Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Hadiah Membunuh Alex


Lebih baik mengambil inisiatif daripada menunggu kematian. Dia berkata kepada Friska: "Tidak bisa begini terus, kamu bawa pengawal ke lantai dua untuk membuat garis pertahanan. Aku akan keluar untuk menembak mereka!"


Friska meraih lengannya dan berkata, "Alex, terlalu berbahaya bagimu untuk keluar seperti ini. Daya tembak kita berbeda jauh dari mereka. Mengekspos diri tidak lain hanya mengantar nyawa. Kita bisa ke lantai dua bersama dan menunggu hingga Nova dan yang lainnya untuk datang! "


Alex dengan tegas mendorongnya: "Dengarkan perintahku, kalian naik ke atas! Kita tidak akan bisa bertahan hingga 10 menit jika hanya diam. Percaya padaku!" Kata-katanya tidak bisa diragukan lagi, Friska mau tidak mau menurut, dan membawa pengawalnya naik ke lantai dua.


Setelah menunggu mereka pergi, Alex memegang pistol di tangannya. Dengan sepuluh peluru dan tidak ada cadangan, hampir tidak mungkin untuk berurusan dengan lebih dari sepuluh tentara bayaran profesional bersenjata lengkap.


Tapi tidak ada cara lain. Dia menghadapi tembakan dan berjalan ke lantai satu. Ketika melewati kafetaria, dia menemukan lebih dari selusin pisau makan di lemari desinfeksi. Seketika terlintas ide bagus di benaknya, dia membuka lemari dan memasukkan semua pisau ke bagian pinggangnya.


Setelah itu, Alex keluar dari kafetaria, baru saja dia menampakkan kepalanya, sederetan peluru langsung datang menghampiri dan meledakkan dinding di sebelahnya, seketika debu berceceran di semua tempat. Ada dua tentara bayaran sudah masuk dari pintu utama.


Alex mau tidak mau harus mundur kembali ke kafetaria. Tepat saat ini, dia mendengar dua tembakan dari sudut atas. Friska menembak dari tempat tersembunyi, kedua tentara bayaran itu tewas seketika.


“Tembakan bagus!” Alex berseru keras. Begitu dia selesai berbicara, serangkaian tembakan terdengar di luar jendela, peluru-peluru itu menembak ke tempat persembunyian Friska. Friska hanya bisa berguling dan meninggalkan zona bahaya, dan tidak berani muncul sesuka hati lagi.


Friska bersembunyi di titik buta tembakan sambil mengomel: "Brengsek, kuat sekali tembakannya! Alex, kamu harus berhati-hati!"


Saat perhatian musuh tertuju pada Friska, Alex diam-diam keluar dari kafetaria, dia bergegas keluar pintu utama dan bersembunyi di bawah patung batu besar di depan pintu.


Bagian depan pintu telah berantakan akibat ledakan. Dalam kabut tebal, Alex melihat ada lebih dari belasan tentara bayaran profesional yang memegang senjata panjang dan pendek di dinding bagian barat yang sedang berjalan maju sambil membungkukkan badan ke depan.


Beberapa dari mereka memperhatikan pintu, dan beberapa yang bersenjata waspada terhadap jendela di atas kepala mereka, tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa ada penyergapan di patung batu. Alex tidak ragu dan menembak lebih dulu.


Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan, tidak ada satupun yang meleset. Tiga tentara bayaran jatuh di tempat, jarak tembak 20 meter bukanlah masalah bagi Alex.


Setelah menembak tiga kali, dia langsung melompat keluar dari balik patung batu. Di bawah perlindungan tumbuhan hijau, dia merangkak ke depan dengan cepat seperti ular dan melewati lebih dari 10 meter. Tepat tak lama setelah dia baru saja melompat keluar, ada suara keras di belakangnya.


Seorang tentara bayaran melemparkan granat dan meledakkan patung batu itu menjadi tumpukan puing, asap dan debu berserakan. Dddrrrt! Serangkaian peluru menembus tumbuhan hijau, mematahkan dahan dan daun satu demi satu. Sedangkan pada saat ini, Alex sudah bersembunyi di bawah papan reklame baja.


Tebal papan itu sekitar 10 cm, dan juga ada cermin di atasnya. Dari cermin, Alex melihat ada empat hingga lima tentara bayaran di kiri dan kanan sedang mendekatinya.


Bagus! Alex menatap pantulan cermin di atas papan reklame, memperkirakan posisi mereka. Ketika melihat beberapa orang tersebut telah dekat, dia tiba-tiba melemparkan pisau dari sisi kiri papan reklame.


Tentara bayaran di sisi lain segera berjongkok di tanah, dan menembak pada saat bersamaan setelah sadar. Peluru "Dor! Dor! Ding!" peluru dipantulkan kembali saat menghantam papan reklame. Seorang tentara bayaran ditembak balik oleh peluru yang ditembaknya, dan mati tertembak di bagian kepala.


Alex memegang pisau di kedua tangannya, lalu berdiri dari belakang papan reklame, dan dengan cepat mendatangi tiga tentara bayaran yang terjatuh di tanah. Orang-orang yang tergeletak di tanah hampir tidak bisa melarikan diri, seiring kilatan cahaya pisau, leher tiga tentara bayaran yang tersisa dipotong, mereka terbujur kaku di sana.


Serangkaian pembunuhan penembak jitu ini hanya diselesaikan dalam waktu beberapa detik, di depan pintu tergeletak belasan mayat tentara bayaran.


Alex yang tiba-tiba merasa ada bahaya mendekat. Dia melompat ke depan, berbalik dan berguling ke belakang. Dua tembakan membuat lubang sedalam setengah kaki di dinding beton di sampingnya——ada penembak jitu.


Melihat penembak jitu itu melepaskan dua tembakan kosong, Edwin marah besar dan berteriak berulang kali: "Bunuh, bunuh dia. Bunuh orang ini, aku punya hadiah besar, 200 juta, tidak, 1 miliar!"


Sekarang Alex telah melewati semak-semak dan menghilang di balik bebatuan. Ada beberapa goa batu di atas bebatuan tersebut, dan pas sekali bisa digunakan untuk mengamati keadaan di luar. Di depan bebatuan tersebut terdapat kolam ikan, dan sebagian besar ikan mas di dalamnya telah mati akibat ledakan.


Mendengar hadiah tersebut, pemimpin tim, Nico, memimpin beberapa tentara bayaran menuju bebatuan. Saat mereka mendekati bebatuan, Nico memberi perintah untuk menembak, dalam sekejap bebatuan menjadi tumpukan batu tak berbentuk, tetapi ketika mereka mendekat, tidak ada bayangan Alex.


Kemana pria itu pergi? Saat mereka bertanya-tanya, tiba-tiba daun teratai besar di kolam dibuka, dan seseorang tiba-tiba melompat keluar dari air. Dor! Dor! Dor! Setelah semua peluru ditembakkan, terdapat 5 tentara bayaran yang terjatuh.


Orang ini tentu saja Alex.


Reaksi Nico masih termasuk cepat, begitu suara tembakan terdengar, dia langsung berbaring dan berguling, melihat seseorang melompat dari dalam air, dia langsung menembak balik. "Drrrrt", segumpal air memercik ke atas.


Sekarang tidak ada peluru lagi di pistol Alex, dan pistol itu digunakan sebagai anak panah, swush! Pistol tersebut terbang menuju Nico. Nico menghindar ke samping dan menembakkan beberapa peluru lagi.


Alex berjlan ke belakang tiang bendera dalam beberapa langkah, peluru  tersebut mengejar di belakangnya. Klang! Klang! Klang! Percikan api yang diakibatkan gesekan peluru dan tiang bendera yang tidak bisa ditembus memercik ke mana-mana. Tembakan tiba-tiba berhenti, Nico mengomel sambil mengganti magasin, kemudian menarik kembali pelatuknya. Tepat pada saat itu, pisau terbang mengenai pergelangan tangan kanannya.


Edwin bisa melihat semua ini dengan jelas di teleskop, orang yang membunuh puluhan tentara bayaran di depan pintu adalah Alex! Kakaknya Inthira telah mengirimkan fotonya beberapa kali. Bagian depan dan samping, dari jauh dan dekat, semua ada. Bisa dipastikan bahwa dia lah orangnya.


Friska dan pengawalnya melihat semua ini dengan jelas di dalam gedung, orang-orang di dalam gedung juga mengagumi Alex, “Alex benar-benar luar biasa!” Setelahnya, semua orang merasa malu.


Menyaksikan Alex bertarung melawan para bandit sendirian, sedangkan dirinya bersembunyi di dalam gedung.


Di bawah pimpinan Edwin, mereka kembali menyerang dari 4 arah. Para pengawal berkata pada Friska, "Nona, ayo kita keluar juga, kita tidak bisa membiarkan Kak Alex melakukannya sendirian!"