Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Sifat Aneh


Ketua menghela nafas dan berkata, “Desa kami miskin, guru-guru di luar sana tidak bersedia mengajar di sini, jadi kami menerapkan warisan turun temurun dengan mengajarkan anak kami sendiri. Ada 3 orang guru yang juga anak-anak dari desa kami, pendidikan tertinggi mereka hanya sebatas SMA. Untuk murid ada 200 an orang. Setiap guru perlu mengajar 2 kelas, untuk SD kelas 1-6 sekolah di desa ini. Kalau SMP perlu sekolah di kota kecil di luar desa.


 


 


Erika mengerutkan kening, “Sumber daya pengajarnya minim sekali? Kalian tidak pernah melaporkannya ke sistem pendidikan kabupaten?”


 


 


Tuan Ismail berkata, “Tentu saja ada, tapi sampai sekarang tidak ada solusinya. Mana ada orang di luar sana yang mau mengajar di daerah pegunungan.”


 


 


Ketiganya berbincang sambil berjalan, tak lama kemudian mereka tiba di tim produksi 9 yang berada di belakang gunung, Tuan Ismail menunjuk rumah yang terletak di sudut atas di kampung itu, “Lihat itu, yang paling belakang itu rumah dokter jenius.”


 


 


Alex menimbang jaraknya, masih ada sekitar 1,5 km dari tempat mereka berdiri sekarang. Mereka masih harus berjalan lumayan jauh, lalu dia bertanya, “Ka, capek?”


 


 


Erika berkata sambil tersenyum, “Tidak, ayo jalan.”


 


 


Akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah dokter jenius, teras rumah menggunakan anyaman bambu, sangat bersih, karena pintu terbuka lebar, Tuan Ismail langsung berteriak, “Ada orang tidak?”


 


 


“Ada.” seorang gadis muda berjalan keluar dari dalam, umurnya sekitar 17-18 tahun, wajahnya sangat cantik, sepasang mata yang bulat berbinar melihat orang yang datang, “Kakek Ismail sudah datang ya.”


 


 


Tuan Ismail memperkenalkan gadis itu, “Dia cucu perempuan dokter jenius, namanya Christie.”


 


 


Alex tersenyum pada Christie, siapa sangka Christie malah tersipu malu dan menundukkan kepala.


 


 


Tuan Ismail bertanya, “Chris, Kakekmu ada?”


 


 


Christie menjawab, “Ada di teras belakang, lagi sibuk dengan obat-obatannya.”


 


 


Dokter jenius sedang menjemur tanaman obat-obatan yang baru saja dia dapatkan, yang didapatkannya di pelosok gunung kali ini lumayan banyak, dia mendapatkan banyak sekali tanaman herbal yang langka, dia perlu menjemur obat-obatan ini hingga kering, lalu menyimpannya.


 


 


Dokter jenius meninggalkan kesibukannya saat melihat ada tamu yang datang, dia menegakkan tubuhnya dan berkata, “Hahaha ketua, Ismail, kalian ya rupanya.”


 


 


Tuan Ismail segera berkata, “Bung, tujuanku kemari hari ini membawa temanku yang sedang sakit parah, kuharap kamu bisa mengobatinya.”


 


 


Dokter jenius melihat Alex dan Erika secara bergantian. Segera dia mengetahui siapa pasien yang dimaksud Tuan Ismail, pasti salah satu di antara mereka. Seketika ekspresi wajahnya berubah, “Mereka dari luar, kan?”


 


 


Tuan Ismail berkata, “Benar. Ini Alex, dan yang ini Istrinya, Erika…”


 


 


Dokter jenius berkata dengan wajah muram, “Aku sudah pernah bilang hanya akan mengobati orang dalam desa ini, tidak untuk orang luar. Kenapa kamu membawa mereka ke sini?”


 


 


Tuan Ismail berkata, “Bung, aku tahu aturanmu. Tapi nona Erika ini orang baik, bisa tidak bantu aku sekali ini saja?”


 


 


Dokter jenius berkata dengan tegas, “Tidak.”


 


 


Alex tidak menyangka dokter jenius ini sama sekali tidak mau menolong mereka. Dia hendak mengatakan beberapa kata, tapi dicegah oleh Erika.


 


 


Tuan Ismail memohonnya, “Meskipun dia orang luar, tapi dia tidak punya dendam apapun denganmu, selain itu dia juga orang baik. Hidupnya sedang dalam bahaya sekarang, kamu ini kan dokter, kenapa kamu bisa berdiam diri begitu?”


 


 


 


 


Ketua tim produksi juga membantu mereka berbicara, tapi dokter tersebut sama sekali tidak mau menolong, dia benar-benar keras kepala.


 


 


Tuan Ismail kehabisan akal, dia tahu sifat dokter satu ini aneh, kalau sudah bilang tidak, maka dia pasti tidak akan mengobatinya. Dia menepuk pundak Alex, “Alex, kita pulang dulu saja. Nanti kita pikirkan lagi.”


 


 


Alex tidak mau menyerah, jadi dia berjalan ke depan, “Tuan, Anda harusnya punya etika medis selaku dokter. Kami dari jauh-jauh kemari, tapi Anda malah menolak kami, tidakkah ini terlalu kejam? Memang kenapa kalau orang luar? Kenapa Anda menolak mengobati orang luar?”


 


 


Dokter tersebut hanya berkata, “Menolak mengobati orang luar adalah aturan yang aku tetapkan, silakan pergi.”


 


 


Erika berkata, “Lex, Beliau pasti punya alasannya sendiri, jangan memaksanya lagi. Ayo pulang, kita pikirkan lagi nanti.”


 


 


Alex mau tidak mau kembali dengan kecewa.


 


 


Ketiganya sementara menginap di rumah ketua tim produksi, setelah makan malam, Nova menelpon menanyakan kondisi penyakit Erika.


 


 


Alex menghela nafas dan berkata, “Dokternya sudah pulang, tapi dia tidak mau mengobati Erika. Dia punya aturan hanya mengobati orang dalam desa, tidak untuk orang luar. Jadi kami juga tidak bisa apa-apa.”


 


 


Begitu mendengarnya, Nova jadi kesal, “Dasar tua bangka, benar-benar orang aneh. Gimana kalau aku tanyakan langsung saja apa yang membuatnya begitu?”


 


 


Alex menjawab, “Tidak usah. Jalan ini sulit dilewati, selain itu aku juga sadar kalau orang tua ini sangat aneh, kalau dipaksa pasti tidak akan bisa. Walau kamu meletakan pisau di lehernya sekalipun juga belum tentu dia akan takluk.”


 


 


Nova jadi semakin marah, “Tua bangka ini benar-benar, kenapa dia begitu?! Kalau tidak mau mengobati orang, terus ngapain ngaku-ngaku dokter jenius? Bakar sajalah rumahnya itu. Sekalian hancurkan plang namanya, biar dia tidak perlu mengobati orang lagi selamanya.”


 


 


Alex berkata dalam hati, “Nova lebih emosian lagi dariku. Padahal aku sudah cukup marah, eh dianya malah lebih marah lagi.”


 


 


Erika mengambil teleponnya dan berkata, “Nov, jangan khawatirkan aku. Pemandangan di sini sangat bagus. Aku bisa tinggal lebih lama di sini. Kebetulan anak-anak di sini juga kekurangan tenaga pengajar, pas sekali aku bisa mengajar mereka. Mana tahu penyakitku perlahan membaik setelah beberapa hari.”


 


 


Nova menghela nafas, lalu berkata, “Ka, ini sangat sulit bagimu.”


 


 


Dokter jenius menolak mengobati Erika, dan Alex juga gelisah karena hal ini, tapi dia sendiri juga tidak punya solusi bagus.


 


 


Erika berkata kepada Alex, “Lex, lagian kita juga tidak buru-buru pulang. Jadi kenapa tidak tunggu 2 hari lagi, aku juga jadi bisa bantu mengajar anak-anak di sekolah 2 hari ini.”


 


 


Tuan Ismail seketika jadi senang mendengar Erika bisa mengajar, lalu ia berkata, “Nona Erika, kalau benar begitu, kami benar-benar sangat berterima kasih. Tenaga pengajar di sekolah sungguh terlalu sedikit. Kepala desa pasti akan sangat senang jika mendengar kabar ini.”


 


 


Alex sedikit tidak setuju, dia khawatir Erika akan kelelahan, tapi Erika bersikeras ingin mengajar di sekolah.


 


 


“Lex, aku merasa aku sehat-sehat saja sekarang, lagipula aku juga tidak ngapa-ngapain di sini, suasana hatiku juga akan lebih baik kalau bersama anak-anak di sekolah, siapa tahu hal ini malah ada manfaatnya bagi kesehatanku.”


 


 


Pada akhirnya Alex hanya bisa menyetujuinya.


 


 


Keesokan harinya, Erika meminta tolong Tuan Ismail membawanya bertemu Kepala desa. Kepala desa sangat senang mendengar kabar tersebut, dia langsung membawa Erika ke sekolah SD yang sudah bobrok tersebut. Hampir semua murid di dalam desa bersekolah di sini, dengan jumlah murid sebanyak ratusan orang dan hanya 3 orang guru, bisa dibayangkan seberapa kekurangannya tenaga pengajar di sini.