nasi jadi bubur, kedua tangannya menyentuh bagian punggung dan melepaskan pengait penutupnya itu.
“Kak, aku suka banget sama kamu!” Biar aku temani kamu ya hari ini?” kata Riska sambil memeluk Alex.
Siapa sangka, Alex langsung mendorongnya, “Riska, jaga sikapmu! Jangan lupa, aku ini Kakak iparmu!”
Riska agak terkejut, dia tidak menyangka Alex tidak tertarik padanya, perlu diketahui kalau seorang pria yang berada dalam kondisi terpuruk tidak mungkin bisa mengendalikan diri setelah minum setengah botol arak.
Alex mengambil bajunya, lalu berkata, “Pakai ini, cepat pergi dari sini! Kalau tidak, kamu akan menyesal.” selesai mengatakannya, Alex langsung berdiri dan berjalan ke lantai atas dengan langkah goyah.
Riska menggertakkan giginya erat-erat, lalu berjalan keluar dari villa no.9 dengan tidak rela setelah memakai kembali pakaiannya.
Saat masuk ke dalam mobil, dia bertumpu pada setir dan menangis histeris, “Alex, mananya dariku yang tidak bisa dibandingkan dengan Erika, aku begitu menyukaimu, tapi kamu sama sekali tidak punya rasa padaku. Aku benci kamu!”
Saat sedang menangis, sebuah mobil pribadi berwarna hitam berhenti di depan pintu villa Alex. Seorang wanita dengan rambut ekor kuda berpakaian santai turun dari mobil.
Riska mengusap matanya, “Bukannya itu Nova? Ngapain dia kemari?”
Riska melihat Nova memasuki villa Alex, kemudian lampu di lantai bawah padam, lalu disusul dengan bayangan Nova yang naik ke lantai atas.
Di dalam kamar Alex yang terang, terlihat sosok keduanya yang sedang berpelukan dari luar jendela, Riska berkata dengan panik, “Nova, rupanya dia punya hubungan begini dengan Alex!”
Riska segera menyalakan mobil dan melaju ke tempat tinggal Erika secepat kilat.
“Kak, cepat ikut denganku! Ada yang harus kutunjukkan.”
Erika mengerutkan kening, lalu berkata, “Ada apa, Ris? Kenapa panik begini?”
Riska menarik tangan Erika dan membawanya ke mobil, “Masuk dulu.”
Erika mengira Neneknya sakit karena Riska yang begitu panik, saat Riska sudah menyalakan mobil, dia baru memberitahunya, “Kak, Nova si ****** itu sekarang tinggal di rumahmu. Kamu masih tidak percaya dengan foto yang kuberikan? Kamu benar-benar bodoh.”
Erika tertegun, “Kenapa kamu bisa tahu?”
Riska berkata, “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”
Erika berkata, “Aku dan Alex sudah mau cerai, mau dengan siapapun dia bergaul terserah padanya. Itu bukan urusanku lagi. Ris, putar balik, aku tidak mau mengurusi hal itu.”
Riska malah berkata, “Kak, kamu sama sekali tidak marah Alex dan Nova bermesraan di rumahmu? Kamu rela diselingkuhi oleh teman sekolahmu? Lagian dia juga seorang polisi, kalau kita menangkap basah mereka, lalu memberitahu skandalnya kepada Inspektur mereka, dia pasti tidak akan berani mengganggumu lagi.”
Riska memarkirkan mobil, lalu menunjuk ke lantai atas, “Kak, aku melihat Nova naik ke atas dengan mataku sendiri, sekarang mereka pasti sudah tidur bersama. Pas sekali kalau kita menangkap basah mereka sekarang.”
Erika menengadahkan kepala dan melihat rambutnya yang berantakan dari kaca depan. Dia adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan penampilan, dirinya yang sekarang mana bisa disebut wanita tercantik di kota Jakarta? Dia merapikan rambutnya sambil berkaca, lalu melihat kembali dirinya yang berada di dalam cermin, wajahnya sangat kasihan, benar-benar mirip istri yang dibuang suami, rasa sedih tiba-tiba muncul dari hatinya.
Nova sungguh berada di dalam rumahnya? Di atas ranjangnya yang lembut, dan melakukan hubungan semacam itu dengan suaminya?
Hati Erika seolah-olah diiris pisau! Namun, ini semua perbuatannya! Tidak seorangpun dari mereka yang bisa disalahkan.
Waktunya di dunia ini sudah tidak banyak lagi, bukannya dirinya berharap Nova bisa menjaga Alex menggantikan dirinya?
Alex, dia sudah melakukan banyak hal untukku, jika aku mati, mana mungkin aku tega membiarkannya seorang diri?
Nova, kuharap kamu akan menjaganya baik-baik!
Erika sudah sampai di lantai bawah, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti, lalu berkata pada Riska, “Aku di sini saja.”
Riska jadi gelisah, “Kak, kita sudah sampai, kenapa tidak jadi? Aku ingin melihat gimana wanita tak tahu malu itu menggoda Kakak ipar.”
“Kak, kalau kamu tidak enak hati, aku saja yang ke sana! Aku akan menghadapinya.” kata Riska, dia kemudian berjalan cepat ke arah kamar.
Erika khawatir Riska akan membuat Alex marah, jadi dia mengikutinya dari belakang.
Keduanya sampai di lantai atas, Riska membuka pintu kamar, apa yang ada di hadapannya sekarang malah Nova yang sedang duduk dengan mata berkaca-kaca di sisi Alex, sedangkan Alex berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Riska merasa aneh karena ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Alex bangun dari ranjang dengan kesusahan saat melihat ada yang masuk, Nova juga berbalik, melihat orang yang berdiri di depan pintu adalah Erika, Alex berkata dengan senang, “Ka, kamu pulang?”
Sudah ketahuan rupanya, Erika berjalan mendekat dengan wajah muram, dia melihat Alex dan Nova secara bergantian, “Nov, pas sekali kamu datang. Aku pengen ngomong sama kamu.”
Nova berkata sambil tersenyum dingin, “Mau ngomongin apa, Ka? Foto-foto itu? Aku benar-benar muak denganmu! Dengan otak pintarmu itu, kamu bisa-bisanya dimanfaatkan orang. Hanya dengan beberapa lembar foto itu kamu langsung percaya kalau aku punya hubungan dengan Alex?”
Erika berkata, “Bagaimana kamu menjelaskan kondisi sekarang?”
Nova mengambil surat pengunduran dirinya dari atas meja dengan wajah muram, “Aku ke sini untuk berpamitan dengan Alex. Bagaimanapun juga kami ini rekan akrab yang pernah mengalami hidup dan mati. Aku tidak ingin menghancurkan hidup bahagianya hanya karena beberapa lembar foto.”
Erika mengambil dan melihatnya, ini memang surat pengunduran diri Nova. Selain itu, di atas kertas tertulis jelas kalau Nova berencana untuk kembali ke kampung halamannya di kota Manado dan bekerja di sana.
“Nov, kamu sudah berjasa banyak, sebentar lagi pasti bisa jadi Inspektur, kamu rela meninggalkan semua kehormatan itu dan meninggalkan Jakarta?”
Nova tersenyum pahit dan berkata, “Ya! Hari ini aku datang khusus untuk berpamitan dengan kalian. Erika, kuharap kamu tidak melukai perasaanmu dengan Alex karena keberadaanku. Dia satu-satunya pria terbaik di dunia ini. Hargailah, aku pergi dulu.”
Nova menghela nafas, lalu berdiri dan menuruni tangga dengan pelan.