
Sehari lalu, kedua pihak sudah mencari notaris dan menjaminkan armada transportasi Pulau Pari dan hotel Emperor.
Enam notaris bertanggung jawab untuk mengawasi pertandingan ini, dan pemenangnya akan memenangkan semua taruhan. Akan dikenakan biaya penanganan 7% dari taruhan tersebut.
Baru kemarin, kedua belah pihak telah mengkonfirmasi daftar tiga peserta tersebut, peserta dari Keluarga Utama adalah Mega, Vincent, dan Edward.
Di pihak keluarga Buana yaitu Friska, Alex, dan Nova.
Urutan peserta seperti di atas.
Di sebelah selatan Pulau Pari terdapat sebuah gunung dengan area terbuka yang luas di puncak gunung. Pemandangan di sini unik. Tempat kompetisi dialasi dengan karpet merah besar, dan kedua belah pihak masing-masing duduk di bagian timur dan barat.
Tiga bersaudara Keluarga Utama semuanya hadir hari ini, dan bahkan Devan dan Nia juga muncul.
Mega mencibir dalam hatinya ketika melihat ke arah pihak lawan, "Huh, Sulit untuk mengatakan mana yang menang dan kalah jika Tuan Vincent dan Alex saling berlawanan. Namun, jika Friska dan Nova melawanku dan Edward, tentu saja kami yang akan menang. "
“Perwakilan dari Buana Group, perwakilan dari Utama Group, apakah kalian semua lengkap?” Tanya notaris perusahaan.
Erika berdiri dan berkata, "Kami sudah lengkap."
Devan juga berdiri dan berkata, "Kami juga."
Notaris mengumumkan: "Pertandingan kali ini menggunakan sistem tiga ronde dua menang, dan akan dimulai sekarang."
Rangga dengan santai memegang cangkir teh dan mengangguk kepada putrinya. Mega akan memimpin pertandingan hari ini. Ini sangat penting baginya. Jika dia bisa menang, maka keluarga Utama pada dasarnya sudah menang.
Devan berbisik: "Dik, hati-hati, Friska juga lumayan kuat."
Setelah Mega dan Friska berdiri di atas panggung, keduanya saling memberi hormat, lalu berteriak: “Silakan!” Friska dan Mega saling bertentangan, jadi tidak perlu bersikap rendah hati. Friska memimpin serangan, seiring lengannya tiba-tiba bergetar, dia berputar ke arah Mega dengan target tepat di wajahnya!
Mega sangat tenang menghadapi serangan kuat Friska, dia melompat seperti burung bangau, jari tengah dan telunjuknya langsung menyerang mata Friska.
Friska menghindari serangan Mega, dan memukul tulang rusuk Mega dengan kedua tangan. Menghadapi serangan Friska, Mega malah tersenyum dingin. Dia meletakkan tangannya di dadanya, membungkuk ke depan, dan melangkah mundur. Pada saat yang sama, dia mengangkat tangannya dengan kekuatan kaki. Tangan kirinya menyerang ke depan dengan cepat, dan tepat mengenai satu tangan Friska. Buk! Terjadi benturan antar si kuat, jurus pertama di antara keduanya belum bisa melahirkan pemenang.
Serangan Friska masih dashyat seperti sebelumnya, dia seketika berbalik, dan tiba-tiba meninju dada Mega. Mega berteriak, dan menggunakan kekuatan penuh tangannya untuk menghadapi serangan Friska. Bruk! Friska terlempar mundur hingga 7 langkah jauhnya, tapi dia segera bergegas maju lagi dan melawan Mega.
Dua wanita hebat, sosok-sosok cepat di atas panggung pertandingan, orang-orang dengan ilmu bela diri rendah tidak akan bisa melihat bagaimana kedua orang itu bertarung, yang bisa dilihat hanya dua bayangan yang mengelilingi lapangan.
Sebagian besar orang di kedua pihak menonton kompetisi ini dengan serius. Bahkan Erika juga memperhatikan dengan cermat. Menurutnya, Friska dan Mega memiliki kekuatan yang sama. Dirinya jadi khawatir pada Friska.
Friska berbalik dan menyapu tubuh bagian atas Mega dengan kakinya, berharap bisa mengeluarkan Mega dari arena dengan ini. Mega tidak terburu-buru, tubuhnya tiba-tiba berbalik dan menghadap Friska. Dia menyilangkan tangan ke dada dan menangkap kaki Friska. Kemudian dia memutar seluruh tubuhnya dengan sekuat tenaga dan berbalik berlawanan arah jarum jam, dengan niat untuk mematahkan tulang kaki musuh. Friska berteriak dan mengulurkan tangannya ke depan, berniat untuk mencekik tenggorokan Mega.
Mega mundur diiringi suara teriakan panjang dan dengan cerdik menghindari serangan Friska, tetapi Friska juga berencana untuk mengakhiri pertandingan secepatnya. Dia pikir ini adalah waktu terbaik untuk menyerang. Dia melangkah ke depan, dan tangannya terus menyodok ke depan. Lengannya yang lemah gemulai seperti anyaman menembus lengan Mega yang disilangkan di dadanya. Dengan empat jari menyatu seperti ujung pisau, dia langsung menyerang titik mematikan di dada Mega!
Jika titik kematian seseorang tertusuk, dia akan terluka parah bahkan jika tidak mati. Ada peraturan dalam pertandingan pencak silat yang bisa menyebabkan kecacatan, tapi tidak boleh membunuh. Jika kamu tidak sengaja membunuh lawan, maka hasil pertandingan dianggap hangus dan seri. Friska menggunakan buku-buku jarinya yang kecil untuk menyerang. Kekuatan yang tak tertandingi meledak! Friska baru saja gagal menyerang tenggorokan Mega, tapi dia malah tiba-tiba menyerang titik kematian di dada Mega.
Sangat jelas bahwa Friska berniat menggunakan jurus ini untuk mengalahkan Mega secara langsung dan memenangkan pertandingan. Tapi siapa sangka, Mega telah punya persiapan, tulang dada Mega tiba-tiba tenggelam, dan yang Friska tusuk adalah pakaian Mega, bukan mengenai kulitnya. Mega segera melawan balik dan menendang perut Friska.
Tendangan ini juga sangat kuat dan rumit. Friska tidak bisa menghindar, jadi dia hanya bisa melakukan serangan balik dan menendang dengan seluruh kekuatannya, tetapi Friska tetap saja ditendang ke udara dan langsung keluar dari arena kompetisi.
Untungnya, Friska memiliki ilmu yang bagus dan bangkit dari tanah. Dengan ekspresi malu di wajahnya, dia mengertakkan gigi dan kembali ke tempat pihaknya. Meski terluka ringan, tapi tubuhnya baik-baik saja.
Erika berkata dengan prihatin: "Friska, apa kamu baik-baik saja?"
Friska menghela nafas: "Erika, Alex, aku telah mencoba yang terbaik. Mega memang luar biasa."
Alex tersenyum tipis, "Friska, kita masih punya dua ronde lagi. Istirahatlah dan lihat aku memenangkan satu ronde."
Alex melepas mantelnya dan memulai aksinya!
Vincent berdiri dan berjalan perlahan menuju Alex. Tiga hari yang lalu, dia dan Alex bertemu langsung. Kemudian, dia mendengarkan penjelasan rinci Tuan kedua tentang kekalahan Alex atas Nogawa Saburo.
Dia telah menantikan pertarungan yang menentukan hari ini.
Vincent juga berdiri dan berjalan perlahan menuju Alex. Tiga hari yang lalu, dia dan Alex sudah bertemu langsung. Kemudian, dia mendengarkan penjelasan rinci Tuan kedua tentang kemenangan Alex atas Leonardo.
Dia telah menantikan pertarungan hari ini sejak lama.
Melihat Alex berdiri diam, Vincent tidak bisa menahan diri lagi, “Terima ini! " Vincent mengambil lompatan besar ke depan sambil mengepalkan tangan untuk memukul kepala Alex. Gerakan ini sekuat tabrakan kereta api, dan tak terhentikan. Berat pukulan ini jelas lebih dari sepuluh kali lipat dari raja tinju!
Belum lagi memukul orang, bahkan tembok beton bertulang setebal 50 cm pun pasti akan roboh! Menghadapi jurus kejam Vincent, Alex tidak mengelak atau menghindar, dia mendorong pergelangan tangannya ke atas lengan bawah Vincent, sehingga tidak mungkin bagi Vincent untuk terus mengerahkan kekuatan.
Vincent kembali terkejut! “Orang macam apa ini?” Awalnya dia berpikir selama dia melakukan yang terbaik, tidak masalah untuk memenangkan kompetisi ini.
Tetapi setelah ini, dia baru menyadari bahwa pria ini sungguh mengerikan dan ilmunya tak terduga. Vincent merasakan sikunya kesemutan.
Vincent mengangkat telapak tangan kirinya dan membantingnya ke arah wajah Alex. Alex juga mengangkat tangan kirinya, dan keduanya saling membentur di udara! Tiba-tiba terdengar suara keras, buk! Seiring suara nyaring itu, lengan baju Vincent sudah tercabik-cabik. Sobekan kain-kain itu terbang di udara. Namun, kulit dan daging lengannya tidak terluka.