
“Letnan Stevanus, semalam kekuatan tembak musuh terlalu sengit! Selain itu, penembak jitu musuh sangat hebat! Terutama Alex, dia bahkan mampu memaksa kita mundur dan juga kehilangan begitu banyak saudara, sungguh mengejutkan.” Arianto datang ke kamar Stevanus dan menganalisis pertempuran semalam.
Stevanus sedang terbakar amarah mengingat pertempuran semalam, sangat marah sampai otot-otot di wajahnya berkedut, “Benar! Arianto, semalam itu salahku, kita sudah kehilangan belasan saudara! Aku, Stevanus pantas mati!”
“Bukan begitu. Letnan Stevanus, seluruh rencana pertempuran disetujui semua orang! Bahkan saat kamu memerintahkanku untuk mundur, bukankah aku juga nggak terima pada waktu itu? Kita terlalu sombong dan selalu merasa nggak ada lawan yang layak untuk kita perhatikan. Alhasil, Alex memberi kita pelajaran, hanya saja biaya pelajaran kali ini sangat mahal.” Arianto menghela napas. Dia dan Stevanus adalah rekan seperjuangan selama bertahun-tahun. Bakat militer Stevanus sudah terbukti dalam banyak pertempuran, Arianto mau gak mau harus mengakuinya.
Bahkan dalam situasi semalam, Arianto tidak setenang Stevanus.
Karena itu, komandan dalam tim hanya bisa Stevanus dan bukan Arianto. Hal ini adalah sesuatu yang juga harus diakui Arianto.
Ada air mata di mata Stevanus, “Arianto, aku membuat kesalahan dalam memberi perintah! Aku sungguh nggak bisa memaafkan diriku sendiri! Karenaku, ada begitu banyak rekan seperjuangan kita ternyata tewas di sini! Aku nggak terima!”
Arianto meraih tangan Stevanus, “Letnan Stevanus! Kamu nggak boleh seperti ini! Apakah satu kekalahan akan membuatmu kehilangan kepercayaan diri? Ini bukanlah Letnan Stevanus yang kukenal! Bagaimanapun juga, kita harus bangkit kembali untuk membalaskan dendam saudara yang tewas!”
“Tentara bayaran?” Mata Stevanus berbinar dan berkata, “Arianto, dengan koneksimu, apakah bisa menemukan tentara bayaran yang hebat? Sekarang aku bisa mengeluarkan banyak uang! Asal bisa menyewa tentara bayaran terhebat!”
Arianto mengangguk dengan sungguh-sungguh, “Aku akan mencobanya! Letnan Stevanus, bagaimanapun juga, dendam ini harus dibalas!”
Mereka berdua tos, Stevanus mengangguk dengan serius, “Tentu saja! Kamu segera hubungi, aku ingin mencari tentara bayaran paling terkenal dan kejam! Apapun yang terjadi harus membunuh Alex! Oh iya, dan juga Dakson! Harus membuat mereka mati tanpa tempat pemakaman!”
“Baik! Letnan Stevanus, kamu bisa bayar berapa?” Arianto juga menjadi semangat, dengan orang-orang yang tersisa, mereka memang nggak bisa melawan Alex dan Dakson. Apalagi setelah melihat kekuatan tempur pihak Alex semalam, Arianto nggak berani sombong lagi.
Stevanus berkata, “Aku bicarakan dengan ayahku dulu, selama aku dan keluargaku mampu bayar, aku nggak peduli berapapun harganya! Aku harus membantu ayahku mengamankan posisinya di Tomohon! Hanya dengan begini baru bisa sejahtera dan makmur.”
Arianto berkata sambil tersenyum, “Benar! Letnan Stevanus, bagaimanapun situasinya, kamu nggak akan pernah jatuh. Ini juga hal terpenting yang aku kagumi darimu.”
Stevanus berkata dengan wajah dingin, “Arianto, aku nggak butuh dihibur. Apa yang bisa dibanggakan dari seseorang yang gagal dalam operasi?”
Arianto menepuk pundaknya dan berkata, “Letnan Stevanus, kamu adalah atasanku! Kami pasti mendukungmu! Jika perlu menyewa tentara bayaran, kami juga bersedia membayar!”
Setelah pertempuran selesai, Mark terlihat sangat sedih, tidak mampu membangkitkan semangatnya.
Alex memanggil Mark yang terkulai di kamarnya, menepuk pundaknya dan berkata, “Mark, semalam sudah menembak lima anggota Korps Marinir Negara M. Jadi ini pantas dirayakan!”
Mark menyeringai sedih, “Bos kami sudah bilang akan memotong 5 juta dolar dariku! Jenderal, jangan mengingatkan kesedihanku lagi.”
Alex tertawa keras, “Bagaimana mungkin Mark yang memiliki pencapaian luar biasa akan dipotong? Kurasa otak Andi bermasalah.”
Andi mendorong pintu dan masuk, “Duh? Siapa yang mengataiku secara diam-diam?”
Andi buru-buru tersenyum, “Eh, Bos, perkataanmu benar! Aku, Andi adalah orang bodoh yang punya banyak kekurangan dan kesalahan. Aku sendiri saja nggak tahu jelas, kebetulan kamu bisa membantuku menghitungnya. Hahaha.”
Mark tentu saja tahu bosnya paling takut pada Alex, selain itu hubungan pribadi Andi dengan Alex adalah sahabat baik yang rela mati untuk satu sama lain.
Karena itu, melihat Andi terpaksa tunduk di depan Alex. Mark juga nggak marah, hanya tertawa diam-diam dalam hati, tapi nggak berani menunjukkan di wajah.
Melihat Andi seperti ini, Alex juga tidak bisa menahan tawa, “Kamu ini cuma bisa menghindari tanggung jawabmu saja! Sekarang kukatakan padamu, Mark nggak boleh dihukum, mengerti gak?”
Andi mengangguk dengan penuh semangat, “Karena Bos sudah bilang begitu, maka aku akan menuruti perkataanmu! Mark, jangan marah lagi. Sana pergi ambilkan makanan untuk kami.”
“Baik!” Walaupun Mark tidak terlalu senang karena dihukum, tapi dia tetap harus selalu mematuhi perintah Andi, karena ini sudah menjadi kebiasaan mereka.
Mark tentu saja senang saat mendengar Andi tidak bermaksud menghukumnya! Satu kalimat ini senilai lima juta dolar!
Mark keluar menyiapkannya. Andi mengedipkan mata misterius pada Alex, “Aku hanya bercanda dengan Mark. Menurutku teknik tembak anak ini sangat bagus, jadi bisa membangkitkan kemampuannya agar bisa lebih baik.”
“Uhuk, huk! Karena seperti itu, katakan saja lebih awal. Untuk apa membuatnya bersedih begitu lama?” Alex juga tidak berdaya.
Mata besar Andi membelalak, “Bukankah dengan begini baru bisa memberimu kesempatan?”
“Kamu… baiklah, anggap aku tertipu olehmu, oke?” Alex juga tahu ini adalah cara Andi untuk membuat Mark lebih berterima kasih pada Alex. Tapi ternyata Alex tertipu, jelas-jelas Andi pernah menggunakan trik ini dulu!
Andi tertawa terbahak-bahak dan berkata sambil memegang tangan Alex, “Aku tahu kamu mencintai dan menyayangi mereka. Oh iya, karena Stevanus belum mati, maka harus tetap waspada! Jika dia belum mati, maka dia pasti akan menyerang balik!”
Alex mengangguk, “Ilmu bela diri Stevanus sangat bagus! Tapi, semalam dia hampir saja terbunuh karena meremehkan kemampuan kita. Kalau gak, dengan kemampuan Stevanus yang hebat, dia pasti sanggup melawan kita.”
Andi berkata, “Benar. Aku juga dapat melihat kalau kemampuannya sangat hebat. Tapi selama bos turun tangan, maka dia juga akan kalah.”
Alex memelototinya, “Memandang rendah kemampuan orang dalam berperang pasti akan mengalami kerugian besar! Stevanus sendiri sangat hebat dan di sampingnya juga ada beberapa master sejati. Terutama kualitas militer mereka, bagaimanapun juga mereka keluar dari Korps Marinir yang terkenal, jadi wajar saja memang lebih hebat dari kita.”
Andi menerima ajaran, “Ya, Bos, kelak kita akan terus memperkuat pelatihan kualitas militer!”
Saat mengetahui putranya mengalami kerugian besar semalam, Richard juga sangat terkejut, “Apa? Stevanus, maksudmu Alex memiliki kekuatan tembak yang begitu kuat?”
Stevanus mengangguk, “Ayah, aku yang terlalu lengah! Awalnya kupikir dengan kekuatan tembak kami, sama sekali nggak ada lawan di dalam negeri. Siapa sangka, aku hampir mati dalam pertempuran semalam. Sepertinya aku masih harus menambah lebih banyak orang agar punya keyakinan untuk bertarung melawan Alex.”