Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 552 Teman Baik Palsu


Merakit bom juga merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian penuh. Jika tidak hati-hati, maka diri sendiri yang akan menjadi korban. Jadi, hanya orang-orang yang sangat bernyali dan teliti yang mampu melakukan pekerjaan ini. Meskipun Zen terlihat kekar dan tangguh, keunggulannya adalah nyali dan ketelitiannya.


Saat ini, Zen sedang menyusuri dinding dan segera sampai di tempat perkumpulan para gangster itu. Dia merasa bahwa dia tidak akan bisa keluar dengan gampang, jadi dia mengeluarkan pistolnya dan berpura-pura mempersiapkannya.


Seorang gangster yang menyadari kemunculan Zen pun bertanya dengan sedikit kebingungan, “Kamu orang baru?”


Zen mengangguk dan menyeringai, “Aku benar-benar nggak ingin mati saat pergi ke pusat penahanan nanti.”


Zen berhasil mengalihkan pembicaraan, lalu gangster itu menjawab dengan tidak berdaya, “Siapa yang ingin mati? Tapi nggak apa-apa. Toh kalau kita mati, keluarga Bazel juga akan tetap memberikan banyak uang kepada keluarga kita. Hitung-hitung, kita juga nggak hidup sia-sia.”


Zen mengangguk, “Ini benar-benar adalah pencerahan yang besar, ya.”


Gangster itu berkata dengan tidak berdaya, "Apa boleh buat. Kamu nggak tahu kehidupan kami semenjak masuk ke lingkaran keluarga Bazel. Keluarga Bazel memelihara kami dengan tujuan seperti ini. Lagi pula, mereka juga memberikan kompensasi yang besar. Jadi, nggak akan ada yang peduli tentang mati. Memangnya kenapa kalau mati? Toh hidup juga begitu saja.”


Zen langsung tahu bahwa gangster-gangster ini adalah orang-orang yang sudah tidak memiliki harapan hidup dan hanya hidup untuk menunggu mati. Saat ini, kesempatan untuk mengakhiri hidup mereka sudah datang, jadi mereka juga tidak mempunyai penyesalan.


Namun, setelah selesai mempersiapkan peralatannya, Zen menyadari bahwa dia sama sekali tidak mempunyai cara untuk meninggalkan kelompok gangster ini. Ada beberapa pengawal di sekeliling tempat ini, jadi dia pasti akan tertangkap jika melakukan gerakan aneh. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini setelah ledakan itu menimbulkan kekacauan.


Saat ini, Andi dan Mark sedang menunggu ledakan itu. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa membuat keluarga Bazel membatalkan aksi mereka dengan hanya mengandalkan senjata api. Orang keluarga Bazel hanya akan melupakan masalah tentang situasi di pusat penahanan pada saat mereka merasa bahwa kediaman mereka terancam.


“Bos, kita hanya akan mengekspos diri kita sendiri dengan melakukan hal ini. Dakson pasti akan tahu bahwa kita bersembunyi di luar kediaman Bazel sehingga dia nggak akan keluar,” kata Mark dengan tidak berdaya.


Andi mengerutkan alisnya, tetapi berkata dengan pasti, “Jangan khawatir. Meskipun dia bersembunyi di dalam selamanya, keluarga Bazel juga harus mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kekuasaan mereka baru bisa melindunginya. Saat ini, anggota Biro Red Shield akan melawan keluarga Bazel. Menurutmu, apakah keluarga Bazel mampu berperang melawan pemerintah?”


Mark menggeleng lantaran tahu hal itu mustahil. Bagaimana mungkin keluarga Bazel bisa melawan pemerintah? Jika pemerintah ingin menghabisi keluarga Bazel, pemerintah bisa langsung memerintahkan pasukan militer untuk menekan mereka.


Percuma juga keluarga Bazel memiliki pertahanan yang kuat. Sistem pertahanan sekuat apa pun juga akan rusak begitu pesawat militer meluncurkan meriam ke kediaman mereka.


“Jadi, maksudmu kita juga nggak perlu memikirkan cara untuk masuk dan membunuh Dakson setelah kita berhasil mencegah keluarga Bazel?” Mark menatap Andi dengan kebingungan.


Andi mengangguk, “Kita hanya perlu mengawasi dan memastikan Dakson nggak keluar dari sana.”


Mark tersenyum. Dengan begitu, tugas mereka akan menjadi jauh lebih gampang.


Boom!!!


Saat mereka sedang berdiskusi, terdengar suara ledakan. Andi hanya menggaruk hidungnya lantaran tahu bahwa Zen sudah berhasil memasang bom-bom itu.


Seluruh orang di kediaman Bazel pun menjadi panik karena tidak tahu dari mana asal ledakan itu. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa ada orang yang sudah memasang bom di kediaman Bazel. Sementara pengawal-pengawal itu mengira bahwa itu adalah granat yang dilemparkan dari luar.


Saat ini, Harry sedang duduk di ruang tamu. Saat mendengar laporan dari bawahannya, dia langsung memukul meja, “Jangan panik! Zaen, coba lihat apa yang sudah terjadi. Menurutku, ini adalah perbuatan para bajingan di luar. Lagi pula, orang-orang itu memang sedang memantau kediaman Bazel dan mencari kesempatan untuk masuk kemari dan melakukan sesuatu, ‘kan?”


Zaen mengangguk dan berjalan keluar. Dia adalah master Alam Dewa Perang, jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada yang ditakutinya. Meskipun Mark mempunyai senapan runduk, senapan runduk juga hanyalah ancaman yang kecil bagi Zaen. Alasannya karena dia bisa sepenuhnya merasakan bahaya dan langsung menghindari peluru itu.


Setelah Zaen berjalan keluar, Dondon berdiri dan berjalan ke hadapan Harry, “Aku akan membawa pasukan keluar dari pintu belakang dan berjalan ke depan untuk mengepung mereka.”


Harry melambaikan tangannya, “Musuh juga pasti mengawasi pintu belakang dan kamu hanya akan langsung terekspos.”


Setelah mendengarnya, Dondon tertegun sejenak dan sedikit kebingungan, “Sebenarnya ada berapa banyak bajingan di luar? Kenapa aku merasa mereka ada di mana-mana?”


Harry berkata dengan acuh tak acuh, “Aku nggak peduli. Hari ini, mereka harus mati di dalam sini. Steven, pergilah bantu Zaen!”


Steven adalah master Alam Dewa Perang keluarga Bazel yang lainnya.


Kedua master Alam Dewa Perang ini adalah kekuatan tempur terbesar keluarga Bazel. Bahkan keluarga Japardi juga tidak dilindungi oleh master dengan keahlian setinggi ini. Jadi, dapat dikatakan bahwa keluarga Bazel memang lebih sulit untuk dihadapi daripada keluarga Japardi.


Harry sedang memikirkan kenapa Andi bisa bertindak di saat-saat seperti ini. Meskipun Andi memang sedang mengawasi keluarga Bazel, pada dasarnya, dia tidak memiliki konflik terhadap keluarga Bazel.


Lagi pula, semua orang juga tahu bahwa Andi datang karena Dakson. Waktu itu, Zaen baru menyadari sosok Andi dan yang lainnya setelah kedatangan Dakson. Jadi, jelas bahwa Andi hanya mengincar Dakson.


Saat ini, Dakson yang mengenakan mantel hitam menatap Harry dengan tenang, “Tuan Besar Harry, kalau memang nggak bisa, bagaimana kalau aku juga melakukan sesuatu?”


Dakson tahu bahwa keluarga Bazel sudah bermusuhan dengan Andi demi melindungi dirinya.


Harry melambaikan tangannya, “Aku akan menepati kata-kataku untuk melindungimu secara menyeluruh. Kita nggak perlu membahas hal ini lagi. Pergilah beristirahat, kami akan menghabisi mereka.”


Setelah Dakson pergi, Dondon menatap Harry dengan sedikit kebingungan, “Kakek, aku nggak mengerti.”


“Wajar saja kamu nggak mengerti karena kamu sama sekali nggak tahu ada berapa banyak harta yang ada di tangan Dakson. Aku nggak akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa menyerahkan sedikit hartanya itu,” kata Harry sambil tersenyum.


Dondon baru mendapatkan pencerahan. Dia awalnya mengira bahwa Harry benar-benar peduli pada persahabatan mereka. Dulu, waktu Dakson datang kemari, dia pernah minum bir sekali dengan Harry. Itu adalah satu-satunya hal yang menunjukkan persahabatan mereka.


Sebenarnya, hal itu bahkan tidak dapat disebut persahabatan lantaran Harry sama sekali tidak menganggap Dakson sebagai teman. Dengan kedudukannya ini, berteman adalah hal yang menyia-nyiakan waktunya.