
Erika dan Noviani mempercepat gerakan, dan akhirnya mereka tiba di tempat Alex berada, "Erika, cepatlah." Alex buru-buru mundur, dan pada saat yang sama memanggil orang-orang di luar untuk bersiap.
Masih ada lebih dari sepuluh meter jauhnya dari zona aman, waktu berlalu dengan cepat. Tepat pada saat ini, dua balok baja yang didirikan Alex sebelumnya sudah bengkok, dan reruntuhan di atas benar-benar runtuh ke bawah. Pak Omar berteriak dengan cemas, "Orang-orang di dalam, cepatlah, sebentar lagi akan runtuh."
Pak Juno yang melihat situasinya mendesak segera meminta sebagian besar personel ambulans untuk mengungsi dari auditorium, yang tersisa hanya beberapa pemimpin dan petugas pemadam kebakaran yang tiba tepat waktu.
Alex juga menyadari situasinya memburuk, mereka bertiga mempercepat gerakan menuju ke luar. Mulut lorong sudah terlihat, Alex berteriak begitu melihat wajah cemas Pak Omar dan yang lainnya, "Erika, cepatlah." Tepat ketika mereka bertiga hendak keluar dari reruntuhan, Sepotong besar puing jatuh dari ketinggian.
Petugas pemadam kebakaran tiba-tiba berteriak, "Awas, runtuh lagi." Mereka mendengar ada suara benda yang jatuh, tetapi tidak ada waktu untuk melihatnya. Saat ketiganya merangkak keluar dari reruntuhan, sepotong besar puing jatuh menimpa mereka.
"Nov, awas." Erika yang sudah hampir jatuh tanpa sadar menggunakan dirinya untuk melindungi Noviani ketika melihat bahaya terjadi.
"Erika." Pada saat kritis, Alex melindungi Erika. Erika terkejut. Dia menyadari bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Alex.
Alex menggunakan tubuhnya untuk menahan atap besar yang jatuh dari atas, meskipun dia hebat, tapi Alex juga merasa kesakitan.
Awalnya Erika tidak akan terluka jika dilindungi oleh Alex. Tapi siapa sangka kalau ada batang baja lain lagi yang jatuh dan mengenai kepala Erika. Dia merasa pandangannya menjadi gelap dan langsung pingsan!
Baru saja, Alex mengira dirinya akan mampus, akan tetapi, potongan besi yang mengenainya lebih dulu malah menyelamatkannya. Meskipun seluruh tubuhnya terluka, tapi Alex tidak menemukan adanya luka yang serius. Dia hanya ditimpa oleh reruntuhan yang jatuh dan tidak bisa bergerak.
Pada saat yang sama, dia juga menyadari ada yang tidak beres. Noviani yang ada di bawahnya ketakutan sampai menangis, tetapi Erika tidak bergerak sama sekali, Alex berusaha memanggil Erika, tetapi dia tidak melihat pergerakan apapun setelah waktu yang lama. Dia mengulurkan tangannya, dan rupanya kepala Erika berdarah.
Alex berusaha keras mendorong reruntuhan yang menempel di tubuhnya. Petugas pemadam dan petugas polisi juga ikut membantu. Mereka mengeluarkan Alex, Erika, dan Noviani dari reruntuhan, dan semuanya bergegas keluar dari auditorium.
Ambulans telah tiba sejak tadi, beberapa dokter bergegas menghampiri mereka, hanya ada beberapa memar di badan Alex yang tidak akan membahayakan nyawanya. Terlepas dari rasa sakitnya, dia bangkit dan dengan putus asa menggoyang tubuh Erika yang ada di sampingnya sambil menangis, "Erika? Bicaralah."
Wajah Erika dipenuhi darah, dan matanya tertutup rapat. Alex sangat panik, dia bertanya dengan suara gemetar, "Erika, bangunlah ya?
Melihat Erika melindungi siswi pada saat kritis, ditambah Alex yang melindungi Erika lagi. Lapisan perlindungan ini membuat siswi bernama Noviani tidak mengalami luka lain selain cedera di kakinya. Adegan menyentuh ini diabadikan oleh guru yang berada di tempat kejadian dengan kamera.
Mata Pak Omar sendiri juga sudah dibasahi air mata, lalu berteriak, "Dok, cepat selamatkan dia."
Alex juga tidak tahu seberapa serius luka Erika, dia menggendong Erika yang sedang dalam keadaan koma ke dalam ambulans, Alex merasa sangat putus asa.
Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, Pak Omar menelpon istrinya, "Yen, ada kecelakaan di SMP 1. Kepala Erika terbentur keras karena menyelamatkan siswa yang terjebak. Nyawanya dalam bahaya sekarang. Kamu cepat ke rumah sakit dan persiapkan pertolongan darurat."
Setelah dokter Yenny sampai di rumah sakit, ia segera membentuk tim medis untuk menyelamatkan yang terluka. Cedera Alex tidak terlalu serius. Lukanya cukup dibalut saja. Dia berada di luar bangsal Erika untuk menunggu berita Erika. Pada saat ini, Dokter Yenny datang ke bangsal secara pribadi.
Pak Omar memperkenalkannya kepada Alex, "Tuan Alex, ini istriku, dia wakil kepala rumah sakit di sini, dan juga seorang ahli di Departemen Neurologi."
Alex buru-buru memegang tangan dokter Yenny, "Dok, tolong selamatkan istriku, kepalanya terbentur tadi dan sekarang dia tidak sadarkan diri."
Dokter Yenny menghibur Alex, "Tuan, jangan khawatir, dokter sedang melakukan penyelamatan. Ketika dua ahli lainnya tiba, kami akan mempelajari cedera istrimu."
"Terima kasih, dok." Alex mau tak mau harus tinggal di luar bangsal dan menunggu kabar. Dua ahli lainnya datang dari rumah satu per satu dan memasuki bangsal, tetapi tidak ada berita apapun setelah satu jam berlalu. Alex terus melihat arlojinya, karena sebelum itu, dokter kepala mengatakan bahwa dalam kondisi seperti Erika, semakin cepat dia bangun, semakin baik. Jika dia tidak bisa bangun sesegera mungkin, maka Erika bisa saja menjadi vegetatif.
Alex sangat cemas, tetapi hasil pemeriksaan dari tiga ahli masih saja belum keluar. Tiba-tiba, ponsel Alex berdering. Setelah Saras dan Ferdi mendapat kabar bahwa putri mereka terluka, mereka bergegas dari rumah.
Alex berkata: "Kepala Erika terbentur karena menyelamatkan seorang siswa. Dia belum bangun juga sampai sekarang."
"Alex, katakan pada dokter, tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, pastikan untuk menyelamatkan Erika. Kami akan segera sampai," kata Saras sambil menangis.
Alex merasa sangat tidak nyaman, dia menahan air matanya untuk tidak jatuh, "Bu, aku tahu."
Tidak lama kemudian, Saras dan Ferdi sama-sama tiba di rumah sakit, "Alex, bagaimana kabar Erika?"
Alex berkata: "Para ahli sedang menyelamatkannya, kita tunggu saja sampai hasilnya keluar."
Saras dan Ferdi terus mondar-mandir di koridor karena cemas. Setelah menunggu lama, lampu indikator di bangsal akhirnya menyala. Alex, Saras, dan Ferdi buru-buru berdiri. Setelah pintu terbuka, dua ahli berambut putih dan dokter Yenny berjalan keluar bersama. Ekspresi dari ketiganya sangat muram.
Alex bertanya, "Dok, bagaimana kondisi Erika?"
Wajah dokter Yenny tampak serius, dia tidak segera menjawab pertanyaan Alex. Kedua ahli tua itu menggelengkan kepala dan menghela nafas, "Dokter Yenny, kamu saja yang beritahu pihak keluarga, kami akan memeriksa kondisi yang lain."
Alex merasa semakin cemas dan bertanya dengan suara gemetar, "Gimana, dok?"
Saras bahkan lebih panik lagi, "Dok, jangan menakutiku, dia putri semata wayangku, aku tidak akan hidup jika ada yang terjadi padanya."
Ferdi berkata dengan cemas, "Saras, jangan sembarangan menebak. Biarkan dokter berbicara."