Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 562 Ingin Bertarung Satu Lawan Satu


Saat ini, Micky berekspresi takut dan segera berkata, “Aku tahu itu kamu, karena dulu aku pernah mendengar cara berperangmu, sedangkan orang yang bisa melakukan trik itu hanya beberapa saja. Ditambah aku pernah mendengar desas-desus setelah kamu mengundurkan diri dari Gang Beruang hitam, kamu datang ke tempat ini ….”


Alex mengangguk. “Tampaknya keberadaanku tetap akan diketahui orang, tapi aku nggak ingin ada yang tahu aku ada di sini. Selain itu, tampangmu nggak seperti orang yang takut mati, jadi kamu bunuh diri saja.”


Micky membuang senapan di tangannya, kemudian mengeluarkan pisau militer dengan ekspresi yang antusias.


“Nggak sia-sia aku datang ke sini karena bisa bertemu dengan Bos Alex. Selain itu, aku juga nggak akan menyesal kalau mati di tanganmu.” Micky melihat Alex sambil melepaskan baju anti peluru.


“Bos Alex, mari lakukan pertarungan satu lawan satu denganku.” Micky menatap Alex dengan antusias.


Micky terus memutarkan pisau militer di tangannya, tampaknya dia adalah ahli pemain pisau. Sekarang Micky sangat berharap dirinya bisa melawan Alex.


Karena dia ingin menggunakan cara paling jantan untuk mengakhiri hidupnya.


Micky melihat Alex hanya berdiri di tempat, kemudian dia tersenyum. “Tampaknya ahli selalu membiarkan orang seperti kami duluan turun tangan.”


Meskipun dia tahu sikap tenang Alex ini penuh dengan kesombongan, bahkan ada aura seorang master yang tak tertandingi sehingga membuat dirinya terlihat lemah, Micky tidak peduli dengan hal ini.


Micky tidak peduli, karena dia hanya ingin bertarung secara adil dengan Alex.


“Aku akan mulai menyerang!” Micky menghentakkan kakinya, lalu dengan cepat menyerang ke arah Alex. Pisau militer di tangannya yang berbinar juga langsung menyerang ke arah Alex.


Micky sudah sampai di tempat yang jaraknya kurang dua meter dari Alex dengan waktu beberapa belasan detik, jadi dia hanya perlu melangkah dua langkah untuk bertarung dengan Alex.


Mata Micky terlihat lebih antusias, dia berharap nyawanya bisa berakhir di pisau Alex.


Dor!


Pistol Alex langsung menembak ke jantungnya, seketika membuat Micky terkejut sampai membelalak mata, bahkan tidak sempat merespons. Micky memegang jantungnya, pisau militer di tangannya tidak bisa menyerang ke depan lagi.


Darahnya terus mengalir, tapi tatapannya penuh dengan kebingungan dan penyesalan.


Alex menepuk bahu Micky. “Aku benar-benar nggak tahu apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu melepaskan baju anti pelurumu? Itu adalah pelindung baik bagimu.”


Pada akhirnya, Micky hanya tergeletak di lantai, dia juga tidak mengerti kenapa Alex begitu licik!


Kenapa Alex tidak ada sikap seorang master, sih?


Setelah Alex membunuh Micky, dia berbalik untuk melihat dua tentara bayaran yang sedang bersembunyi di ruang obat. Alex pelan-pelan berjalan ke sana, saat ini dia tidak boleh panik. Bagaimanapun juga, dia tahu kedua tentara bayaran yang di dalam lebih panik daripadanya.


Namun, tak lama dia mendengar suara bang, jadi dia segera berlari masuk ke toko obat. Lalu, dia melihat dua tentara bayaran itu melompat dari jendela.


Alex segera berlari ke arah jendela, juga dengan cepat bersembunyi di samping.


Kedua tentara bayaran itu menembak ke arah jendela sampai jendela pecah. Sekarang kedua tentara bayaran itu berencana meninggalkan tempat ini.


Alex hanya menyeringai. “Bukankah tadi sikap kalian sangat sombong ketika ingin membunuhku? Apa sekarang ingin pergi dari tempat ini? Apa aku sudah mengizinkan kalian pergi?”


Serangan pisau bedah sama kuat dengan peluru, seketika menembus ke kepala salah satu tentara bayaran.


Sedangkan tentara bayaran yang satu lagi sangat beruntung, karena dia sempat bersembunyi ke sudut.


Alex terus mengejar tentara bayaran itu, tak lama dia tiba di sudut itu. Saat ini, Alex tidak lagi panik, karena lawan hanya tersisa satu orang, jadi tidak ada ancaman baginya.


Setelah dia naik ke lantai dua, dia terus mengejar di koridor lantai dua. Ketika dia sampai di sudut, dia membuka jendela dan melihat tentara bayaran bersembunyi di sudut. Sedangkan tentara bayaran itu hanya memeluk senapannya sambil terengah-engah.


Sedangkan Alex dengan santai berdiri di sampingnya, lalu menepuk bahu tentara bayaran. Ketika tentara bayaran menoleh, tinjunya sudah menyerang ke hidung tentara bayaran.


Alex hanya tersenyum. “Tentara bayaran seperti kalian sangat susah dilawan. Meskipun hanya belasan, juga bisa membentuk tim dan bekerja sama. Dulu, ketika aku pertama kali melawan tentara bayaran, aku sudah mengetahui hal ini. Meskipun aku sudah sering bertarung dengan tentara bayaran, juga tetap merasa kerja sama kalian sangat merepotkanku untuk mengalahkan kalian.”


Saat ini, tentara bayaran merasa pusing karena pukulan tadi.


Tentara bayaran itu tidak tahu dari mana Alex datang ke sisinya.


Bahkan dia tidak merasakan kedatangan Alex.


“Kalau bukan ingin menanyakan sesuatu padamu, apakah kamu kira aku akan membiarkanmu hidup?” tanya Alex dengan menghina ketika melihat tentara bayaran itu mengarahkan senapan ke arahnya.


Saat ini, tubuhnya sudah ada beberapa peluru, tapi peluru itu hanya melukai kulitnya, tidak melukai organ tubuhnya.


Jadi, itu hanya termasuk luka kecil. Alex melihat tentara bayaran itu dengan tenang, sedangkan tentara bayaran itu juga takut, bahkan tidak berani menembaknya.


Pada akhirnya, tentara bayaran itu melempar senapannya ke samping sambil melihat ekspresi tenang Alex.


Sekarang dia tahu timnya kalah pada Alex.


Terdengar suara sirine mobil polisi, lalu melihat Max membawa sekelompok polisi datang ke rumah sakit dan segera mengelilingi rumah sakit.


Para polisi terus menganalisis situasi saat ini dengan Max. Max juga sudah tahu kondisi di dalam rumah sakit. Sekarang, ada banyak polisi dan pasien belum keluar, selain itu penjahat bukan hanya satu orang, melainkan satu tim!


Max mengangguk pada bawahannya, lalu mengambil toak dan berteriak, “Penjahat di dalam dengarlah, kalian sudah dikepung ….”


“Sudahlah, jangan teriak lagi,” kata Alex sambil keluar dari rumah sakit dengan pelan.


Semua polisi sangat gugup, sedangkan Robert mengerutkan dahi. Kenapa Alex bisa ada di sini?


Amel yang melapor kejadian ini, tapi dia malah tidak bertemu dengan Amel, malah bertemu dengan Alex.


Lalu, dia tahu kalau ada Alex, kasus akan menjadi rumit.


Max tersenyum sambil berjalan menghampiri Alex. Setelah melihat luka di tubuh Alex, dia pun bertanya dengan perhatian, “Bro Alex, kenapa kamu? Apa kamu terluka? Aku akan segera menyuruh dokter mengobati lukamu!”


Alex melambaikan tangan. “Sudahlah, bawa keluar penjahat di dalam. Kali ini, hanya satu yang hidup, sisanya sudah dibunuh olehku.”