Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 602 Bahaya yang Mendadak


"Tapi sebaiknya masalah ini ditunda dulu. Pertama, aku akan pergi untuk menyelidiki PT. Mega. Sekarang sudah dipastikan PT. Mega adalah dalang yang membunuh ayahku, serta telah menyebabkan begitu banyak korban petugas polisi. Mereka nggak akan bisa terus lolos begitu saja. Mungkin kali ini aku akan menangkap Anwar tanpa perlu kalian bertindak."


Amel menatap Alex dengan sangat gembira, sementara Alex menganggukkan kepalanya dan melanjutkan, "Memang seperti itu. Kalau memang ini yang terbaik, meskipun nggak ada cara untuk mengubahnya, aku masih mampu untuk membuat mereka pergi ke biro dan menyerahkan diri dengan kekuatanku sendiri."


Amel percaya pada kata-kata Alex.


Bagaimanapun, Morgan dan Trevor adalah contoh terbaik.


Akan tetapi, tepat pada saat ini, Alex menerima telepon dari orang asing. Dia melihat ponselnya dengan penasaran dan menerima panggilan tersebut.


Setelah Alex menjawabnya, dia langsung mengernyitkan dahi.


"Alex, sebaiknya kamu berhati-hati, Erika dalam bahaya."


Alex merasa suara itu sangat tidak asing.


"Istriku? Mungkinkah para anggota keluarga Bazel ingin menyentuh istriku?" Alex bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Aku nggak tahu itu. Aku nggak akan menjelaskannya secara rinci walau kamu memintaku untuk melakukannya. Sekarang aku hanya bisa memberitahumu ini. Kamu harus mencari tahu sendiri."


Suara di telepon itu masih terdengar sangat tidak asing, hanya saja dia tidak bisa mengingatnya.


Dia langsung sadar. Bukankah itu suara Ilody?


Akan tetapi, bukankah seharusnya dia berada di kota Manado? Kapan dia datang ke Provinsi Sulawesi Tenggara?


Dia juga tahu begitu banyak tentang urusan keluarga Bazel. Sampai masalah keluarga Bazel ingin menyerang Erika juga diketahui olehnya.


Alex tidak terlalu peduli. Dia tahu dia harus bergegas kembali ke sisi Erika sekarang juga. Siapa yang bisa menebak kapan para anggota keluarga Bazel akan menyerang Erika.


Kalau Steven menyerang Erika, tidak ada yang bisa melindungi Erika di Provinsi Sulawesi Tenggara.


Akan tetapi, Alex selalu yakin akan satu hal, yaitu, keluarga Bazel tidak akan pernah menyentuh Erika karena keluarga Bazel belum terdorong ke titik yang paling putus asa. Harry tahu kalau sesuatu terjadi pada Erika, dia tidak akan peduli.


Pada saat itu, tidak ada seorang pun di keluarga Bazel yang bisa menghentikan Alex untuk membunuh keluarga Bazel.


Karena itulah Harry tidak akan menyentuh Erika, tetapi bagaimana situasinya sekarang dan mengapa dikatakan bahwa seseorang ingin menyentuh Erika.


Alex kembali ke dalam lokasi konstruksi tempat PT. Atish berada. Setelah memasuki kantor, dia menyadari Erika tidak ada di dalam kantor.


Dia buru-buru mengeluarkan ponsel dan menelepon Davin, "Bu Erika pergi ke mana?"


Davin berkata dengan bingung. "Bu Erika? Sepertinya tadi dia menerima telepon kalau bahan bangunan yang kita inginkan telah tiba di Provinsi Sulawesi Tenggara dan bergegas ke stasiun kereta api."


Stasiun kereta api?


Bukankah di situlah dia berada tadi? Kenapa Erika pergi ke sana tepat setelah dia kembali?


Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Erika. Erika langsung mengangkat telepon itu.


Erika sedang melihat-lihat bahan bangunan di atas kereta dan menandatanganinya setelah mengonfirmasinya, kemudian meminta truk untuk memuat semua bahan bangunan.


Ketika dia mendengar telepon berdering, dia langsung menerimanya, "Halo?"


"Sekarang kamu di stasiun kereta api, 'kan?" tanya Alex.


Alex bertanya, "Sekarang siapa yang ada di sisimu?"


Erika melihat sekeliling dan berkata, "Beberapa pengawal."


Alex berkata, "Cepat cari tempat untuk bersembunyi. Aku akan segera pergi ke sana."


Erika tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, ini adalah stasiun kereta api. Seharusnya aman di sini dan aku juga nggak memberi tahu siapa pun saat keluar."


Alex berkata dengan serius, "Dengarkan aku. Cari tempat untuk bersembunyi. Sepertinya saat ini akan ada seseorang yang menyerangmu. Lebih baik kamu pergi ke tempat yang ramai dan beri aku lokasi langsungmu. Aku akan pergi ke sana sekarang juga."


Erika menyadari keseriusan masalah ini setelah mendengar nada bicaranya, jadi hal pertama yang dia lakukan adalah mengikuti kata-kata Alex.


Pertama, dia menyalakan lokasi langsung ponselnya, kemudian bergegas menuju ke area stasiun kereta yang ramai.


Hanya ada dua pengawal wanita yang bersamanya.


Saat dia pergi, semua orang dikejutkan dengan suara ledakan. Mereka pun melihat ke arah ledakan dengan ngeri.


Erika juga telah mendengarnya. Dia menoleh dan melihat empat atau lima pengawal yang berdiri di tempatnya tadi terlempar oleh ledakan. Saat itu pun terjadi keributan di seluruh stasiun kereta.


Semua orang mulai melarikan diri ke luar, mengira telah terjadi semacam serangan di stasiun kereta api ini.


Pada saat ini, Erika merasa sangat bersyukur. Kalau Alex tidak meneleponnya barusan dan menyuruhnya untuk segera pergi, dia juga akan terkena dampaknya.


"Benarkah ada yang mencoba membunuhku? Tapi kenapa? Seharusnya mereka sadar kalau Alex nggak akan melepaskan mereka begitu saja." Erika sama sekali nggak mengerti dengan percobaan pembunuhan ini.


Harry tahu dia adalah kelemahan Alex, tetapi juga tahu kalau dia adalah bom waktu. Kalau keluarga Bazel masih ingin memiliki penerus, itu artinya mereka sama sekali tidak boleh menyentuhnya.


Ini adalah sesuatu yang pasti diketahui Harry, jadi Erika sudah tidak mengerti apa yang terjadi di sini.


Akan tetapi, tidak apa-apa kalau tidak mengerti. Masalah yang muncul saat ini membuat mereka sangat tidak berdaya karena semuanya benar-benar terjadi di luar dugaan mereka.


Kedua pengawal wanita itu mengikuti Erika ke luar, tetapi raut wajah salah satu pengawal wanita itu berubah dan hal pertama dia lakukan adalah menghalangi Erika.


Dor!


Tembakan datang dan peluru langsung masuk ke tubuh pengawal wanita itu, sementara pupil mata Erika menyusut karena dia tahu kalau kali ini adalah pembunuhan yang nyata.


Pihak lain tidak berusaha menangkapnya, melainkan ingin membunuhnya.


Alex bergegas menuju stasiun kereta secepat mungkin dan sudah menelepon Andi.


Keributan di dalam stasiun kereta api telah terjadi sepanjang waktu. Setelah ledakan, semua orang melarikan diri ke luar dan ada banyak kejadian penyerbuan.


Erika masih belum tahu di mana pembunuhnya sampai sekarang. Pengawal wanita lainnya tidak peduli dengan pengawal wanita yang telah dirobohkan dan langsung menarik Erika ke arah lain.


Hanya pada saat ini, sebuah pisau kecil langsung dihunus ke arah Erika oleh seorang pembunuh yang berpura-pura menjadi pejalan kaki.


Pengawal wanita itu bereaksi pada saat yang paling berbahaya, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghalanginya. Karena yang dia tahu adalah meskipun dia mati, dia tidak boleh membuat Erika dalam bahaya.


Begitu pisau itu ada di tubuhnya, dia menunjuk ke sebuah bangunan, "Masuklah ke dalam sana, lalu bersembunyi di dalam ruangan dan jangan keluar."


Erika menganggukkan kepala dengan panik dan bergegas memasuki sebuah gedung tinggi. Hanya saja saat ini dia tidak dikelilingi oleh pengawal pelindungnya dan sangat ketakutan.