
“Apa Adi itu sangat hebat? Kenapa kamu nggak bisa menangkapnya meski ada pistol di tangan?” Alex berpikir.
Nova mengangguk, “Benar. Seni bela diri Adi sangat hebat, tampaknya dia sudah berbelas kasihan padaku.”
Martin diam-diam berpikir: Kalau aku nggak mengatakan kamu temannya Dirut Alex, mungkin Adi itu benar-benar akan membunuhmu!
Nova berkata dengan kesal, “Aku harus menangkapnya! Bocah ini pasti di kota AL! Aku mau segera menyerang markasnya.”
Alex menggeleng, “Jangan buru-buru. Kalau dia ada di kota AL, maka dia nggak akan kabur. Selain itu, bisnis Adi sangat besar di kota Al, meskipun dia mau pindah atau kabur, juga butuh waktu untuk menyiapkan semuanya.”
“Aku nggak bisa menunggu lagi! Alex, kamu nggak bisa mengerti, pamanku sejak kecil menjagaku sampai dewasa, hubungan kita sangat baik. Saat itu, pamanku juga seorang bos, sayangnya Adi malah membereskannya hanya karena pamanku mengoleksi barang antik itu. Mayatnya pun menghilang, sampai sekarang aku belum mengabarkan keluarganya. Saat itu, kasus itu menjadi kasus yang belum terpecahkan di kota AL, jadi aku nggak boleh membiarkan mereka mati!”
Alex tidak bisa begitu merasakan kesedihan Nova. Dia hanya bergegas membujuk, “Nova, kamu adalah polisi. Jadi, menangani kasus itu perlu ada bukti, baru bisa menangkap Adi dan menanyakan masalah ini dengan jelas, kan?
Nova berkata, “Katak giok putih ini adalah bukti! Ini adalah barang koleksian pamanku! Sedangkan Adi merebut barang ini dari pamanku, lalu membunuhnya!”
Martin berkata, “Dirut Alex, dengan kedudukanmu di Provinsi Sulawesi Utara, kamu bisa saja mengatakan kalau Adi adalah musuhmu. Dengan begitu, pasti ada yang menangkap Adi kemari.”
Alex menggelengkan kepalanya, “Nggak boleh. Dendam ini hanya boleh dibalaskan oleh Nova sendiri! Martin, kamu cari cara untuk menginvestigasi kondisi Adi secara detail. Terutama, tempat tinggal dan tempat yang sering dikunjunginya serta teman dekatnya. Semua masalah ini harus jelas. Besok, oh salah, malam ini, aku dan Nova akan berangkat ke kota AL dan akan membalaskan dendam ini!”
Nova pun merasa lega setelah mendengar Alex berkata begitu. Akhirnya, Nova pun tersenyum.
“Iya!” Martin menjawab, “Dirut Alex, butuh berapa banyak orang untuk menyerang kota AL?”
Alex menggelengkan kepala, “Sekarang tujuanku sangat besar. Kalau aku bilang aku mau ke kota AL, maka akan ada puluhan ribuan orang yang mengikutiku, dengan begitu aku akan sulit mengatasi masalah. Jadi, ini adalah rahasia! Nggak boleh diketahui oleh orang lain! Harus membiarkan semua orang mengira aku ada di kota Tomohon. Kemudian, aku dan Nova akan pergi ke kota AL untuk mencari Adi dan balas dendam.”
“Dirut Alex, aksi Anda ini sungguh berbahaya. Kota AL adalah wilayahnya Adi, kalau dia bersikeras melawanmu, maka kamu dan Bu Nova akan dalam bahaya.” Martin tidak setuju dengan ide Alex.
Alex memelototinya, “Kamu kira Adi bisa melukaiku? Ingat, nggak boleh ada yang tahu, harus menjaga rahasia.”
“Iya.” Martin mengangguk, “Apa yang Anda butuhkan, katakan saja padaku, biar aku persiapkan.”
Alex menggeleng, “Aku nggak membutuhkan apa-apa, hanya butuh satu mobil saja.”
Malam jam 9, mobil bisnis Mercedes-Benz tiba di kota AL.
Menurut informasi yang diberikan oleh Martin, Alex langsung menuju ke sekitar vila keluarga Lucky. Setelah itu, mereka mencari hotel, kemudian keluar jalan-jalan berdua dengan mengenakan pakaian kasual untuk mencari makan.
“Perkembangan kota AL cukup baik!” Nova merasa sangat senang karena ada Alex.
Dia sengaja meminta cuti pada kantor polisi, katanya dia ada hal yang perlu diurus dalam dua hari ini.
Kalau bukan karena kondisi istimewa, maka seorang Nova nggak akan meminta cuti. Karena Bryan mengetahui sikapnya yang gila kerja ini, jadi Bryan langsung mengizinkannya cuti.
Alex mengangguk, “Villa keluarga Lucky, haha, sungguh megah! Sayangnya, sudah mau bangkrut.”
Nova berkata, “Kita nggak usah buru-buru, mungkin Adi sekarang sangat cemas.”
Nova berkata, “Adi yang sekarang sama saja sedang mencari mati!”
Alex pun setuju, “Iya. Mungkinkah dia bisa hidup setelah menyinggung temanku? Eh, kalau bukan karena Martin bilang kamu adalah temanku, maka aku nggak akan buru-buru kemari.”
“Hmm!” Nova pun nggak senang. Ternyata Alex datang ke kota AL untuk melindungi reputasi sendiri dan bukan menemaninya ke sini.
Dia segera memahami jalan pikiran Alex. Ia ingin buru-buru membunuh Adi dan orang-orang jahat itu. Benar-benar hal ekstrim.
“Kenapa kamu?” Alex nggak menyadari perubahan suasana hati Nova.
“Kenapa denganku? Kamu bisa menemaniku ke kota AL saja, aku sudah bersyukur,” sindir Nova.
“Haha. Sekarang kita berada di wilayah Adi, jadi setiap detiknya akan ada kemungkinan kondisi menjadi berbahaya. Oleh karena itu, kamu nggak boleh bertindak senonoh, kalau gak kamu akan menjadi bebanku dan mempengaruhi tindakan membalas dendammu.” Alex tanpa sengaja menjelaskan begitu banyak, yang penting dia ke sini hanya membantu Nova membalas dendam.
Kalau bukan karena dirinya yang khawatir akan keselamatan Nova yang mau sendirian ke sini, maka dia nggak akan mengikutinya kemari. Hanya perlu menyuruh Andi kemari.
“Nggak usah memberitahuku, aku juga sudah tahu,” ucap Nova dengan kesal.
Alex tertawa terbahak-bahak, “Kita mau makan apa?”
Nova melirik ke kiri dan ke kanan, lalu dia menjawab, “Makan ikan saja! Ayo cari restoran seafood.”
“Oke.” Alex nggak milih soal makanan, jadi makan apa pun bisa karena dia pernah melewati hidup yang lebih susah dari sekarang.
Setelah masuk ke restoran seafood, mereka berdua memesan dua porsi ikan. Karena nggak ada ruang VIP, jadi mereka hanya bisa duduk di aula bersama dengan tamu lainnya.
Usaha restoran seafood ini sangat baik. Ditambah lagi dengan musim dingin yang sudah tiba sehingga banyak orang yang datang untuk menikmati hotpot. Aula pun sangat ramai.
Tak lama setelah mereka makan, ada keluarga kaya raya yang masuk ke restoran sambil berteriak, “Bos, malam ini anakku mau makan ikan. Cepat, sajikan sepiring ikan untuknya! Oh ya, tolong bukakan ruang VIP, aku nggak suka makan di aula karena terlalu kacau.”
Bos langsung segera menyambut tamu tersebut, “Yoh, maaf kedatangan kalian kurang tepat waktu, semua ruangan sudah penuh. Maaf, kalian hanya bisa makan di aula.”
“Apa?” Beberapa pria kekar itu menarik kerah baju bos restoran tersebut, “Sialan, beraninya bilang nggak ada ruang VIP? Apa kamu tahu siapa aku?”
“Em, kamu terlihat sangat familiar, tapi aku nggak kenal dengan Anda,” kata bos yang berusia empat puluh tahun sampai tersenyum.
“Plak plak!” Dia menampar bos itu, “Sialan! Bisa-bisanya nggak kenal denganku, Jaz Lucky, apa kamu nggak mau buka toko lagi? Percayakah aku bisa membuatmu menutup toko ini besok?”
Jaz Lucky! Setelah mendengar nama ini, banyak orang yang tiba-tiba membahas dengan suara berbisik!
“Tuan Muda Jaz, kenapa kamu datang ke restoran seperti ini untuk makan?”
“Nggak tahu, mungkin saja dia sudah bosan makanan lezat, jadi datang ke toko masyarakat untuk mencicipi makanan lain.”
“Habislah mereka! Bisa-bisanya bos itu nggak kenal dengan Tuan Muda Jaz.”