Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pembunuhan Wendy


Mega mencibir, "Wanto, kamu punya otak? Tentara bayaran iblis saja tidak bisa. dengan apa kamu membunuhnya?"


Wanto menggertakkan giginya, "Tapi, dia tidak boleh dibiarkan begitu saja, aku tidak bisa meredakan amarahku. Nona, meskipun aku tidak bisa menyingkirkan Alex, tapi aku bisa membunuh tangan kanannya. Pemilihan kali ini adalah ulah Wendy. Jika nona memberi perintah, aku akan segera membasmi semua keluarganya."


Mega berpikir dengan tenang sejenak, "Wanto, sekarang adalah masa kritis, ditambah hubungan Alex dengan kepolisian  sangat dekat. Jika kamu pergi membunuh Wendy, dan ternyata gagal, atau jika ada yang salah, nyawa kita berdua akan dalam bahaya."


Wanto menepuk dadanya, "Nona, saya, Wanto, terlepas dari keberhasilan insiden ini, saya berjanji bahwa keluarga Utama tidak akan terlibat."


Mega mengangguk, "Wanto, kalau begitu aku berterima kasih padamu mewakili ayahku." Sembari berkata, dia membuka laci dan mengeluarkan pistol berwarna perak abu-abu.


"Bawa pistol ini bersamamu. Jika semuanya sudah selesai, atur saudara-saudaramu pergi ke luar negeri untuk bersembunyi. "Mega mengeluarkan satu lembar cek senilai 11 miliar dan menyerahkannya kepada Wanto.


Wanto pada awalnya tidak mau, tetapi kemudian Mega membujuknya untuk menerima uang itu. "Nona, tunggu saja kabar baik dari saya."


Wanto kembali ke provinsi Raton dan segera mencari delapan pembunuhnya yang paling terpercaya. Kedelapan orang ini dikenal sebagai 8 Prajurit Darah Raton, mereka telah mengikuti Wanto selama bertahun-tahun, dan sudah sedekat saudara.


Wanto mengatakan tentang rencananya untuk membunuh Wendy, dan delapan bersaudara itu segera menyatakan dukungan mereka.


"Kak, Wendy benar-benar biadab, dia harus dibunuh. Serahkan saja tugas ini pada kami."


Wanto mengeluarkan pistol dan cek, lalu berkata kepada pemimpin 8 Prajurit Darah Raton: "Entah masalah ini berhasil atau tidak, kalian harus pergi ke luar negeri selama dua tahun setelah kejadian itu. Aku akan memberitahu kalian jika masalah ini sudah lewat. Jangan telepon, apalagi kembali jika tidak ada kabar dariku."


“Kami mengerti, kak.” Mereka menerima pistol dan cek tersebut, mulai merencanakan pembunuhan Wendy.


Rumah Wendy terletak sepuluh mil di sebelah timur Jakarta. Pemandangan disini sangat indah. Dapat melihat laut dari atas gunung. Dekorasi vila ini juga sangat mewah.


Malam ini, Wendy dan kedua putranya berkumpul untuk menikmati masakan rumahan. Salah satu dari dua putra Wendy berkecimpung dalam politik dan yang lainnya dalam bisnis. Hampir setiap malam di akhir pekan, ketiganya akan berkumpul bersama. Hari ini pun tidak terkecuali.


Hari ini, saat perjamuan keluarga baru saja setengah jalan, tiba-tiba ada kekacauan di lantai bawah.


Seorang pengawal berlari dengan panik, "Tuan Wendy, ada pembunuh  kemari!"


Tak berapa lama kemudian, seorang pria berbaju hitam bergegas naik dari tangga. Pisau tajam di tangan pria berbaju hitam langsung menusuk bagian punggung pengawal. Pengawal itu menjerit dan terkapar ke lantai.


Wendy juga bisa bela diri, melihat situasi yang di luar kendali, dia segera mengambil bangku dan melemparkannya ke pria berbaju hitam itu. Pria berbaju hitam itu menghindar.


Wendy bertanya: "Siapa kamu, apa aku punya dendam denganmu?"


Pada saat ini, tiga pria berpakaian hitam lainnya juga naik ke atas, masing-masing memegang pisau panjang. Mereka semua memakai penutup wajah berwarna hitam, tatapan mata mereka sangat tajam, dan mereka juga kejam. Jelas mereka ingin memusnahkan keluarga Wendy.


Kedua putra Wendy juga bisa sedikit bela diri, putra sulungnya mengambil botol anggur, dan si bungsu berbalik untuk mengambil tongkat baseball.


Keempat pria berbaju hitam itu saling mengirim sinyal, "Maju." Keempatnya turun tangan bersama.


Wendy benar-benar tidak ragu-ragu, lagipula, dia juga lumayan hebat. Dia bergegas menyerang dengan bangku kayu di tangannya, bruk, brak,  dia benar-benar tidak rugi sama sekali.


Di lantai pertama rumah Wendy, setidaknya ada lima atau enam pengawal yang bertugas sehari-hari, Wendy khawatir dia tidak akan bisa mengalahkan orang-orang ini, jadi dia berteriak minta tolong.


Namun, tidak ada satupu yang datang, sebaliknya, kedua putranya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Pffft! Lengan kiri putra sulungnya ditebas oleh seorang pembunuh, darah mengalir deras, putra sulungnya berteriak kesakitan sebelum terkapar di lantai.


Ketika Wendy datang untuk menyelamatkan putra sulungnya, perut putra bungsu malah ditikam oleh seorang pembunuh, dan putra bungsunya juga jatuh dalam genangan darah.


"Jer?" Wendy sungguh sakit hati. Saking marahnya, dia menendang seorang pembunuh hingga terlempar, lalu membanting bangku ke arahnya, segera kepala pembunuh itu berlumuran darah.


Karena seni bela diri Wendy yang cukup bagus, serangan empat orang itu tidak dapat menyelesaikan pertempuran dengan cepat, pemimpin pembunuh itu mengeluarkan pistol perak dan menembaki Wendy.


Wendy sangat pintar. Melihat si pembunuh mengeluarkan senjatanya, dia segera berguling menghindari, alhasil tembakan itu tidak mengenai sasaran.


Saat pembunuh itu hendak menembakkan tembakan kedua, sebuah sosok bergegas naik dan langsung tiba di depannya. Dia meraih pergelangan tangan si pembunuh dengan kuat dan mematahkannya.


Orang ini tidak lain adalah Edi. Edi datang untuk menepati undangan Wendy malam ini. Dia tidak menyangka karena terlambat datang, rumah Wendy malah diserang pembunuh.


Edi baru saja mengalami pertempuran di lantai bawah. Di lantai bawah, empat pembunuh berpakaian hitam telah membunuh lima pengawal di rumah Wendy.


Empat lainnya naik untuk membunuh Wendy dan kedua putranya, sedangkan 4 orang lainnya berjaga di lantai bawah.


Edi hanya satu tingkat di bawah Alex,  dia lebih dari cukup untuk menangani para pembunuh ini, dan dalam waktu 2 menit, dia sudah membunuh mereka semua.


Edi tahu bahwa Wendy mungkin dalam bahaya, oleh karena itu dia segera datang. Hasilnya dia datang pada waktu yang tepat, dia segera menyambar pistol si pembunuh saat hendak menembak.


Ketika tiga pembunuh lainnya segera datang membantu saat melihat kakak tertua mereka dalam bahaya, Edi juga tidak mau tahu lagi. Dia menembakkan 4 peluru berturut-turut dan membunuh tiga pembunuh lainnya. Saat hendak membunuh yang terakhir, Wendy berteriak, "Edi, jangan bunuh dia, biarkan dia hidup."


“Oke!” Edi menyimpan pistolnya dan menangkap bos pembunuh itu.


Bos pembunuh itu setingkat lebih rendah daripada Edi, lengannya dipatahkan oleh Edi dan ditangkap hidup-hidup hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.


Sedangkan Wendy telah menelpon polisi dan ambulans. Kedua putranya terluka parah, untungnya, nyawa mereka tidak terancam, tetapi lengan putra sulungnya telah ditebas dan dia pingsan karena kesakitan.


Lima menit kemudian, mobil polisi dan ambulans tiba bersama, semua orang bergegas membawa yang terluka ke dalam ambulans terlebih dahulu, dan kemudian membersihkan kekacauan.


Wendy merasa hal yang terjadi hari ini pasti bukan kebetulan, dia tidak berani menyembunyikannya dan segera melaporkannya ke Alex.


Alex seketika marah besar, tidak perlu ditebak lagi, ini pasti kelakuan Rangga.


"Aku ingin mengampunimu, tapi kamu tidak tahu bersyukur dan ingin melawanku. Aku tidak peduli apa yang telah dilakukan Wendy sebelumnya. Sekarang, dia adalah saudaraku. Dia sangat antusias dan membantuku menangkap Elno. Menyentuhnya sama saja dengan menantangku!"