
Mail tidak menangkap maksud perkataan Alex, dia mencibir, "Huh, Tuan Alex, singkat kata saja, apa persyaratanmu? Jika aku puas, kita bisa lanjutkan pembicaraannya. Jika ngak, aku akan pergi sekarang juga."
Alex tersenyum tipis, "Pak Mail, jangan begitu. Silakan lihat dulu dokumen yang kupunya. Mungkin kamu akan berubah pikiran."
Saat berbicara, Alex tak lupa memberi isyarat kepada Jasmin, dan Jasmin menyerahkan dokumen yang telah diprint kepada Mail.
Kemudian Mail melihat isi dokumen tersebut ternyata adalah properti Mail di berbagai tempat, serta daftar orang yang bertanggung jawab atas properti, atau orang yang tinggal di properti tersebut beserta informasi terkait.
Tidak hanya itu saja, Mail juga menemukan bahwa mereka menyelidiki dengan sangat detail! Ini bahkan lebih jelas daripada inspeksi dan investigasi! Yang paling penting adalah semua wanitanya ada di dalam daftar, beberapa dari mereka ada yang telah melahirkan anak untuk Mail, dan informasi anak juga tertera di dalam dokumen, seperti tanggal lahir, nama sekolah, biasanya muncul di mana, dll. Saking detailnya sampai membuat orang merinding ketakutan.
Kening Mail mulai berkeringat.
Dia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa jika dokumen ini menjadi bahan laporan, maka kehidupan nyamannya akan langsung berakhir.
Mail menundukkan kepalanya dan tangannya mulai gemetaran.
Kemudian, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan memelototi Alex sambil marah-marah, "Kalian menyelidikiku? Apa mau kalian sebenarnya? Dasar biadab! Kalian membuatku jijik!"
Alex tersenyum datar, "Aku sama sekali ngak peduli apa pandanganmu terhadapku. Namun, hal yang sulit dipercaya adalah kekayaanmu yang ada di dalam dokumen ini sudah bisa menandingi kekayaan negara! Pak Mail memang sangat pandai mengumpulkan kekayaan. Tapi, kamu juga seharusnya tahu, jika aku bersedia menyerahkan dokumen ini kepada pihak berwajib, maka nasibmu hanya akan ada satu.”
“Coba saja kalau berani?!” Mail memelototi Alex, “Jika kamu berani menyerahkan dokumen ini, maka keluarga Mahari akan menguburkanmu hidup-hidup!”
“Haha, udah capek pura-pura ya? Rupanya kamu melawan kami karena berkolusi dengan keluarga Mahari secara diam-diam ya. Benar, kan?” Alex menatapnya dengan acuh tak acuh.
Mail mencibir, "Tentu saja! Aku dan Bernard adalah teman lama! Bagus kalau kalian tahu!"
Alex mengangguk, "Uhm. Sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk melaporkanmu, tapi kamu harus menyetujui persyaratanku."
“Apa itu?” Meskipun Mail merasa tidak enak, tapi dia masih ingin memahami di mana batas lawan berada.
Alex berkata, "Pertama, segera pulihkan pasokan baja untuk PT. Atish, dan harga baja harus diturunkan 1% dari harga sebelumnya. Kedua ..."
“Mustahil!” Sebelum Alex selesai berbicara, Mail pun berdiri dengan marah, “Itu baja milik negara! Aku ngak punya hak untuk memberikannya pada PT. Atish!”
“Sekarang kamu tahu kalau itu baja milik negara?" Alex mencibir, "Karena kamu ngak bisa menyetujui syarat pertama, Jasmin, kurasa kita perlu menyerahkan dokumen laporan ini kepada pihak berwajib."
"Jangan!" Mail terduduk, dia sekarang seperti sebuah bola kempes, "Oke, aku setuju dengan syarat pertama."
Alex tersenyum dan mengangguk, "Nah, gitu dong. Kalau begitu kita lanjut. Syarat kedua adalah kamu dengan sengaja memotong pasokan baja untuk PT. Atish dan menyebabkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki pada PT. Atish. Oleh karena itu, kamu setidaknya harus memberi kami kompensasi sebesar 44 miliar."
“Ngak mungkin! Ini pemerasan namanya!” Mail kembali berdiri, “Alex, kamu sengaja mempermainkanku ya? Percaya ngak, aku lebih baik mati, daripada menyetujui syarat yang tidak sebanding ini?”
Alex berkata, "Jika kamu benar-benar ingin mati, oke! Ayo kita ke kantor polisi sekarang? Pilih mau yang mana!"
Alex berkata, "44 miliar, satu rupiah pun ngak boleh kurang! Dan harus dibayar hari ini juga! Kalau ngak, besok akan menjadi 66 miliar, dan ngak boleh kurang sepeser pun! Kalau besok masih belum ada juga, maka tunggu saja polisi di rumahmu! Ngak perlu pakai keluarga Mahari untuk menakutiku, aku sama sekali ngak takut dengan mereka."
Mail kembali menciut, "Tapi, aku ngak punya uang tunai 44 miliar!"
Alex berkata, "Cari simpananmu si Sonia, dia pasti bisa membantumu mendapatkan 44 miliar, dan bahkan lebih banyak lagi."
Mail menarik napas dalam-dalam dan berkata tanpa daya, "Oke, aku setuju."
Alex berkata, "Ketiga ..."
“Apa? Ada yang ketiga? Kamu ngak ada habis-habisnya ya?” Mail bangkit lagi dari tempat duduknya! Jantungnya seakan naik roller coaster beberapa kali hari ini, dari langit jatuh ke neraka, benar-benar sakit setiap kalinya.
Alex berkata, "Kami bisa ngak melaporkanmu, tapi syaratnya kamu harus berperilaku baik di masa mendatang. Jadi, untuk syarat ketiga, kurasa properti yang ada di tanganmu cepat lambat pasti akan jadi bencana. Jadi lebih baik untuk dipindah tangankan, dan aku akan meminta seseorang untuk membantumu mengelolanya. "
“Tapi properti-properti itu terdaftar atas nama kekasihku atau kerabat mereka! Semuanya tidak ada di tanganku!” Wajah Mail berubah menjadi pucat pasi, dia merasa seolah-olah dia tidak mengenakan pakaian sama sekali di depan Alex, Alex tahu akan semuanya.
Alex sedang mencoba untuk merebut propertinya! Orang ini benar-benar jelmaan iblis!
“Aku juga ngak akan memberikannya padamu meski surat-suratnya ada di tanganku.” Mail menggigit gerahamnya, bibirnya bergetar.
Alex tersenyum licik, "Yah, memberikan barang berharga memang agak menyakitkan rasanya, tapi tampaknya ada yang lebih berharga daripada propertimu. Misalnya, lihat ini."
Alex memutar sebuah video di dalam ponsel, di mana ada seorang anak kecil sedang bermain.
“Joe? Anakku! Apa yang kamu lakukan padanya?” Tentu saja Mail mengenali anak kecil ini, dia adalah putranya dari seorang simpanan yang dibesarkannya di salah satu properti miliknya! Selain itu, dia hanya memiliki dua orang putra, tapi mereka semua lahir dari rahim simpanannya, sedangkan istrinya hanya melahirkan seorang putri.
Alex berkata, "Aku ngak ngapa-ngapain dia kok, aku hanya mengirim seseorang untuk bermain dengannya."
Melihat Mail terdiam, Jasmin mengalihkan layar ponselnya kepada Mail, di dalamnya ada seorang anak laki-laki yang lebih kecil sedang menangis dengan keras.
"Joni? Ya Tuhan! A... apa yang kalian lakukan pada Joni?" Mail bertanya dengan mata merah seperti binatang yang terluka.
Jasmin berkata, "Jangan khawatir, orang-orangku sedang menemaninya makan, tapi dia tidak terlalu kooperatif."
“Kalian benar-benar iblis!” Mail berkata dengan cemberut, dia duduk kembali ke kursi, sekujur tubuhnya lemas, seolah-olah seluruh energinya terkuras dalam sekejap.
Alex berkata, "Sebenarnya, aku ini orang yang baik. Dari sekian ratus propertimu, aku hanya menginginkan beberapa saja."
“Berapa banyak?” Mail benar-benar menciut.
Alex berkata, "Total propertimu 108 set jika dijumlahkan. Aku hanya ingin 98 set propertimu yang ada di tempat lain, dan menyisakan properti yang ada di Medan untuk Anda. Gimana? Aku cukup baik, kan?"