
“Oh.” Alex melihat kedua batu bata sambil berkata, “Timotius, apakah kamu ingin menggunakan satu tangan untuk menghancurkan semua bata itu atau membelahnya menjadi dua bagian?”
Timotius dengan malu berkata, “Dengan satu tangan aku dapat membelah sepuluh batu bata menjadi dua bagian. Aku masih belum sanggup untuk menghancurkannya.”
Alex tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Baik! Kalau begitu tunjukkanlah padaku!”
Suseno berkata dengan sangat percaya diri, “Timotius, tunjukkan kemampuan aslimu!”
“Baik! Kapten tenang saja!” Timotius berjalan ke hadapan sederet batu bata, menarik napas dalam-dalam, lalu sedikit berjongkok. Setelah itu, dia mengatur napasnya sebelum mengepalkan sepasang telapak tangannya.. Kemudian, ia memusatkan kekuatannya dan perlahan mendorongnya ke depan. Gerakannya terlihat sangat kuat.
Selanjutnya, dia perlahan mengangkat telapak tangan kanannya, menggerakkannya ke atas, ke bawah, lalu menebas ke samping. Kemudian dia kembali mengangkat telapak tangannya ke atas, seperti sedang memperhatikan kekuatan seluruh tubuhnya!
Telapak tangan kanannya perlahan bergerak di udara.
Setelah itu, dia menghembuskan napas dan berteriak, “Hiat!” Telapak tangan kanannya seperti kilat yang menyambar sederet batu bata!
Pang! Shurrr! Sepuluh batu bata terbelah secara bersamaan dan berserakan di lantai!
“Bagus!” Para Pasukan khusus bertepuk tangan dengan keras.
Suseno juga sangat senang dan ikut bertepuk tangan.
Letnan Jenderal Egy menganggukkan kepala sambil berkata, “Bagus, kemampuan ini sangat hebat.”
Bryan menatap Alex dengan tatapan menantang, “Jika kamu dapat melakukan hal yang sama, maka aku akan menganggap kamu menang.”
Suseno menganggukkan kepala, “Benar! Kamu hanya perlu melakukan hal yang sama.”
Nova mendengus, “Hanya ini? Bukankah ini terlalu mudah?”
Suseno menyindirnya dan berkata, “Bu Nova, kamu jangan mengira ini hanya sekedar membelah batu bata. Ini perlu melatih kemampuan napas hingga tahap tertentu dan stabil baru dapat mengendalikan kekuatan ini dengan benar, sehingga setiap batu mendapatkan kekuatan yang sama. Kalau gak, hanya akan membelah beberapa batu di atas dan yang di bawah tidak akan mungkin bisa terbelah.”
Alex berdiri di hadapan sederet batu batanya. Setelah berkeliling beberapa kali, dia sepertinya sudah memilih arah untuk membelah batu.
Gerakannya ini langsung menarik perhatian semua orang.
Semua orang langsung terdiam dan menyaksikan bagaimana Alex mengeluarkan kekuatan dan membelah batu.
Alex meletakkan telapak tangannya di batu paling atas, lalu menutup mata, seolah-olah sedang mengeluarkan kekuatannya.
Kemudian, dia tiba-tiba menghembuskan napas dan berteriak, “Hiat!” Telapak tangannya hanya menekan di atas batu bata!
Setelah itu dia melepaskan tangannya dan berdiri, lalu tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Maaf, aku hanya dapat melakukan ini.”
Suseno berkata dengan heran, “Kamu masih belum membelahnya! Alex, jangan-jangan kamu nggak ingin membelahnya karena tahu bahwa dirimu tidak sanggup melakukannya ya?”
Ferdy juga tertawa, “Kapten Suseno, apakah kamu pernah berpikir bahwa semua orang nggak mungkin serba bisa? Oleh karena itu, walaupun kemampuan Alex sangat hebat, tapi jika dia nggak dapat membelah batu bata juga nggak memalukan.”
Bryan menganggukkan kepalanya, “Iya, itu benar. Membelah batu bata memang memerlukan latihan dalam waktu lama.”
Letnan Jenderal Egy mengedipkan matanya dengan sombong, “Alex, awalnya aku mengira kamu itu adalah seseorang yang serba bisa, tapi nggak disangka kemampuan membelah batu bata Timotius ini dapat menyulitkanmu! Haha! Aku sudah mengatakan, nggak peduli siapa pun, pasti nggak mungkin ahli dalam segala hal. Oleh karena itu, kamu juga nggak perlu bersedih. Kadang-kadang kalah juga nggak masalah.”
Nova mendengus dan menyindirnya.
Dalam seketika, wajah Timotius terlihat bersinar dan tersenyum.
Suseno menatap Nova dan berkata, “Bu Nova, apakah kamu nggak rela? Apakah kamu ingin membelahnya?”
Nova berjalan ke hadapan sederet batu bata Alex, kemudian berjongkok dengan hati-hati memeriksanya, “Para “ahli”, penglihatan kalian benar-benar bermasalah.”
“Apa yang kamu katakan?” Suseno melangkah ke depan dan mengulurkan tangan ingin mengambil batu yang paling atas.
Nova segera memperingatinya, “Jangan menyentuhnya!”
“Ha?” Suseno langsung menyentuh dan sederet batu itu bahkan… hancur lebur?
Suseno terus mengedipkan mata, masih mengira dia salah lihat dan berkata, “Apa, ini… ini mana mungkin?”
Senyuman di wajah Timotius segera membeku, “Apa? Ini… semuanya hancur? Oh Tuhan!”
Ini mana mungkin?! Apakah Alex yang menghancurkannya? Tapi, tadi dia hanya menekannya sekali!
Saat ini, raut wajah Bryan dan Letnan Jenderal Egy juga terlihat buruk dan sangat canggung.
Alex berdiri dengan kedua tangan dirangkap di depan dada sambil tersenyum. Tapi, di mata semua orang senyumannya itu terlihat seperti sebuah ejekan.
Para pasukan khusus menarik napas secara serentak. Tahap yang nggak dapat dicapai Timotius sudah dicapai oleh Alex! Selain itu, saat Alex mengeluarkan kekuatannya juga nggak serepot Timotius dan juga sangat mudah!
Ini menunjukkan bahwa Alex jauh lebih hebat dari Timotius!
Nova berkata, “Lihatlah, aku menyuruhmu untuk nggak menyentuhnya. Tapi, kamu bersikeras menyentuhnya dan semua batu menjadi berserakan kan?”
Hanya dia yang tahu, jangankan batu bata, Alex bahkan bisa menghancurkan batu.
Suseno tertegun sejenak, lalu menghampiri Alex sambil berkata, “Alex, aku mengaku kalah! Kemampuanmu memang sangat hebat! Tetapi, aku tetap nggak mengakui kemampuan koordinasimu.”
Alex tertawa terbahak-bahak, “Kalau begitu, pertandingan hari ini kita akhiri sampai di sini saja!”
Suseno melirik ke arah Letnan Jenderal Egy. Letnan Jenderal Egy menggelengkan kepalanya dan berkata, “Nggak boleh! Masih ada satu pertandingan lagi, yaitu berlari dengan beban!”
Suseno berteriak ke arah anggotanya, “Siapa yang akan maju?”
“Syut!” Seorang prajurit berotot melangkah keluar dari barisan sambil berkata, “Lapor ketua tim, Letnan Brigade Pasukan Khusus Jefri melapor! Mohon instruksi!”
“Jefri, dalam tim pasukan khusus nilai dalam lari dengan bebanmu adalah yang paling tinggi, apakah kamu yakin dapat menghadapi Alex?” Kali ini, nada bicara Suseno sangat jelas menjadi lebih lemah.
“Tentu saja! Kapten, Anda tahu jika aku masih dapat berlari sejauh 1000 meter dengan beban 150 kilogram dalam waktu tiga menit 45 detik.” Jefri sangat percaya diri, dia menatap Alex sambil berkata, “Ayo kita mulai!”
Alex tersenyum pahit, “Berlari dengan beban… uhuk uhuk, sebaiknya jangan bertanding lagi ya?”
Suseno merasa Alex mungkin sudah ketakutan, jadi dia pun tersenyum, “Jika nggak ingin bertanding, maka itu artinya kamu mengaku kalah.”
Jefri membusungkan dada sambil berkata, “Apa yang ketua tim katakan itu benar!”
Alex tersenyum, “Ketua Tim Suseno, kamu yang memaksaku. Jika nanti pasukanmu tertekan, itu bukanlah salahku ya.”
“Hanya sebuah pertandingan saja mana mungkin bisa tertekan? Ayo, pakaikan beban 150 kilogram pada mereka!” teriak Suseno.
Segera, ada empat prajurit pasukan khusus yang berlari menghampiri mereka dengan membawa perlengkapan beban.
“Alex, pilihlah satu dari dua set perlengkapan itu.” Suseno berkata, “Berat kedua perlengkapan itu sama, pasti nggak ada perbedaan.”
Alex berkata, “Kalau begitu aku pilih yang paling dekat saja.”
Jadi, setelah dia dan Jefri memakai perlengkapan beban itu, Suseno mengeluarkan pistolnya dan berseru, “Semuanya, bersiaplah, mulai!” Setelah mereka berdua berlari, Suseno Kembali berteriak, “Ingat! Memutar lapangan ini sebanyak lima kali sudah memenuhi jarak 1000 meter.”
Mereka berdua terus berlari, juga nggak tahu apakah mereka mendengar penjelasan tambahan Suseno atau nggak?