Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Luka Parah


Friska sudah mengatur napasnya, lalu berteriak, “Berhenti!” Kemudian dia melompat ke depan, meregangkan lengannya untuk mencekik leher Pradana, dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Pradana.


Seharusnya Friska tidak bisa berhasil semudah itu, tetapi karena Hengky menangkap salah satu kaki Pradana yang menyebabkannya tidak bisa bergerak leluasa, dan juga trik jitu Friska memang jarang meleset.


Melihat tindakannya yang terlalu berbahaya, Pradana tidak punya pilihan selain berhenti menyerang Hengky, lalu menekuk sikunya dan memukul dada Friska.


Sebenarnya Friska sudah mengunci lawannya, tapi ketika dia hendak mengencangkan tenaga lengannya, serangan siku dari lawan menyebabkan dia harus melepaskan leher lawannya. Dia memarahi: "Dasar mesum! Beraninya memukul wanita, dan memukul ... di sini!"


Pradana mencibir: “Aku tidak peduli kamu pria atau wanita, di mataku hanya ada orang mati!” Sambil berbicara, Pradana melancarkan beberapa pukulan lagi, Friska tidak punya pilihan selain menyerah, dia mengendurkan kakinya dan turun dari pinggangnya, kemudian bergegas menjauh. Ini adalah pertama kalinya jurus jitunya gagal, dia merasa sangat kesal.


Sebenarnya yang paling kesal saat ini adalah Pradana. Orang yang ingin dia bunuh bahkan belum tersentuh, tetapi dirinya malah terjerat dengan dua sampah di sini. Jika ini terus begini, kemungkinan besar semua usahanya tadi akan sia-sia.


Pradana dengan cepat memutuskan untuk menghindari dua orang di depannya dan bergegas menuju posisi Erika.


Namun, sebuah sosok putih tiba-tiba berdiri di antara Pradana dan Erika. Itu adalah Friska.


Tujuan Friska sangat jelas, yaitu, satu kata "Menahan"! Dengan menahan pembunuh ini, maka Erika bisa kabur. Namun, entah itu ilmunya atau tenaga, dia kalah banyak dari Pradana, dan pertempuran jarak dekat semacam ini membuatnya hampir tercekik beberapa kali.


Hengky ingin membantu lagi, tapi malah dimarahi oleh Friska: "Bodoh! Cepat bawa Erika pergi!" Dia sekarang bersumpah untuk menahan si pembunuh dan memberi kesempatan Erika untuk melarikan diri.


Sejenak, Hengky mengerti, tapi dia sangat khawatir, meski begitu dia tidak punya cara lain. Jika dia menunda lagi, takutnya tidak ada yang bisa pergi. Lalu dia berteriak, “Nona, berhati-hatilah!” Dia mengulurkan tangan dan menarik Erika pergi dengan cepat.


Pradana sungguh ingin memukul Friska sampai mati, tetapi tubuh manusia di depannya seperti ikan, dan dia terus bergerak di sekitar tubuhnya, untuk sementara, Pradana tidak bisa menangkapnya.


Melihat bahwa Erika telah dibawa lari oleh Hengky hingga 100 meter jauhnya, tetapi dia tidak bisa mengejarnya, Pradana tiba-tiba mengeluarkan raungan aneh, dia mengangkat telapak tangannya dan menepuk dahi Friska, mencoba untuk menamparnya sampai mati agar bisa menangkap Erika.


Friska bahkan tidak menghindarinya, dia menyilangkan tangan di atas kepalanya dan menangkap serangan itu.


“Dasar tidak tahu diri!” Melihat lawan ingin beradu kekuatan dengannya, dia mengeluarkan amarahnya. Dia tahu bahwa kemampuan lawan jauh lebih buruk daripada miliknya.Jika diteruskan, dia hanya cari mati.


Sambil memarahi, Pradana menyerang dengan telapak tangan kirinya lagi, "Aku tidak percaya kamu bisa menahannya!"


Friska sudah bisa merasakan kekuatan telapak tangannya sebelum mendarat. Namun, dia sudah tidak punya cara lain, jadi mau tidak mau harus menerima pukulan ini lagi.


Seperti yang dia katakan, terdengar raungan besar lagi, dan dua telapak tangan menghantam pada saat yang sama. Kali ini, dia menggunakan hampir semua tenaganya. Dia tahu bahwa menurut kemampuan gadis di depannya, dia pasti tidak bisa menahan pukulan berat ini, akan mati muntah darah.


Di saat yang sangat kritis, Friska tidak bersikeras melawannya. Dia tiba-tiba menengadahkan tubuhnya ke belakang, dan berjungkir pergi. Denganbegini, telapak tangan Pradana menghantam ke tanah dan membuat sebuah lubang besar.


Pradana tertegun sesaat saat pukulannya gagal, tiba-tiba kaki Friska melingkari lengannya seperti dua ular piton raksasa.


Kekuatan lengan wanita memang tidak sekuat pria, tapi kekuatan kaki mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pria. Friska sekarang menggunakan kekuatan kakinya untuk melawan kekuatan lengan Pradana. Meskipun dia tidak sebanding dengan lawan, tapi setidaknya dia masih sedikit lebih unggul.


Selain itu, Friska sudah berusaha sekuat tenaga! Di sela-sela pertarungan sengit, dia mengeluarkan jurus terbaiknya, kakinya telah melingkari lengan Pradana, sedangkan kepalanya berada di kakinya, dengan postur aneh seperti ini, Friska tiba-tiba menggunakan tenaga pinggang dan punggungnya.


Krak, dia mematahkan sendi siku Pradana. Ini terlihat tidak memungkinkan, tetapi hari ini, Friska menjadikannya kenyataan. Meskipun dia tidak sebaik pihak lain, tapi dia berusaha sangat keras untuk melukai seseorang yang lebih baik dari dirinya.


Hal ini juga di luar dugaan Pradana! Dia berteriak dan mengguncang seluruh tubuhnya, hingga Friska terlepas. Jurusnya ini juga sangat kuat, Friska terhempas lebih dari 10 meter jauhnya, dan langsung koma.


Lengannya dipatahkan oleh seorang gadis kecil, bukan hanya sebuah kegagalan, tetapi juga penghinaan. Pradana berteriak, lalu mendekati Friska dalam sekejap, kemudian mengarahkan kaki ke arah perut bagian bawah Friska. Dia ingin menendang lawannya sampai mati.


Kakinya yang sudah diangkat malah diletakkan lagi, "Terlalu gampang bagimu jika mati begini saja! Gadis kecil, keterampilan membunuhmu luamyan bagus, kurasa kamu pasti juga hebat di ranjang! Aku ingin memainkanmu sampai mati! "


Lalu, dia menggunakan tangan kirinya untuk menopang lengan kanannya yang terluka, rasa sakit akibat patah tulang membuatnya menarik napas dalam. Di saat ini, lima sosok perlahan bergerak mendekat: "Instruktur, wanita ini mau dibunuh atau tidak? Lenganmu...?"


Yang datang adalah anak buahnya. Awalnya mereka hanya bersiaga di hutan lebat. Mereka merasa bahwa dengan kemampuan instrukturnya, mengalah seorang gadis kecil harusnya sangat. Tapi siapa sangka bahwa akan sesulit ini, dan bahkan harus kehilangan 1 lengan.


Di hadapan bawahannya sendiri, Pradana merasa malu untuk memegang lengannya yang terluka, dia berkata dengan wajah datar: "Musuh yang sebenarnya belum muncul, kalian harus berjaga-jaga. Aku mengampuni nyawa gadis ini karena ada sesuatu yang harus aku tanyakan sendiri padanya! "


Bawahan Pradana kembali ke hutan lebat. Friska telah mencoba yang terbaik dalam pertarungan tadi dan telah kehilangan semua tenaganya.. Ketika dia bangun dari koma, dia terbaring di sana dan tidak bisa bergerak, dia hanya bisa melihat Pradana yang mendekatinya selangkah demi selangkah.


“Sungguh gadis yang keras kepala!” Pradana menepuk wajah cantik Friska dengan tangannya, “Beraninya kamu melukai salah satu lenganku. Terlalu gampang jika membunuhmu. Aku ingin kamu menderita!”


Kemudian, dia mengulurkan tangan kirinya dan meraih kerah baju Friska, sreet, pakaian dalam yang dikenakannya pun terekspos. Pria tua ini sudah bertahun-tahun tidak dekat dengan wanita, tetapi hari ini dia tidak dapat menahan nafsunya lagi saat melihat Friska.