Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 465 Martin Berniat Mengundurkan Diri


Ahmad mengangkat-angkat pundaknya dengan santai, “Sebenarnya kamu nggak tahu kalau aku nggak berniat ingin mendapatkan informasi yang berguna dari mulutmu. Mau kamu mengatakannya kepadaku atau nggak, itu nggak ada hubungannya denganku, tapi kamu bukanlah dalang di balik masalah jembatan Deli ini.”


Raffi tertawa menyindir, “Preman-preman itu adalah anak buahku. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa memberikan perintah kepada mereka?”


Ahmad mengetuk-ngetuk meja, “Kalau bukan karena masalah di tempat tahanan itu, maka aku benar-benar akan mengira kalau kamulah dalang di balik masalah ini. Tapi setelah kejadian di tempat tahanan, aku pun menyimpulkan kalau kamu nggak punya hubungan yang terlalu banyak dengan masalah ini. Mungkin awalnya kamu punya niat seperti itu, tapi akhirnya orang lainlah yang melaksanakan rencana itu.”


Raffi sedikit memalingkan tatapan matanya, sedangkan Ahmad meneruskan kalimatnya, “Sebenarnya, aku bisa menebak apa yang telah terjadi, apalagi Kota Manado adalah tempat yang begitu luas, pasti akan ada orang yang menentang masuknya PT. Atish. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang bermain-main di belakang. Tapi karena sudah gagal, pada akhirnya mereka akan keluar untuk meminta maaf, bukan?”


Raffi menggelengkan kepala, “Aku nggak tahu apa maksud ucapanmu. Tujuanku menyerahkan diri kali ini adalah mau menceritakan hal yang telah aku perbuat, akulah dalang dibalik masalah jembatan Deli. Aku berani mengakuinya, tinggal lihat apakah kalian berani menahanku atau nggak.”


Ahmad berkata kepada petugas polisi di sebelahnya, “Tahan dulu orang ini, rekam pengakuannya, tapi nggak perlu terburu-buru untuk menjatuhkan hukuman kepadanya dulu.”


Raffi hanya tersenyum menyindir, sepertinya dia sama sekali nggak takut dengan Ahmad, juga tidak khawatir akan menjadi seperti apa hidupnya kedepannya.


Alex membawa Erika kembali ke kantor utama PT. Atish, petugas resepsionis langsung berjalan menghampiri, “Bu Erika, Martin sudah siuman. Dia mengajukan pengunduran diri setelah mendengar posisinya akan dinaikkan.”


Raut wajah Erika langsung menjadi sedikit tidak sedap dipandang usai mendengarnya.


Alex bisa menebak apa yang ingin dilakukan oleh Martin setelah mendengarnya, bocah itu tidak mau menyusahkan PT. Atish lagi.


“Ayo pergi, istriku, sepertinya hari ini kita harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk orang yang telah menyelamatkanmu.” Alex menarik Erika. Erika menganggukkan kepala nggak berdaya.


Setibanya di rumah sakit, terlihat seorang wanita sedang duduk di sebelah ranjang Martin sambil mengupas apel, mulutnya tidak henti-hentinya berbicara.


“Kamu tahu kalau harga rumah saat ini begitu mahal. Biaya sekolah putrimu juga begitu mahal. Siapa yang akan menanggung biaya hidupmu kalau kamu mengundurkan diri dari PT. Atish?”


“Di samping itu, kamu menjadi seperti ini demi Bu Erika, bukankah sudah sepatutnya kalau mereka menjagamu saat ini? Kenapa kamu begitu menolak masalah ini?” Fazura sangat kesal, suaranya sedikit nyaring.


Ruangan mereka adalah kamar pasien yang terpisah, namun suara Fazura tetap terdengar di luar walaupun pintu sudah ditutup. Alex juga mendengarnya.


Erika ingin mengetuk pintu dan masuk, tapi Alex menahannya. Alex menggeleng-gelengkan kepala dan menunjuk ke dalam kamar pasien. Alex bermaksud ingin mendengar apa pendapat Martin dan istrinya.


Erika tidak menyanggah apa yang dikatakan oleh Fazura. Sebenarnya yang dikatakan oleh Fazura adalah fakta, kenyataannya memang begitu.


Martin menjadi seperti ini gara-gara Erika. Sekarang Erika menjaga Martin juga adalah hal yang sudah semestinya, apalagi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kalau saat itu Martin tidak keluar dari mobil seorang diri untuk menahan preman-preman yang sudah bosan hidup itu.


Tidak ada satupun yang tahu.


Juga tidak ada yang berani membayangkannya.


Martin malah menatap istrinya dengan kesal, “Kamu tahu apa? Saat ini aku masih punya kaki dan tangan. Waktu menjadi pengawal Bu Erika, aku sudah berkata kalau aku akan mengorbankan nyawaku untuk melindungi Bu Erika. Sekarang aku hanya memenuhi janjiku saja. Di samping itu, PT. Atish harus berkembang, mana bisa aku menerima kebaikan orang tanpa melakukan sesuatu?”


Fazura kesal bukan main saat mendengarnya, “Otakmu bermasalah. Coba kamu bayangkan, kalau kamu pergi begitu saja, bukankah Bu Erika juga akan merasa sangat bersalah?”


“Apa?! Kamu sudah gila, ya?”


“Wanita sepertimu sangat berwawasan rendah. Bagaimanapun juga, pria harus mengutamakan hubungan pertemanan!”


“Kalau begitu, kamu hidup saja sama hubungan pertemananmu itu. Aku sudah bicara panjang lebar, tapi kamu tetap saja lebih mementingkan kehormatan diri. Kalau nggak, nggak tahu akan sesenang apa kamu dengan pekerjaan ini.”


Saat Fazura sedang berkoar-koar, Alex pun membuka pintu ruangan.


Fazura langsung terdiam. Dia menoleh ke pintu, keterkejutan langsung terpancar di wajahnya setelah dia melihat Erika dan Alex, dia merasa sedikit canggung.


Dia tidak bisa memastikan apakah ucapannya barusan itu telah terdengar oleh Erika dan Alex atau tidak.


Akan sangat tidak baik kalau terdengar oleh mereka.


Apalagi kata-katanya itu terlalu realistis, membuatnya terkesan sangat angkuh.


Saat ini, Alex tersenyum dan menuturkan, “Aku sempat ragu saat mendengar kalau kamu sudah siuman. Aku senang melihatmu sudah sadarkan diri.”


Martin berusaha kuat untuk tersenyum, namun wajahnya pucat pasi, “Pak Alex, aku nggak melalaikan tanggung jawabku dan berhasil melindungi Bu Erika.”


Alex menganggukkan kepala. “Aku tahu, aku juga tahu kamu berusaha keras untuk melindungi Erika. Aku sangat berterima kasih kepadamu, tapi aku dengar hal pertama yang kamu lakukan setelah siuman adalah mengajukan pengunduran diri, kenapa begitu?”


Martin tertawa getir sambil menatap Alex, “Aku tahu maksud Pak Alex baik, tapi aku juga mendapatkan perlakuan yang sangat baik di dalam perusahaan. Gajiku naik setiap bulan, itu adalah hal yang sangat baik bagiku. Tapi aku nggak bisa terus duduk di posisi wakil manajer PT. Atish cabang Kota Manado, seharusnya posisi itu diberikan kepada orang yang lebih berbakat.”


Alex tersenyum tipis, “Kenapa kamu begitu merendahkan diri dan beranggapan kalau dirimu nggak berbakat?”


Martin menggelengkan kepala, “Aku tahu aku orang yang seperti apa. Kamu bisa menyuruhku berkelahi atau membunuh orang, tapi kalau menyuruhku melakukan bisnis, aku sama sekali nggak mampu melakukan itu. Aku paham betul dengan poin itu. Di samping itu, saham yang aku miliki cukup bagiku untuk hidup enak walaupun aku pergi dari PT. Atish.”


Tentu saja Alex tahu seberapa banyak saham yang dimiliki oleh Martin, hanya secuil saja. Walaupun hasil yang dibagikan setiap bulannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Martin, itu masih kurang banyak kalau mau membeli rumah di kota Modis.


Selain itu, tentu saja Alex tidak berniat membiarkan Martin pergi.


Wajah Alex tiba-tiba menjadi datar, “Kalau aku bilang kamu bisa, itu artinya kamu bisa. Di samping itu, posisi wakil manajer PT. Atish cabang kota Manado juga nggak mutlak akan menjadi milikmu. Nantinya aku juga akan mengutusmu ke kota Modis, tempat itu lebih cocok denganmu.”


“Jadi, nggak ada gunanya kamu banyak alasan, aku nggak akan membiarkanmu pergi. Aku nggak setuju kalau kamu mau mengundurkan diri.”


Alex sudah berbicara seperti itu, Martin sadar kalau tidak mudah baginya untuk menolak.


Dia juga tahu dengan kepribadian Alex. Alex tidak akan mengubah hal yang sudah dia katakan.