
Erika memikirkan berbagai peristiwa buruk yang terjadi di hotel Emperor akhir-akhir ini, dan pembunuhan oleh orang-orang bersenjata di Danau Runju. Dia tiba-tiba berdiri dan berkata, "Presdir Utama, apakah kamu ingin mengakuisisi hotel Emperor-ku?"
"Benar!"
"Kalau begitu tidak perlu berharap. Bahkan jika kamu memberikan semua properti keluarga Utama padaku, aku juga tidak akan menjualnya."
"Kamu! Erika, jangan tidak tahu diri!" Devan sangat marah, dia juga bangkit dari duduk. Dia benar-benar tidak menyangka Erika akan berani membantahnya seperti ini. Awalnya dirinya berpikir bisa mendapatkan hotel Emperor dengan harga 21 miliar tanpa menunda masa pembangunan dermaga.
Tapi siapa sangka, Erika malah tidak mau, hal ini membuat Devan marah.
"Ratusan miliar kekayaan pun tidak akan kujual, Presdir Utama, permisi! ”Erika berbalik untuk pergi.
Devan benar-benar tak bisa menerimanya, anak dari keluarga berani merendahkan putra dari keluarga konglomerat nomor satu di Jakarta? Perlu diketahui bahwa paman ketiga hanya memiliki seorang putri, dia menggapnya dirinya sebagai putranya sendiri. Tidak ada yang berani menentang dirinya sendiri seperti ini. Bahkan para petinggi di pemerintahan Jakarta harus bersikap sopan pada dirinya.
Bukannya Erika hanya mengandalkan sedikit kecantikan dan lulus juara pertama dalam jurusan IPS tingkat provinsi. Apa hebatnya dirimu? Devan dengan marah mengambil cangkir teh di atas meja dan menyiramnya ke arah Erika.
Erika yang tidak memiliki persiapan apa pun segera disiram dengan teh oleh Devan. Untungnya, suhu tehnya sudah rendah, jika tidak, wajah cantiknya itu pasti rusak.
Erika menyeka teh di wajahnya, lalu berkata: "Devan, jangan keterlaluan, kita lihat saja nanti."
Setelah Erika pergi, Devan melempar teko dan membalikkan meja karena sangat marah. Bos tempat itu tahu identitasnya. Dia sangat ketakutan melihat Tuan Muda Utama yang sedang emosi.
Riska pulang dari rumah sakit hari ini, Lasmi mengadakan perjamuan untuk menyambut cucunya. Karena Alex menyelamatkan Riska, dia juga terdaftar sebagai undangan.
Lasmi mendengar bahwa keterampilan memasak Alex sangat bagus, dan sore ini dia secara khusus meminta Alex untuk datang dan menyiapkan hidangan bersama para koki keluarga.
Alex benar-benar berusaha keras, dia menyiapkan dua hidangan istimewa untuk Lasmi dan memperkenalkannya pada Lasmi.
Semua hidangan sudah siap, sekarang tinggal menunggu kedatangan Erika.
Satriya melihat jamnya, "Erika ini benar-benar ya. Nenek sudah meneleponnya agar pulang lebih awal. Mengapa dia belum datang?"
Lasmi tersenyum dan berkata, "Tenanglah, tunggu sebentar lagi."
Tepat saat sedang berbicara, Erika berjalan masuk ke dalam, yang semua orang terkejut adalah ekspresinya yang sangat tidak normal, rambutnya masih basah, dan bagian depan kemeja putihnya juga basah. Setelah Lasmi bertanya berulang kali, barulah Erika berkata bahwa Devan telah menyiramnya dengan teh.
Melvin Buana juga ikut berkata: "Bu. Aku sudah katakan sebelumnya bahwa Erika terlalu muda untuk bertindak dengan tenang. Lihatlah sekarang, kita telah menyinggung keluarga Utama. Bagaimana keluarga Buana bisa berbisnis lagi di Jakarta?"
Ekspresi bahagia di wajah Lasmi juga menghilang, dia menghela nafas dan berkata: "Erika. Aku tahu kamu sangat sedih. Devan tidak bernegosiasi denganmu, melainkan mengintimidasi. Jika itu aku, aku juga akan sama marahnya denganmu. Tapi, keluarga Buana kita tetap tidak bisa melawan keluarga Utama. Kali ini, kamu memang sedikit gegabah. "
Erika sebenarnya juga sedikit menyesal di dalam hatinya, setelah pergi dari tempat Devan, dia telah memikirkan apa yang akan terjadi setelah kejadian ini?
Karena Devan sudah berterus terang dengannya, dia pasti sudah melakukan punya persiapan yang baik untuk melawan dirinya. Membuat masalah di hotel, mengirim pembunuh, ini semua adalah hal kecil! Erika menduga bahwa Devan kemungkinan besar akan membalas dendam dengan tindakan yang lebih kejam, menyusahkan seluruh keluarga Buana karena amarahnya. Apakah ini memang sedikit gegabah?
Alex akhirnya berbicara, "Nenek! Karena Erika tidak salah, maka jangan salahkan dia secara membabi buta. Devan sudah keterlaluan, dia bahkan menumpahkan teh ke wajah Erika. Aku akan membuatnya membayar kembali seratus kali!"
Satriya tertawa dan berkata: "Alex, kamu benar-benar tidak berpikir dulu sebelum bicara. Apa kamu pikir mudah menghadapi Devan? Nenek saja sudah bilang, tahan saat harus ditahan. Kali ini sudah pasti kesalahan Erika. Dia sengaja menghancurkan seluruh keluarga kita. "
Erika berkata: "Satriya, apakah aku sejahat itu? Aku tidak mengerti apa kesalahanku? Kamu khawatir Devan akan melawan keluarga Buana. Tapi tujuanmu untuk mengusirku dari keluarga Buana, kan? Nenek, jika kamu juga berpikir begitu, maka beri saja perintahnya sekarang."
Satriya berkata: "Erika, fakta ada di depan mata, tidak ada gunanya jika kamu mengelak. Keluarga Utama akan segera membalas dendam terhadap keluarga Buana. Bukannya kamu hebat? Kalau begitu selesaikan masalah ini. Sama seperti saat kamu menyelesaikan permasalahan dengan Presdir Wibowo secara pribadi. Apa kamu bisa melakukannya? "
Melvin juga berkata: "Erika. Mungkin perkataan Satriya sedikit tidak enak didengar, tetapi keluarga kita benar-benar tidak bisa memprovokasi keluarga Utama. Tidak bisakah kamu menahannya demi keluarga? Temuilah Devan untuk meminta permohonan maaf. "
Riska juga berkata: "Erika, sebenarnya kamu hanya perlu menjual hotel Emperor dengan harga murah. Kita tidak bisa kehilangan nyawa hanya demi uang. Nenek juga bilang, nantinya jika proyek Teluk Indah telah menghasilkan uang, keluarga kita akan memberikanmu kompensasi. Hal paling penting sekarang adalah membuat Devan tenang. Kakak Devan dan aku adalah teman sekelas. Mungkin aku bisa membantumu ... "
Lasmi terlihat ragu-ragu, sulit baginya untuk langsung mengambil keputusan. Meskipun dia juga khawatir Devan akan membalas dendam terhadap keluarga Buana, tapi dia lebih enggan kehilangan proyek sebesar Teluk Indah. Tatapannya beralih ke Alex, setelah beberapa dekade di dunia bisnis, Lasmi telah mengubah pandangan terhadap Alex.
Suaminya tidaklah bodoh, tidak mungkin baginya menjadikan orang tidak berguna sebagai menantu laki-laki tanpa alasan. Dari mana Alex berasal? Meski suaminya itu tidak memberitahunya, tapi berdasarkan pengamatan baru-baru ini, Lasmi menyadari bahwa Alex memiliki kemampuan tertentu.
"Alex, bagaimana menurutmu?"
Alex tersenyum tipis dan berkata: "Nenek! Jelas sekali bahwa Devan sudah keterlaluan. Kalian semua takut akan balas dendam Devan. Namun, bahkan jika Devan ingin membalasnya, dia akan menyerang keluarga kami terlebih dahulu. Kalau begitu biarkan saja dia melakukannya."
Erika juga berkata: "Nenek. Aku sudah bertekad untuk melawan keluarga Utama. Aku baru saja mengundang tiga pengawal terbaik dari ibukota provinsi. Aku juga sudha menghubungi Friska Wibowo, General Manager Perusahaan Jaya Shield tadi. Dia juga akan datang untuk membantuku dalam dua hari ini! "
Lasmi bertanya: "Siapa Friska Wibowo? Apa hubunganmu dengannya? Bisakah dia melawan keluarga Utama?"