Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bertahan Sekuat Tenaga


Mobil bergoyang dengan hebat. Mereka sepertinya mencari sebuah cara, yaitu membalikkan mobil.


“Ayo, balikkan mobil mereka, lalu lempar molotov ke atasnya!” Seorang pemuda yang bertopi trucker sepertinya adalah orang yang memerintah dan berteriak pada puluhan orang.


Mobil yang seberat 5 ton itu di bawah dorongan puluhan orang mulai bergerak dan roda kirinya juga mulai meninggalkan tanah.


Martin sudah mengerti apa yang ingin dilakukan pihak  lain. Dia memalingkan tubuhnya ke arah Erika, “CEO Erika, aku akan keluar untuk mencegah mereka melakukan hal ini, sedangkan kamu tolong tetap di dalam mobil. Jangan membuka pintu ataupun jendela mobil! Dalam kotak di samping tempat dudukmu ada sebuah pistol, meskipun itu nggak terlalu berguna saat menghadapi musuh yang begitu banyak, aku berharap kamu bisa bertahan hingga Presdir Alex datang!”


Setelah selesai mengatakannya, matanya penuh dengan tekad. Saat puluhan orang ingin membalikkan mobilnya, Martin membuka pintu mobil dan segera melompat keluar.


Mobil itu hampir menjadi vertikal, jadi Martin berdiri di atas pintu mobil saat keluar dari mobil. Senapan mesin di tangannya langsung menembak semua musuh yang akan membalikkan mobilnya.


Peluru menembus ke beberapa tubuh orang dalam seketika. Mereka menjerit kesakitan di tanah.


Karena tujuh, delapan orang ini jatuh ke lantai, hal ini membuat beberapa orang yang tersisa nggak memiliki tenaga yang cukup untuk membalikkan mobil sehingga mobil itu malah menekan kembali ke tubuh mereka.


Seketika, semua orang mundur ke belakang.


Sementara itu, Martin sendirian menembak tanpa pandang bulu pada orang-orang yang datang kemari dengan senapan mesin ringan di tangannya.


Meskipun dia tahu bahwa tindakannya ini akan membuatnya mendapatkan banyak masalah, demi melindungi Erika, dia hanya bisa melakukan ini. Biarpun akan kehilangan nyawanya, dia juga nggak boleh membiarkan wanita di dalam mobil terluka.


Dia juga bukannya nggak memiliki harapan apapun. Selama dia bisa bertahan hingga Alex kemari, maka dirinya pun juga dapat keluar dari masalah ini.


Memikirkan ini, Martin meraung dan mengarahkan senapan mesin ringan pada musuh yang akan maju, “Ayo kemari, siapa yang nggak takut mati maju saja!”


Aura ini membuat banyak musuh tertegun dalam seketika, tapi mereka seperti mendapatkan petunjuk dan segera maju.


“Benar-benar nggak takut mati! Kalau begitu, aku akan membiarkan kalian tahu bahwa aku bukan orang yang nggak berguna!” Martin merasa sangat emosi. Dia sama sekali nggak mengerti kenapa mereka berani melawan mesti beresiko mati. Siapa dalang di balik mereka yang berani menentang kekuasaan Alex?.


Tindakan ini hanya bisa dikatakan ‘cari mati’!


“Bang!”


Tiba-tiba ada sebuah peluru yang nggak tahu muncul dari mana dan langsung mengenai Martin.


Lengan Martin menjadi robek dan senapan mesin Martin juga terjatuh ke sisi lain. Dahi Martin berkeringatan. Rasa sakit membuat dia hampir pingsan.


Hanya saja, dia tahu bahwa jika dia pingsan maka Erika yang ada di dalam mobil akan jatuh dalam bahaya.


Dia harus bertahan!


Martin melihat para musuh yang menyerbu kemari dengan emosi. Para musuh juga hanya berusia dua puluhan, tapi tindakan mereka yang nggak tahu mati itu membuat Martin merasa sedikit terkejut.


Dia tidak mengerti ada apa dengan orang-orang ini?


Kenapa bisa menyerbu tanpa takut mati, sedangkan orang-orang ini bahkan tidak membawa senjata apa pun.


Mereka kebanyakan hanya membawa parang, bahkan ada orang yang membawa pisau sayur.


“Ada apa sebenarnya?” Martin menggertakkan gigi dan menatap situasi ini dengan bingung.


Namun, biar bagaimanapun juga, dia harus tetap kuat.


Martin berdiri, meskipun lengan kirinya telah lumpuh, dia masih bisa bergerak.


Martin sebagai pengawalnya Erika, tentu saja juga nggak menginginkan nyawanya lagi. Hanya dengan mati sebelum Erika, barulah dia bisa dianggap telah bertanggung jawab atas profesinya dan juga layak atas kepercayaan Alex.


Seorang pemuda yang memakai topi trucker adalah orang pertama yang menyerbu ke depan Martin. Dia juga mengangkat parang di tangannya menebas ke atas kepala Martin.


Orang-orang ini berkelahi dengan tenaga yang ganas tanpa mempedulikan hidup seseorang. Dilihat dari posisi parang ini, Martin tahu bahwa pihak lain bukan ingin menangkap orang, tapi membunuh semua orang yang ada di dalam mobil ini.


Meskipun pihak lain sangat berani, cara mereka berkelahi terlihat seperti preman di pasar saja. Berkelahi hanya mengandalkan pengalaman.


Martin segera memiringkan tubuhnya ketika parang menebas turun di sampingnya dan tinju di tangan kanannya pun juga sudah siap.


Martin meninju ke pelipis pemuda ini. Dia juga nggak berniat untuk menahan kekuatannya. Setiap pukulannya menuju ke titik vital musuh.


Martin tahu bahwa dia nggak bisa berpikir panjang lagi dalam situasi seperti ini. Lagi pula, baik terhadap musuh juga merupakan kekejaman terhadap dirinya sendiri, dia nggak ingin melepaskan seorang musuh yang akan membuatnya mati.


Di dalam medan perang mana ada kata ‘kebaikan’!


Suara raungan terus muncul dari mulut Martin. Saat menghadapi para musuh yang telah mengepungnya, hanya ada ketegaran dan keganasan dalam matanya, nggak ada rasa takut sama sekali.


Dia memang nggak takut mati. Setelah mengalami begitu banyak hal, dia mengerti dengan teori bahwa hidup telah ditakdirkan.


Setelah menjatuhkan pemuda itu, dia tetap dikepung oleh musuh. Para pemuda ini sama sekali nggak takut mati, meskipun telah melihat rekannya mati, mereka juga nggak mundur.


Mereka sepertinya siap mengorbankan nyawa mereka.


Beraneka ragam senjata tajam menerjang ke tubuh Martin dan Martin juga telah melakukan semua hal yang bisa dilakukan dengan tinju dan kakinya. Setiap tinju dan kakinya pasti bisa membuat musuh terjatuh ke tanah.


Bahkan bisa membuat pihak lain menjadi lumpuh dan mati.


Orang yang terjatuh ke tanah semakin banyak, tapi pertempuran yang berantakan ini masih tetap berlanjut …


Sekujur tubuh Martin penuh dengan darah, karena satu tangannya telah lumpuh maka kemampuannya menjadi berkurang. Oleh karena itulah, dia dapat dilukai dalam perkelahian yang tak beraturan ini.


Kesadaran Martin semakin kabur, suara raungan di sekitar membuatnya tidak dapat mengetahui di mana musuh berada. Dia hanya bisa melawan dengan mengandalkan firasatnya.


Terkadang bisa menangkap seorang musuh, maka bunuh musuh ini, lalu mendorong musuh ini kedepannya untuk menghadang serangan.


“Pong!!”


Tiba-tiba, seorang pemuda berambut panjang langsung memukul ke siku lutut Martin dengan tongkat besi di tangannya. Kekuatannya sudah bisa membuat sepasang kakinya menjadi patah.


”Ppfftt!”


Sepasang kaki Martin berlutut di tanah. Dia menggigit bibirnya dengan erat. Dia disambut dengan tongkat besi saat mendongakkan kepala.


“Pong!!”


Kepala Martin berdarah dan wajahnya langsung berlumuran darah. Hanya saja tangan kanannya menekan di tanah dan sepasang matanya menatap para pemuda di depan ini dengan getir.


Beberapa pemuda menjadi tertegun. Kemudian, para pemuda di belakang tetap menyerbu kemari dan segera menutupi Martin.


Dua tiga puluh orang datang ke depan mobil anti peluru. Mereka mulai bekerja sama untuk membalikkan mobil ini. Tetapi, saat mereka hampir berhasil ada seorang yang berlumuran darah menerjang di belakang mereka, membuat empat lima orang terjatuh ke tanah, karena mobil ini terlalu berat, bahkan membuat mobil ini menekan ke arah para pemuda ini.