Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Traktiran


“Sialan, ngak usah sembarangan kamu, pergi sana! Aku sangat sibuk.” Aldo terlihat tidak senang karena hal yang ingin dia lakukan terhentikan.


“Kak Aldo, aku ngak bicara sembarangan! Aku baru saja dipukul olehnya! Sebaiknya kamu ke sana,” kata Abdul dengan sedih tapi tetap tersenyum menyanjung. Wajah kedua saudara di belakangnya masih bengkak karena habis dipukul.


“Hm?” Aldo mulai serius sambil menatap kedua saudara di belakang Abdul, “Lagian mereka berdua yang maju, ngak heran sih kalau ngak bisa mengalahkan lawan.”


“Bukan gitu! Kak Aldo, aku juga melawannya tadi, tapi dikalahkan dengan satu gerakan! Hanya satu gerakan saja sudah membuatku terhempas dari kamar! Sampai sekarang tangan kananku masih sangat sakit dan pergelanganku hampir patah,” ucap Abdul dengan wajah muram.


“Yasudah, aku pakai baju dulu.” Aldo adalah orang yang suka berkelahi, jadi dia pun ngak peduli dengan wanita di dalam kamar lagi setelah mendengar hal ini. Dia kembali untuk mengenakan baju olahraga dan keluar dengan penuh semangat, “Abdul, bawa jalan.”


Abdul menjadi bersemangat, “Oke! Kak Aldo, bocah itu sombong sekali…”


“Ngak usah banyak ngomong, katakan padaku apa penyebabnya. Apa lawan punya dendam dengan Tuan Justin?” Aldo terlihat lebih tenang daripada mereka, dia tidak seperti Abdul yang langsung berkelahi dengan musuh.


Abdul tidak berani berbohong. Dia mengatakan dengan rinci mulai dari Alex yang ‘sengaja’ mengangkat mobil untuk mengambil dompet sampai dirinya yang membawa orang untuk memukulnya, tapi malah dipukul balik. Saat ini, mereka telah sampai di depan kamar Alex.


Aldo menarik napas, lalu berkata, “Sebenarnya, aku rasa dia sama sekali ngak ingin mencari masalah dengan Tuan Justin, seharusnya kalian yang berpikir terlalu banyak.”


Abdul berkata, “Kak Aldo! Ini kota Tomohon lho, mana mungkin kita membiarkan bocah ini berlagak sombong?”


Aldo merenung sejenak sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu, “Abdul, ketuk pintu.”


“Baik!” Abdul mengepalkan tangan, lalu hendak meninju pintu, tapi Aldo menghentikannya, “Brengsek! Siapa yang menyuruhmu meninju pintu? Ketuk dengan pelan.”


“Em, iya.” Abdul si pria kekar sangat patuh di hadapan Aldo karena dia baru saja dipukuli oleh Aldo sampai tidak bisa menengadahkan kepala.


Tok tok, pintu diketuk.


“Siapa?” Terdengar suara Alex yang tenang.


“Bung, aku adalah ketua satpam Hotel Lestari, Aldo. Aku ingin berbicara denganmu,” kata Aldo dengan sopan.


“Bicara?” Alex merasa sedikit bingung. Apakah beberapa bajingan yang datang tadi ada hubungannya dengan Hotel Lestari?


Dia membuka pintu tanpa berpikir banyak, lalu menatap orang di hadapannya sambil tersenyum, tapi dia sudah mengerti akan maksud kedatangan mereka, “Apa yang ingin kalian bicarakan?”


Aldo berkata, “Aku sudah menyiapkan semeja makanan lezat, kudengar ada seorang master sepertimu yang datang ke Hotel Lestari, sedangkan aku juga suka menyambut tamu, jadi aku pribadi datang untuk mengundangmu untuk minum beberapa gelas.”


“Minum beberapa gelas?” Alex melirik Aldo dari atas sampai bawah. Meskipun dia tidak tinggi, tapi tubuhnya terlihat penuh tenaga dan bahkan sudah mencapai puncak master, hanya sisa satu langkah lagi untuknya mencapai tingkat tertinggi, lalu memasuki tingkat grandmaster.


Pantas saja Aldo punya temperamen yang begitu bagus, ini memang berkaitan dengan tingkat kultivasi seni bela diri.


Aldo mengulurkan tangan untuk mempersilakan Alex, “Silakan.”


Alex melirik Abdul sejenak, lalu Aldo berkata, “Orang-orang ini ngak patuh sehingga menyinggungmu. Aku meminta maaf padamu atas nama mereka.”


Orang yang kuat pasti akan dihormati, mau dia berada di mana sekali pun, karena ini sudah hukum abadi.


Alex melambaikan tangan, “Aku ngak masukkan ke hati, jadi ngak perlu minum-minum segala.”


Alex berkata, “Aldo, aku sama sekali ngak kenal dengan pemuda yang bernama Justin, apalagi melawannya, jadi kamu ngak usah khawatir.”


Dia melambaikan tangan seusai berbicara, lalu hendak menutup pintu, tapi Aldo malah melangkah ke depan, “Bung, kenapa menolak? Kamu seharusnya tahu bahwa orang kota Tomohon sangat ramah pada tamu, bisakah kamu menyetujuinya? Ayolah.”


Aldo berdiri di depan pintu sambil menundukkan kepala. Tangan kanannya melambai ke depan seperti sedang menyambut tamu.


Abdul tiba-tiba berkata, “Kak Aldo, menurutku dia takut pada kita.”


Saat ini, Alex sedang berjalan ke dalam kamar dan tidak merespon ketika mendengar perkataannya.


Aldo semakin gelisah di dalam hati ketika melihat respon Alex, “Abdul, kamu si brengsek ini ngomong apa hah? Kawan ini hanya malas menghiraukan kalian, mana mungkin takut pada kalian? Bung…”


“Baiklah, Aldo, kalau begitu aku akan minum bersamamu.” Alex setuju karena melihat sikap Aldo yang ramah dan ngotot.


“Baguslah kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa namamu?” Aldo menatap Alex dengan antusias.


“Alex Gunawan.” Dia menjawab dengan singkat.


“Oh, ternyata Tuan Alex.” Aldo yang berusia 30 tahunan merasa memanggil bung adalah panggilan yang nyaman. Tapi dia baru saja mendengar Abdul berkata bahwa Alex hanya menggunakan satu gerakan untuk mengalahkannya dan hampir mematahkan pergelangan tangan Abdul, oleh karena itu Aldo memiliki pemahaman lebih tinggi tentang kemampuan Alex.


Aldo merasa kemampuan Alex sebanding dengan dirinya dan mungkin lebih tinggi darinya.


Jarang ada pemuda yang memiliki kemampuan sehebat itu, jika bisa menjadikannya sebagai anak buah, maka pasti bisa membantunya dalam banyak hal!


Tapi Aldo mau tak mau menyingkirkan ide ini karena melihat Alex yang acuh tak acuh kepada mereka.


Meskipun tidak bisa menjadi teman, setidaknya mereka bisa akrab sedikit melalui makan bersama ini dan mungkin saja semua dendam bisa teratasi. Inilah yang dipikirkan Aldo.


Setengah jam kemudian, Alex muncul di salah satu ruang VIP. Aldo yang baru saja duduk di posisi utama segera memberikan kursinya untuk Alex. Abdul dan saudaranya hanya bisa menemani mereka di sisi lain, sedangkan kedua pengawal Tuan Justin sudah pergi mencari Tuan Justin.


“Apa Tuan Alex ke sini karena ada masalah? Mungkin kamu bisa katakan padaku, barangkali aku bisa membantumu?”


Alex tersenyum dan berkata, “Aku hanya datang untuk tinggal beberapa waktu sekaligus melihat pemandangan.”


“Oh begitu, Tuan Alex sangat pandai menikmati hidup! Mari, aku bersulang tiga gelas pada Tuan Alex.” Aldo pun mengangkat gelas, lalu meneguk habis bir yang ada pada gelasnya dan menunjukkannya kepada Alex.


Alex mengangkat gelas dengan acuh tak acuh dan menghabiskannya, “Oke, aku hanya bisa minum segini saja. Aku akan makan sedikit sekarang, lalu kita akhiri saja.”


“Oke, sajikan hidangannya,” ucap Aldo yang terlihat sangat ramah.


Alex juga tidak basa-basi, dia langsung memakan enam buah bakpao yang berisi daging setelah makanan disajikan, kemudian menyeka mulutnya, “Aldo, terima kasih atas sambutanmu, aku pamit dulu.”


“Ah? Tuan Alex, jangan buru-buru! Selesai makan, tentu saja perlu hiburan.” Aldo mengambil teko dan menuangkan teh untuk Alex.