Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 522 Kontrak Ini Ada Masalah


Saat Amel merasa patah semangat, Alex mengambil beberapa dokumen dan membacanya dengan ekspresi kebingungan.


Dia menyadari bahwa beberapa kontrak ini adalah dokumen duplikat dan jumlah uang yang tertulis di kedua kontrak itu tidak sama. Alex dengan cepat menemukan keanehannya.


“Salah satu kontrak ini nggak memiliki pengurangan pajak dan yang satunya lagi sudah dikurangi pajak. Itu berarti PT. Zrank sedang menghindari pajak?” Alex tidak menyangka dia bisa mendapatkan penemuan seperti ini.


Friska berkata dengan terkejut, “Yang benar saja? Mereka juga nggak mau membayar pajak? Serakah sekali!”


Alex juga tersenyum. “Bukankah ini malah bagus? Kali ini, PT. Zrank pasti akan terkena masalah. Meskipun nggak cukup untuk membuat mereka bangkrut, dendanya juga nggak akan sedikit.”


Friska mengangguk. Ada harapan yang menyala kembali di hatinya. Dia merasa jika Perusahaan Jaya Shield bisa masuk ke Provinsi Sulawesi Tenggara, perkembangannya pasti sangat menjanjikan.


Jika Perusahaan Jaya Shield bisa menempati Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Tenggara, bisa dikatakan bahwa perkembangan perusahaan mereka akan menjadi yang terbaik di seluruh Negara Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia, Perusahaan Jaya Shield juga tidak akan kalah. Jadi, Friska menjadi sangat bersemangat.


Saat ini, Alex malah tersenyum sambil menatap Amel, “Jangan khawatir. Aku akan membantumu menemukan bukti. Lagi pula, meskipun nggak ada bukti, aku juga akan membuat mereka mengakui apa sebenarnya yang sudah terjadi dulu.”


Amel mengangguk dan menatap Alex dengan pandangan penuh terima kasih. Pada kenyataannya, dia sudah sangat berterima kasih pada Alex karena sudah membantunya sampai tahap ini. Dia tidak menyangka bahwa Alex masih memilih untuk terus membantunya, bahkan saat Alex tahu bahwa kemungkinan untuk mendapatkan bukti yang dia inginkan sudah sangat tipis.


Alex berkata sambil tersenyum, “Sebenarnya, saat usaha mereka melapor polisi gagal, aku merasa mereka pasti akan menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk mengepung Hotel Snow.”


“Apa? Mereka mau mengepung Hotel Snow? Kalau begitu, bukankah kita nggak bisa melarikan diri? Nggak ada gunanya kita menemukan kontrak ganda itu kalau kita nggak bisa membawanya keluar,” kata Amel dengan wajah penuh keterkejutan.


Alex tersenyum. “Bukankah hanya dikepung? Kita terobos saja.”


Amel menggelengkan kepala. “Nggak bisa. Aku akan menyuruh Robert datang untuk membawa kita keluar.”


Di masa-masa kritis, Amel masih memercayai rekan kerjanya. Lagi pula, dia tahu bahwa mereka tidak akan berani bertindak jika ada Robert.


Alex malah menggeleng, “Nggak boleh. Kalau kamu berbuat begitu, kamu hanya akan melibatkan Robert dan yang lainnya. Kamu harus tahu bahwa kali ini, PT. Zrank sedang berada dalam masalah besar. Tadi aku sudah menghitung jumlah penghindaran pajak mereka dan jumlahnya melebihi dua triliun. Apakah kamu tahu berapa denda yang harus mereka bayar?”


Amel tentu saja tidak tahu, tetapi dia tahu denda untuk penghindaran pajak sebanyak dua triliun pasti sangat banyak. Dia bahkan tidak bisa menghasilkan uang sebanyak itu seumur hidup.


Alex tersenyum dan berkata, “Dendanya paling nggak dua puluh sampai empat triliun. Apa kamu rasa Morgan dan yang lainnya bisa mengeluarkan uang sebanyak itu?”


Amel sedikit ragu, dia memang tidak tahu. Lagi pula, mengeluarkan uang sebesar dua triliun seharusnya bukan masalah bagi orang kaya seperti Morgan dan yang lainnya.


Alex malah tertawa dan berkata, “Mereka mempunyai kesempatan untuk mencegah rahasia ini terungkap, yaitu dengan membunuh semua orang yang mengetahuinya dan mengambil kembali kontraknya. Dengan begitu, nggak ada orang yang mengetahui masalah penghindaran pajak lagi. Mengenai hal pembunuhan, mereka mempunyai perlindungan dari Keluarga Bazel. Jadi, tentu saja mereka nggak akan mendapatkan masalah.”


Mereka bisa terus melanjutkan perbuatan mereka karena dalam perlindungan Keluarga Bazel. Mereka bisa mendapatkan uang dengan gampang di Provinsi Sulawesi Tenggara.


Alex tahu jelas tentang hal itu, jadi dia juga tahu apa yang akan mereka perbuat.


Mereka akan memfokuskan seluruh kekuatan mereka di Hotel Snow dan mengepung seluruh pintu keluar. Dengan begitu, mereka bisa memastikan bahwa Alex dan yang lainnya tidak akan meninggalkan hotel. Kemudian, mereka akan menjalankan misinya.


Lagi pula, mereka sudah mengetahui nomor kamar Alex, jadi mereka pasti bisa menemukan dirinya dengan gampang. Namun, meskipun mereka tidak mengetahuinya, mereka juga mempunyai cukup waktu untuk mencari satu per satu kamar karena mereka mempunyai banyak bawahan.


Saat Alex memikirkan hal ini, Amel tiba-tiba menatap ponselnya dengan terkejut, “Ponselku nggak ada jaringan!”


Amel tentu saja tahu apa yang sedang terjadi. Jika dia hanyalah orang biasa, mungkin dia hanya akan merasa aneh. Namun, dia adalah polisi. Dia tahu bahwa hanya ada satu kemungkinan ketika tiba-tiba tidak ada jaringan, terutama di tempat seperti ini. Pihak lawan sedang menggunakan alat pengacak sinyal. Mereka sudah memblokir seluruh jaringan di hotel ini agar tidak ada orang di dalam yang bisa menghubungi dunia luar.


Alex berkata dengan santai, “Sepertinya mereka sudah bertindak. Aku nggak menyangka mereka akan bertindak begitu cepat. Kalau tebakanku nggak salah, mereka pasti mempunyai pistol.”


Selain telah tinggal di Provinsi Sulawesi Tenggara begitu lama, mereka juga mempunyai hubungan dengan Keluarga Bazel. Jadi, tidak heran jika mereka mempunyai pistol dan amunisi.


Setelah mengetahui hal itu, Alex juga sama sekali tidak panik. Senjata api mereka bukanlah apa-apa bagi Alex. Namun, saat melihat Amel dan Friska, dia pun mengerutkan keningnya. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sinyal pada Andi.


“Kenapa ponselmu masih ada jaringan?” tanya Amel pada Alex dengan kaget.


Alex tersenyum. “Ponselku sudah dilengkapi dengan cip anti-interferensi. Seharusnya aku masih bisa menelepon.”


Amel tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Alex masih mempunyai cara itu. Kemudian, dia berkata dengan gembira, “Pinjam ponselmu dulu. Aku akan menelepon Robert dan yang lainnya. Kali ini, mereka pasti bisa menangkap orang-orang ini. Bukankah kamu bilang mereka punya senjata api?”


Kepemilikan senjata api adalah kejahatan yang sangat serius.


Alex tentu saja menolaknya, “Aku sudah bilang kalau kamu hanya akan membahayakan nyawa Robert dan yang lainnya jika kamu menyuruh mereka kemari. Orang-orang ini bahkan sudah berani bertindak begini, apakah kamu rasa mereka masih akan segan untuk membunuh Robert dan yang lain? Pada waktunya, mereka akan menyuruh Keluarga Bazel untuk menanganinya. Jadi, apakah kamu rasa mereka akan takut?”


Amel menggertakkan giginya, “Memangnya mereka bisa berbuat seenaknya? Kami adalah aparat penegak hukum, memangnya kami nggak perlu melakukan apa pun ketika menghadapi penjahat seperti ini?”


Amel mulai ragu akan profesinya. Lagi pula, dia tahu bahwa dia seharusnya bertindak saat bertemu dengan situasi seperti ini. Dia seharusnya memanggil rekan kerjanya datang ke sini untuk menangkap orang-orang yang melanggar hukum itu.


Namun, saat ini Alex malah mengatakan bahwa Robert dan yang lain tidak boleh datang ke tempat ini karena mereka akan dibunuh oleh musuh. Polisi macam apa yang takut pada orang yang melanggar hukum?