
Erika menelpon Nova, "Nov, punya waktu tidak sekarang? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Nova sepertinya berkata dengan sangat cemas: "Maaf, Ka. Sesuatu terjadi pada Nyonya Ningsih, istrinya Pak Harun. Aku sedang menangani kasus ini, nanti aku telepon balik ya.”
Erika terkejut, "Kenapa dengan istri Pak Harun? Kenapa selalu saja ada yang terjadi di Jakarta?"
Setengah jam yang lalu, istri Pak Harun, Nyonya Ningsih datang dari kampung halamannya untuk mengunjungi suaminya.
Nyonya Ningsih sangat senang dengan kunjungannya kali ini. Mobil melaju melewati jalan pegunungan dan melewati terowongan satu demi satu, senyum indah yang sudah lama tak terlihat kembali muncul di wajahnya begitu berpikir akan segera bertemu suaminya.
Pasangan yang saling mencintai ini harus berpisah karena sang suami yang bekerja sebagai seorang sekretaris pemerintah di Jakarta yang sibuk hingga sulit untuk pulang ke rumah. Keduanya sangat jarang bertemu, ditambah dengan masih adanya orang tua yang perlu dirawat, Nyonya Ningsih menjadi kecapaian. Wajahnya yang cantik, seketika sudah dipenuhi beberapa kerutan.
Pak Harun kembali menelepon kali ini, katanya dia tidak bisa kembali ke rumah lagi bulan ini. Ningsih sangat kecewa, tetapi ibu mertuanya berkata, "Nak, jika dia tidak datang, kamu saja yang ke sana. Jangan khawatirkan aku, aku bisa berkumpul dengan yang lainnya, pergilah."
Mendengar istrinya akan datang, Pak Harun segera mengirim pengawalnya, Rendi untuk menjemputnya. Begitu turun dari kereta, Rendi langsung bertemu Kakak iparnya, dan dengan senang hati menjemputnya.
Dalam perjalanan, sang istri bertanya tentang kesehatan Pak Harun dan apakah dia sibuk.
Rendi berkata sambil menyetir, "Kak, pas sekali kamu datang, kamu perlu membujuk Pak Harun untuk memperhatikan kesehatannya walaupun sibuk. Bagaimanapun kami para pengawal dan sekretaris pria semua, pastinya ada yang tidak terpikirkan oleh kami. Tapi sekarang semuanya akan baik-baik saja karena kedatanganmu."
Saat mereka berdua sedang berbicara, pintu masuk terowongan lain sudah tiba dan tiba-tiba terlihat sebuah batu yang menghalangi di tengah jalan. Rendi segera menginjak rem untuk mengurangi kecepatan mobil. Ketika melihat lebih dekat, rupanya mobil tidak dapat melewati batu itu, jadi dia turun dan mencoba memindahkan batu tersebut.
Ketika Rendi sedang membungkuk untuk memindahkan batu, tiba-tiba terdengar teriakan Nyonya Ningsih dari mobil di belakangnya. Dia segera menegakkan tubuh, "Kak..." belum sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah bayangan gelap sudah tiba di belakang, lalu tulang tenggorokannya diremukkan.
Yang tiba terlebih dahulu di lokasi adalah Evan selaku pemimpin tim investigasi, dia mengambil foto tempat kejadian dan membawanya kembali. Mejanya dipenuhi dengan foto. dia juga memberitahu Nova detail kasus ini. Dia berkata: "Menurut dugaan kami, ini bukan kasus penculikan biasa, bukan karena dendam, ataupun untuk tujuan perampokan."
Nova bertanya: "Lalu?"
Evan memandang Alex, "Sepertinya ada hubungannya dengan Kak Alex."
Alex mengangguk, "Aku juga sudah menebaknya, sepertinya memang berhubungan denganku. Mereka ingin bertemu denganku!"
"Alex, jangan kemana-mana! Jangan takut, kurasa mereka tidak sehebat itu." Pak Harun melangkah masuk ke ruangan kantor investigasi.
"Mereka mengaku telah menculik istri Pak Harun, dan meminta Alex untuk pergi menyelamatkannya, katanya jika Alex menolak, mereka akan mengambil tindakan yang lebih besar lagi..." Inspektur Gilang tidak menyampaikan kalimat terakhir, "Untuk mengubur puluhan jutaan penduduk Jakarta mati bersama Alex!"
Wajah Pak Harun tampak pucat, tapi juga terlihat sangat tenang, "Jangan khawatir, Alex. Kamu salah satu dari penduduk Jakarta, begitu pula dengan istriku. Nyawa setiap warga Jakarta sama pentingnya."
Pak Harun menolak untuk mengorbankan Alex demi keselamatan istrinya seorang, hal ini membuat Alex tersentuh. Dia juga segera berjanji akan bekerja sama dengan pihak kepolisian sebaik mungkin untuk menangkap sekelompok penjahat ini.
Pak Harun percaya pada kemampuan pihak kepolisian, jadi dia berjabat tangan dengan semua rekan-rekan satgas, kemudian undur diri lebih dulu. Para anggota kepolisian kembali rapat, "Hanya kepercayaan diri saja tidak cukup, kita harus memahami target."
Semua orang bertindak secara terpisah sesuai dengan instruksi Inspektur. Dua jam kemudian, ada hasil baru. Evan menunjuk peta dan berkata, “Aku menduga tindakan mereka kali ini mungkin adalah "Gudang Bahan Peledak Jakarta" karena mereka pernah mengancam akan "membuat puluhan juta penduduk mati pada saat yang sama."
Jika mereka tidak sedang menakuti-nakuti, maka mereka mungkin menargetkan gudang bahan peledak. Jika pihak kepolisian tidak setuju dengan persyaratan mereka, mereka mungkin akan meledakkan gudang bahan peledak! Dan baru saja pihak kepolisian juga mendapat kabar bahwa ada yang mencurigakan di sekitar gudang bahan peledak.
Nova juga punya petunjuk baru. Dia baru saja menghubungi Interpol dan mendapatkan beberapa informasi. Setelah dibandingkan, penculik yang muncul di Jakarta kali ini mungkin adalah Arkan.
Pekerjaan deteksi pihak kepolisian kali ini dilakukan tepat waktu dan terperinci. Benar saja, mereka melakukan apa yang diminta Inspektur untuk memahami musuh, karena saat ini Arkan dan beberapa anak buahnya sudah muncul di gudang bahan peledak Jakarta.
Mereka memilih sasaran penyerangan di sini karena beberapa pertimbangan: Dari segi topografi, gudang bahan peledak berada di tebing di tepi laut, lebih mudah membuat pertahan di tempat ini daripada menyerang. Kedua, sehebat apapun pasukan khusus, mereka tidak berani menggunakan senjata besar di tempat ini.
Mereka bahkan sudah memikirkan untuk meledakkan puluhan juta penduduk sekaligus jika rencananya gagal.
Arkan memakai pakaian serba hitam, dia memimpin selusin tentara bayaran petir dan telah menduduki ruang kontrol utama gudang bahan peledak.
Olivia berkata kepada Sandi: "Kamu, segera hubungi Walikota Tantono mereka."
Sandi memerintahkan dua orang komunikator. Mereka menghubungkan laptop ke sinyal satelit, dan kemudian menyambungkan telepon ke telepon Walikota Tantono. Ketika mendengar suara penculik, Walikota Tantono bergegas mencari Pak Harun.