Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pasti Terjadi Masalah


Dor! Terdengar suara pistol!


Alex segera menggeser ke samping untuk menarik seorang pria India ke depannya!


Pria India itu pun tersungkur lemas di tanah.


“Ayo!” Borez pun tercengang, “Siapa yang menembak?! Cepat pergi!”


Semua orang tahu kalau terjadi insiden penembakan di Indonesia, maka ini termasuk kasus besar, juga akan menarik perhatian pihak polisi. Pilihan terbaik Borez adalah segera meninggalkan tempat kejadian ini.


Beberapa pengawal bergegas menyerang ke arah Alex, lalu ada beberapa orang yang segera mengantar Borez pergi.


Alex menunjukkan keahliannya secara ekstrem, tapi dia hanya bisa melukai tiga pengawal dan membiarkan Borez kabur begitu saja!


Lawan saling melindungi ketika kabur. Sementara Alex harus tetap waspada terhadap tembakan lawan ketika berkelahi dengan mereka sehingga mengurangi efisiensi gerakannya.


Dia mengalahkan dua pengawal lagi, tapi Borez dan lainnya telah masuk mobil dan melaju dengan cepat.


Di tempat kejadian hanya tersisa seorang mayat India dan empat pengawal yang terluka.


Ting tong… mobil polisi tiba, Nova adalah orang pertama yang berlari kemari, “Alex?! Ada apa ini? Kok kamu di sini? Siapa lawanmu?”


Dia bertanya sambil memberi isyarat pada polisi untuk menahan lima orang itu.


Alex berkata, “Mereka adalah anak buah Borez.”


“Apa? Borez? Dia mencarimu?” Nova terkejut sambil melihat ke sekitar.


Alex mengangguk, “Nggak usah cari lagi, mereka sudah kabur. Aku juga melawan sangat lama baru menyisakan beberapa orang ini di sini.”


“Ini sudah cukup baik! Semuanya dengarkan perintah, bawa lima orang ini pergi! Lalu, sisakan empat orang untuk membersihkan tempat ini,” seru Nova sangat tegas.


“Aku sudah tidak ada urusan lagi di sini, jadi aku pergi dulu.” Alex bersiap pergi.


“Tunggu! Kamu perlu bekerja sama dengan pihak polisi dalam penyelidikan!” Nova juga nggak membiarkan dia pergi begitu saja.


“Uh, apa kamu menganggapku sebagai pembunuh?” Alex benar-benar khawatir.


“Aku membutuhkan rekaman CCTV di sini untuk membuktikkan kalau kamu ini sedang melindungi diri sendiri.” Ekspresi Nova sangat serius, nggak seperti sedang bercanda.


Alex mengerutkan kening, “Um. Nova, aku ini sudah sangat beruntung karena nggak mati ketika bertemu Borez. Bisakah kamu tidak mencari masalah denganku lagi?”


“Nggak usah banyak ngomong, ayo ikut aku ke mobil.” Nova menatap Alex.


Setengah jam kemudian, mereka tiba di tim polisi kriminal. Nova segera mengatur polisi untuk menginterogasi orang yang terluka, sementara orang India yang terbunuh diantar ke ruang dokter forensik.


“Katakanlah, apa yang terjadi?” Kali ini, Nova nggak menunjukkan sikap sedang menginterogasi, melainkan seperti berbicara pada teman. Dia mengundang Alex ke kantornya, lalu membuka laptopnya dan mulai merekam.


Alex berkata, “Aku juga nggak tahu apa yang terjadi! Saat itu, aku keluar dari kedai kopi, lalu Borez menghadang jalanku sehingga kami berkelahi. Mungkin warga di sekitar yang melapor polisi ketika melihat kami berkelahi, sementara kalian sudah tahu apa yang terjadi pada akhirnya.”


Alex bukan sengaja menyembunyikan isi pembicaraannya dengan Borez. Dia hanya khawatir Nova akan terlalu serius menyelidikinya setelah mengetahui hal itu.


Alex merentangkan tangannya, “Itu saja.” Kemudian menguap, “Aku sudah ngantuk, bisakah kamu mencarikan tempat tidur untukku?”


Nova mengamati Alex, “Aku baru menyadari kalau kamu nggak jujur! Baiklah, bagaimanapun juga kamu memang nggak bersalah ketika bertemu dengan Borez, si peredar narkoba. Kamu pulang dulu! Sampai jumpa.”


“Apa? Aku sudah bisa pulang?” Alex sedikit bingung.


“Ini kunci mobilmu.” Nova nggak berencana membuang waktunya, jadi segera mengembalikan kunci mobilnya, “Aku masih ada urusan, jadi nggak bisa mengantarmu.”


“Terjadi perselisihan antara Alex dan Borez? Pihak polisi menangkap orang Borez? Bagus sekali!” Esok paginya, Richard berekspresi senang setelah mengetahui kabar ini, “Borez ini ingin bekerja sama dengan Alex, tapi malah ditolak.”


Rafatar menyipitkan matanya, “Iya! Tuan Richard, dengan begini, Borez bukan hanya menarik perhatian pihak polisi, juga ada konflik dengan Alex. Jika Borez terjadi apa-apa di kota Tomohon, ini juga nggak bisa menyalahkan Tuan Richard, kan?”


Richard menepuk tangan, “Benar! Jadi, Borez pasti akan terjadi sesuatu di sini! Selain itu, kita bisa mendapatkan barang-barangnya.”


Rafatar tertawa licik sambil mengangguk, “Tuan Richard, biarkan aku yang mengatasi hal ini saja.”


Richard berkata, “Pengawal di sekitar Borez memang ada beberapa orang hebat, jadi kamu nggak boleh menganggap enteng hal ini! Sebaiknya kau membawa Dodo, keberadaannya baru bisa menjamin aksimu akan berhasil dan bisa membantu kita mengurangi korban.”


“Baik! Tuan Richard, aku sudah mengerti,” jawab Rafatar.


Setelah Borez melakukan kerusuhan seperti itu, dia pun nggak bisa tinggal di tempat tersembunyi sebelumnya. Dia nggak ada kenalan di kota Tomohon, jadi hanya bisa menghubungi Richard untuk mencari tempat tinggal.


Richard merekomendasikan beberapa lokasi untuknya. Borez akhirnya memiliki sebuah desa kecil di bawah pegunungan. Dia merasa wilayah ini sangat berbahaya, tapi bisa digunakan untuk menyerang juga melindungi diri, lalu dia bisa kabur ke dalam gunung ketika sedang di serang. Jadi ini adalah tempat yang ideal.


Nama kampung di pegunungan kecil ini adalah Kampung Satria. Dari bagian utara desa ada deretan gunung yang tak berujung.


Kampung Satria adalah kampung halaman Aldo. Setelah Aldo mendengar Richard mengatakan Borez memilih Kampung Satria, dia pun segera menyuruh orang di kampung untuk melayaninya. Dia berkata ini adalah tamu penting yang diundang atasan, berharap semua orang jangan mengganggu.


Penduduk Kampung Satria sudah tinggal di sini selama beberapa generasi, lalu transportasi ke kota juga tidak mudah. Selain itu, budaya dan pemikiran mereka tidak begitu maju dan sebagian besar penduduk desa tidak mau keluar dari gunung. Oleh karena itu rakyat yang tinggal di sini sangat polos, juga sangat antusias ketika melihat tamu terhormat dari luar.


Alhasil antusiasme penduduk membuat Borez ketakutan.


Dia mengutus dua pengawal untuk berjaga di depan halaman dan menghalang penduduk untuk menyanjungnya.


Selain itu, dia menyuruh dua penjaga menjaga di satu-satunya jalan ke luar untuk memantau orang-orang yang masuk ke desa dan memastikan keamanan diri sendiri.


Selama sepuluh hari berturut-turut tidak terjadi apa-apa, sementara luka Dean hampir sembuh. Borez yang tinggal di dalam kampung ini mulai memiliki niat lain!


Mau dia di kota Taranesa atau di kota lain, dia selalu menikmati hidup senang. Jadi dia merasa tidak tahan terus hidup susah tanpa makanan enak, wanita dan kamar mewah.


Jika mau kamar mewah, makanan lezat bisa di beli di luar sana, tapi masalah wanita ini sangat sulit diatasi.


Setelah Borez berpikir berulang kali, dia pun merasa tidak aman baginya keluar saat ini, jadi dia menyuruh para pengawalnya untuk mencarikan wanita cantik di desa.


Lalu, setelah mencari-cari, pengawalnya pun benar-benar melihat seorang wanita cantik yang belum menikah. Wanita itu bernama Lina Kharisma. Dia hanya punya seorang ayah, dimana mereka saling menjaga dan melewati hidup yang susah.


“Ayah Lina, kakakku melihat hidup kalian sangat susah jadi mengantar sedikit uang kemari. Ini hanya niat baik kami, jadi kamu harus menerimanya.” Pengawal pun melempar uang 20 juta kepadanya setelah melihat kondisi keluarga mereka.