Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pembual Besar


Namun, saat Friska hendak bersiap pergi, dia malah mendapatkan kabar ada yang terluka akibat dari konflik yang terjadi antara beberapa karyawan dari kantor sekretaris.


Di antara para karyawan ini, ada yang ingin meminta cuti sakit, dan ada juga yang ingin berhenti kerja. Meskipun divisi yang mereka tempati tidak begitu penting, tapi jika beberapa karyawan resign dalam waktu yang bersamaan, jelas juga tidak menguntungkan bagi PT. Atish.


Setelah Alex mendengar berita ini darinya, dia sama sekali tidak peduli. Karyawan PT. Atish begitu banyak, jika ada beberapa yang berkelahi, terjadi masalah kecil ataupun terluka ringan, itu adalah hal yang wajar.


Namun, seiring semakin banyaknya karyawan yang cuti dan resign, tidak hanya Erika dan Friska saja yang merasa adanya keanehan, tapi Alex sendiri juga merasakan kejanggalan!


Hal ini pasti ulah seseorang! Dan tersangka utamanya adalah keluarga Mahari!


Alex menyerahkan masalah penyelidikan kepada Hengky dan yang lainnya, dia meminta mereka untuk berusaha memperjelas kondisi setiap karyawan yang ingin mengundurkan diri dan harus menemukan alasan pengunduran diri.


Dia juga meminta Erika untuk menyerahkan urusannya terlebih dahulu kepada orang lain karena hari ini adalah hari yang dijanjikan di Hotel Royal waktu itu!


Alex mengemudikan mobil BMW X5 ke parkiran mobil Hotel Royal. Saat dia dan Erika berjalan ke depan pintu hotel, mereka melihat Julian sudah tiba duluan.


“Eh? Ka, kalian sudah sampai ya!” sapa Julian dari kejauhan, di sisinya juga ada 2 teman pria yang ikut menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Erika berjalan ke sana sambil tersenyum, dan melirik ke kiri dan kanan, “Kalian awal sekali! Kok berdiri di luar? Charles belum datang?”


“Huh, entah kenapa si Charles, ponselnya tidak aktif terus!” entah dari mana Salma muncul, dia melihat Erika dan bertanya, “Kenapa? Jangan-jangan Charles kalah?”


Erika tersenyum tanpa bersuara, saat ini Alea juga sudah tiba, “Eh, kok kalian berdiri di luar sih! Ayo masuk!”


Julian berkata, “Aku sudah tanya pelayan tadi, kalau mau reservasi  ruang privat harus 3 hari sebelumnya. Jadi…”


Alea merangkul lengan Erika, lalu berkata sambil mengernyitkan dahi, “Ketua kelas, apa maksudmu? Ngak ada tempat lagi?”


Julian menghela nafas dan berkata, “Punya uang juga ngak ada ruangan lagi! Bisnis Hotel Royal terlalu bagus, apa boleh buat.”


Alea berkata, “Sal, telpon lagi tuh si Charles! Aku masih mau lihat gimana dia bersujud pada Alex dan Erika!”


Salma kembali menelpon Charles, tapi tetap saja tidak aktif!


Erika melihat Alex, lalu berkata, “Teman-teman semua sudah datang, gimana sekarang? Ngak mungkin ‘kan langsung bubar?”


Alex berkata sambil tersenyum, “Kalaupun si Charles ngak berani datang , kita semua juga setidaknya harus makan! Aku telpon bentar, lihat bisa dapat ruangan ngak di sini.”


Salma berkata, “Kamu mau nelpon? Kamu kira Medan itu kota kecil kalian? Bisnis Hotel Royal memang sangat bagus, ruang privat sama sekali tidak mungkin ada pada saat seperti ini, kecuali punya kartu VIP hotel mereka.”


Erika berkata, “Alex punya banyak teman, mungkin saja ada solusinya.”


Alea berkata, “Eh eh? Alex punya teman sehebat itu juga ya di Medan?”


Salma berkata, “Teman Julian adalah manager di sini, tapi dia saja tidak dapat ruangan. Lalu si Alex bisa dapat gitu hanya dengan menelpon? Cuih!”


Selesai berbicara, Alex segera mematikan ponsel, dia tampaknya sama sekali tidak menunggu jawaban orang tersebut.


Salma berkata dengan bingung, “Alex, apa-apaan kamu? Jadi dia bilang apa? Ada ngak ruangannya?”


Alex tersenyum tipis, lalu berkata, “Tunggu saja, nanti juga kamu tahu.”


Julian juga kurang yakin, “Oke, kita tunggu saja sebentar.”


Alea berkata, “Alex, kamu ‘kan dari luar kota, kalau bisa dapat ruangan privat, maka uangnya biar kita-kita saja yang bayar!”


Salma berkata dengan lantang, “Oke! Cuma takutnya kita tidak perlu mengeluarkan uang!”


Erika mengernyitkan dahi, dan berkata dalam hati, “Kenapa Salma yang sekarang jadi suka nusuk orang? Kayaknya kalau ngak nyakitin orang, dia bakal gatal-gatal.”


Julian berkata, “Benar kata Alea! Asal Alex bisa dapat ruangan, maka kita para pria saja yang bayar biaya hari ini!”


Saat ini, seorang pria berseragam Hotel Royal yang merupakan teman Julian berjalan tergesa-gesa kemari, “Jul, maaf banget. Memang sudah ngak ada ruangan kosong lagi di sini, coba kalian cari di tempat lain.”


Salma berkata, “Kami sudah menghubungi orang untuk mendapatkan ruangan di tempat kalian.”


Pria tersebut menggelengkan kepala dan berkata, “Mana mungkin? Ruangan privat kamu sudah habis dibooking kemarin sebelum jam 12 siang! Sama sekali tidak mungkin ada ruangan kosong.”


Salma menatap Alex sambil tertawa, “Eh… suaminya Erika, bukannya tadi kamu suruh orang buat dapetin ruangan? Bualanmu kegedean ngak sih?”


Erika berkata dengan tidak senang, “Apa maksudmu, Salma? Ngak bisa ya nunggu bentar? Kamu saja yang minta ruangan kalau bisa.”


Pria tersebut berkata dengan penuh rasa maaf, “Jul, maaf banget ya, aku balik kerja dulu.”


Salma berkata, “Aku tahu kok kalau aku ngak bisa booking ruangan. Ngak kayak seseorang yang ngak bisa booking, tapi malah bilang mau ‘nelpon’.”


Alea berkata, “Salma! Ngomong apa sih kamu! Alex juga memikirkan kita, masa kita sudah datang ke sini, tapi ngak ada ruangan, makanya dia menelpon orang. Ada atau tidak itu tidak penting, yang penting dia ‘kan sudah berusaha.”


Salma berkata sambil tersenyum, “Iya iya, aku juga sudah berusaha, kita coba ke tempat lain saja.”


Erika tidak bisa menahan diri untuk melirik ke arah Alex, melihat tampang yakin Alex, dia seketika merasa tenang, “Kita tunggu bentar lagi saja. Lagian, reuni kali ini seharusnya ajakan Charles, tapi dia malah main ngilang.”


Julian berkata, “Benar, sebenarnya kita semua bersikeras makan di sini juga untuk menunggu Charles, biar dia ngak sembarangan ngomong nantinya.”


Alea tiba-tiba berkata, “Eh? Coba kalian lihat pria paruh baya gemuk di pintu itu? Ngapain dia lari secepat itu? Jangan-jangan ada yang terjadi sama Hotel Royal?”


Semua orang melihat ke arah yang dibilang Alea, dan benar saja, mereka melihat seorang pria paruh baya dengan perut buncit berlarian dari luar diikuti oleh 4 orang pelayan.


Tumpukan lemak di tubuhnya membuat dirinya terlihat kesulitan saat berlari, tapi larinya lumayan cepat. Jarak dari pintu utama ke tempat Alex dan lainnya hanya sekitar 60 meter, dan bulir-bulir keringatnya sudah menetes ke bawah, “Ma.. maaf, Tuan Alex yang mana ya?”