
Nova tidak mengatakan apapun, tapi ekspresi bencinya sudah terlihat. Dia meninggalkan pusat penahanan, kemudian meletakkan kartu magnetik ke mesin dan pulang kerja.
Tapi, Bryan tahu kalau Nova sedang ngambek, jadi dia hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Bryan pun tahu tidak ada gunanya berkata banyak sekarang, lalu masalah negosiasi dengan Alex perlu dilakukan olehnya.
Saat ini, wakil biro mengangkat tangannya, “Ketua Bryan, kamu tidak perlu secara pribadi pergi meminta bantuan Alex karena aku akan mewakilimu pergi membahas hal ini dengannya.”
Bryan pun menatap wakil biro dengan bingung. Kenapa hari ini wakil biro bersikap seperti ini? Ia terlihat terlalu rajin.
Akan tetapi, Bryan tetap mengangguk, “Kalau kamu ingin pergi, maka kamu yang membicarakan hal ini dengan Alex. Mungkin sekarang dia sedang ada di rumahnya.”
Wakil biro berjanji, “Ketua tenang saja, aku pasti akan membujuk Alex untuk bekerja sama dengan kita.”
Wakil biro pun segera datang ke kediaman Alex, saat ini Alex memang sedang menemani Erika di dalam rumah.
Hari ini, Erika nggak sibuk, jadi mereka berdua sedang bermesraan di dalam rumah dan sangat santai.
Kedatangan wakil biro membuat Alex heran.
Wakil biro, Ahmad Worek, selalu rendah hati. Meskipun ada banyak hal yang disarankan olehnya, tapi Ahmad tidak pernah merebut kontribusi itu.
Jadi, pangkat Bryan terus meningkat, sementara wakil biro masih menjadi wakil biro, bahkan selalu di sisi Bryan.
Ahmad termasuk orang yang membantu Bryan merencanakan sesuatu itu.
Namun, Ahmad adalah orang yang memiliki banyak ide licik.
Semetara Alex dan Ahmad hanya pernah bertemu beberapa kali, jadi Alex tidak tahu ngapain Ahmad mencari dirinya.
Satu-satunya hal yang dia tahu adalah, kalau orang dari pihak polisi mencarinya, pasti bukan hal yang baik.
Palingan ingin dia membantu mereka. Jadi, Alex sudah tahu tujuan mereka datang.
Akan tetapi, ketika dia melihat Ahmad yang datang, dia sudah bersiap mau keluar.
“Halo, Pak Alex.” Ahmad tersenyum.
Sedangkan Alex hanya tersenyum, “Halo, Wakil Biro. Kedatanganmu ke sini merupakan kehormatanku.”
Mereka berdua berbasa-basi sedikit, lalu Alex membawanya ke ruang kerja, sementara Erika membuatkan teh untuk mereka.
Setelah minum seteguk, wakil biro tidak langsung mengatakan tujuan dia datang ke sini, melainkan melihat ruang kerja ini.
Buku-buku di ruang kerjanya jelas-jelas sudah dibaca berkali-kali, selain itu wakil biro masih bisa mencium aroma samar yang berasal dari rak bukunya.
Ini adalah aroma kayu cendana.
Bisa dikatakan kalau rak buku ini terbuat dari kayu cendana!
Wakil biro harus mengakui bahwa Alex sangat kaya.
Perkembangan pesat PT. Atish memberikan banyak kekayaan pada Alex. Setidaknya harga rak buku itu senilai 20 miliar. Sedangkan Alex meletakkan rak ini di ruang kecil hanya untuk menyimpan buku.
Kalau orang lain mendapatkan rak begini, pasti akan memperlakukannya sebagai barang antik, bahkan tidak mungkin digunakan untuk menyimpan buku.
Alex menyipitkan mata dengan santai, lagi pula ini di rumahnya. Jadi, perlukah dia tergesa-gesa?
Mereka berdua terus basa-basi, Ahmad tidak mengatakan urusannya, sedangkan Alex tidak tanya.
Alex bersikap bangga, sekarang Ahmad yang ingin meminta bantuannya, jadi dia tidak akan panik, yang panik seharusnya Ahmad.
Dia dengan senyum pahit melihat Alex, “Kamu memang bocah yang susah diatasi, anggap saja aku yang kalah.”
Alex mengangkat bahunya, “Kamu nggak kalah dariku, harusnya kamu yang menang.”
Ahmad tertawa, “Masalah ini nggak ada menang kalahnya, hanya saja persaingan di dalam hati. Bro, aku tahu beberapa saat ini kamu sedang sibuk dengan karirmu, tapi ada satu hal yang aku harap kamu bisa membantu.”
Alex menggelengkan kepala, “Kamu sudah bilang kalau aku sangat sibuk, jadi aku benar-benar nggak ada waktu.”
Wakil biro berkata setelah berpikir, “Sebenarnya aku juga nggak ingin merepotkanmu, tapi masalah ini berkaitan dengan Nova.”
Alex mengerutkan alis, kalau berkaitan dengan Nova, maka dia harus mengurus hal ini.
“Nova?”
Wakil biro mengangguk, “Iya. Tentang Nova, kamu juga tahu kalau sekarang dia bekerja di kantor polisi kota Tomohon Sulawesi Utara. Beberapa saat ini, demi membantumu mencari pelakunya, jadi dia terus berusaha menginterogasi para tahanan, tapi pagi ini semua tahanan itu dibunuh.”
Alex mengangkat alisnya, sebenarnya Alex tidak peduli dengan kematian tahanan itu, yang dia peduli adalah Nova terluka atau tidak.
Kalau Nova terluka, dia pasti akan sedih.
Ahmad berkata, “Nova nggak terluka, hanya saja dampak dari kejadian ini sangat besar. Karena para tahanan itu mati di pusat pertahanan, kerabat para tahanan ini pasti akan melakukan keributan, mungkin saja akan melibatkan Nova.”
Alex tahu Ahmad mengungkit masalah Nova agar dirinya membantu mereka, tapi dia tidak ada pilihan lain karena Ahmad mengatakan ini sesuatu yang mungkin terjadi.
Jadi, dia tidak ada pilihan lain, hanya bisa menerima hal ini.
“Apa yang perlu aku lakukan?” tanya Alex.
Ahmad menggelengkan kepala, “Ini aku nggak tahu, tapi aku bisa memberimu petunjuk. Sebenarnya para preman yang meninggal ini diperintahkan oleh Raffi, sedangkan siapa itu Raffi. Kamu bisa tanya saja.”
Alex mengerutkan kening, kemudian mengeluarkan ponselnya.
Ahmad tertawa lagi, “Aku memberimu satu petunjuk lagi. Kalau tebakkanku nggak salah, Nova seharusnya sedang mengawasi kediaman Ahmad.”
Alex mengucapkan terima kasih, Alex juga tahu ini hal yang bisa dilakukan oleh Nova.
Demi meringankan bebannya, Nova lebih memilih menderita sendiri.
“Wanita bodoh!” Alex mengenakan jaket sendiri, lalu keluar dari aula. Setelah dia mengantar Ahmad, dia pun kembali.
Kemudian, dia melihat Erika berdiri di tengah tangga sambil mengangkat bahunya dengan tak berdaya.
Erika tersenyum, “Pergi sana, aku akan menunggumu di rumah, lagi pula di sini sangat aman.”
Alex hanya bisa begini, sekarang tempat tinggal ini sudah dijaga ratusan orang secara diam-diam. Lalu, setiap pengawal memiliki kemampuan yang hebat.
Mereka juga memiliki senjata api. Kalau ada pembunuh yang masuk ke rumah, mereka akan keluar, lalu akan membunuh lawan sebelum mereka bisa masuk ke rumah.
Jadi, keamanan kediaman ini sangat tinggi. Selama tingkat pembunuh yang datang itu tidak seperti Andi, maka mereka bisa melindungi kediaman ini.
Meskipun tidak melindungi, juga bisa mengulur waktu sampai dia pulang untuk mengatasi masalah. Walaupun yang datang sangat hebat, Alex juga tidak akan takut.
Alex dengan cepat mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya Ahmad.
Sebenarnya Keluarga Oknu ini mengandalkan biaya perlindungan untuk memulai bisnis, tapi Raffi tahu kelak tidak akan ada masa depan cemerlang kalau mengandalkan biaya perlindungan, jadi dia membuka beberapa tempat hiburan di jalan-jalan yang dia tempati secara paksa.