Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Akan Lapor Polisi


Cherish membawa Nova dan Alex datang ke restoran lokal. Ketika mereka bertiga duduk dan hendak memesan makanan, mata Nova tiba-tiba membelalak, “Bibi Oktavia?”


Alex mengikuti arah pandangannya, lalu melihat seorang wanita paruh baya yang sedang membungkukkan punggung untuk mengepel lantai restoran  dan membelakangi mereka.


“Dia siapa…” Alex sedikit bingung. Bentuk tubuh wanita paruh baya itu terlihat baik, hanya saja kulitnya menjadi kusam karena bekerja di tempat ini untuk waktu yang lama.


Nova berkata, “Bibi Oktavia adalah tetanggaku ketika aku masih kecil, dia sangat baik padaku! Itu pasti dia! Saat itu dia juga artis yang sangat terkenal di Tomohon!”


Dia langsung berlari menghampiri Bibi Oktavia setelah berbicara tanpa memedulikan makanan yang belum sempat dipesan. “Bibi Oktavia! Bibi Oktavia!”


Karyawati yang sedang mengepel lantai perlahan-lahan menegakkan punggungnya karena sedikit sakit.


“Bibi Oktavia! Sudah kuduga memang bibi! Kenapa bibi bisa bekerja di sini? Em, aku bukannya memandang rendah pekerjaan ini, maksudku, bukankah bibi seharusnya di atas panggung? Bibi, apa yang terjadi padamu?” Nova terlihat sangat akrab dengan Bibi Oktavia ini.


“Nova? Beneran kamu ya?” Suara Bibi Oktavia terdengar sangat serak seperti gong pecah ketika dia berbicara.


“Bibi Oktavia!” Nova terkejut, “Dulunya suaramu merdu bagai lonceng, kenapa sekarang berubah menjadi begini? Apa yang terjadi padamu?”


Bibi Oktavia berkata dengan serak, “Aku… Nov, janganlah menggangguku, aku masih mau bekerja.”


Dia menghindar dan bergegas kembali mengepel lantai dengan sangat tekun.


“Bibi Oktavia! Letakkan pel itu dulu, hari ini aku harus bertanya jelas apa yang terjadi padamu.” Nova bersikeras memegang pel di tangannya, lalu melempar ke samping dan menarik Bibi Oktavia dan mendudukkannya di kursi.


“Nggak, aku nggak boleh duduk, badanku amat jorok,” ucap Bibi Oktavia dengan panik hingga tidak tahu harus meletakan tangannya di mana dan nggak berani duduk.


“Bibi Oktavia, mereka adalah temanku! Sekarang aku ingin tahu apa yang kamu alami selama beberapa tahun ini! Kenapa kamu yang dari artis terkenal bisa berubah menjadi begini? Apa yang terjadi? Oh ya, kenapa suaramu serak begitu?” Bibi Oktavia langsung menangis ketika mendengar pertanyaan Nova, tapi suara tangisannya juga tak enak didengar dan sangat serak!


Alex berkata dengan serius, “Pita suaranya pasti rusak karena diracuni, kalau nggak dia nggak akan berubah seperti itu jika dulunya punya suara merdu.”


Bibi Oktavia menangis lebih histeris setelah Alex berkata begitu.


“Bibi Oktavia, jangan menangis dulu. Jelaskan dulu, nggak peduli siapa yang mencelakaimu, aku pasti akan membuatnya mendapatkan balasan yang setimpal!” ucap Nova dengan tegas!


Namun, Bibi Oktavia hanya terus menangis tanpa mengatakan apa-apa.


“Hei, Oktavia Modjo, ngapaian kamu duduk di sini? Emang kamu boleh duduk di tempat begini? Cepat ngepel sana!” Saat ini, pemilik restoran yang berusia 30 tahunan keluar dengan marah dan memelototi Bibi Oktavia, lalu memalingkan wajah dan tersenyum pada Nova, “Maaf ya, Oktavia ini memang kurang sopan…”


“Stop!” Nova memarahinya, “Bibi Oktavia adalah kerabatku! Dengar ya, mulai sekarang dia nggak akan bekerja di sini lagi, jadi sebaiknya kamu lunasi dulu gajinya.”


“Kamu kerabatnya?” Bos itu baru merespon setelah beberapa saat, “Melunasi gajinya? Dia baru bekerja setengah bulan di sini, ngapain kasih dia gaji? Para karyawan di sini punya deposit gaji satu bulan, setelah kerja dua bulan baru dapat gaji,  ini adalah peraturanku!”


“Nova, jangan begini, aku membutuhkan pekerjaan ini!” kata Oktavia dengan suara seraknya.


Nova langsung emosi! Nova sangat membenci para bos kecil yang menindas pekerja tingkat rendah!


“Emangnya kamu mau buat apa?” Bos wanita itu nggak mau kalah, “Kamu tanya dulu orang-orang di sini, apa aku orang yang mudah disinggung? Jangan kira kamu muda jadi bisa seenaknya menindas orang! Percaya nggak kalau seluruh orang di sini akan membantuku jika aku berteriak?”


Nova tertawa sinis, “Maksudmu mau lapor polisi? Kuberitahu ya, aku adalah polisi.”


“Cieh!” Bos wanita melihat sekilas Nova yang sedang memakai pakaian biasa, “Polisi? Bagaimana mungkin aku akan melapor polisi jika terjadi masalah! Aku hanya perlu memanggil beberapa pria untuk memukul kalian!”


Saat ini Cherish merasa sangat panik hingga tidak tahu harus berbuat apa.


Alex berjalan menghampiri dan melihat bos dengan santai, “Yakin nggak mau lapor polisi?”


Bos wanita ini juga sungguh hebat, dia lalu berteriak keras, “Tentu saja nggak! Dexter Wijaya keluar! Panggil teman-temanmu ke sini! Ada orang yang membuat kerusuhan di dalam toko!”


Dexter adalah pemilik toko ini, jadi dia lekas menelpon setelah mendengarnya, “Halo? Kak Abdul, bisakah kamu kemari, ada yang membuat kerusuhan di tokoku…”


“Apa? Tunggu bentar, aku akan membawa saudaraku ke sana dan memberi pelajaran pada mereka!” Abdul menutup telepon dan mulai memanggil orang.


Alex berkata, “Bos, aku tanya sekali lagi, apa kamu yakin nggak mau lapor polisi?”


Bos wanita itu berteriak keras, “Siapa yang melapor polisi, maka dia adalah pecundang! Aku nggak percaya orang luar kota berani menantangku! Sebentar lagi kamu akan tahu akibatnya, kamu pasti akan babak belur!”


Dexter berkata, “Bung, kalian terlalu muda, jangan mudah emosi. Kalian nggak akan bisa kabur lagi jika Kak Abdul sudah datang. Sudahlah, nggak usah banyak omong, cepat pergi.”


“Pergi?! Bagaimana mungkin melepaskan mereka? Dexter, lihat tampak pengecutmu! Hari ini nggak ada yang boleh pergi!” Bos wanita menarik kursi panjang dan menghadang di depan pintu.


Nova mengerutkan kening. Sebagai seorang polisi, dia nggak mungkin menghancurkan toko orang.


Tapi Alex nggak akan peduli dengan hal ini! Dia kembali bertanya, “Bos, kamu yakin nggak mau lapor polisi?”


Bos wanita kembali menjawab, “Hanya pengecut yang bakal lapor polisi! Bocah, aku ingin lihat seberapa hebat kamu! Ayo maju kalau berani! Aku nggak takut padamu!”


Ada semacam orang yang suka merangsang orang dan baru merasa enakan kalau orang tersebut sudah memukulnya sampai mati, dan bos wanita ini adalah tipe orang seperti itu.


“Baiklah, kuharap kamu bisa tahan untuk nggak lapor polisi.” Alex mengambil satu kursi, lalu memutar bangku itu dan melemparnya ke meja kaca!


Bang! Huarz! Meja kaca itu pecah!


Kemudian Alex membanting bangku di tangannya ke lampu gantung cantik di toko sehingga langsung pecah dan terdengar suara bang! Huarz!


Lalu, Alex mengambil bangku lain sambil berjalan ke depan konter kaca dan melempar bangku itu ke konter!


Meskipun Nova merasa senang, tapi dia nggak bisa berbuat begitu.


Cherish terkejut melihat ini: Oh Tuhan! Ternyata kakak ini setampan dan sekeren ini toh! Bahkan gayanya menghancurkan toko juga tampan, hanya saja konsekuensinya pasti sangat parah! Pemilik toko sudah memanggil orang, jadi pasti akan kena apes!