
Raffi yang bernasib mujur dan menghasilkan banyak uang itu menginvestasikan uangnya ke beberapa perusahaan dengan tingkat keuntungan yang tinggi, sehingga akhirnya bisnisnya semakin berkembang.
Dia memang lihai dalam hal bisnis ilegal, namun kurang pandai dalam mengelola bisnis legal. Ditambah lagi, Raffi paham betul dengan peraturan bisnis ilegal di Provinsi Zerg, sehingga dirinya pun cepat berkembang di bidang ini.
Maka dari itu, Raffi juga lumayan terkenal di area ini.
Raffi membeli beberapa rumah di kota Tomohon dan memiliki beberapa wanita simpanan yang cantik. Setiap harinya dia akan berkunjung ke rumah yang berbeda, tapi beberapa hari ini dia sudah tidak menikmati hidupnya seperti itu lagi karena masalah Richard.
Apalagi setelah Richard tumbang beberapa waktu ini, seluruh area ini pun kembali hidup, beberapa pebisnis ilegal juga sudah dibebaskan. Selama beberapa waktu ini, Raffi sedang mencaplok beberapa perusahaan kecil dan bersaing dengan orang lain.
“Baru-baru ini Raffi sering pulang ke rumah di area permukiman ini,” bisik seorang polisi senior.
“Siapa saja yang tinggal di sana?” Nova pun penasaran.
“Istri pertama Raffi dan anaknya.” Polisi senior, Dika menggosok-gosok tangannya dan mengeluarkan rokok dari sakunya.
Tapi, dia memasukkannya lagi usai melihat situasi di sekelilingnya.
Saat ini mereka sedang berjongkok di tempat yang lumayan tersembunyi di taman area permukiman, mereka sedang menunggu kemunculan Raffi.
Sebenarnya Dika sedikit kebingungan, secara logika, mereka tidak punya bukti kunci sama sekali, juga belum pasti apakah preman-preman di tempat tahanan itu dihabisi oleh Raffi atau bukan.
Oleh sebab itu, kemunculan mereka di sekitar kediaman Raffi saat ini terkesan sedikit gegabah.
Tapi, Dika juga tahu kalau status Nova sedikit spesial. Oleh karena itu, mereka tidak akan tenang kalau membiarkan Nova datang ke sini seorang diri.
Mereka tidak akan bisa memberikan penjelasan kepada Ketua Bryan kalau sesuatu terjadi dengan Nova.
Jadi, Dika pun mengajukan diri untuk pergi ke area permukiman ini bersama Nova.
Nova melihat ke sekelilingnya dan memutuskan untuk tidak menunggu lagi, “Berdasarkan penyelidikanmu, seharusnya Raffi sedang tidak ada di rumah sekarang. Aku mau naik ke atas untuk mencari keluarga Raffi, akan sangat bagus kalau aku bisa memasang alat pendengar di atas.”
Dika tidak setuju dengan ide Nova, “Apa yang akan kamu lakukan kalau Raffi pulang ketika kamu sedang proses memasang alat?”
“Maka dari itu, hanya aku sendiri yang perlu ke atas, kamu jaga baik-baik di sini. Kamu harus segera memberitahuku kalau Raffi pulang,” jelas Nova. Setelah itu, dia merapikan bajunya lalu berjalan ke gedung apartemen.
Bahkan Dika tidak punya kesempatan untuk menghentikan Nova. Dia melihat Nova sudah berjalan ke dalam gedung apartemen dengan cepat, sedangkan Dika hanya bisa duduk di bangku batu di taman sambil menoleh ke pintu masuk area permukiman.
Dia ingat berapa nomor kendaraan Raffi, jadi dia dapat langsung mengetahuinya kalau mobil Raffi masuk.
Apartemen Raffi terletak di lantai yang lebih tinggi, selain itu ukurannya juga lebih luas, dengan luas sebesar 160 meter persegi.
Nova tiba di depan pintu apartemen Raffi dan menekan bel. Seorang wanita berpakaian rumah membuka pintu dan menatapnya dengan sedikit terheran-heran.
“Halo, mau tanya, ini rumah Raffi, bukan?” Nova tersenyum kecil menatap wanita itu.
Sangat jelas wanita itu adalah seorang ibu rumah tangga yang pada waktu luangnya akan membawa anak berjalan-jalan keluar dan merumpi dengan teman-temannya.
Wanita itu hanya menganggukkan kepala dengan penasaran.
Nova sangat cerdik, “Aku adalah manajer PT. Atish, perusahaan kami ingin membahas masalah penggabungan perusahaan bersama Raffi.”
Wanita itu pun semakin terheran, “Tapi, suamiku tidak pernah cerita kepadaku kalau perusahaannya mau bergabung dengan PT. Atish.”
“Tuan Raffi nggak cerita kepadamu?” Nova sedikit tertegun.
Wanita itu berpikir sejenak, lalu dia memberikan jalan, “Silakan masuk.”
Nova berhasil masuk ke dalam rumah Raffi dengan lancar. Dia berjalan ke dalam ruang depan dan melihat dua anak yang sedang menonton televisi, satu laki-laki dan satu perempuan.
Belen menuangkan segelas air minum untuk Nova. Nova duduk di atas bangku, diam-diam dia memasukkan alat pendengar ke dalam celah sofa saat Belen nggak memperhatikannya.
Belen juga meletakkan buah di depan Nova, lalu dia duduk di hadapannya.
Nova sudah memikirkan kebohongan yang akan dia ceritakan dan memastikan tidak akan ada yang kurang.
Hanya saja, belum sempat membuka mulutnya, bel pintu berbunyi lagi.
Belen tersenyum dan berjalan ke pintu.
Kening Nova mengerut. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat tidak ada pesan dari Dika, jadi dia tidak terlalu khawatir.
Tapi, dia tetap sangat berwaspada.
Pintu dibuka dan dia melihat seseorang, bukan Raffi, melainkan seseorang dengan badan kekar yang mengenakan kacamata hitam dan baju lengan pendek berwarna hitam.
“Figo, ada masalah apa?” Belen menatap pria di hadapannya itu dengan sedikit terheran.
Tatapan mata Figo tertuju kepada Nova, “Aku ke sini untuk melihat siapa yang datang bertamu.”
Belen tersenyum, “Dia bilang kalau dia adalah manajer PT. Atish, dia ke sini untuk membahas masalah penggabungan perusahaan dengan Kak Raffi-mu.”
Figo malah tersenyum sinis, “Aku malah nggak tahu kalau Kak Raffi berencana bekerja sama dengan PT. Atish. Di samping itu, kedua perusahaan itu sama sekali nggak pernah berhubungan, kamu jangan bohong.”
Figo berjalan ke dalam dengan perlahan, sedangkan raut wajah Belen langsung berubah, dia bergegas melesat ke hadapan anak-anaknya dan melindungi mereka.
Figo *******-***** tinjunya, “Aku nggak tahu siapa kamu, tapi kamu berani ke sini untuk merencanakan sesuatu terhadap Kak Raffi, benar-benar cari mati!”
Sangat jelas Figo adalah orang yang terlatih, ototnya kekar, auranya begitu menekan di hadapan Nova.
Nova tidak menyangka kalau Raffi sudah mengutus seorang pengawal di rumahnya walaupun dia belum pulang.
Salah perhitungan!
Nova bangkit berdiri secara perlahan-lahan dan berniat meneruskan kebohongannya, “Alasan kenapa Raffi nggak memberitahumu mungkin karena waktu yang mepet, jadi nggak sempat menceritakannya kepada kalian, tapi masalah ini memang benar adanya.”
Figo tertawa dingin, “Nggak peduli benar atau nggak, aku tetap harus menangkapmu. Aku akan segera mengetahuinya setelah menelepon Kak Raffi, kalau kamu berani membohongiku, hehe.”
Figo pun turun tangan, setiap tinjunya begitu kuat dan ditumbukkan bagaikan palu. Bahkan saat mengenai sofa, sofa langsung bolong ditinjunya.
Nova menghindar ke kiri dan kanan juga belakang, pada akhirnya dia terpojokkan ke dinding dan nggak bisa mundur lagi, raut wajahnya berubah.
Kali ini Nova sadar kalau dirinya sudah bersikap gegabah, tapi Figo ini sama sekali nggak mau mendengarkannya dan hanya mau menangkapnya saja, sama sekali tidak terduga oleh Nova.
Kalau saja Nova punya waktu untuk menceritakan kebohongannya, maka masalah ini dapat ditanganinya dengan lancar dan dia sama sekali tidak perlu menghadapi serangan dari Figo ini.
Selain itu, dari serangan Figo, dapat dilihat kalau orang ini sama sekali tidak berniat menangkapnya, melainkan berniat melukainya, lalu baru menangkapnya setelah dia tidak bisa melawan lagi.