Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tembok Putih Bernoda Darah


Alex merasa lega dan berkata dengan sedikit tersenyum, "Kamu lupa? Kita tertimpa reruntuhan saat menyelamatkan siswa. Sayangnya, kamu terbentur oleh batang baja. Setelah dokter berusaha lama, akhirnya kamu selamat."


Alex tidak menyebutkan usahanya semalaman, Erika mengingat kembali situasi saat itu dan bertanya, "Bagaimana dengan para siswi itu?"


Alex berkata: "Mereka baik-baik saja, kita menyelamatkan total 24 siswa."


Erika tersenyum, "Baguslah. Syukurlah semuanya baik-baik saja."


Alex berkata kepada Saras, "Bu, luka Erika belum sembuh total. Bantu aku jaga dia. Aku mau istirahat ..."


Setelah Alex selesai berbicara, dia berbalik, pfft! Seteguk darah menyembur keluar dan menodai dinding seputih salju menjadi merah.


Semua orang yang hadir terkejut, Nova buru-buru membantu Alex, "Alex, kamu pasti terlalu kelelahan sampai organ dalammu terluka."


Sama halnya dengan Erika yang sangat khawatir, "Lex, bagaimana denganmu? Jangan menakutiku."


Alex melambaikan tangannya, "Aku baik-baik saja. Tapi aku perlu istirahat, Nova, bantu aku."


Nova memapah Alex pergi ke bangsal lain untuk beristirahat. Pada saat ini, ada keributan di luar bangsal. Ternyata perawat yang bertugas memberitahu Yenny kalau Erika sudah bangun.


Dokter Yenny juga terkejut mendengar kabar Erika siuman, "Sungguh keajaiban. Kemarin setelah mendiagnosa, kami semua berpikir bahwa kemungkinan dia bangun hanya 0,5%. Tak kusangka dia benar-benar bangun pagi ini."


Dokter Yenny membawa sekelompok dokter ke bangsal Erika. Melihat bahwa Erika benar-benar bangun dan berkomunikasi dengan keluarganya secara normal, dia benar-benar terkejut, "Erika, kamu benar-benar keajaiban. Aku sungguh mengagumi kekebalan tubuhmu. Peluang untuk siuman dengan keadaanmu ini sangatlah kecil, kamu benar-benar beruntung."


Erika berkata: "Dok, terima kasih atas penyelamatan tepat waktu kalian. Terima kasih banyak."


Dokter Yenny berkata, "Yang harus berterima kasih itu kami. Aku dengar dari suami ku kalau kamu terluka karena kamu dan suamimu menyelamatkan 24 siswi SMP."


Erika mengangguk pelan, "Sebenarnya, bukan apa-apa, orang lain akan melakukan hal yang sama."


Tiba-tiba, terdengar suara wanita tua dari luar bangsal: "Permisi, apakah bangsal Presdir Buana di sini?" Yenny melihat ke luar. Ada tiga wanita berdiri di luar pintu, satu berusia tujuh puluhan dengan rambut beruban, satu lagi wanita paruh baya dengan pakaian biasa, dan seorang siswi berseragam sekolah.


Erika sekilas mengenali bahwa siswi ini adalah Noviani yang telah diselamatkan dengan mempertaruhkan nyawanya. Jika tebakannya benar, wanita paruh baya itu adalah ibunya, dan wanita tua itu adalah neneknya.


Dokter Yenny bergegas mendekat, "Bibi, ini bangsal Presdir Buana, tapi lukanya terlalu serius. Dia baru saja bangun pagi ini."


Melihat Erika yang terbaring di atas ranjang, Noviani segera berjalan kemari dan membungkuk dalam-dalam, "Bibi adalah orang yang baik. Anda tidak hanya menyumbangkan uang untuk sekolah kami, tapi juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku. "


Ibu Noviani berjalan mendekat, dia berkata dengan suara tersendat: "Presdir, untung saja Anda menyelamatkan putriku saat dalam bahaya. Jika dia meninggal, keluarga kami juga akan hancur. Terima kasih banyak. Tadi malam, putriku juga menerima perawatan di rumah sakit. Aku dengarAnda terluka parah dan dirawat di rumah sakit. Ibu mertua ku dan aku ingin awalnya mau datang menjenguk Anda, tetapi dokter mengatakan Anda sedang kritis dan tidak bisa dijenguk. Oleh karena itu, kami datang ke sini lagi pagi ini."


Erika berkata: "Terima kasih atas perhatiannya, kak. Aku memang mengalami sedikit masalah, tetapi cederanya tidak terlalu serius. Aku baik-baik saja sekarang."


Nenek Noviani dengan gemetar meraih tangan Erika, "Presdir, Anda adalah orang baik. Hidupku sangat sulit, suamiku meninggal dalam kecelakaan mobil sejak lama, sedangkan putraku tidak bisa diandalkan. Dia berkeliaran di luar dan tidak pulang sepanjang hari. Jika cucu ku tiada, aku benar-benar tidak bisa hidup lagi. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih [padamu. "


Nenek Noviani tiba-tiba berlutut, Erika terkejut, "Bi, jangan begini."


Ketika nenek berlutut, Noviani dan ibunya juga ikut berlutut, Erika dengan cepat berkata: "Bibi, jangan begini. Bu! Tolong papah bibi."


Saras dan Ferdi buru-buru membantu nenek Noviani berdiri. Adegan menyentuh ini membuat semua staf medis yang hadir menangis. Meskipun beliau sudah berusia lebih dari 70 tahun, tapi perilaku Erika layak untuk menerima sujudnya.


Lasmi meraih tangan wanita tua itu, "Nyonya, kamu dan aku seumuran, dan Erika adalah cucuku. Aku sangat mengerti perasaanmu. Meskipun aku juga sangat menyayangi cucuku, tapi jika aku ada di sana saat itu, aku akan juga akan memintanya untuk menyelamatkan para siswa."


Nenek Noviani berkata dengan penuh terima kasih: "Kak, cucumu lah yang telah mendorongku untuk terus hidup. Aku dengar dari tetangga di lingkunganku kalau masyarakat saat ini sangat acuh tak acuh, tidak ada yang akan maju dalam bahaya untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak saling kenal, tetapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri hari ini kalau sebenarnya tidak demikian. Masih ada orang baik di zaman ini, dan Presdir Buana adalah orang itu."


Nenek Noviani tidak pandai mengungkapkannya, tetapi bahasanya yang sederhana memang sangat menyentuh. Seorang wakil kepala rumah sakit berlarian kemari, “Bu Yenny, Sekretaris Harun dan Walikota Tantono datang ke sini."


“Apa, para pemimpin juga datang?” Dokter Yenny berkata dengan heran.


"Ya, Sekretaris Harun dan Walikota Tantono secara khusus datang mengunjungi Presdir Buana."


Dokter Yenny berkata dengan gembira, "Ayo cepat sambut mereka."


Beberapa menit kemudian, Sekretaris Harun, Walikota Tantono, Pak Omar, Pak Juno dan yang lainnya datang ke bangsal bersama-sama.


Melihat begitu banyak pemimpin datang menjenguknya, Erika ingin duduk dari tempat tidur. Sekretaris Harun cepat-cepat menghentikannya. "Erika, cederamu masih belum sembuh, jangan bergerak sembarangan. Kamu adalah panutan bagi semua pejabat di Jakarta."


Pak Juno berkata: "Presdir Buana, karena bantuanmu dan Tuan Alex, tidak ada siswa di sekolah kami yang meninggal pada akhirnya. Atas nama semua guru dan siswa, sekali lagi terima kasih."


Erika berkata: "Terima kasih atas perhatian Anda semua. Luka ku sudah tidak begitu parah."


Dokter Yenny berkata: "Para pemimpin yang terhormat, menurut pemeriksaan rumah sakit kami tadi malam, cedera Presdir Buana benar-benar tidak bagus. Saya hampir memberikan pernyataan kematian. Benar-benar bahaya sekali!"


Sekretaris Harun berkata: "Tadi malam, aku sudah berbicara dengan Dokter Yenny di telepon. Dia mengatakan kondisimu sangat buruk. Awalnya, aku ingin datang kemarin, tapi Nova memberitahuku kalau Alex sedang menyembuhkan lukamu dan tidak dapat diganggu. Makanya aku tidak berani datang. Aku sangat senang ketika mendengar kamu sudah siuman pagi ini, lalu segera datang kemari."