
Alex baru saja memikirkan langkah apa yang akan dilakukan keluarga Bazel selanjutnya.
"Sangat jelas kalau tidak ada cara bagi mereka untuk melawanku di sisi jalur resmi. Jadi kalau mereka ingin melawanku, satu-satunya jalan mereka adalah melalui jalur ilegal."
Alis Alex berkerut saat merenungkan apa yang bisa dilakukan keluarga Bazel.
"Yang bisa Sinarwa lakukan yaitu menyerang lokasi konstruksi ini. Baru beberapa hari sejak konstruksi dimulai, jadi diperkirakan juga nggak ada cara untuk menyerang di lokasi konstruksi."
Alex tidak mengkhawatirkan Sinarwa. Meskipun Sinarwa kejam dan agak berakal, berbicara masuk akal dan ketenangan adalah tipuan di hadapan seorang putra yang berduka.
Sekalipun Sinarwa tidak kehilangan kesabaran dan melakukan penyerangan, tetapi pada kenyataannya hatinya sudah dipenuhi amarah dan ingin menghabisinya.
Orang pintar lain di keluarga Bazel yang bersembunyi agak menakutkan bagi Alex. Bagaimanapun juga, pembunuhan terakhir bisa saja dilakukan oleh orang pintar itu, tetapi pihak lain seharusnya menyembunyikannya dari Harry. Itu sebabnya dia tidak menangkap keluarga Bazel saat mendatangi mereka.
Alex ingin mencari tahu orang pintar dari keluarga Bazel itu, tetapi sayangnya saat ini tidak ada cara untuk memaksa orang itu keluar.
Setelah seharian penuh menandatangani kontrak dan mengurusi berbagai urusan, Alex masih di kantor hingga larut malam, sedangkan Erika sudah pulang. Hari ini pekerjaan Erika lebih sedikit. Semuanya sudah diatur untuk dilakukan orang lain.
Dia tidak perlu melakukannya sendiri.
Alex bekerja sampai malam baru menyelesaikan semuanya. Dia merenggangkan punggungnya dan turun ke bawah.
Akan tetapi tak lama kemudian, dia melihat seorang pria aneh. Pria itu melihat ke sekeliling dengan waspada, seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Dia berjalan dan melihat pekerja yang baru berusia 20-an itu pergi ke asrama pekerja, Alex menjadi agak penasaran, tetapi dia tidak mengejarnya.
Hanya saja, dia sudah ingat seperti apa penampilan pekerja ini.
"Nggak tidur di malam hari dan berjalan keluar untuk berkeliaran, aku nggak akan percaya kalau kamu bilang nggak ada masalah," kata Alex dengan datar.
Setelah pulang ke rumah, dia pun mandi. Masih ada makanan di atas meja, tetapi rasanya masih agak asin. Alex sama sekali tidak keberatan. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa Erika pandai dalam segala hal, tetapi dia tidak bisa memasak.
Fakta dia bisa melakukannya sendiri sudah cukup membuat Alex tersentuh. Dia juga tahu makanan hari ini lebih baik dari kemarin.
Alex mandi dan pergi tidur, memeluk Erika yang sedang tidur dan menyandarkan tubuhnya ke pelukan Alex seperti biasa.
Ini sudah menjadi kebiasaannya.
Keesokan harinya, si gendut menelepon dan Alex sangat senang. Bagaimanapun, akhirnya dia berhasil membodohi seseorang.
Mendengar kata-kata si gendut yang agak waspada, Alex tersenyum dan berkata, "Jangan gugup, ayo cari tempat untuk berbicara. Lagi pula, aku nggak bisa mendengarnya dengan jelas melalui telepon."
Pada akhirnya, mereka berdua bertemu di kedai kopi di bawah Hotel Gana. Kopi di kedai kopi ini lumayan. Minuman Alex lebih enak dari biasanya.
Alex menatap si gendut yang agak waspada dan berkata sambil tersenyum, "Jangan gugup. Kamu tahu, kita sedang memulai bisnis. Ini demi membantu mengembalikan Provinsi Sulawesi Tenggara seperti dulu. Apa pun yang kamu lakukan itu benar."
Si gendut berkata dengan cemas, "Sebenarnya, aku hanya khawatir tentang hasil akhir dari konflik kita dengan keluarga Bazel. Lagi pula seperti yang kamu tahu, keluarga Bazel sudah memiliki andil di Provinsi Sulawesi Tenggara, sampai pihak resmi pun harus menghormati mereka."
Alex menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu salah tentang itu. Sebenarnya sekarang pihak resmi ada di pihak kita."
Si gendut menatap Alex dengan penasaran, sementara Alex tersenyum dan berkata, "Aku nggak bisa memberitahumu apa yang sedang terjadi, tapi yang bisa kukatakan adalah pihak resmi ada di pihak kita dalam pertarungan antara PT. Atish dan keluarga Bazel."
Si gendut itu terdiam sejenak dan segera berkata, Jangan bilang kamu adalah anggota resmi?"
Alex menjentikkan jarinya. "Cukup pintar, kamu langsung mengetahuinya. Nggak ada yang salah, kamu sama sekali nggak salah. Aku adalah anggota resmi, tapi untuk departemen mana aku nggak bisa memberitahumu."
Si gendut itu menunduk dan berbisik, "Sebenarnya sangat mudah menebak hal-hal seperti itu, hanya saja aku nggak berani terus menebak. Dulu saat aku selalu menebak hal-hal ini, ayahku mengajariku kalau aku terlalu mencemaskan hal ini dan khawatir secara berlebihan."
Baru pada saat ini, Alex menyadari kalau si gendut itu terlihat naif, tetapi kenyataannya dia juga cukup pintar.
Alex tersenyum dan berkata, "Kalau begitu tebak identitasku. Jangan khawatir, sekarang ayahmu juga nggak ada di sini. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh kamu bisa menebaknya."
Si gendut berpikir sejenak dan berkata, "Tadi kamu mengaku kalau kamu adalah anggota resmi. Tapi anggota resmi di Provinsi Sulawesi Tenggara nggak akan pernah mengusik keluarga Bazel, karena keluarga Bazel mampu membuat semua anggota resmi di Provinsi Sulawesi Tenggara menghormati mereka dan terjebak dalam jalan ini. Kalau begitu, kamu adalah tim investigasi yang diutus oleh atasan."
Alex tidak menyangkal atau mengakuinya dan hanya terus menatap si gendut yang sepertinya sudah memasuki khayalannya.
Dia hanya berbicara tentang apa yang dia duga.
"Sejauh yang aku tahu, kalau kamu adalah tim investigasi lain, kita semua seharusnya sudah mengetahuinya sejak memasuki Provinsi Sulawesi Tenggara. Tapi sejauh ini kami belum mendengar apa-apa. Kalau begitu, tim investigasimu ini sangat kuat. Jelas sudah, kamu pasti berasal dari Biro Red Shield."
Setelah si gendut selesai berbicara, Alex merasa kalau si gendut masih memiliki banyak potensi untuk berkembang. Dia hanya terlihat naif, tetapi dia sangat cerdas. Kalau dia tidak bertemu dengan si gendut kali ini, dia tidak akan pernah tahu kalau si gendut memiliki bakat yang luar biasa seperti itu.
Si gendut hanya berkata dengan datar, "Karena kamu berasal dari Biro Red Shield, maka arti kedatanganmu ke Provinsi Sulawesi Tenggara kali ini sudah jelas, 'kan? Biro Red Shield hanya dikendalikan oleh pemimpin tertinggi yang akan menyingkirkan keluarga Bazel, sehingga mereka menyuruh kalian untuk datang."
Alex mengetuk meja untuk menyadarkan si gendut. Dia merasa kalau pria itu terus berbicara, dia akan menebak konspirasi mengejutkan.
Tentu saja dia tidak ingin si gendut mengetahui hal semacam ini.
Dia berkata, "Baiklah, aku tahu kamu hebat. Kalau kamu terus menebak-nebak, kurasa matahari akan terbenam."
Si gendut pun kembali sadar saat itu dan ekspresinya menjadi lugu lagi.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku juga nggak berpikir aku akan mengatakan sebanyak itu." Si gendut meminta maaf.
"Untuk apa meminta maaf? Aku nggak butuh permintaan maafmu, kecuali kamu nggak memiliki muka saat pertama kali bertemu denganku. Bukankah kamu sangat bangga pada dirimu sendiri? Bukankah kau bilang akan menjadikanku pengikutmu? Kok sekarang menjadi begitu pengecut?" Alex bertanya dengan penasaran.