Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tank


Setelah melihat semua orang terlihat tidak semangat, Olivia berdiri di tangga dan berkata, "Semuanya, semangatlah! Hari ini adalah pertempuran terakhir kita. Kita akan hidup dalam kekayaan dan damai jika menang, jika gagal kita akan mati bersama musuh dan puluhan juta nyawa, tidakkah itu bagus?"


Tentara-tentara bayaran ini sejak awal memang tidak berniat untuk bisa tetap hidup, mereka jadi semakin bersemangat di saat krisis begini, lalu berteriak serempak: "Ayo, perlihatkan kepada mereka sehebat apa kita, bunuh mereka!"


Arkan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia memanggil Olivia, lalu berkata, "Kamu bilang semua perangkat elektronik rusak oleh arus listrik. Kita juga perlu menggunakan detonator elektronik untuk bomnya. Apa masih bisa dipakai?"


Olivia berkata: "Jangan khawatir. Aku sudah mempertimbangkan hal ini. Nanti saat aku melempar dua granat, mana mungkin ada yang tidak meledak? Nanti pasti akan menakjubkan sekali! Tapi, kami tetap harus memperkuat kewaspadaan, cara itu hanya boleh dilakukan jika sudah tidak punya solusi!"


Arkan mengangguk dan tertawa, "Oke! Kalau begitu kita bertarung dengan mereka!" Dia tampak percaya diri lagi.


Yang harus mereka lakukan sekarang adalah menahan serangan gelombang kedua dari musuh, mencoba menghajar mereka, dan meningkatkan keuntungan mereka untuk berdiskusi dengan musuh.


Arkan kembali ke lantai dua. Seperti yang diharapkan, energi kedua e-bomb telah habis dan tidak bergerak lagi. Dia menendang satu per satu ke luar gedung, kemudian memanggil anggota timnya untuk berkumpul.


Pada saat ini, Sandi telah mengambil senjata dan amunisi dari gudang, dan mengalokasikan persediaan untuk anggota tentara bayaran Petir yang tersisa, lalu Olivia kembali memberikan tugas untuk mereka.


Menurut penempatannya, Lintar 1, Lintar 2, dan Lintar 3 akan melakukan intersepsi tembakan frontal di pintu masuk koridor di lantai dua; Lintar 4, Lintar 5, Lintar 6, dan Lintar 7 masing-masing akan berjaga di kedua sisi tangga di lantai 1 hingga lantai dua, dua dari mereka akan berjaga dalam kegelapan, dan mereka bertanggung jawab atas daya tembak dari kedua sisi.


Lintar 8 dan Lintar 9 berada di atas gedung dan bertanggung jawab untuk operasi penembak jitu. Sedangkan Olivia bertanggung jawab atas penjadwalan global. Arkan dan Sandi sebagai pendukung yang siap bekerja sama dengan berbagai titik daya tembak.


Arkan tidak suka memerintah di baris kedua, dia lebih suka menghadapi musuh secara langsung. Dia sangat puas dengan penempatan Olivia, dia menggantungkan beberapa granat berdaya ledak tinggi di pinggangnya, memegang senapan snipernya, lalu menyergap di jendela di lantai tiga dan melihat keluar lewat kaca senapan.


Di luar tembok, kelompok kedua dari Tim SWAT telah memulai penyerangan. Mayor Darwin selaku Brigade Pasukan Khusus Korps Marinir, secara pribadi memimpin tim dan telah sampai di bawah tembok. Setelah mengamati situasi sejenak, mereka mencoba masuk melalui lubang yang ditinggalkan oleh kelompok pertama, dan mereka berhasil masuk tanpa diserang.


Dia menilai bahwa sistem pengawasan musuh pasti telah hancur dan anggota timnya aman dalam jangkauan ini. Segera, dua ratus tentara masuk ke dalam pagar pembangkit listrik tenaga nuklir dari arah yang berbeda.


“Komandan Beni, saya dari kelompok kedua. Kami menunggu perintah Anda dan dapat menyerang kapan saja!” Mayor Darwin meminta instruksi kepada Komandan Beni melalui komunikator.


“Amati situasi dulu, ada perubahan dalam rencana kami!” jawaban Komandan Beni membuat Mayor Darwin sedikit bingung, “Perubahan apa? Kita tidak jadi menyerang? Apa para gangster itu sudah menyerah?"


Ketika dia sedang bertanya-tanya, sebuah dinding di sisi selatan tiba-tiba runtuh. Dinding beton setebal 50 cm itu dihancurkan oleh monster baja. Ternyata untuk mengurangi korban, pasukan militer mengirim dua tank untuk membantu.


Komandan Beni mengeluarkan perintah kepada Mayor Darwin melalui peralatan komunikasi: "Perintahkan tim mu untuk menyerang ke arah gedung kontrol utama di bawah perlindungan tank."


Mayor Darwin melompat kegirangan saat melihat ada tank yang akan membantunya, lalu dia memerintahkan anak buahnya, Ikuti tanknya, kita maju dan tangkap para bajingan itu hidup-hidup."


Di bawah kepemimpinannya, lebih dari lima puluh tentara bersenjata lengkap dan mengenakan rompi anti peluru, mengikuti di belakang tank itu. Suara gemuruh dikeluarkan oleh roda tank tersebut saat bergerak maju ke arah gedung kontrol utama.


“Brengsek, mereka juga menggunakan tank. Dasar tidak tahu malu!” Arkan melihat tiga tank membukakan jalan. Tiga kelompok tentara mendekat di bawah perlindungan tank. Dia sangat marah sehingga melepaskan beberapa tembakan, tetapi peluru tidak berpengaruh karena mengenai badan tank.


Dengan mempertimbangkan keamanan bahan peledak, tank hanya bisa digunakan sebagai pelindung dan tidak menembak, tidak perlu waktu lama bagi tank-tank tersebut untuk mengantar para pasukan khusus di belakang sampai di sekitar gedung.


Olivia menyembunyikan diri di belakang lubang penembak jitu di lantai tiga, dia telah mengunci posisi salah satu anggota SWAT, keahlian menembaknya sangat akurat.


Kali ini, dia membidik wajah orang tersebut yang terlihat sangat muda dan jelas tidak memiliki pengalaman. Setengah dari tubuhnya terlihat dari belakang tank, dan dia mengenakan pelindung dari kaca di wajahnya sehingga tidak terlihat jelas.


Olivia mencibir dan berkata: "Sayang, jangan salahkan aku, salahkan saja pemimpinmu karena mengirimmu, selamat jalan!" Setelah selesai mengatakan itu, dia langsung menarik pelatuk dan melepaskan tembakan.


Peluru penembak jitu menembus kaca helm orang itu dan mengeluarkan suara teredam. Kemudian, darah mengalir dari kepalanya bersama dengan otaknya, dan anggota SWAT yang masih muda itu jatuh tergeletak.


Mayor Darwin yang berada di sisi tank mengumpat saat melihat pemandangan ini, "Brengsek! Hati-hati, semuanya!"


Mayor Darwin benar-benar dikejutkan oleh tembakan tadi. Perlu diketahui bahwa kompi mereka yang diperkuat adalah milik pasukan khusus rahasia. Untuk misi mereka kali ini, setiap tentara telah dilengkapi dengan alat pelindung khusus, helm baja kaca ini tidak bisa ditembus peluru biasa, jadi tampaknya peluru lawan juga telah diganti secara khusus.


Saat jarak dari gedung sudah kurang dari 50 meter, Mayor Darwin memerintahkan pasukannya untuk bersembunyi di balik tank dan tidak terburu-buru maju. Untuk melindungi para pasukan khusus ini, tiga tank tersebut melaju dengan perlahan ke arah gedung.


Melihat para tentara akan segera menyerang gerbang, Arkan jadi sedikit cemas. Dia melepaskan dua tembakan dan mengenai badan tank, lalu peluru meleset ke samping dan tidak berguna sama sekali.


Di saat seperti ini, Olivia berlari turun dari lantai tiga dan juga membawa dua peluru untuk Arkan, "Paman, ganti peluru ini, dengarkan aku, tembak dulu ke bagian sisi tank. Aku akan menembak ulang ke lubang bekas pelurumu."