
Pergelangan kaki Erika baru saja terkilir, rasanya sangat sakit. Dia mengerutkan kening dan bertanya, "Kapan polisi akan datang?"
Polisi segera tiba, pemimpinnya adalah Nova Ardiansyah. Nova segera segera memimpin pasukan begitu mengetahui adanya pembunuhan di sini.
“Apa yang terjadi?” Tanya Nova.
Hengky berjalan mendekat, "Petugas Ardiansyah, aku adalah pengawal Presdir Buana. Baru saja ada dua orang pembunuh yang hendak membunuh Presdir kami. Kami berjuang keras dan melukai pembunuh tanpa adanya tindakan yang melanggar hukum. Awalnya kami ingin mengirim mereka ke kantor polisi, tapi siapa sangka mereka malah bunuh diri. "
Nova mengangguk setelah mendengarkan pernyataan, lalu berkata, "Oke. Bisakah kamu kembali ke kantor denganku untuk membuat laporan."
Erika berjalan tertatih-tatih, "Petugas Ardiansyah, Hengky adalah pengawal yang aku undang. Tolong jangan mempersulitnya."
Nova berkata dengan wajah cemberut: "Aku akan menanganinya sesuai prosedur. Erika, apa kamu baik-baik saja?"
Erika menghela nafas dan berkata: "Pembunuh itu melepaskan dua tembakan, aku hampir mati."
Nova mengangguk, "Baiklah, kecuali Hengky, yang lainnya bisa kembali untuk merawat luka dulu."
Alex meminta Rega dan Martin mengawal Clara kembali ke hotel Emperor, kemudian dirinya mengantar Erika pulang.
Setelah masuk ke dalam mobil, melihat Erika yang kesakitan, Alex bertanya: "Erika, jika lukanya serius, aku akan membawamu ke rumah sakit, ya?"
Erika menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sepertinya tidak apa-apa. Ayo pulang dulu. Ada minyak urut di rumah, cukup oleskan dan istirahat saja."
"Baiklah." Alex setuju.
Ketika sampai di rumah, Erika menarik kembali kaki kirinya yang cedera begitu menyentuh lantai. Ketika berada di tempat kejadian, pergelangan kakinya tidak terlalu sakit, tetapi setelah beberapa waktu, banyak luka memar yang terlihat, disertai jeritan: "Aduh."
Alex bergegas membantunya, lalu bertanya: "Erika, bagaimana perasaanmu?"
Melihat Erika yang berkeringat dingin, dia menduga bahwa cedera kakinya pasti serius, "Aku akan menggendongmu ke atas."
Erika mengangguk dan berkata, "Tadi masih tidak terlalu sakit, entah kenapa sekarang sakit sekali."
Alex menggendong Erika. Pinggang Erika yang kecil dan berlekuk dipeluk erat oleh Alex. Seluruh tubuhnya juga bersandar di bahu Alex, dan bagian dadanya juga bersentuhan dengan lengan Alex.
Erika tersipu dan berkata, "Alex, aku benar-benar tidak bisa berjalan lagi, terima kasih."
“Kamu adalah istriku, untuk apa kamu begitu sungkan padaku?” Dengan adanya wanita cantik di pelukannya, darah Alex mengalir berlawanan arah ke atas kepalanya. Tangan kirinya memeluk pinggang Erika, dan tangan kanannya menopang bokongnya. Dia menggendong Erika sambil melangkah ke lantai atas.
Setelah sampai, Alex meletakkan Erika di sofa di ruang tamu, "Apakah sangat sakit?"
Erika membelai rambut di dahinya yang basah oleh keringat, mengedipkan mata besarnya yang indah, kemudian menggerakkan kaki kirinya: "Ya, sakit sekali ... Alex, apa yang harus aku lakukan?"
Alex berkata: "Biarkan aku melihat cedera kakimu." Dia meminta Erika untuk meregangkan kaki yang cedera. Pergelangan kakinya sudah berwarna hitam, jelas seklai ada banyak memar.
Alex berkata: "Aku bisa sedikit dalam hal memijat. Pergelangan kakimu yang terkilir harus segera dipijat untuk menghilangkan darah yang menggumpal. Jika tidak, mungkin saja kakimu akan cacat."
Alex berkata, “Jangan takut, Erika, aku akan memijatnya.” Sambil berkata, tangan kirinya memegang punggung dan telapak kaki yang indah itu, sementara tangan kanannya dengan lembut mengusap pergelangan kaki. Seakan-akan ada arus listrik yang menerpa tubuhnya, dan membuat Alex merasa tidak nyaman...
Erika, yang kakinya dipegang oleh Alex, merasa tersipu dengan gosokan lembut Alex.
Berbeda dengan terakhir kali saat membasuh kaki Erika, sebelumnya, Erika tidak menyukai Alex.
Sedangkan hari ini, Alex melihat lebih banyak arus hangat setelah gunung es mencair di matanya.
Dengan pijatan nyaman dari Alex, sakit di kaki Erika perlahan menghilang.
"Erika, apakah kamu merasa lebih baik?"
"Ya, rasa sakitnya jauh lebih ringan sekarang."
Setelah memijat selama 15 menit, Alex berdiri dan berkata, "Meskipun rasa sakitnya telah berkurang, tapi hematoma di dalam masih belum sepenuhnya hilang. Aku akan mengambil obat dan mengoleskannya untumu. Kurasa lukanya akan pulih dalam 2 hari. "
Setelah mengambil obat itu, Alex mengoleskannya pada Erika dengan hati-hati.
Erika bertanya: "Siapa sebenarnya yang begitu kejam sampai membayar pembunuh untuk membunuhku?"
Alex berkata: "Sayangnya para pembunuh sudah mati, dan tidak ada hidup. Menurutku, hotel Emperor kita telah menghalangi bisnis mereka."
Erika berkata, "Tapi, seluruh keluarga Eric Chandra sudah pindah. Apa mungkin mereka masih melawanku?"
Alex menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini jelas bukan keluarga Chandra. Jangan khawatir, aku akan menyelidiki dengan cermat untuk mencari tahu siapa yang melawan kita. Aku pasti tidak akan membiarkan mereka begitu saja."
Keesokan harinya, Alex datang ke hotel Emperor untuk bekerja seperti biasa. Yang beda adalah Hengky yang kemarin masih sombong, berinisiatif membuatkan secangkir teh untuk Alex hari ini, " Kak Alex, ini tehnya. "
Alex tersenyum dan bertanya, "Hengky, bagaimana cederamu?"
Hengky berkata: "Ini tidak terlalu serius. Tubuhku ini cukup kuat. Namun, aku tidak bisa bertarung sengit dalam beberapa hari terakhir."
Alex berkata: "Kalau begitu perbanyak istirahat. Apa yang pihak kepolisian katakan saat kamu ke sana semalam?"
Hengky berkata: "Sesuai dengan katamu, aku memberi tahu petugas Ardiansyah bahwa pembunuhnya terluka parah olehku. Pembunuh itu bunuh diri karena dia tidak ingin ditangkap hidup-hidup. Dokter forensik sudah memverifikasi lukanya, pisau itu menembus jantung dari bawah tulang rusuk. Selain itu, polisi menemukan cangkang peluru di toko barbekyu di tepi Danau Runju. Cangkang peluru dapat membuktikan bahwa pistol itu adalah milik si pembunuh. Setelah membuat laporan, mereka mengizinkanku kembali. "
Alex mengangguk dan berkata: "Para pembunuh organisasi Pencabut Nyawa selalu melaksanakan perintah kematian. Mereka lebih suka bunuh diri daripada menjadi tahanan. Ini adalah aturan mereka."
Hengky bertanya lagi: "Kak Alex, orang yang ingin membunuh Presdir Buana kemarin benar-benar dikirim oleh organisasi Pencabut Nyawa?"
“Apa kamu tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, tidak ada yang bisa hidup setelah menerima perintah dari Pencabut Nyawa.” Alex tersenyum dan berkata.
Hengky mengerutkan kening, menarik napas dan berkata, "Aku pernah mendengar tentang kekuatan organisasi Pencabut Nyawa. Begitu perintahnya dikeluarkan, maka tidak akan pernah diubah. Mereka gagal dalam misi ini dan kehilangan dua pembunuh elit. Apa mereka akan menerimanya begitu saja? "