
Nova berkata: "Tidak ada hubungannya untuk saat ini. Namun, aku mungkin perlu untuk menyelidiki Alex lagi. Berani juga orang ini melawanku. Dari mana asalnya?"
"Hmm ..." Erika berpikir sebentar, lalu berkata, "Dia kerabatku. Dulu dia bekerja di luar negeri dan baru saja kembali ke Indonesia tahun lalu."
Nova menyalin video itu ke ponselnya, lalu berkata: "Kalau begitu sampai di sini saja, maaf merepotkanmu, Erika."
Erika mengantar Nova ke pintu hotel, tiba-tiba Nova berkata, "Presdir Buana, Jumat depan akan ada reuni pertama sesama teman sekelas di ruang VIP restoran Akira Back. Kamu harus membawa anggota keluarga ya! Aku dengar kamu sudah menikah tahun lalu, tapi aku kebetulan punya kasus saat itu. Kali ini kamu harus membawa suamimu dan memperkenalkannya pada kami. "
Setelah selesai bicara, Nova berbalik dan melangkah pergi.
Sejak lulus SMA dan kuliah, semua teman-teman berkelana ke berbagai tempat. Hanya sedikit yang tinggal di kota Jakarta. Dirinya sangat menantikan reuni pertama ini.
Namun, Erika tahu bahwa hampir seluruh kota Jakarta tahu bahwa dia menikah dengan seorang pria yang tidak berguna, Nova sengaja ingin aku mempermalukan diri sendiri.
Apa aku harus membawa Alex ke acara reuni?
Agus meninggal mendadak, dan tim kepolisian menyatakan bahwa penyebab kematian Agus tidak ada hubungannya dengan Alex. Namun, Satriya tetap saja menemukan kakak Agus, Kevin Saputra.
Kevin sangat sedih karena kematian adiknya. Tim kepolisian menjelaskan kepada keluarga almarhum bahwa penyebab kematian belum dipastikan. Selain itu, ia menunjukkan rekaman cctv hotel Emperor kepada keluarga almarhum. Sebenarnya, Kevin juga tidak percaya bahwa Alex yang membunuh adiknya, karena Alex sama sekali tidak memukul Agus dari awal hingga akhir.
Namun, Satriya berkata, "Kak Kevin. Alex sangat licik. Kudengar dia pandai menggunakan racun. JIka soal berkelahi, bahkan Alex ada 8 pun bukanlah lawan dari Kak Agus. Namun, dia bermain tipu muslihat. Kurasa dia pasti telah meracuni kak Agus. "
Kevin terkejut dan bertanya: "Apa dia benar-benar pandai menggunakan racun?"
Satriya berkata: "Dia adalah adik iparku, mana mungkin aku tidak tahu?"
Kevin memiliki karakter yang sembrono. Dia langsung marah begitu mendengar perkataan Satriya, "Sialan! Aku akan segera mengumpulkan saudara-saudaraku dan membunuh bajingan itu untuk membalaskan dendam adikku."
Satriya bergegas menghentikannya, "Kak Kevin, kamu tidak boleh terlalu sembrono. Tim kepolisian mengatakan bahwa penyebab kematian kak Agus tidak ada hubungannya dengan Alex. Kamu tidak mungkin bisa menang selama bukti belum ditemukan. Tidak ada gunanya memasukkan dirimu ke penjara hanya demi orang sepertinya. "
Kevin berkata: "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Aku sangat marah begitu memikirkan bahwa adikku mati diracuni oleh sampah seperti Alex!"
Satriya berbisik di telinga Kevin, "Kak Kevin! Erika baru saja membeli BMW x5. Setahuku, dia akan menemani beberapa pemasok untuk makan malam di restoran Akira Back malam ini. Dia akan pulang melewati jalan ……"
Sebagai General Manager perusahaan, tentu saja Satriya mengetahui jadwal bisnis Erika malam ini. Karena tidak banyak waktu tersisa untuk masa konstruksi Teluk Indah, keadaan keuangan keluarga Buana juga sangat memprihatinkan. Keluarga Buana harus mencari beberapa pemasok bahan bangunan yang bekerja sama dengan mereka, berharap mereka akan menyediakan beberapa bahan, kemudian keluarga Buana akan membayar mereka dengan cicilan.
Meski beberapa pemasok bahan bangunan perlu uang muka, namun proyek Teluk Indah sangat besar dan pasti bisa menghasilkan uang setelah selesai, oleh karena itu beberapa pemasok bahan sepakat. Erika sangat senang dan berterima kasih kepada beberapa pemasok material di restoran Akira Back yang paling mewah di kota Jakarta malam ini.
Satriya sengaja mengungkapkan rute pulang Erika ke Kevin, serta menghasut Kevin untuk membunuh Alex dan Erika di perjalanan. Dengan cara itu, Ferdi dan Saras, tidak bisa menhalangi dirinya untuk mendapatkan hotel Emperor.
Alasan keikutsertaan Riska adalah karena salah satu temannya menjanjikan kepada Riska komisi sebesar 650 juta, berharap dapat bekerja sama dengan keluarga Buana.
Kebetulan pemasok material batu sebelumnya tidak mau mengeluarkan begitu banyak uang dan tidak menandatangani kontrak kerja sama dengan keluarga Buana.
Jadi Riska merekomendasikan temannya kepada Erika Buana.
Meskipun dia memiliki banyak konflik dengan keduanya, tapi bagaimanapun juga, dia dan Riska adalah kakak beradik, lalu Erika setuju dengan permintaan Riska. Karena itu, Riska menghadiri makan malam itu.
Untuk menunjukkan ketulusannya, Erika minum banyak malam ini, begitu pula dengan Riska yang telah menerima komisi sebesar 650 juta. Keduanya tidak bisa mengendarai mobil dalam situasi ini.
Jadi ketika jamuan makan akan segera berakhir, Erika menelepon Alex agar datang menjemputnya.
Alex berangkat ke restoran Akira Back dengan taksi, kemudian tiba di ruang VIP Erika. Pada saat ini, para pemasok material telah pergi, yang tersissa di dalam ruangan hanyalah kedua kakak beradik yang sedang mabuk itu.
“Erika, apa kamu mabuk?” Alex bertanya.
Erika memandang Alex dengan samar dan berkata: "Tidak. Aku masih bisa minum. Alex, aku sangat senang hari ini. Beberapa teman bersedia mengeluarkan dana ... Mereka semua adalah teman baik kita."
Alex membantu mereka naik lift ke bawah. Ketika mereka sampai di tempat parkir, Riska tiba-tiba bertanya, "Alex, ada bekas lipstik di lehermu, punya siapa itu?"
"Apa ada?" Di lift barusan, keduanya terus bersandar di tubuh Alex karena sudah sangat mabuk. Alex benar-benar tidak tahu siapa yang menciumnya.
Alex membawa Riska ke dalam mobil terlebih dahulu, kemudian membantu Erika masuk ke dalam mobil. Erika terhuyung-huyung dan jatuh ke tubuh Alex, wanita cantik yang sedang mabuk sangat menawan, matanya yang jernih, dan senyuman di bibirnya itu.
Alex hanya bisa tercengang, "Erika, pelan-pelan!"
Setelah membantu mereka berdua masuk ke dalam mobil, Alex duduk di posisi mengemudi, kemudian dia membuka cermin kecil di belakang sun visor untuk bercermin. Ternyata memang ada bekas lipstik di leher sebelah kiri. Dia ingat bahwa Erika berada di sebelah kiri ketika mereka turun lift. Jadi bekas lipstik ini pasti milik Erika. Alex sedikit bahagia saat membayangkan bahwa Erika Menciumnya.
Alex melajukan mobil untuk pulang, "Erika, di mana adikmu tinggal? Aku belum pernah ke rumahnya."
Erika tidak menjawab, dia sepertinya ketiduran di kursi belakang. Lalu Alex memandang Riska, dia juga sedang tidur nyenyak dengan bersandar pada Erika.
Apa boleh buat, dia hanya bisa membawa Riska kembali ke rumahnya dulu, kemudian memintanya untuk kembali sendiri besok.
Tidak lama setelah mobil Alex melaju, dia menyadari ada dua mobil yang mengikutinya di belakangnya.