Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Bermaksud Jahat


“Rubah selicik apapun pasti akan menunjukkan ekornya cepat atau lambat! Alex, aku memperingatkanmu untuk tidak bermain api.” Yudi menatapnya dengan kejam.


Alex berkata dengan getir, "Kapten Yudi, aku benar-benar tidak punya ekor! Jika kamu tidak percaya padaku, lihatlah!" Alex benar-benar ingin menurunkan celananya, yang berarti Yudi akan melihat pantatnya!


Polisi lain yang sedang menggeledah hanya bisa menahan tawa, Yudi menyipitkan matanya, "Silakan terus berpura-pura bodoh, aku tidak akan pernah melepaskan penjahat mana pun!"


“Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?” Jasmin menggosok matanya dan berjalan mendekat sambil mengerutkan kening karena tidak senang.


“Tolong tinggalkan ruangan ini segera! Kami memiliki kasus besar yang perlu diselidiki segera, tolong jangan menghalangi tugas kami!” Seorang polisi segera menghentikan Jasmin.


Jasmin berdiri tak berdaya di koridor, ketika Friska dan Erika juga datang, mereka bertiga berbicara dengan suara rendah.


"Ada apa ini? Tengah malam gini, apa polisi ngak perlu istirahat?"


"Bener tuh, mereka sengaja mengincar PT. Atish, kan?"


"Ngak apa-apa selama mereka tidak mempengaruhi pekerjaan sehari-hari kita, jika ngak, kita bisa menuntut mereka!"


"Ya, polisi juga ngak bisa bertindak sembarangan!"


"Ngak sopan banget ganggu tidur orang."


"Alex ngak beneran melakukan sesuatu, kan?"


"Mana mungkin? Dia ngak keluar sepanjang malam!"


Yudi menutup telinga terhadap pembicaraan ketiga wanita itu, dia memeriksa kamar Alex sekali lagi, tapi dia tidak dapat menemukan petunjuk apa pun, akhirnya dia berjalan keluar.


Pada saat ini, tim investigasi teknis datang untuk melaporkan, "Pak, kami telah memeriksa rekaman cctvnya, dan Alex belum keluar sepanjang malam."


“Ngak keluar?” Yudi tercengang: Apa kecurigaanku salah? Bukankah Alex yang membunuh ketiga orang itu? Apa Alex mengirim orang lain?


Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Segera periksa rekaman cctv di sekitarnya! Aku ngak percaya rubah licik ngak akan menunjukkan ekornya!"


Dia melambai kepada para petugas polisi, "Ayo pergi!"


"Tunggu!" Erika kesal, "Kapten Yudi, Anda telah menggeledah PT. Atish secara ilegal di tengah malam, Anda harus memberi kami penjelasan!"


Yudi berkata, "Kasus ini mendesak. Aku ngak punya waktu untuk mengajukan surat perintah penggeledahan. Mohon maaf, Presdir Buana."


Erika menggelengkan kepalanya, "Kapten Yudi, sebagai warga negara yang taat hukum, mengapa aku harus memaafkan kesalahan yang kalian lakukan pada kami? Jika kamu masih tidak mengeluarkan surat perintah penggeledahan, maka aku akan menuntutmu atas penggeledahan ilegal! Semua aktivitas yang kamu lakukan di sini dibuktikan dengan rekaman cctv!"


Yudi berkata dengan marah, "Presdir Buana, lakukan saja yang kamu inginkan! Kami masih harus menangani kasus ini, mohon minggir."


Erika tersenyum tipis, "Aku bisa minggir. Tapi, Jasmin, begitu langit terang, kamu segera pergi ke pengadilan untuk menuntut Kapten Yudi!"


“Baik!” Jasmin menyahut dengan lantang, menatap para polisi dengan kejam.


Yudi, yang berjalan keluar dari PT. Atish, berkata dengan marah, "Kumpulkan semua rekaman cctv di sekitar segera! Aku yakin Alex pasti akan meninggalkan jejak atas perbuatannya! Juga, segera periksa TKP!"


Alhasil, Yudi memimpin para petugas polisi dan sibuk sepanjang malam, sampai subuh, mereka juga tidak menemukan petunjuk yang berharga.


Mereka kembali ke kantor polisi dengan lelah, dan berencana untuk istirahat, tapi keluarga Mahari mengirim seseorang untuk memverifikasi mayat itu. Tentu saja, yang diverifikasi adalah mayat 3 orang yang "melompat dari gedung".


Segera setelah itu, anggota keluarga pengemudi tabrak lari itu datang ke kantor polisi untuk meminta penjelasan. Lagi pula, meskipun pengemudi itu menabrak seseorang, tapi juga tidak sampai hukuman mati. Apalagi polisi harus memberikan penjelasan karena pelaku meninggal di dalam mobil polisi.


Orang-orang Jasmin menemukan uang tunai 200 juta dari rumah pengemudi, tapi setelah Jasmin menggunakan serangkaian cara dan bertanya kepada keluarga pengemudi itu untuk waktu yang lama, juga tidak membuahkan hasil.


Jasmin akhirnya yakin kalau keluarga pengemudi tidak tahu bahwa pengemudi itu telah menerima 'pekerjaan' yang mematikan.


Jasmin mengambil uang tunai 200 juta tersebut, dan anggota keluarga pengemudi tidak berani bersuara.


Karena orang-orang yang dibawa Jasmin bersamanya semuanya berpenampilan garang, keluarga pengemudi tahu mereka tidak mampu mengganggunya.


Jasmin juga sangat tertekan. Orang tua Tika sudah meninggal, tapi pelaku tabrak lari itu juga meninggal. Sebagai orang yang sudah hidup lama dalam masyarakat, Jasmin juga mematuhi aturan "tidak menyakiti keluarganya", jadi tentu saja dia tidak akan membalas dendam kepada keluarga si pelaku.


Pada malam hari, Yudi masih tetap mengirim orang untuk memantau gedung pusat PT. Atish, dan dia secara khusus membawa peralatan terbaik dari kantor polisi untuk merekam video beresolusi tinggi pada siang dan malam tanpa henti terhadap gedung PT. Atish dari 4 sudut penjuru, tidak peduli siapa yang keluar atau masuk, petunjuk pasti akan ditemukan.


Sedangkan keluarga Mahari tidak mengirim orang lagi untuk memantau. Bagaimanapun, pelajaran yang Alex berikan tadi malam terlalu mendalam. Di bawah pengawasan ketat polisi, dia bahkan bisa membunuh mereka bertiga, dan setelah diotopsi oleh polisi, ditentukan bahwa mereka tidak punya luka luar sama sekali, mereka terlihat seperti 'bunuh diri'!


Keano, Jasmin, Erika dan Friska makan malam bersama. Mata besar Keano berputar untuk waktu yang lama, dia merendahkan suaranya dan bertanya pada Alex yang ada di sampingnya, "Tuan Alex, 3 mata-mata yang keluarga Mahari untuk memantau kita, apa kamu yang membunuhnya?"


Alex bertanya dengan samar, "Kamu mau bantu polisi menyelidiki kasus ini?"


Jasmin memelototi Keano, "Jangan tanya yang tidak seharusnya ditanyakan!"


Erika juga memandang Alex, dan mata besar yang bisa berbicara juga bermaksud: Mungkinkah benar-benar kamu yang melakukannya?


Friska berkata, "Bukankah polisi telah menutup kasus ini, ketiga orang itu bunuh diri dengan melompat dari gedung karena bosan hidup."


Jasmin tersenyum dan mengangguk, "Ya! Mereka sendiri yang mau bunuh diri, lagian kita juga bukan dewa, kita ngak bisa menyelamatkan mereka."


Alex berkata, "Malam ini bisa tidur nyenyak, polisi seharusnya ngak akan mengganggu kita lagi."


Setelah makan malam, Erika, Friska dan Jasmin kembali bekerja. Proyek rekonstruksi pelabuhan tidak hanya besar, tapi juga sangat rumit. Mereka telah sibuk selama berhari-hari, dan masih belum menyelesaikannya.


"Tok tok." Terdengar suara ketukan pintu, Alex segera berdiri dan sedikit bertanya-tanya, Apa polisi datang ‘periksa kamar’ lagi?


"Siapa?"


“Aku.” Suara di luar ternyata adalah Friska.


"Masuk." Alex berkata dengan pelan sambil mengenakan pakaiannya.


Friska tampak sangat mapan dalam balutan setelan profesional berwarna biru muda. Saat masuk, dia melihat Alex sedang berpakaian, dia melihatnya diam-diam dengan sepasang mata yang indah.


Alex merapikan pakaiannya, lalu berkata "Kamu ngak ngerasa ngak pantas melihat orang seperti ini?"


Friska mencibir, "Cih! Pria gede sepertimu takut aku intip? Selain itu, aku juga ngak mengintip, aku melihatnya dengan terang-terangan."


“Ehem, ada apa kemari? Cepat pergi kalau ngak ada apa-apa, jangan sampai Erika melihatmu di sini.” Alex terus melirik ke arah pintu.


"Eh? Segitu takutnya sama istri? Yaelah! Aku ngak bermaksud jahat padamu kok." kata Friska sambil mengangkat alisnya yang indah.