Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Panik


Akibatnya, mobil Porsche Tuan Justin hancur berkeping-keping karena dipukul para penguasa yang datang menemui Alex, terus ada banyak ludah di atas mobil itu. Sedangkan Tuan Justin yang sombong ketakutan sampai menangis di dalam mobil, juga membenamkan kepalanya di kursi dan nggak berani mengangkat kepalanya.


Bang bang bang, Porsche yang sudah dihancurkan oleh semua orang itu dibawa ke jalanan. Mungkin tidak pernah ada kejadian tragis seperti ini sebelumnya.


Pada akhirnya, Tuan Justin yang ketakutan hanya bisa menyusut di dalam mobilnya, tapi dia nggak berani menangis.


“Tuan Justin, ikuti aku, aku akan membawamu keluar!” Tiba-tiba, seseorang membuat pintu mobil dan menyeret Tuan Justin keluar.


Ketika orang-orang ingin mengejar dan memukulnya, beberapa rekan itu menggunakan tubuh mereka untuk melindungi Tuan Justin dan membawa Tuan Justin meninggalkan tempat ini.


Damian, Markus, Marvel serta Friska yang sedang sibuk berbincang dan dikelilingi oleh banyak orang tidak menyadari kalau Tuan Justin barusan muncul di sini.


Betapa sombongnya Tuan Justin dulu, maka sekarang terlihat sangat kasihan dan tidak ada yang peduli ke mana dia pergi.


“Tuan Richard, hari ini Tuan Justin seharusnya sudah sampai, tapi dia belum kembali sampai sekarang,” lapor seseorang pada Richard.


Richard yang sedang panik tidak mengerti maksudnya, “Apa? Apa maksudmu?”


“Tuan Richard, begini. Meskipun Tuan Justin bersekolah di pesantren, tapi hari ini adalah hari Sabtu, jadi dia seharusnya sudah pulang di jam segini. Selain itu, dia kan naik mobil, jadi dia seharusnya sudah tiba di rumah.”


“Oh, mungkin saja dia sedang main,” kata Richard. Lalu, dia mulai merenung.


“Nggak mungkin. Tuan Richard, sebelumnya maaf dulu atas kelancanganku. Perjalanan pulang Tuan Justin akan melewati gedung PT. Atish.”


“Oh, emangnya kenapa? Apakah Alex akan melawan seorang anak kecil sepertinya?” Richard mengerutkan kening.


“Tuan Richard, kami sudah mengutus orang untuk mencarinya. Tapi, kabar yang kami dapat adalah Tuan Justin pernah muncul di sana, kemudian dia dibawa pergi seseorang.”


“Apa? Di bawa siapa? Di mana posisi mobil itu? Cepat cari lokasinya! Lalu, telepon dia!” Richard menjadi panik.


“Telepon Tuan Justin sedang dalam kondisi tidak aktif, sedangkan lokasi mobil itu… uhuk huk, berada di dalam sungai.”


“Apa? Cepat suruh orang menyelamatkannya! Bagaimana Justin bisa jatuh ke dalam sungai?” Richard segera berdiri, “Cepat utus orang untuk menyelamatkannya! Cepat! Cepat hubungi polisi!”


Rafatar bergegas masuk, “Tuan Richard, aku sudah menghubungi polisi untuk mengangkat mobil Tuan Justin dari sungai.”


“Mungkinkah Justin terlibat masalah? Siapa yang melakukannya? Apakah Alex?” Mata Richard sudah merah, “Kalau dia benar-benar berani menyakiti Justin, maka aku nggak akan mengampuninya!”


Namun, bisa apa kalau Richard melawannya? Dengan seni bela diri Alex, meskipun Richard menggunakan seluruh kemampuannya, dia juga nggak akan bisa mengalahkan Alex.


Rafatar menghela napas, “Tuan Richard, menurtku, Alex yang sedang sukses dan berkedudukan tinggi nggak akan melakukan kesalahan seperti itu. Dia pasti akan melakukan hal-hal yang baik. Jadi, dia nggak akan mempersulit seorang anak kecil seperti Tuan Justin.”


“Benar! Rafatar, apa yang kamu katakan benar! Kalau begitu, siapa yang bisa memberitahuku dimana Justin sekarang?” Richard sudah panik.


Saat ini, ponsel Rafatar berdering, dia melihat nomor itu adalah nomor asing, tapi langsung mengangkatnya, “Halo. Aku adalah Rafatar.”


“Nggak ada orang di dalam? Apa ada barang lain seperti tas atau baju?” tanya Rafatar secara detail.


Mata Richard membelalak karena dia ingin mendengar kabar tentang Justin.


“Maaf, Tuan Richard. Kami sudah mencarinya dengan teliti, tapi di dalam memang nggak ada orang, tas, hanya ada benda yang tak penting.”


“Oh, terima kasih,” ucap Rafatar dengan sopan. Setelah menutup telepon, dia pun melapor hal ini pada Richard secara rinci.


Wajah Richard menjadi masam, “Apakah benar-benar ada yang menculik Justin? Siapa yang menculiknya?!”


“Pasti Dakson.” Yang masuk kali ini adalah Stevanus.


“Saat ini, Alex menduduki posisi tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara, jadi nggak perlu melakukan penculikan seperti itu. Satu-satunya orang yang mungkin menculik Justin adalah Dakson.”


Stevanus terus menganalisis, “Mobil Justin terlalu menarik perhatian, jadi wajar saja mobilnya masuk ke dalam sungai. Kalau Dakson yang menculik Justin, maka dia pasti memiliki suatu tujuan. Tebakanku Dakson bukan ingin membunuh Justin, melainkan membuat kita panik sehingga mendorong keluarga kita semakin hancur.”


Dia melihat Richard sambil berkata dengan menyipitkan mata, “Ayah, kalau sekarang kamu kehilangan akal sehat, maka kamu akan masuk ke jebakan Dakson.”


“Em.” Richard pun canggung, “Justin masih kecil, kalau dia disiksa ketika diculik, maka hatiku akan…”


Rafatar mengangguk, “Yang dikatakan Tuan Stevanus benar.”


Rafatar memiliki status yang sangat tinggi di sisi Richard. Selain itu, seni bela dirinya lumayan hebat, meski tidak sebanding dengan Raja Kaki Utara.”


Sekarang, Raja Kaki Utara sudah kabur, Gala juga ditangkap oleh polisi. Jadi, Rafatar menjadi orang pertama terpenting di sisi Richard, tapi kedatangan Stevanus langsung mengubah kedudukan terpentingnya karena Stevanus adalah putranya Richard!


Jadi, Rafatar nggak ada hak untuk bersaing dengan Stevanus.


Sedangkan Stevanus memang lebih hebat dan lebih pintar dari Rafatar. Ini adalah fakta yang harus diakui oleh Rafatar.


Rafatar mengamati Stevanus, “Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”


“Tunggu!” Tatapan Stevanus penuh dengan kepintaran, “Kalau Dakson yang menculik Justin, maka dia akan menghubungi kita. Lalu, lihat rencana apa yang ingin dia lakukan.”


“Adi juga datang memberi hadiah?” Alex melihat daftar hadiah yang diberi Damian dan Friska, lalu berkata dengan mengerutkan dahi, “Orang ini sangat semena-mena di wilayahnya, juga terlibat dalam usaha pornografi, perjudian, narkoba, bahkan menindas wanita. Benar-benar orang yang merajalela. CEO Damian, orang sepertinya nggak perlu kita sambut.”


“Iya, apa yang dikatakan Tuan Alex benar. Aku akan menyuruh orang untuk mengembalikan hadiahnya.” Damian mengangguk.


Marvel menyeka keringat di dahi, “Em, Tuan Alex, ini kelalaianku saat mencatat nama mereka. Bukan salah guruku.”


Damian tertawa, “Marvel, kamu nggak usah merasa bersalah. Kondisi saat itu sangat berantakan. Oh ya, katak giok putih yang diberi Adi adalah barang antik yang langka. Menurutku ada baiknya hadiah itu diberikan ke CEO Erika, jadi Tuan bisa mempertimbangkan mau barang itu atau gak. Sedangkan Adi, kita bisa saja menekannya.”