
“Hah? Villa keluarga Mahari?” Martin terkejut. Bagaimanapun, keluarga Mahari adalah keluarga nomor satu di kota Medan! Jika mereka berdua menerobos masuk secara paksa, maka bisa melihat matahari esok atau tidak pun akan jadi pertanyaan.
“Aku kan ngak memintamu masuk dengan mobil, ngapain takut gitu?” Alex tersenyum.
Martin dengan cepat berargumen, "Tuan Alex, aku ngak takut, hanya saja aku rasa akan terlalu beresiko jika kita menerobos masuk."
Alex berkata dengan acuh tak acuh, "Yang perlu menerobos masuk adalah aku. Kamu cukup menjemputku di luar sekitar 5 km jauhnya. Jika kamu bertemu bahaya, langsung saja pergi, jangan pedulikan aku."
“Eh, mana bisa?” Martin segera menggelengkan kepalanya, “Mana bisa aku kabur sendiri jika tugasku untuk menjemputmu?”
Alex menatapnya, Kamu hanya akan menjadi beban bagiku kalau tinggal. Apalagi, ini adalah perintah. Ngerti?"
“Oke!” Martin mengangguk, dia melirik Alex dengan tatapan tersentuh, dan terus mengemudi.
"Menurut GPS, kita masih 5 km jauhnya dari villa keluarga Mahari. Kamu cari saja tempat berlindung terdekat dan parkir mobilnya. Ingat, bersiap untuk melarikan diri kapan saja! Jangan tinggal lebih lama, jika tidak, kamu sangat mungkin harus membayar dengan nyawa." Alex memperingatkan dengan sungguh-sungguh.
"Baik! Aku mengerti." Martin mengangguk, rongga matanya jadi sembab saat melihat sosok Alex menghilang di tengah gelapnya malam.
Entah sudah berapa kali dia dilindungi oleh Alex ketika berada di sisinya!
Jika memungkinkan, dia bersedia memberikan hidupnya untuk Alex!
Hari telah larut, dan sosok Alex muncul di luar villa keluarga Mahari seperti hantu. Entah bagaimana dia menemukan kesempatan dan berhasil memasuki villa keluarga Mahari yang dijaga ketat.
Di dalam rumah sangat sunyi, hanya terdengar langkah kaki para pengawal yang sesekali berpatroli.
Alex menyembunyikan sosoknya dan terus menjelajah di dalam villa, berharap menemukan apa yang dia minati. Tujuan kedatangannya malam ini tentu saja untuk menemukan lukisan terkenal itu.
Bagi Alex, jika dia tidak dapat menemukan lukisan terkenal itu, dia juga sama saja dengan gagal bahkan jika benar-benar menghancurkan keluarga Mahari.
Oleh karena itu, mengalahkan keluarga Mahari dalam bisnis hanyalah salah satu aspek, yang terpenting adalah Alex harus menemukan lukisan ini pada saat mengalahkan keluarga Mahari.
Sesampainya di Medan, Alex semakin mengenal tentang keluarga Mahari, dia menemukan lebih banyak kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Mahari, dan merasa lebih terdorong untuk menghancurkan keluarga Mahari.
"Apa? Dengar baik-baik! Yang aku inginkan adalah setiap karyawan Atish terluka parah! Mereka harus ngak bisa pergi bekerja! Hajar mereka semua sampai cacat! Ngerti ngak kalian?" Alex tiba-tiba mendengar suara ini, dan tiba-tiba menjadi marah. Syut! Dia pergi ke luar teras kecil dan masuk melewati tembok.
Orang yang sedang menelpon adalah Andreas.
Dia sedang marah-marah terhadap orang di seberang telpon, dan pihak tersebut tidak berani menutup telepon.
Alex datang ke lantai dua teras kecil, dia berdiri di luar jendela dan bisa mendengar suara Andreas yang ada di dalam ruangan itu dengan lebih jelas.
"Dengar ya, cepat pikirkan cara untuk menyelesaikannya! Aku ingin semua karyawan Atish mati! Apa? Karyawan-karyawan itu ngak pulang? Dasar bodoh! Culik anggota keluarga mereka, pukuli sampai cacat! Sampai mati! Aku ngak percaya, mereka masih ngak akan pulang kalau begitu!” Andreas tidak tahu bahwa Alex sedang menguping, dan perkataannya sangat kasar.
"Baik, tuan kedua, kami akan segera memikirkan caranya! Yang penting Anda jangan marah."
Andreas berkata dengan marah, "Ngak marah katamu? Kalian ngak becus, aku sangat kecewa pada kalian! Kalian ngak bisa lebih semangat? Ngak bisa lebih becus lagi?"
"Ya, ya, tuan kedua, benar yang Anda katakan, saya jamin semuanya akan kembali semangat dan menyelesaikannya dengan baik."
Selain itu, ponselnya juga telah direbut dan langsung dimatikan.
Andreas sangat terkejut: Dia sendiri adalah ahli tingkat master! Siapa yang bisa mendekati dan menyerangnya tanpa disadari olehnya?
Pisau lawan jelas sangat mematikan! Dia tidak berani meragukan kehebatan lawan, seseorang yang bisa mengendalikannya dengan mudah akan membunuhnya seperti menginjak semut sampai mati.
“Andreas, kamu cukup kejam ya.” ujar Alex, kemudian menekan beberapa titik di tubuh Andreas, dan Andreas langsung membeku, hanya menyisakan bola matanya saja yang bisa digerakan.
Alex meletakkan pisau di atas meja dan melihat sekeliling sebentar, "Andreas, hidupmu mewah juga ya, bagus, bagus."
“Ma… mau apa kamu?" kata Andreas pelan.
"Eh? Andreas, apa yang kamu rencanakan di telepon barusan? Aku ini orang yang sangat mementingkan keadilan. Gimana kamu melakukannya padaku, maka aku juga akan memperlakukanmu sama, benar, kan?" Alex tersenyum.
"Kamu ..." Andreas bergidik ngeri: Dia baru saja memerintahkan para anak buahnya untuk berurusan dengan keluarga karyawan Atish! Jika Alex juga ingin berurusan dengan keluarganya ... dia bahkan tidak berani memikirkannya.
Dia tahu betul bahwa Alex adalah ahli top, keluarga Mahari pun akan didatangi bencana besar jika menyinggung master yang begitu misterius!
Apakah bencana ini akan terlebih dulu terjadi pada dirinya? Pemikiran ini cukup untuk membuat Andreas tenggelam dalam bongkahan es.
Alex menyerahkan kembali telepon kepada Andreas, "Jika kamu ingin aku mengampuni keluargamu, segera hubungi orang-orangmu dan minta mereka untuk segera menghentikan semua penganiayaan terhadap karyawan Atish dan segera melepaskan karyawan Atish yang telah ditangkap."
“Ng… ngak mungkin.” ucap Andreas menggertakkan giginya.
"Kak Andre ..." Pada saat ini, seorang wanita yang sangat cantik muncul di pintu ruang dalam hanya dalam balutan piyama.
Alex bahkan tidak perlu melihatnya, dan tahu kalau ini pasti salah satu wanita Andreas, selain itu dia pastilah wanita yang paling dia cintai.
Syut! Dengan keterampilan Alex, dia langsung bergegas menghampiri wanita itu. Wanita itu sudah dicekik oleh Alex dan tidak bisa bicara tanpa sempat membuat tanggapan apa pun.
Dengan ekspresi ngeri di wajahnya, dia mengarahkan pandangannya pada Andreas untuk meminta bantuan, dan tatapannya pada Alex adalah permohonan.
“Jangan teriak, kalau ngak, aku akan mematahkan lehermu.” Alex berkata dengan dingin dengan ekspresi dingin.
“Uhm!” Wanita itu mengangguk putus asa, tetapi hidung Alex malah merasakan kemabukan yang membuatnya terlena.
Alex mengendurkan cekikannya, tapi tangannya malah memegang pisau, "Kalau ada sedikit saja yang salah dengan suaramu, pisauku akan menusuk ke jantungmu."
“Ya, ya, aku tahu.” Wanita itu ingin menjauh dari Alex, tapi dia segera menyadari bahwa kakinya tidak bekerja sama? !
Alex mengendus dan merasakan bau susu di ujung hidungnya, dia menatap Andreas dengan dingin, "Sepertinya di tempatmu ini masih ada seorang anak yang sedang menyusui. Dia seharusnya anakmu, kan?"