
Namun, Tambo tidak akan berani menggunakan cara semudah ini untuk menghadapi jurus Alex ini.
Karena kekuatan yang dikeluarkan Alex tadi sudah cukup membuatnya terkejut.
Dia bisa merasakan tenaganya yang semakin berkurang akibat usia yang cukup tua setelah menerima 500 an jurus, jika pertarungan ini terus berlanjut, maka dia pasti akan kalah!
Oleh sebab itu, saat Tambo melihat Alex melakukan jurus andalan ini, dia pun mundur sambil mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya untuk memberi kode: Tuan, tembak!
Kennedy dari tadi terus membidik target, tapi dia belum menemukan kesempatan yang tepat untuk menembak.
Dari balik cermin bidik, Kennedy dapat melihat dengan jelas kode yang diberikan Tambo kepadanya.
Namun, Alex saat ini masih terbang di udara, dan kecepatannya sangat cepat, jadi dia juga tidak yakin bisa tepat sasaran.
Tapi dia tidak punya pilihan lain karena Tambo sudah memberikan kode.
“Dor!” Suara tembakan yang nyaring akhirnya terdengar.
Pada paruh kedua pertempuran, Alex terus merasakan adanya bahaya yang amat dahsyat, tapi dia sendiri juga tidak bisa mengatakan alasannya.
Namun, bahaya yang besar itu terus menyelimuti dirinya sehingga dia harus membagi fokusnya meskipun saat sedang bertempur sengit dengan Tambo.
Peluru senapan sniper adalah supersonik, jadi orang yang terkena tembakan hanya akan mendengar suara tembakan setelah tertembak beneran.
Dan walaupun Alex punya indera yang tajam terhadap bahaya seperti itu, tapi dia juga tetap tidak akan tahu dari arah mana bahaya itu datang.
Setelah peluru senapan sniper terbang untuk jarak tertentu, Alex tiba-tiba melakukan gerakan meringkuk dan mengapit kaki di udara!
Karena jurus cekikan buaya miliknya perlu meringkukkan badan untuk bisa mengapit tubuh lawan, paling baik tentu saja pada bagian leher, jika bisa menjepit lehernya hingga putus, barulah dapat menunjukkan kekuatan yang sebenarnya dalam pertarungan.
Pada saat ini, Tambo telah memikirkan puluhan cara untuk menghindari jurus ini, tapi yang dia gunakan pada akhirnya malah menghadapinya secara langsung, karena hanya dengan begini baru bisa memberikannya rasa aman dan merasa masih ada peluang untuk membalikkan keadaan.
Peluru tiba setelah senapan berbunyi!
pfft! Peluru menggores leher Alex, lalu menembak langsung ke batu di sisi kanan Alex dan memercikkan bunga batu yang indah.
“Ada penembak!” teriak Hengky dan segera mengarahkan moncong senjata ke arah datangnya peluru.
Pada saat bersamaan, Alex juga tersontak kaget: Rupanya ini bahayanya, bisa-bisanya datang seorang ahli tembak!
Di bawah sedikit gangguan, cekikan buayanya kehilangan sebagian besar kekuatannya, sehingga Tambo memiliki kesempatan untuk bernapas, dan pada saat yang sama ia juga menemukan kelemahan Alex.
“Hyaa!” Tambo juga berteriak dengan marah, sosoknya berkedip, lalu mengerahkan tinjunya sekuat tenaga, dan menabrak bagian tengah tubuh Alex yang belum mendarat!
Karena Alex berada di udara, dan serangan 'cekikan buaya' ini telah selesai, di saat kekuatan barunya belum hilang, dan kekuatan lama belum datang, itulah saat di mana pertahanan seluruh tubuhnya paling lemah.
Tambo akhirnya menangkap kesempatan itu, dan tinjunya mencapai bagian antara pinggang dan perut Alex.
“Ha!” Alex menghembuskan napas, dan kekuatan seluruh tubuhnya langsung berkumpul di telapak tangannya, lalu menghadapi kedua tinju Tambo.
Bum! Seiring suara keras, Tambo juga terguncang mundur lebih dari tiga langkah sebelum berdiri stabil.
Tempat Alex berdiri saat ini berada tepat di sebelah tebing. Kennedy berada lebih dari 200 meter di atas ujung jalan gunung. Dari sudutnya, dia tidak bisa melihat Alex sama sekali.
Main senjata? Kalau Alex berani jadi yang kedua, maka siapa lagi di seluruh Indonesia yang berani jadi yang pertama?
Bahkan secara pribadi, Andi akan bercanda dengan menyebut Alex sebagai 'leluhur senjata', yang menunjukkan bahwa pengetahuan dan penguasaan senjata Alex sudah sangat hebat.
Oleh karena itu, setelah Alex tahu bahwa pihak lain memiliki penembak jitu, bahkan jika Kennedy sendiri yang menembak, dia juga tidak dapat melukai Alex.
Karena Alex sudah secara akurat menentukan lokasi Kennedy dan menemukan tempat persembunyian terbaik.
Tambo juga merasa sangat canggung saat ini. Dalam harapannya, selama Kennedy berhasil menembak Alex dengan satu tembakan, meskipun jika itu hanya menyebabkan Alex cedera ringan, maka Tambo bisa dengan mudah membunuh Alex. Sedangkan para satpam yang dibawa Alex sama halnya dengan semut. Mereka semua akan terbunuh hanya dengan injakan ringan dari Tambo.
Namun, sekarang Tambo merasa situasi sekarang berbeda dengan harapannya!
Tapi Tambo tidak menyerah begitu saja, melainkan kembali menerjang ke arah Alex seperti angin puyuh.
Amarah Alex sudah berhasil dibangkitkan saat ini, ketika bergerak, setiap gerakannya mengandung tenaga terkuatnya. Dapat dikatakan bahwa dalam setiap gerakan, ada energi kuat yang dimiliki oleh tingkat dewa perang, seperti memindahkan gunung dan lautan, meluap keluar!
Setelah Tambo melayangkan belasan jurus, Hengky tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah pantat Tambo.
“Hah?” Tambo terkejut, dia segera mengandalkan persepsinya yang kuat untuk menghindari tembakan tersebut.
Dor Dor! Rega dan Martin juga mulai menembak dengan cepat begitu melihat Tambo dan Alex berpisah!
Terlepas dari apakah kena atau tidak, yang penting tembak saja sosok Tambo!
“Brengsek! Kenapa kalian menembak?!” bentak Tambo, dia sepenuhnya lupa kalau rekannya Kennedy juga menembak Alex dengan senapan sniper barusan.
Sedangkan di saat marah, Tambo juga menghindari semua peluru bagaikan burung dengan kecepatan penuh.
Ahli tingkat dewa perang memang sehebat itu, dia bisa menghindari peluru-peluru ini seperti menghindari mainan yang dilemparkan padanya.
“Jangan harap bisa kabur!” Alex juga mengeluarkan pistolnya segera dan mengejar ke arah Tambo.
“Kak, jangan dikejar!” teriak Hengky mengingatkan.
“Jaga mobilnya, perhatikan sekitar.” Alex mempercepat langkahnya, tubuhnya seolah-olah terbang, tapi dia tidak mengejar ke arah Tambo, melainkan langsung mulai memanjat ke atas dinding tebing.
Hengky dan yang lainnya hanya bisa terus mengamati keadaan sekitar dengan waspada setelah kembali bersembunyi di sisi tebing setelah menerima perintah Alex.
Karena mereka melihat sosok Alex yang memanjat cepat, mereka tahu bahwa bahkan jika mereka mengejar perlahan juga tidak akan membantu. Sebaliknya, mereka akan menambah kekacauan pada Alex, jadi lebih baik tetap tinggal di sini.
Alex sangat marah, terutama terhadap Kennedy yang berani menembaknya. Rasanya ingin sekali segera menemukannya dan menembaknya hingga mati.
Tetapi ketika Alex mengikuti arah asal peluru dan dengan cepat menemukan lokasi di mana Kennedy seharusnya berada, dia malah menyadari bahwa Kennedy sudah tidak di sana.
Mengejar Tambo juga sudah terlambat sekarang! Dia hanya bisa kembali, dan Hengky telah mengesampingkan batu-batu besar di jalan gunung, dan timnya kembali melanjutkan perjalanan.