
Henry melihatnya dengan jelas, tetapi anggota keluarga Vixon lainnya sama sekali tidak menyadari hal ini.
Jadi mereka semua setuju dengan ucapan Jansen.
Jansen melihat bahwa tidak ada yang keberatan, dia terbatuk sambil perlahan berjalan ke posisi kepala keluarga dan berkata dengan senyuman di wajah, "Karena semua orang sangat setuju denganku, maka mulai hari ini dan seterusnya, akulah yang akan memimpin keluarga Vixon menuju kemakmuran bersama."
Akan tetapi pada saat ini, sebuah suara datang dari sisi Jansen yang begitu pelan hingga mampu membuat seluruh orang di ruangan ketakutan setengah mati.
"Benarkah? Apakah kamu pikir kamu layak untuk duduk di bangku ini?" Alex sedang duduk di lengan bangku sambil memainkan belati di tangan.
Jansen melompat dari bangku dan menatap Alex dengan mata terbelalak. Dia sama sekali tidak menyadari kapan Alex muncul di sampingnya.
"Kamu!! Kapan kamu muncul?!"
Alex terkekeh, "Tentu saja saat kalian semua sedang begitu bangga dan melihat ke atas. Bagaimana kalian bisa melihatku?"
Jansen terdiam. Dia tahu Alex sangat kuat. Orang inilah yang telah membunuh semua pengawal Hasan seorang diri.
Karena itulah Alif mampu mendapatkan posisi kepala keluarga.
Semuanya terjadi begitu cepat dan semua orang tidak bisa memikirkan reaksi atas hal ini, jadi mereka hanya bisa menyetujui permintaan Alif.
Oleh karena itu, semua orang yang hadir tahu betapa kuatnya Alex dan tahu tidak boleh menentang Alex. Lagi pula, Alex tidak hanya kuat, tetapi juga merupakan pemimpin PT. Atish. Dia bisa menjatuhkan keluarga Vixon baik dalam hal kekuatan ataupun sumber keuangan.
Alex hanya menatap Jansen sambil tersenyum dan tanpa mengatakan apa pun.
Jansen berkata dengan gentar, "Alex, kuberitahu kamu, ya. Ini adalah urusan keluarga kami. Kamu yang orang luar ini nggak pantas untuk ikut campur!"
Alex tersenyum dan berkata, "Benarkah? Kalau kamu merasa nggak pantas, aku akan membunuh kamu. Mungkin setelah itu orang lain nggak akan merasa nggak pantas lagi."
Wajah Jansen berubah dan bergegas melangkah mundur. Dia pastinya tidak berani duduk di bangku kepala keluarga itu, tetapi Alex malah duduk di sana sambil mengambil cangkir teh dan berkata, "Sebenarnya, aku tahu bahwa kamu sangat nggak sabar. Lagi pula, kalau bukan karena aku, Alif pasti nggak akan menjadi kepala keluarga."
Hasan jelas ingin menjadikan Jansen sebagai kepala keluarga, tetapi ini merupakan langkah yang buruk.
Akan tetapi, kekalahan tidak bisa dibantahkan. Sekarang tidak ada gunanya berbicara terlalu banyak lagi. Alex menatap Jansen, "Tapi apakah kamu pikir kamu layak duduk di posisi ini? Aku berani bertaruh kalau kamu menduduki posisi ini, keluarga Vixon akan hancur dalam waktu kurang dari seminggu. Apakah kamu benar-benar berpikir keluarga Bazel akan begitu mudah dibodohi?"
Jansen menggertakkan gigi, "Kamu tahu apa? Keluarga Vixon dan keluarga Bazel memiliki hubungan bisnis. Karena persahabatan kami sebelumnya, mereka pasti nggak akan melakukan apa pun pada keluarga Vixon!"
Alex mencibir, "Kamu benar-benar naif. Konsep macam apa yang kamu yakini di tempat seperti ini? Apa kamu pikir itu mungkin?"
Jansen terdiam beberapa saat.
Henry berjalan maju sambil berkata, "Jadi apa yang ingin kamu lakukan di sini? Meskipun aku tahu agak terburu-buru untuk menjadikan Jansen kepala keluarga, tapi keluarga sebesar kita nggak bisa bertahan tanpa kepala keluarga, 'kan?"
Alex tersenyum dan berkata, "Yang kamu katakan itu benar, jadi aku akan membawa Alif kembali sesegera mungkin. Tapi sebelum itu, kamu harus berpura-pura menjadi kepala keluarga dulu. Adapun Jansen, kamu telah memutuskan sendiri. Cuma sebaiknya kamu pikirkan dengan baik-baik. Sekarang kamu sudah bekerja sama dengan PT. Atish. Kalau kalian kembali pada keluarga Bazel, itu artinya kalian adalah mata-mata bermuka dua."
Henry menganggukkan kepala, "Aku mengerti. Aku akan berpura-pura menjadi kepala keluarga."
Satu lirikan saja sudah cukup untuk membuat kaki Jansen lemas karena ketakutan.
Alex hanya tersenyum dan berjalan keluar. Dia tentu saja tidak memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan Jansen.
Para pekerja Tim Konstruksi Cahaya datang ke lokasi konstruksi pada hari ketiga sesuai dengan perjanjian waktu. Saat ini, 30 hingga 40 pengawal PT. Zrank telah mengenakan pakaian pekerja dan melihat anggota Tim Konstruksi Cahaya ini dengan acuh.
Semua orang berada di ruang terbuka, tetapi Davin malah bercucuran keringat. Dia tidak tahu mengapa Alex menyuruhnya kembali setelah berbicara dengannya.
Akan tetapi, tatapan serius Alex jelas bukan lelucon dan dia ingat apa yang Alex katakan kepadanya setelah merapikan dasinya.
"Ingat, kamu harus lari dari sana secepat mungkin. Kalau sampai terlambat, mungkin kamu akan berakhir berbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan."
Meskipun dia tahu bahwa para pekerja Tim Konstruksi Cahaya akan menyerang para pekerja di lokasi konstruksi mereka, mereka tidak akan melakukannya secepat itu, bukan?
Bagaimanapun, Alex sudah menyetujui persyaratan Tim Konstruksi Cahaya.
Karena sudah setuju, mengapa orang-orang dari Tim Konstruksi Cahaya masih menyerang?
Davin menjadi bingung selama beberapa saat.
Akan tetapi, dia tetap patuh kepada Alex dan buru-buru berkata, "Yanto, 'kan? Lokasi konstruksi kami setuju untuk membiarkan semua pekerja kamu masuk, tapi ada satu syarat. Kami masih belum tahu kapan konstruksi ini berhenti. Kalau berhenti, kuharap kalian bisa bersabar menunggu."
Yanto menunjukkan raut wajah galak.
Hanya saja tepat saat dia hendak menyerang, dia melihat Davin sudah berbalik pergi setelah mengatakan ini.
Dia tercengang, apakah orang ini tahu bahwa dia akan menyerang dan langsung pergi?
Seharusnya tidak. Dia sama sekali tidak menyebutkan akan memukul orang.
Tidak akan ada gunanya untuk mengejar Davin yang telah melarikan diri, jadi dia menangkap pekerja lain, kemudian tiba-tiba mengeluarkan palu besi di tangannya dan menghantam kepala pengawal ini.
Buk!
Pengawal ini langsung jatuh ke tanah dengan kepala berdarah, sementara pengawal lainnya buru-buru menyerang para pekerja ini satu per satu.
Meskipun pekerja lain tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi melihat Yanto sedang berkelahi dengan para pekerja ini, mereka otomatis tidak akan berdiri saja dan mulai berkelahi.
Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal ini, jadi mereka bertarung hebat dengan para pengawal dan saling menyakiti.
Baik pengawal ataupun Tim Konstruksi Cahaya, mereka menyerang dengan sangat sengit. Begitu ada orang terjatuh, hanya ada dua kemungkinan antara orang itu tewas atau berakhir cacat.
Davin bersembunyi di balik sebuah rumah yang belum dibangun. Kelopak matanya berkedut saat menyaksikan situasi pertempuran di luar. Untung saja tadi dia kabur dulu. Kalau tidak, dia juga pasti akan ikut tergeletak di tanah.
Lagi pula, dia tahu jelas dirinya tidak akan bisa menjadi lawan dalam pertempuran. Dia adalah seorang admin, jadi mana bisa dia dibandingkan dengan para pekerja konstruksi ini?