Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Babak Penentuan


"Dddrrrrrrr ..." Serangkaian peluru muncul dalam kegelapan malam disertai percikan api yang menakutkan! Namun, Dennis memiliki kemampuan prediksi yang kuat, hanya dengan beberapa lompatan saja dia sudah berhasil masuk ke sebuah ruangan kosong. Tidak satupun dari peluru Nova yang mengenainya.


Nova bangun dari tanah, dan hendak bergegas ke ruangan tersebut dengan pistol.


Alex meraih Nova dan menekannya ke tanah, "Hati-hati ada jebakan!"


Seiring suara ledakan keras, peluru terbang di atas kepala mereka berdua. Setelah satu tembakan, Dennis kembali menghindar dan bersembunyi lagi.


Alex bersandar pada dinding di luar ruangan dan berteriak ke dalam: "Dennis, sebagai wakil panglima tentara bayaran iblis, apa kamu hanya bisa bersembunyi dan menyerang diam-diam? Aku rasa kamu bahkan tidak sehebat kedua anak buahmu itu. Keduanya berani menantangku secara langsung, Meskipun mereka sudah mati, tapi mereka mati sebagai seorang pria... "


Nova menimpali: "Tentara bayaran iblis semuanya sampah! Terutama Bos mereka, seorang pria pengecut yang bahkan tak berani bertanding langsung! Bos macam apa itu? Dia tak lain hanya pengecut yang takut mati. " Baru saja Nova selesai berbicara, sebuah benda berwarna hitam yang tidak dikenal menggelinding keluar ruangan.


Tangan Alex sangat lincah dan matanya jeli, dia meraih Nova dan bersembunyi di belakang tangga. Duar! Granat itu meledak di koridor.


Suara Dennis terdengar, "Alex, kamu benar-benar mau bertanding denganku?"


Alex berkata: "Dennis, aku menantangmu. Kita duel. Jika kamu menang, kamu dapat melakukan apapun pada kami bertiga hari ini. Jika kamu kalah, lepaskan istriku."


Dennis berkata: "Aku terima tantanganmu, masuk."


Alex berkata kepada Nova: "Kamu tinggal di sini, aku akan menyelamatkan Erika!"


“Apa yang kamu bicarakan? Aku seorang polisi, bagaimana mungkin aku membiarkanmu menyelamatkannya sendiri?” Sikap Nova sangat tegas. Dia mengikuti Alex dari belakang, Alex juga tidak menghentikannya.


Ruangan ini dibagi menjadi dua kamar, Dennis berdiri di depan pintu ruangan, dan Erika pastinya dikurung di ruangan kecil itu.


"Alex, aku ingin bertanya, apa kamu kenal Bos Gang Beruang Hitam?"


Alex tersenyum tipis, "Itu aku."


Dennis tersenyum pahit, "Aku sebenarnya sudah menebaknya. Aku hanya tidak percaya bahwa Bos Gang Beruang Hitam yang bermartabat datang ke kota kecil begini? Bukankah itu memalukan?"


Alex mengangkat bahu, "Aku tidak merasa malu. Istriku sangat baik kepadaku, dan aku sangat puas. Tidak seperti organisasi Pencabut Nyawa kalian yang selalu datang membuat masalah. Dennis, hari ini hanya satu di antara kita yang bisa hidup."


Dennis berkata dalam hati: "Rangga, Devan, dasar bodoh, apa kalian tidak tahu bahwa Gang Beruang Hitam tidak boleh disinggung? Organisasi Pencabut Nyawa benar-benar dalam masalah karena kalian.


Dennis tidak dapat menyelamatkan situasi lagi sekarang, begitu banyak elitnya telah meninggal, dan sekarang bahkan jika harus mati, dia juga harus melawan Alex!


Alex berkata: "Dennis, aku paham perasaanmu! Oleh karena itu, kita akan memutuskan pemenangnya! "Alex memberi isyarat kepada Nova dengan matanya, waktunya sudah tepat, dan Nova bisa bergegas ke ruangan itu untuk menyelamatkan Erika.


Nova mengangguk dan berjalan menuju pintu. Dennis sepertinya mengerti motif Nova. Dia menyeringai dingin dan menutup pintu kamar dengan rapat. Jika Nova ingin menyelamatkan Erika, maka dia harus melewatinya. Dengan kekuatan Nova sendiri, dan bahkan ditambah dengan perlindungan Alex, tetap tidak akan mudah baginya untuk melewati Dennis.


Duel antara Alex dan Dennis dimulai, keduanya beradu tangan untuk pertama kalinya, dan tidak ada yang berani bertindak ceroboh. Alex menggunakan jurus Brajamusti yang paling andal dan dapat digunakan untuk menyerang maupun bertahan.


Sebuah pukulan mengenai wajah Dennis, pedang militer ada di tangan Dennis, jadi dia mengayunkannya untuk memotong pergelangan tangan Alex. Alex menggerakkan pergelangannya, dan balik memegang pergelangan tangan Dennis.


Ilmu bela diri keduanya sebanding, dan Alex lebih unggul, tetapi Alex juga tidak mungkin bisa membunuh Dennis secepat itu.


Karena Alex gagal merebut pisau Dennis, maka dia menyerang titik kelemahan Dennis dari samping. Dennis menanggapi serangannya dengan hati-hati.


Nova menatap Dennis tanpa berkedip. Akhirnya, sosok Dennis terhempas beberapa langkah oleh serangan Alex. Nova segera mengambil kesempatan ini untuk berguling ke dalam ruangan itu.


Begitu dia melihat ke atas, terdapat Erika yang diikatkan ke kursi, tetapi mulutnya ditutup dengan selotip.


"Aku akan menyelamatkanmu, Erika."


Nova melangkah maju dengan cepat, dan saat dia hendak melepaskan ikatan Erika, seseorang di belakangnya berkata: "Jangan bergerak, akan kubunuh kalau bergerak. Jangan melihat ke belakang, angkat tanganmu."


Nova terkejut: "Kenapa aku begitu ceroboh? Bisa-bisanya ada penyergapan di sini?"


Mengetahui bahwa ada pistol yang diarahkan ke dirinya dari belakang, dia mau tidak mau harus membuang pistolnya sendiri, kemudian mengangkat tangannya. Begitu menoleh, yang dilihatnya adalah seorang pria berwajah gelap yang sedang memegang pistol sambil menatapnya.


Orang ini adalah Zaine. Zaine awalnya bekerja sama dengan Devan untuk meledakkan pabrik kimia. Setelah selesai, dia datang ke tempat ini untuk menemui Dennis.


Dennis memintanya untuk menjaga Erika, tetapi dia tidak menyangka akan menangkap Nova sekarang.


Lengan Dennis tergores oleh peluru Alex, dan sekarang dia kewalahan karena kehilangan banyak darah. Alex menjadi semakin unggul, saat hendak membunuh Dennis, siapa sangka kalau Nova yang berniat untuk menyelamatkan Erika malah tertangkap, dia merasa bersalah karena tidak hati-hati.


Saat Alex melamun, keunggulannya barusan langsung musnah.


Alex menenangkan pikirannya sejenak, "Aku harus fokus. Harus konsen. Dennis bukan musuh biasa. Aku harus membunuhnya sebelum menyelamatkan Erika." Alex menenangkan suasana hatinya dan kembali melawan Dennis. Dia memusatkan perhatiannya pada lawannya, tidak lagi memikirkan Nova dan Erika, jika dia kalah, keduanya tidak akan bisa selamat.


Begitu pikirannya menjadi stabil, Alex secara bertahap mendapatkan kembali keuntungannya, sedangkan Dennis sudah kewalahan.