
Mana mungkin Alex mau menghabiskan waktu dengan mereka? Melihat orang ini begitu sombong, dia pastinya harus memberinya pelajaran. Alex membungkukkan badan dan melewati lautan pisau kedepan Sandi, dan tiba-tiba meninju tepat di dada lawan.
Sandi bukannya tidak ingin menghadang, tetapi tinju lawan terlalu cepat, tinjuan itu datang melalui celah tangannya dan mengenai tepat di dada. Dia terlempar jauh dan terduduk dalam keadaan terengah-engah untuk waktu yang lama.
Melihat Alex begitu hebat, beberapa orang lainnya juga terkejut, mereka tidak berani bertindak gegabah. Alex mencibir, "Dasar pecundang." Dia mengulurkan tangannya ke dalam lautan pisau dan meraihnya.
Jelas-jelas pisau itu telah melukai pergelangan tangannya, tetapi entah bagaimana bisa berada di tengah kedua jarinya. Dengan lambaian santai, dia menggunakan pisau itu untuk menghadang tiga pisau lainnya.
Alex mundur tiba-tiba, dan mencekik leher Alvin dengan kuat, lawannya seketika tidak bisa bernapas.
Liardo berteriak aneh dan mengarahkan pisau ke lengan Alex, dia ingin memaksa lawannya untuk melepaskan tangan. Tapi Alex hanya menarik kembali sedikit dan menempatkan Alvin di depannya sebagai tameng.
Srak, pisau Liardo memotong lengan kanan Alvin, seketika darah menyembur kemana-mana. Alex dengan cepat mengambil pisau di tangannya.
Dengan pisau di tangan, dia akan lebih kuat lagi. Sama-sama pisau, tetapi kekuatannya berbeda saat berada di tangan Alex. Hanya diayunkan begitu saja, meskipun mereka bertiga memegang pisau untuk menghentikannya, mereka tetap tersapu oleh kekuatan besar sampai hampir mematahkan pergelangan tangan mereka.
Alex melangkah maju lagi dan melayangkan tendangan. Dia menendang pinggul kanan Liardo. Liardo terlempar ke belakang dan mengenai Alfredo. Keduanya jatuh dari atas gedung.
Di saat ini, Nova juga melompat keluar dari jendela lantai dua. Dia sebenarnya sedang bertarung dengan Olivia, begitu mendengar seseorang berkelahi di atas gedung dan suaranya terdengar familiar seperti suara Alex, dia menjadi sangat bersemangat. Dia membuang beberapa perabot rusak untuk membuat musuh mundur, kemudian dirinya melompat dari jendela.
Dia melompat keluar jendela dan berdiri di balkon, pas sekali dia melihat seorang penembak sedang membidik ke atas atap. Nova meraih pergelangan kakinya dan menariknya, pria itu jatuh dari atap, dan Nova meraih senapan di tangannya.
Dia berdiri di balkon dan melihat ke atas gedung, Nova yakin dengan sosok itu: Dia memang datang! Dia merasa ada sebongkah api di dalam hatinya, "Orang itu memang penyelamatku!"
Nanti saja, yang terpenting sekarang adalah membunuh para penjahat ini, dia memegang pistol di tangannya, "ddrttttt", pria bersenjata lainnya di sudut tewas di tempat dan jatuh dari atas gedung oleh tembakan beruntun Nova.
Mendengar suara tembakan, Alex melirik sekilas, melihat Nova aman tanpa luka, dia juga merasa lega. Untuk sesaat pertempuran kembali sengit, dengan dua tendangan, dia kembali menjatuhkan dua orang lawan ke bawah.
Nova menyaksikan dua orang jatuh dari atas gedung, tepat pada waktunya untuk membunuh mereka semua. Alfredo yang terkapar di tanah belum bangun sudah dipukul lagi hingga berdarah dan mati.
Liardo sangat licik. Dia menarik dua mayat untuk berlindung agar tidak terbunuh, tetapi peluru masih saja mengenai pahanya. Rasa sakitnya membuat dia berteriak, dia berguling ke sebuah sudut di garasi dan selamat.
Nova menarik pelatuknya lagi, tetapi rupanya peluru sudah habis. Dia sangat marah sampai mengumpat, dirinya berbalik dan melompat ke atas gedung untuk membantu Alex menghadapi lawan yang tersisa terlebih dahulu.
Sekarang, hanya tersisa Sandi, Rezky, dan Alfarezi yang menggunakan pedang tingkat tinggi. Nova menghampiri dari belakang dan tiba-tiba turun tangan. Dia mengangkat senapan dan menembak bagian belakang kepala Alfarezi, satu lagi tewas.
Sekarang semua lawan di atas gedung sudah tewas, Sandi berteriak marah, dan menyerang ke arah Nova. Nova mengangkat senapan tanpa peluru di tangannya dan bertarung dengannya.
Melihat dia bisa mengatasinya sendiri, jadi Alex menghalangi gerak Rezky. Tentu saja Rezky bukan lawannya, baru saja turun tangan, Alex sudah mengenai pangkal hidungnya dan mengakibatkannya mimisan, lalu terduduk ke tanah.
Alex merasa Rezky sangat konyol, "Sudahlah, kamu akan lebih nyaman jika mati." Selesai berbicara, Alex mengangkat kaki hendak mengakhiri hidupnya. Namun, sebuah sosok tiba-tiba muncul dan menyerangnya, ternyata itu Olivia.
Di antara kelompok orang ini, ilmu bela diri Olivia adalah yang tertinggi. Tapi barusan dia hanya menonton pertunjukan, dan tertarik pada Nova, dia berpikir untuk mendapatkan kenikmatan dari Nova, tapi dia tidak turun tangan.
Sandi melihatnya dan memarahi Olivia: "Dasar jalang, kemana saja dari tadi? Jika kamu turun tangan lebih awal, mana mungkin akan jadi begini?" Dia tidak berani melontarkan ucapannya itu dan hanya memarahi di dalam hati. Dia berteriak: "Bagus, bunuh mereka Kapten! Bunuh mereka!"
Di sisi lain, Liardo juga memanjat naik dari bawah sambil berteriak. Sekarang semua pembunuh hanya sisa mereka saja. Selain itu, dia tahu tidak peduli seberapa kuat Alex, saat ini dia juga pasti sudah mencapai batasnya. Sekarang adalah kesempatan terakhir baginya, jadi dia menahan rasa sakit kakinya dan naik untuk bergabung dalam pertarungan.
Sandi juga mengevaluasi situasi saat ini, pihaknya menang jumlah dan lebih unggul, tetapi jika tidak bisa menang dalam waktu singkat, begitu bala bantuan lawan tiba, dia tidak bisa lepas lagi, jadi pertarungan ini harus segera diselesaikan!
Dia tahu Alex adalah musuh yang kuat, jadi dia berteriak: "Liardo, bantu kakamu, Rezky, masih hidup atau tidak, cepat bantu aku, bunuh si Alex sampai mati!" Asalkan Alex kalah, Nova juga akan kalah!
Tepat setelah menerima dua jurus, Olivia sudah tahu kekuatan Alex, tahu bahwa kemampuan orang ini jauh di atas Nova, seketika dia menggunakan jurus jitunya diringi suara teriakan, "Jurus pencabut nyawa!" Dalam sesaat, tiga kilatan di malam yang gelap melanda Alex.
Alex tidak menyangka wanita ini akan sehebat ini, 3 buah pisau dilempar bersamaan tanpa terlihat jelas, diantara ketiga bilah pisau itu sama sekali tidak ada celah.
Menyadari dirinya tidak punya bisa menghindar, dia lalu melekukkan tubuhnya ke belakang dalam posisi setengah kayang untuk menghindari serangan terakhir, tetapi tetap saja mengenai bajunya. Hal ini benar-benar berbahaya, sangat jarang dirinya akan terlihat menyedihkan begini.
Olivia berhasil dalam satu gerakan, dia kembali mengangkat pisau dan menebas, "Kamu sudah berbaring sekarang, biar kulihat mau sembunyi kemana kamu?" Syut, krak, satu mayat terbelah menjadi dua, dapat dilihat dengan jelas seberapa kuat tebasan dan seberapa kejam dirinya.